Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
203. Baiklah


__ADS_3

Setelah mengingatkan kepada para Santri untuk menghafalkan pelajaran yang sudah diajarkan Raffi kemudian pergi tidur. Di kamar salah satu pengurus santri putra.


" Sedang apa dia? Apakah dia sudah tidur?" tanya Raffi kepada dirinya sendiri mengingat gadis yang tadi datang secara mendadak ke kediamannya.


" Aku tidak tahu kalau ternyata Elena sangat nekat orangnya Bagaimana mungkin dia bisa datang kemari hanya untuk mencariku?" tanya Raffi kepada dirinya sendiri.


Tiba-tiba saja telepon Raffi berdering.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh! Ada apa Dinda, malam-malam kau menelpon?" tanya Raffi sambil menguap karena menahan rasa kantuk.


" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh Aku cuma mau nanya apa benar kalau di kamar Gus sedang ada seorang gadis tidur di sana?" tanya Dinda.


" Kau tahu dari mana?" tanya Raffi.


" Syahara yang meneleponku. Katanya Gadis itu adalah calon istrimu apakah itu betul Gus?" tanya Dinda dengan suara yang tampak sedih.


" Aku tidak tahu masalah itu karena jodoh adalah rahasia dari Allah!" ucap Raffi dengan perlahan.


" Apakah Gus mencintai gadis itu?" tanya Dinda.


" Entahlah! Sampai sejauh ini aku belum pernah merasakan apa itu jatuh cinta, sampai..." ucapan Raffi menggantung sehingga membuat Dinda penasaran.


" Sampai apa?" tanya Dinda dengan deg-degan.


" Lupakanlah tidak penting toh dia juga akan menikah dengan laki-laki lain!" ucap Raffi dengan nada kecewa.


" Apakah maksud Gus, Gus telah jatuh cinta dengan Marcella?" tanya Dinda tanpa tedeng aling-aling.


" Entahlah! Apakah itu termasuk jatuh cinta atau tidak hanya saja saya merasa bahwa saya tertarik dengannya. Tetapi dia sudah mempunyai calon suami bahkan besok mereka akan menikah secara resmi aku tidak memiliki hak untuk mencintai dia!" ucap Raffi.

__ADS_1


" Apakah Gus Raffi tidak pernah jatuh cinta padaku?" tanya Dinda dengan suara tersekat di tenggorokan.


" Entahlah sampai saat ini aku belum merasakan hal seperti itu masalah jodoh biar Allah yang tentukan!" ucap Raffi.


" Menurut Gus. Bagaimana definisi jodoh itu? Apakah kalau saya datang bersama kedua orang tuaku melamar Gus akan menerimanya?" tanya Dinda.


" Astaghfirullahaladzim Bagaimana mungkin seorang perempuan datang melamar seorang laki-laki?" tanya Raffi.


" Nanti kalau saya tidak mendahului melamar Gus. Bagaimana kalau Gus menikah dengan perempuan lain?" tanya Dinda pelan.


" Tidurlah Dinda jangan membicarakan hal yang tidak jelas seperti ini biarkan orang tua kita yang mengatur semuanya kita sebagai anak menerima saja!" ucap Raffi datar pada akhirnya.


" Baiklah aku akan bicara kepada kedua orang tuaku untuk membicarakan tentang Perjodohan kita berdua!" ucap Dinda sebelum dia menutup panggilan telepon.


" Ya Allah! Kenapa hal ini menjadi semakin rumit!" keluh Raffi sambil menerawang melihat ke plafon kamar.


" Tidak kok. Aku hanya pusing kenapa harus mengalami nasib seperti ini bagaimana mungkin seorang gadis datang melamarku di mana harga diriku sebagai seorang laki-laki?" tanya Raffi sambil menatap pria itu.


" Maka kau datanglah untuk melamarnya. Sehingga harga dirimu sebagai laki-laki tetap terjaga!" ucap Rosid.


" Bagaimana aku berani melamar anak gadis seseorang? Sementara pekerjaanku belum jelas. Aku tidak mau menyeret anak orang lain masuk dalam kubangan penderitaan!" ucap Raffi sambil menatap Rosyid dengan lekat.


" Gus jangan bercanda denganku. Gus memiliki beberapa restoran dan Gus juga penerus dari Pondok Pesantren ini bagaimana mungkin Gus akan membawa kubangan penderitaan kepada istrimu?" ucap Rosid ambil tertawa.


