
Hari ini sejak pagi sampai malam aku hanya sibuk dengan penelitian ku di laboratorium. Aku meneliti tentang pengaruh ketebalan plastik terhadap daging kambing yang di simpan di dalam freezer. Aku ditemani oleh Nida. Rasanya ngeri- ngeri disko, hanya berdua saja di laboratorium pada saat malam hari begini.
Nida mengajak aku untuk ke luar makan malam, tapi penelitian ku tidak bisa di tinggalkan. Apa boleh buat, aku hanya bisa menitipkan makanan pada Nida.
"Nid, kamu belikan punya aku sekalian saja. Aku gak bisa meninggalkan ini. Kalau ada salah nanti ribet lagi benerinnya." ujarku pada Nida.
"Baiklah, tapi kamu gak apa-apa nih, sendiri aja?" tanya Nida tampak khawatir kepadaku.
"Ngeri-ngeri disko sih sebenarnya, kampus ini kan terkenal horor juga ya. Tapi gak apa-apa deh, kamu jangan lama-lama ya, aku takut juga nih, kalau sendirian di sini!" aku memberikan uang 50.000 ke Nida.
"Makanan kamu, bayar pakai uangku saja , Nid!"
"Ok! Kamu tunggu di sini ya!?" Nida lalu pergi ke luar untuk membeli makanan.
Tinggallah aku sendiri sekarang. Bulu kudukku mulai berdiri. Serem juga nih kampus. Busyet dah!
Saat aku hendak pergi ke musholla, aku lihat pintu laboratorium terbuka. Jantungku sudah berdebar tidak karuan. Nida kenapa sangat lama ya? Padahal tadi dia bilang hanya sebentar.
"Nur ini Mas bawa makan malam buat kamu!" aku membuka mataku, "Ya Tuhan!" aku bernafas lega. Tadi aku sudah ketakutan, aku kira hantu yang masuk ke ruangan ini. Ternyata dia Calon suamiku. Aku lega sekali.
"Kamu bikin aku kaget, Mas!" Mas Ali masuk dan dia menyodorkan telapak tangannya untuk bersalaman denganku. Aku mencium tangannya.
"Maaf, sudah bikin kamu ketakutan." dia tersenyum manis sekali.
"Ayo Mas temani makan malam. Kamu pasti lapar bukan?" ajaknya sambil menyiapkan makan malam di meja. Aku duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Nida kemana ya? Tadi dia bilang mau beli makan malam, tapi sudah satu jam gak balik-balik!" ucapku sambil menyuap makanan ku.
"Tadi Mas ketemu sama teman kamu. Mas yang suruh dia pulang. Nanti Mas yang temani kamu di sini." dia melipat kertas bungkus makanannya lalu membuang ke tong sampah.
"Mas gak mengaji?" tanyaku heran.
"Mas sudah ijin sama Pak Kiai, untuk menemani kamu disini. Mas gak tega kamu seorang diri disini!" ucapnya lagi.
"Masa Pak Kiai ijinkan? Jangan dusta ya!" cecarku tak percaya. Mas Ali tersenyum jahil padaku.
"Kalau Mas bilang, pasti gak akan diijinkan. Mas tadi ijinnya mau ke rumah Lilik." akhirnya dia jujur.
"Aku gak apa-apa kok, nanti aku bisa telpon Nida buat balik ke sini lagi." ucapku mantap.
"Aku lebih takut sama Mas dari pada sama hantu!" ups. Aku keceplosan. Mas Ali tampaknya mendengar apa yang aku katakan.
"Kamu ngomong apa sayang? Mas kurang jelas!" tanyanya, sambil berjalan mendekati ku.
"Tidak, Mas! Aku gak ngomong apa-apa. Aku lanjutkan kerjaan aku ya, biar cepat selesai dan bisa pulang." aku berlari ke tempat aku melakukan penelitian. Aku mulai memotong dan menimbang daging kambing yang menjadi obyek penelitianku.
