
Nadya melangkahkan kakinya, masuk ke toko yang masih baru tersebut. Ali masih fokus dengan pekerjaannya, Nur juga sedang pergi berbelanja untuk nanti malam, rencananya mau selamat an di toko itu, yang akan mengundang beberapa santri dari pondoknya. Nadya tampak menatap Ali dengan tatapan takjub di matanya.
'Dia itu memang paket komplit banget, udah ganteng, pria Sholeh, pinter ceramah, pintar kerja apa saja, sungguh type gue banget! Gue pasti bisa dapetin dia! Pasti!' bathin Nadya masih menatap ke arah Ali yang masih belum sadar dengan kedatangan Nadya.
"Assalamualaikum, Mas. Sibuk banget ya? Ko aku datang ga di sambut sih?" tanya Nadya dengan manja sambil duduk asal aja di depan Ali. Nadya yang hanya menggunakan rok mini, sehingga kaki dan pahanya terekspos di depan Ali.
'Ya Allah, cobaan apa lagi ini? Astagfirullah!' Ali membathin dalam hati, sambil ngelus dada.
"Kamu ngapain disini? Apa gak pergi ke kampus?" tanya Ali gugup, masih berusaha fokus dengan pekerjaannya. Nadya semakin mepet ke arah Ali, tangan lentik Nadya, menghapus keringat di dahi Ali. Ali yang sangat gugup, sudah bangun dari tempat dia bekerja tadi. Nadya terus mendekati Ali dan memeluk Ali dari belakang. Dapat dirasakan dada montok Nadya di punggungnya.
'Ya Allah, kuatkan iman hamba!' rintih Ali.
"Mas, kamu kenapa, sih? Selalu nolak aku, aku jadi sedih, loh!" Nadya mulai berdrama.
"Nad, tolong jangan lakukan ini sama saya. Tolong kamu pulang, aku gak mau nanti Nur pulang ke sini, dan terjadi salah paham. Tolong saya, ya?" ucap Ali sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Nadya. Tangan Nadya bahkan sudah bergerilya di area private. Ali gugup bukan main.
Hingga tanpa sadar mendorong tubuh Nadya.
"Auh.. kamu kok dorong aku, Mas? Aku salah apa sih, sama kamu? Ko kamu jahat banget sama aku!" Nadya melihat dari kejauhan Nur tampak berjalan ke arah toko. Ide jahat mulai masuk ke kepala Nadya. 'Ini saatnya! Aku akan pastikan istri kamu meninggalkan kamu, Mas!' bathin Nadya dan tersenyum licik di belakang Ali.
"Mas, tolong aku. Aku mau bangun, tapi susah ini!" ucap Nadya sambil memberikan tangannya untuk di tarik, saat tangan Ali sudah memegang tangannya, Nadya menarik Ali dalam pelukannya dan berusaha mencium bibir Ali, sungguh cobaan berat bagi Ali. Dia berusaha meronta tapi Nadya semakin dalam mencium bibirnya, tidak mau melepaskan kepalanya sehingga ciuman itu tidak bisa dihindari lagi. Tubuh Nadya sudah sangat menempel di tubuh Ali. Saat itulah, Nur masuk ke dalam toko dan melihat semua kegilaan yang telah di rencanakan oleh Nadya.
__ADS_1
"Mas, apa yang kalian lakukan?" Nur membanting semua belanjaan yang dia bawa.
"Kamu jahat!" Nur lalu pergi dari toko tersebut. Ali yang terkejut langsung mendorong tubuh Nadya agar menjauh darinya. Dengan bengis, Ali menatap Nadya lalu keluar mengejar istrinya.
"Sayang, tolong dengar penjelasan Mas!" Ali berusaha mengejar istrinya, yang menangis dan terus berlari menjauhi toko. Tanpa mempedulikan sekitar, Ali berteriak saat sebuah mobil menabrak istrinya. Nur sudah jatuh tak sadarkan diri di jalan dengan tubuh bersimbah darah.
Nadya yang melihat adegan itu tersenyum smirk. Dengan liciknya dia mendekat ke arah Ali, dan menawarkan bantuan.
