Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
228. Entahlah


__ADS_3

Zidane masih marah terhadap kedua orang tuanya yang sampai saat ini masih belum mempercayakan salah satu perusahaan keluarga mereka untuk dikelolanya. Padahal berdasarkan perjanjian sebelum menikah dengan Marcella, setelah pernikahannya maka dia akan diberikan salah satu cabang perusahaan untuk dia kelola.


Akan tetapi Bima yang belum terlalu mempercayai putranya yang masih suka hura hura dengan temannya, walaupun sudah beristri dan punya anak. Bima tidak bisa menyerahkan sebuah perusahaan besar untuk dipercayakan kepada putranya itu.


Sheila sebenarnya merasa sedih karena harus berdiri diantara putranya dan juga suaminya yang masih terlihat tegang hubungannya.


Marcella pun merasa bingung bagaimana Harus menanggapi hubungan suami dan mertuanya.


Dengan menarik nafas berat Marcela pun kemudian mengikuti suaminya untuk pulang tanpa berpamitan sama sekali kepada Bima maupun Sheilla.


" Apakah kau segitunya ingin mengelola sebuah perusahaan Mas? Sampai kau tega memusuhi ayahmu sendiri." ucap Marcella merasa prihatin melihat suaminya yang sekarang sudah mulai berubah menjadi cuek terhadap.


" Aku hanya merasa kecewa kepada Papaku yang sudah membohongiku. Apa kau tahu? Bagaimana rasanya ditipu oleh orang yang paling kita sayangi?" tanya Zidan sambil melirik sekilas kepada Marcella yang dari tadi terus memperhatikannya.


" Papa pasti memiliki alasan sendiri kenapa dia belum mempercayaimu cobalah kau rubah sifat dan tabiatnya agar Papa bisa percaya kepadamu!" ucap Marcella berusaha menasehati suaminya yang malah menggeram kesal mendengarnya.


Zementara itu Bima dan Sheila tampak kecewa melihat Zidane yang pergi begitu saja dari acara pertunangan Aurel dan Rehan tanpa berpamitan kepada mereka berdua.


" Anak itu sudah punya seorang Putra tapi sifatnya masih kekanak-kanakan. Dia tampaknya masih marah sama Papa karena Papa menolak keinginannya untuk memberikan cabang yang ada di Serpong kepadanya!" ucap Bima dengan suara kecewa.


Tampak Sheila menarik nafas dengan berat lalu mengelus punggung suaminya yang nampak sudah letih berseteru dengan Putra mereka yang sampai sekarang masih belum mau bertutur sapa dengannya karena keinginannya yang tidak dituruti oleh Bima.

__ADS_1


" Dulu kan Papa memang berjanji kepada Zidane akan memberikan cabang itu kepada nya setelah dia menikah dengan Marcella jadi Mama pikir itu adalah hal wajar ketika dia menagihnya kepada kita!" ucap Sheilla.


Bima memilih untuk masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan keributan serta keramaian acara pesta pertunangan Aurel dan Rehan yang sekarang tengah berlangsung cukup meriah.


Bima membaringkan tubuhnya di atas ranjang lalu memejamkan matanya yang terasa sangat lelah setelah seharian dia sibuk karena kesana kemari mengatur acara untuk Aurel dan Rehan.


" Ini baru acara pertunangan, tetapi lelahnya sungguh luar biasa. Papa ingin istirahat dulu mah, kita lupakan dulu masalah Zidane. Biarlah dia belajar sedikit demi sedikit untuk menjadi lebih dewasa. Papa tidak berani untuk menyerahkan kehidupan para karyawan Papa kepada seorang anak manja seperti dia Bagaimana mungkin Papa akan membiarkan kehidupan orang lain hancur di tangannya? Selama dia belum bisa memperbaharui kelakuannya dan menunjukkan bahwa dia layak menjabat sebagai seorang pemimpin, Papa tidak akan pernah memberikan posisi CEO kepadanya." ucap Bima memejamkan matanya.


Sheila menatap suaminya dengan sendu nggak usah prihatin nggak usah bingung harus melakukan apa berdiri diantara suami dan putranya sungguh benar-benar membuat hatinya merasa terhiris perih.


" Setidaknya berikanlah dia perusahaan yang masih kecil Pah. Berilah dia waktu untuk membuktikan diri. Bagaimanapun Papa tidak bisa menjudge Putra kita seperti itu. Pantas kalau dia merasa kecewa kepada papa!" ucap Marcella menyatakan pendapatnya kepada sang suami.