Dia mengurungkan niatnya mau menjahiliku, dia akhirnya membantuku, sehingga penelitianku cepat selesai. Setelah selesai, aku mengunci laboratorium dan memberikan kuncinya ke penjaga Laboratorium yang biasanya menunggu di ruang administrasi, di lantai satu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 kami merasa lapar lagi. Rencana mau cari makanan, tapi pasti nanti jadi malam sekali pulangnya. Dia meninggalkan motornya di parkiran kampus. Kami pulang ke pondok pakai motorku. Aku lebih nyaman pakai motorku dari pada pakai motor dia.
Kami pesan makanan tapi kami bungkus saja. Nanti kami makan di pondok, biar tidak terlalu malam sampai pondok.
__ADS_1
Sungguh, sangat berat memiliki calon suami seorang lurah pondok pesantren, iman harus kuat benar, menjaga nama baik pondok dan juga martabak calon suamiku sebagai seorang lurah, yang harus jadi teladan juniornya.
Mas Ali bilang, salah satu alasan kenapa dia mempercepat tanggal pernikahan, karena takut dengan fitnah. Selalu ada godaan kalau sudah berduaan seperti ini. Kami semotor, tapi aku hanya berani memeluk dia dan dia hanya berani mengelus jemariku. Hal begitu saja sudah membuat jantungku rasanya mau copot tidak karuan. Kami berkendara dalam diam. Hanya tubuh kami yang bicara.
Sentuhan kecil mampu memporak-porandakan hatiku. Mas Ali adalah laki-laki pertama dalam hidupku, yang begitu dekat denganku. Aku merasa nyaman dengannya. Semoga dia adalah calon imam yang akan membawaku ke surga suatu saat nanti. Apabila kami sudah resmi menikah.
Kami sampai di depan Masjid SPN, Mas Ali turun dan berjalan kaki menuju ke pondok. Dia sholat isya dulu di sana. Baru dia kembali ke pondok lewat jalan pintas. Jadi tidak ada yang melihat dia pulang larut malam. Aku mematikan mesin motorku di depan gerbang pondok, biar tidak mengganggu santri yang lain.
Aku bisa pastikan bahwa kami tidak melakukan hal yang melewati batas dan norma. Kami hanya makan malam bersama dan dia hanya membantu menyelesaikan penelitian ku saja.
Rencananya besok Mas Ali akan mengantarkan aku ke Cirebon. Mengingat hari pernikahan kami tinggal menghitung hari. Aku harus mulai puasa dan mutih. Supaya saat di rias menjadi pangling dan cantik. Untungnya tadi penelitian ku sudah selesai, tinggal menunggu saja. Proses penyimpanan daging kambing menggunakan plastik yang berbeda ketebalannya. Di simpan selama satu bulan dalam freezer.
Sambil menunggu penelitian, aku bisa fokus untuk mempersiapkan pernikahan ku dengan Mas Ali. Pak lurah pondokku yang dulu sangat galak dan cuek kepadaku, hanya dalam hitungan hari akan menjadi suamiku.
Temanku Nadya pergi setelah hari itu, dia tidak pernah kembali lagi. Katanya dia sakit hati dengan ucapan kasar yang Mas Ali lontarkan saat itu.
"Salah sendiri, kenapa menggoda pria yang sudah mau menikah sama temannya sendiri? Tanggung resiko kalau aku maki-maki!" ucap calon suamiku kala itu. Saat aku protes dengan sikap dia yang kasar kepada Nadya, temanku.
"Sayang, aku gak butuh siapapun. Aku hanya butuh kamu. Jadi jangan coba-coba lagi, untuk menguji cinta aku dengan mendatangkan teman-teman kamu kehadapan Mas! Gak ngaruh buat Mas!" ucapnya ngambek.
"Iya, ya udah, kita pulang saja!" Dia menggenggam tanganku dan kami kembali ke pondok.
"Mas, aku sebenarnya pengen banget loh, Mas Kawin aku itu berasal dari hasil kerja kamu sendiri, bukan dari orang tua kamu!"
"Ya, nanti Mas usahakan ya!" kami berpisah setelah itu. Dia ke pondok putra dan aku ke pondok Putri.
__ADS_1