
Ketika jam makan malam tiba, tampak Rianti dan dan suaminya pulang dari bekerja.
" Wah senang sekali di rumah ini ada Dinda dan juga Raffi!" ucap Riyanti dengan penuh kebahagiaan ketika dia pulang disambut oleh putrinya yang sejak menikah belum pernah mengunjungi mereka berdua.
Tampak Bagas yang mendekati Raffi yang sepertinya tidak nyaman berada di rumahnya.
" Ayo kita duduk dulu dan mengobrol di ruang tamu!" ucap Bagas mengajak mereka semua untuk ruang tamu bersama.
" Di manakah kamu Dinda?" tanya Rianti kepada putrinya.
" Tadi aku melihat Kak Rehan berada di dalam kamarnya. Emangnya ada apa Mah?" tanya Dinda kepada ibunya.
" Tidak apa-apa hanya saja Mama seharian ini belum bertemu dengan kakakmu. Tadi pagi ketika kami pergi ke Bandung, kakakmu belum bangun. Jadi kami pergi tanpa berpamitan kepada Rehan!" ucap Bagas menerangkan segalanya kepada Dinda.
" Oh ya, apakah kalian sedang ada masalah kenapa Rasanya sikap kalian berdua sangat sanggup tidak seperti pengantin baru yang sedang berbahagia!" tanya Rianti kepada putri dan juga menantunya.
Rafi hanya bisa menundukkan kepalanya Karena bagaimanapun dia tidak berani menatap kedua mertuanya yang selama ini selalu mendukungnya.
" Tidak apa-apa Pah. Dinda hanya ingin menginap saja di sini. Karena rindu sekali dengan Kalian bertiga!" ucap Dinda sambil bangkit dari tempat duduknya dan langsung memeluk sang ibu yang memang benar-benar sangat dia rindukan.
Dinda yang sewaktu belum menikah memang sangat dekat dengan ibunya. Sehingga dia merasa kehilangan sosok sang Ibu ketika dia pindah ke tempat tinggal Raffi yang ada di pondok.
__ADS_1
" Betul kalian tidak ada masalah, hmmm? Awas ya! Jangan sampai nanti papa harus mengetahui masalah kalian berdua dari orang lain!" ucap Bagas sambil menatap tajam kepada putrinya yang sekarang malah menundukkan kepalanya. Karena dia tidak berani untuk melihat kepada ayahnya.
" Maafkan saya pak. Masalah di dalam keluarga kami semuanya adalah karena saya. Kalau misalkan Papa dan Mama ingin marah, marah saja kepadaku. Tetapi tolong jangan marah kepada Dinda. Karena dia tidak bersalah apapun dalam permasalahan ini!" ucap Raffi sambil menatap kepada kedua orang tua Dinda yang tampak bingung dengan apa yang dia katakan.
Berkali-kali Rianti menaril nafasnya dengan dalam. Dia berusaha untuk menyebarkan dirinya ketika mendengarkan penjelasan dari menantunya.
" Memang ada masalah apa? Sehingga kalian tampak begitu canggung, huh? Bukankah biasanya kalian sangat akrab dan tidak bisa terpisah satu sama lain?" tanya Bagas sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap tajam kepada denda dan juga Raffi secara bergantian.
" Sejujurnya memang ada masalah di antara kami berdua. Akan tetapi kami berdua percaya, kalau kami pasti akan sukses dan bisa menyelesaikanny Pah. Papa tidak usah khawatir!" ucap Dinda Berusaha menjelaskan semuanya kepada kedua orang tuanya agar mereka tidak khawatir dengan kondisi rumah tangganya yang sangat ini sedangkan cobalah gara-gara seorang Elena.
" Sebaiknya kau jujur Dinda. Karena Mamah pasti akan tahu kalau kau saat ini sedang berbohong!" ucap Rianti sambil mengelus rambut Dinda.
" Benar Dinda. Di dalam sebuah keluarga, lebih baik kalau saling berterus terang dan jujur dengan masalah apapun. Jangan sampai nanti kedepannya akan menjadi penyakit kalau terus kau tahan-tahan." ucap Bagas berusaha membujuk kepala Dinda untuk menceritakan kejadian yang sesungguhnya sehingga dia bisa mengambil keputusan bijaksana kalau ternyata mereka sedang menghadapi masalah yang pelik.
Terlihat Raffi yang berniat untuk bicara. Akan tetapi langsung dihentikan oleh Dinda dengan tatapan matanya yang seakan begitu menusuk mata Raffi.