Tampak Bima memikirkan kembali apa yang sekitar satu minggu yang lalu dia lihat di kantor Zidane.


Flash back on


" Kamu semakin hari semakin keren sayang, aku sungguh tidak sabar untuk segera menjadi istrimu. Sayang, kapan kau akan menceraikannya? Bukankah dulu kau bilang hanya butuh waktu 1 tahun untuk menjadi suaminya? Ini sudah hampir mau 2 tahun Tetapi kau masih juga bertahan menjadi suaminya bahkan kalian sekarang memiliki seorang Putra!" protes seorang wanita cantik yang saat ini berada di pelukan Zidane sambil manyun karena kesal dan cemburu. Kekasihnya harus menikah dengan Marcella untuk mengikuti keinginan kedua orang tuanya yang telah menjodohkan mereka berdua sejak masih dalam kandungan.


Terlihat Zidane yang sedang mencium bibir wanita yang ada di dalam pelukannya dengan hasrat yang menggebu. Tampak begitu asik dan tidak memperdulikan lingkungan sekitarnya. Bahkan Zidane tidak mengetahui bahwa ayahnya sejak tadi terus memperhatikan tingkah lakunya bersama wanita yang bernama Cintiya itu. Yang Bima ketahui adalah sebagai pacar Zidan sewaktu mereka kuliah di luar negeri.


" Tunggulah sampai Papaku menyerahkan perusahaannya kepadaku. Maka aku akan langsung menceraikan istriku dan menikah denganmu." ucap Zidane sambil terus mencumbu Cintiya tanpa merasa risi sama sekali. Padahal mereka saat ini berada di dalam kantor pada jam kerja.

__ADS_1


Bima yang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Zidane ketika mengeraskan rahangnya merasa sangat kecewa kepada putranya sendiri.


Bagaimanapun Bima sangat menyayangi Marcella. Putri dari sahabatnya yang selama ini sangat dia sayangi. Calon menantu yang sudah dia tunggu-tunggu sejak masih berada di dalam kandungan sang ibu. Bagaimana mungkin hatinya tidak teriris melihat kelakuan putranya yang sedang berzina dengan selingkuhannya dan berniat untuk menceraikan Marcella. Kemudian akan menikahi gadis liar seperti Cynthia yang rela menjadi simpanan seorang Zidane yang sudah beristri dan memiliki seorang anak.


Dengan perasaan yang sangat hancur Bima pun kemudian meninggalkan kantor putranya dan kembali ke dalam ruangannya sendiri.


Bima langsung menyobek semua berkas-berkas pelimpahan saham dan juga jabatan sebagai CEO untuk Zidane. Tampak asisten Bina yang tadi juga ikut menyaksikan kelakuan Zidane. Dia hanya bisa menatap Bima dengan perasaan sedih. Dia bisa merasakan bagaimana perasaan Bima saat ini yang pastinya merasa dikhianati dan juga tersakiti.


Bagaimanapun Dia sangat tahu tentang hubungan persahabatan antara Bima dan Dipta yang sudah terjalin sangat lama. Hubungan persaudaraan mereka lebih erat dari saudara kandung.


" Jadi bagaimana Tuan? Apakah transfer saham harus saya batalkan ataukah tidak?" tanya sang asisten yang saat ini masih terus memperhatikan Bima yang terus memijit keningnya yang terasa begitu berdenyut dan terasa sangat pusing.


Bima menarik nafasnya dengan dalam dan saat ini dadanya terasa sesak. Kecewaan yang sangat besar terhadap sang putra telah mempengaruhi kesehatan Bima secara drastis.


" Batalkan semua transfer saham dan pengangkatannya sebagai CEO di perusahaan yang ada di Serpong dan tarik semua fasilitas perusahaan darinya. Aku tidak rela kalau sampai uang perusahaanku dihabiskan untuk membiayai pelacur itu!" perintah Bima kepada asistennya tanpa melihatnya sekalipun.


" Pastikan kau memblokir semua akses untuk Zidan bisa membobol data-data perusahaan. Intinya aku tidak mau anak nakal itu bisa memasuki perusahaan-perusahaan milikku. Blacklist dia secepatnya!" perintah Bima.


Flash back off


Bima kemudian mengambil ponselnya dan berusaha untuk menghubungi Dipta. Sahabat tercintanya. Bima ingin merundingkan perihal Bima dengan sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2