" Kau tahu kan gadis zaman sekarang? Mereka tidak ada yang mau diajak hidup susah. Mereka maunya seorang laki-laki yang mapan. Laki-laki yang terkenal dan juga yang tampan. Sementara kau lihat aku? Aku hanyalah seorang santri yang hidup sederhana dengan pendapatan tidak seberapa." ucap Raffi sambil menundukkan kepalanya.


" Ayolah Gus jangan rendah diri seperti itu kita semua tahu berapa pendapatan Gus dalam sebulan hanya dari restoran yang Gus miliki. Belum dari laundry, bisnis isi ulang air galon dan beberapa bisnis kecil lainnya yang Gus miliki!" Ucap Rosid sambil menatap kepada Raffi.


" Sudahlah! Ayo kita tidur. Biarkan masalah perjodohan itu selesaikan oleh kedua orang tua kami saja. Kepalaku pusing kalau sudah memikirkan hal-hal seperti itu!" ucap Raffi kemudian dia membaringkan tubuhnya di lantai yang hanya beralaskan tikar tebal dan sebuah bantal milik sahabatnya.

__ADS_1


Keesokan paginya subuh-subuh Raffi sudah bangun dan pergi ke Masjid Pondok Pesantren menjadi imam para santri serta menerima setoran dari para santri yang tadi malam menerima tugas untuk hafalan kitab yang sudah dia ajarkan kepada mereka.


Sementara itu Elena yang nampak sudah terbangun dari tidurnya. Dia menatap sinis kepada para santri Putri yang mulai satu demi satu bangun dari tidur mereka.


" Wah kalian benar-benar tidur di ruang tamu luar biasa sekali pengabdian kalian kepada Gus kalian yang tampan itu!" ucap Elena dengan tertawa sinis kepada mereka.


" Kami hanya menjalankan perintah dari Gus Raffi untuk menemanimu tidak ada tendensi apapun!" jawab Riana sambil bangun dari tidurnya dan membangunkan teman-temannya yang lain.


" Bukankah karena kalian sedang cari muka kepada calon suamiku?" tanya Elena kesal.


" Ayo kita harus segera ke masjid, sholat shubuh dan kembali menghafal kitab yang tadi malam diperintahkan oleh Gus Raffi!" ucap syahara yang langsung bangkit dan keluar dari kediaman Kyai mereka.


Elena hanya menatap mereka dengan gemas. Karena apa yang dia katakan tidak dilayani oleh para santri putri yang tampak mengacuhkannya.


" Kenapa kita tidak menjawab apa yang dia katakan gadis itu tadi?" tanya Syahara kesal.


" Sudahlah tidak usah melayani orang seperti dia. Bagaimana kalau benar ternyata dia adalah calon istri dari Gus Raffi? Dia pasti akan tinggal di sini dengan lama bersama Gus Raffi. Apa kalian mau mencari masalah dengannya?" tanya Riana.


" Tidak Kak! Ya sudah ayo kita langsung ke masjid saja tidak usah memikirkan tentang dia!" ucap Syahara kepada teman-temannya.


Mereka pun kemudian bergegas untuk mandi dan bersiap ke masjid. Sebelumnya mereka kembali mengulang hafalan yang tadi malam sudah mereka lakukan yaitu menghafal kitab Riyadatus Sholihin yang diajarkan oleh Gus Raffi kepada mereka tadi malam.


Sementara itu Elena yang sudah kebingungan mencari Raffi. Dia pun kemudian bergegas mandi dan pergi ke masjid. Karena tadi dia tanpa sengaja mendengar pembicaraan para santri putri mengenai setoran hafalan kepada Raffi di masjid setelah sholat shubuh.


Dengan penuh percaya diri Elena kemudian melangkahkan kakinya menuju masjid dan dia merasa begitu takjub kepada para santri yang sudah rapi dan juga terlihat tampan dan cantik berbondong-bondong menuju masjid untuk melaksanakan salat subuh.


" Ya Allah sungguh luar biasa mereka semua masih pagi ini sudah begitu bersemangat untuk menuntut ilmu agama! aku akan meminta kepada Ayahku agar aku bisa mondok di tempat ini sehingga aku bisa selalu bertemu dengan Gus Raffi!" ucap Elena.


" Kalau niatmu hanya untuk bisa menemuiku. Lebih baik kau urungkan untuk mondok disini. Karena kau tidak akan mendapatkan apapun. Tetapi kalau kau ingin mondok adalah demi mencari ilmu agama dan kebenaran yang hakiki. Maka kau bisa melanjutkannya!" tiba-tiba Raffi sudah berdiri di belakang Elena.

__ADS_1


__ADS_2