
Ketika jam makan siang datang. Bima pun mendatangi ruangan Dipta. Bima mengajak Dipta untuk pergi keluar makan bersama dengan dirinya.
"Ya Tuhan! Kau benar-benar datang ke sini! Apa Kau tidak mendengarkan apa yang tadi kukatakan ditelepon?" tanya Dipta
Dipta sampai mendesah frustasi. Dia merasa jengkel dan kesal dengan kelakuan Bima yang sepertinya sedang bermain-main dengan reputasi dirinya di hadapan para karyawannya saat ini di perusahaan yang dia Pimpin.
Bima hanya tertawa terbahak-bahak ketika melihat Dipta yang misuh-misuh ketika melihat kehadirannya di kantor Dipta.
Dipta akhirnya keluar juga untuk makan siang bersama dengan Bima. Dengan sengaja Bima memeluk leher Dipta, ketika mereka melintasi kumpulan para karyawan yang sedang bersiap untuk keluar makan siang.
Dipta sampai menghajar perut Bima agar melepaskan pelukannya di lehernya.
Dipta salah tingkah dibuatnya. Gara-gara kelakuan Bima yang luar biasa jahil dan usilnya. Dengan sengaja memancing di air keruh. Sehingga para karyawannya sekarang menatap dia semuanya dengan tatapan penuh curiga. Dipta kesal bukan main.
Bima hanya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Dita yang sangat lucu baginya.
"Berhenti tertawa Bima! Sama sekali nggak ada yang lucu, tau nggak? Kau itu sudah ngerusak reputasi Gue di depan para karyawan gue sendiri. Betul-betul kau itu teman durhaka luar biasa!" ucap Dipta kesal.
Sepanjang perjalanan menuju ke basement perusahaannya. Dipta terus menggerutu terhadap Bima, sahabatnya yang selalu usil dan jahil terhadap dirinya.
"Ayolah Bro! Berhentilah ngomel terus! Kau dari tadi marah-marah terus. Bagaimana nanti kalau kau cepat tua, huh! Hahah!" ucap Bima dia lalu ikut masuk ke mobil Dipta.
Bima sengaja meninggalkan Mobilnya di perusahaan Dipta. Agar nanti dia bisa kembali lagi ke perusahaan itu. Untuk mengambil mobilnya dan kembali ke rumah sakit untuk bekerja di sana.
"Bima! Kamu bisa nggak sih? Untuk menghentikan ke usilanmu itu? Apa kau tahu? Kalau keusilanmu itu memberikan Kerugian apa padaku?" tanya Dipta ketus.
"Ayolah Dipta! Aku kan cuma bercanda saja. Kenapa sih? Kamu selalu serius dalam menghadapi kehidupan ini? Santai sajalah Bro, rileks!" ucap Bima yang mencoba untuk menghibur sahabatnya yang dari tadi marah terus terhadap dirinya.
__ADS_1
Setelah mereka sampai di restoran yang mereka tuju. Bima dan Dipta akhirnya turun dan mencari tempat yang strategis untuk mereka bisa bicara secara pribadi tanpa merasa terganggu oleh orang lain.
Ketika mereka sedang asyik makan, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Ali dan Nur. Dipta kemudian mengajak mereka berdua untuk semeja dengan dirinya dan Bima, sahabatnya.
"Bagaimana kabarmu Dipta? Oh ya gimana dengan Anjani? Apakah operasinya berhasil?" tanya Nur, tampak excited bertemu dengan Dipta. Karena memang mereka bertiga sudah sangat lama tidak bertemu.
"Kabarku Alhamdulillah baik-baik saja. Oh ya, kenalkan dia adalah sahabatku, Bima! Kami bersahabat sejak masih SD hingga sekarang!" ucap Dipta pelan, memperkenalkan Bima kepada mereka berdua.
"Dim, perkenalkan mereka berdua adalah orang yang mengelola pondok pesantren. Dan gue di sana menjadi donatur tetap untuk membiayai kebutuhan pondok. Oh, ya! Siapa tahu, Rumah Sakit keluarga lu, juga mau mendaftar menjadi donatur tetap di pondok pesantren. Lu bisa menghubungi gue nanti atau bisa langsung datang ke pondok!" Ucap Dipta sambil tersenyum.
Dipta memperkenalkan Bima dengan Nur dan Ali yang tampaknya sudah mulai akrab satu sama lain.