" Mamah dan papa Istirahatlah dulu. Kalian tidak usah memikirkan kami berdua. Kami hanya sedang merindukan Papa dan Mama. Tidak lebih dan tidak kurang!" ucap Dinda sambil menarik tangan suaminya untuk masuk ke dalam kamar.
" Kita tidak usah membicarakan masalah Elena kepada kedua orang tuaku. Aku takut malah nantinya akan menjadi sebuah masalah yang lebih besar lagi!" ucap Dinda ketika dia sudah berada di dalam kamar hanya berdua dengan sang suami.
" Memangnya kenapa kalau kita bercerita yang sesungguhnya tentang Elena?" tanya Raffi merasa heran sambil mengerutkan keningnya semakin dalam.
__ADS_1
" Karena kedua orang tuaku tidak menyukai Elena. Aku takut kalau nanti akan terjadi masalah kalau mereka sampai tahu kejadian ini semuanya adalah karena Elena!" ucap Dinda berusaha untuk menjelaskan segalanya kepada sang suami.
" Memangnya kenapa kedua orang tuamu membenci Elena!? Padahal mereka kan tidak pernah berinteraksi secara langsung dengan Elena." ucap Raffi merasa heran sekali dengan keterangan yang disampaikan oleh istrinya.
" Itu karena aku yang selalu menangis setiap melihatmu bersama dengan Elena. Sehingga membuat kedua orang tuaku merasa benci kepada Elena yang sudah membuat aku selalu menangis." ucap Dinda.
" Aku tidak tahu kalau permasalahan Elena ini akan merembet begitu luas ke berbagai aspek kehidupan kita aku pikir kalau cinta dia kepadaku itu hanyalah sebuah isapan jempol tetapi melihat semua yang dia lakukan sungguh benar-benar membuatku merasa ngeri! Aku harap kita berdua tidak usah berurusan lagi dengan Elena. Semoga saja kedua orang tuanya bisa membawa pergi Elena dari Indonesia sehingga kita bisa hidup dengan tenang tanpa gangguannya!" ucap Raffi sambil menggenggam tangan Dinda.
" Aku benar-benar tidak mengerti. Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan kepada Elena? Dehingga Gadis itu begitu nekat dan juga banyak akal hanya untuk bisa bertemu denganmu!" ucap Dinda sambil menggelengkan kepalanya merasa frustasi ketika dia berpikir tentang wanita yang mencintai suaminya.
" Seandainya saja kau mau menikahi Elena, pasti semuanya akan kembali normal dan kita tidak perlu harus bersitegang karena kesalahpahaman!" ucap Raffi menyesali semua hal yang terjadi dalam hidupnya gara-gara seorang perempuan bernama Elena yang sudah mengacaukan hampir 50% kehidupannya selama ini.
Raffi sangat-ingat sekali kelakuan Elena ketika berada di Mesir yang selalu mengaku sebagai kekasihnya kepada semua orang yang mengenal Raffi maupun Elena.
" Sejak dulu Elena memang selalu frontal dalam menunjukkan perasaannya kepadaku. Kadang aku malah merasa ilfil kepadanya!" ucap Raffi kepada Dinda yang dari tadi terus memperhatikannya berusaha untuk mencari kejujuran di wajah sang suami.
" Kita baru saja menapaki kehidupan rumah tangga kita selangkah demi selangkah untuk menuju kebaikan. Tetapi entah kenapa, tiba-tiba saja semuanya terasa begitu sulit setelah Elena hadir dalam kehidupan kita!" ucap Raffi dengan nada sedih sehingga membuat denda airnya mendekati sang suami dan memeluknya dengan erat.
" Bagaimana kalau kita berdua makan di restoranmu saja? Sekalian kita bisa mencari tempat untuk bisa di tempati setelah pulang dari kediaman orang tuaku!" ucap Dinda dengan penuh semangat.
" Apakah kita tidak makan malam di sini saja? Tampaknya tadi pembantumu memasak banyak sekali. Aku takut kalau nanti kedua orang tuamu mengira bahwa kita tidak sudi untuk memakan makanan mereka!" ucap Raffi sambil menggenggam tangan istrinya dan berusaha untuk membawanya keluar dari kamar dan mengajaknya ke ruang makan di mana kedua orang tuanya dan juga Rehan sudah duduk di sana dengan damai.
__ADS_1