"Mas, ayo aku bantu bawa ke rumah sakit." Namun Ali melotot ke arah Nadya.
"Kalau sampai kenapa-kenapa dengan istri dan anak saya, demi Allah, saya gak kan pernah memaafkan kamu dalam hidup saya!" ucap Ali lalu mengangkat tubuh Istrinya dan berlari ke sebuah angkot yang tampak sedang menunggu penumpang, Ali yang cemas dengan keadaan istri dan bayi yang ada di perut Nur, tidak perduli dengan bajunya yang sudah bersimbah darah.
Sementara itu, Nadya tampak sedang menelpon seseorang. "Kerjaan kamu bagus, ingat! Sementara waktu pergilah ke luar kota. Jangan sampai tertangkap. Kalau ini sudah beres, nanti kamu aku hubungi kapan bisa kembali ke kota ini lagi. Sembunyikan mobil yang tadi kamu gunakan! Jangan khawatir, aku akan mentransfer bonus kamu! Aku puas dengan pekerjaan kamu! Semoga perempuan itu mati!" ucap Nadya lalu menutup telepon nya. Nadya lalu menaiki mobilnya dan mengikuti Ali yang sudah pergi ke rumah sakit.
"Aku harus tahu keadaan Nur, akan aku pastikan, perempuan itu mati!" geram Nadya.
Sementara itu, Ali yang sudah di rumah sakit langsung mencari dokter yang bertugas. Petugas rumah sakit langsung membawa Nur ke ICU.
"Bapak, tunggu di luar, ya? Akan kami tangani istrinya." ucap Suster.
"Tolong istri dan anak saya, suster!" Ali lalu duduk di kursi tunggu. Saat itulah Nadya datang dengan muka sok sedihnya.
__ADS_1
"Mas, gimana keadaan Nur?" tanya Nadya sambil duduk di sebelah Ali.
Ali yang masih geram dengan kelakuan Nadya, langsung menarik perempuan itu agar pergi dari sana. Nadya sampai meringis karena cekalan tangan Ali yang sangat keras mecekalnya.
"Dengar, ya! Aku gak akan diam saja dengan perilaku menjijikan kamu! Aku mulai saat ini akan keluar dari rumah kamu dan mengundurkan diri dari pekerjaan di rumah kamu! Uang pinjaman itu akan segera aku kembali kan sama kamu! Sekarang kamu enyah dari hidupku!" Nadya sampai berderai air mata menahan sakit di tangan dan juga hatinya.
Selama dia mengenal Ali, baru kali ini, Nadya melihat amarah yang begitu besar di matanya. Nadya jadi merinding sendiri di buatnya.
"Mas, please kamu jangan keluar dari kerjaan kamu di rumah aku, ya? Kamu gak usah kembalikan uang aku, gak apa-apa! Aku berikan uang itu buat kamu! Tapi kamu janji, jangan tinggalkan aku! Aku sangat mencintaimu, Mas!" Isak Nadya sambil.bersimpuh di kaki Ali.
"Dasar perempuan gila! Dengerin ya! Aku sudah menikah dan aku mencintai istriku! Jangan sekali-kali menjual air mata buaya kamu, aku sama sekali tidak peduli! Camkan itu! Pergi dari hadapanku!" usir Ali dengan emosi yang hampir meledak. Sudah tidak perduli dengan sekitar.
Satpam bahkan sampai datang ke sana."Ada apa ini? Ini rumah sakit, tolong jangan buat kegaduhan!" ucap Satpam marah.
"Usir perempuan ini, Pak Satpam!" perintah Ali dengan marah sambil menatap Nadya dengan geram dan kemarahan yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"Ibu, tolong ikut saya. Jangan buat kegaduhan di rumah sakit!" pinta satpam tersebut.
Tapi Nadya meronta, menolak untuk pergi. Dia menjerit histeris, memanggil nama Ali. Tapi hati Ali yang sudah jengkel tidak mau perduli lagi dengan Nadya.
"Mas, aku mohon jangan tinggalkan aku! Aku sangat mencintaimu! Hiks hiks!" udah kaya orang gila saja keadaan Nadya. Berteriak-teriak di rumah sakit tanpa malu sama sekali.
__ADS_1