Itulah memang kelebihan Bima. Seorang pria bersahaja dan hebat dan bisa dengan cepat akrab dengan siapapun yang dia temui
"Senang bertemu dengan anda!" jawab Ali sambil tersenyum kepada Bima.
"Kau sedang hamil Nur? Alhamdulillah ya Allah! Selamat ya? Semoga anak kalian lahir dengan sehat dan selamat!" ucap Dipta dengan sangat bahagia sekali.
Dipta sangat ingat, betapa dulu ketika dia tinggal bersama dengan Nur. Dia sangat senang dan sangat sayang sekali kepada Raffi, putra mereka bedua.
Sekarang Dipta mulai menjauhi Nur. Karena menjaga perasaan suaminya agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka dan tidak mengganggu keutuhan rumah tangga mereka berdua.
Bahkan, donasinya untuk pondok pesantren pun, langsung ditransfer oleh sekretarisnya ke rekening Pondok. Dipta tidak pernah satu kali pun datang lagi ke sana.
Karena Dipta tidak mau mencari masalah ataupun membuat masalah untuk keduanya.
Begitulah memang seharusnya. Sebagai seorang teman yang baik dalam menyikapi hubungan antara laki-laki dan perempuan. Kita harus saling menjaga perasaan pasangan masing-masing dari teman kita.
__ADS_1
Agar tidak mengganggu hubungan resmi teman lain jenis. Maksudnya pertemanan antara laki-laki dan perempuan. Yang masing-masing sudah memiliki pasangan sendiri-sendiri.
Terkadang, pikiran orang itu berbeda-beda. Ada orang yang cemburuan. Dia tidak senang melihat pasangannya dekat dengan orang lain sehingga akhirnya menjadi pemicu keributan dalam rumah tangga mereka.
Sama halnya yang pernah terjadi dulu. Antara Nur dan Ali. Ketika melihat Ali yang terlalu dekat dengan Rianti. Bahkan Nur sampai nekat meninggalkan suaminya dan kabur membawa anak mereka.
Sehingga akhirnya mempertemukan Dipta dengan Nur dan Raffi.
"Iya terima kasih kami juga berdoa semoga kamu bisa segera menikah dan mempunyai anak!" doa Ali sambil.tersenyum kepada Dipta.
"Amien! Terima kasih atas doa kalian berdua. Semoga Allah mendengarkannya dan segera mengirimkan jodoh untukku!" ucap Dipta Sambil tertawa terbahak-bahak.
setelah berpamitan Ali dan Nur kemudian pulang dan kembali ke pondok pesantren.
"Mereka siapa, Dip? Tampaknya lu akrab banget sama mereka!" tanya Bima kepada Dipta. Setelah Ali dan Nur meninggalkan mereka berdua di restoran.
"Mereka teman gue! Kan tadi gue udah bilang, kalau mereka teman gue! Emang apa sih yang layak dipertanyakan lagi?" jawab Dipta dengan Ketus.
Dipta masih kesal dengan Bima yang masih juga usil dengan kelakuannya.
"Tapi kelihatannya bukan hanya sekedar teman kan? Ayolah! Cepat ceritakan ke gue! Gue penasaran banget tau nggak sih?" cara memaksa kepada Dipta untuk menceritakan tentang perihal Nur dan Ali.
"Dulu, Nur pernah kabur dari suaminya. Semua itu gara-gara Riyanti yang punya rencana untuk merebut Ali dari tangan istrinya. Demi mendapatkan harta kedua orang tuanya dan juga harta milik Nadya. H itu di lakukan dalam rangka untuk membalas dendam. Gara-gara Nadia telah mereka berdua masukkan ke dalam penjara. Akibat kejahatan Nadia yang mereka ekspos ke publik!" ucap Dipta pelan, berusaha untuk menerangkan semua kronologis yang menghubungkan dirinya bersama kedua pasangan tersebut.
Tampak Bima terkejut mendengarkan cerita tersebut. Ternyata wanita yang pernah dia cintai. Pernah memiliki sejarah gelap dalam hidupnya yaitu ingin menghancurkan kehidupan rumah tangga orang lain.
"Tahu nggak sih? Gue seakan tidak percaya kalau Rianti pernah memiliki niat seperti itu terhadap orang lain!" ujar Bima seakan tidak percaya dengan keterangan Dipta.
__ADS_1