
Dinda menatap wajah suaminya dengan lekat saat ini perasaannya benar-benar sangat gugup dan juga jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
" Apakah Mas serius?" tanya Dinda gugup sambil menatap suaminya yang terus mendekat ke arahnya.
" Aku tahu kalau aku telah menganiaya dirimu dengan tidak mau menyentuhmu setelah pernikahan kita berjalan 2 bulan lamanya. Tapi percayalah sebagai seorang laki-laki Aku pun merasa menderita setiap melihatmu berada di sampingku tetapi tidak bisa aku sentuh. Selama ini aku hanya merasa takut kalau aku akan memberikan hal buruk ke dalam hidupmu ketika belum ada rasa cinta hadir di dalam hatiku." ucap Raffi berusaha menjelaskan situasi yang dia rasakan selama menikah dengan Dinda.
" Aku tidak akan merasa dirugikan Mas. Walaupun apa yang akan terjadi dengan rumah tangga kita ke depannya. Karena memilikimu dan bersamamu adalah impian terbesarku selama ini!" ucap Dinda dengan suara bergetar dan sangat malu berhadapan dengan suaminya saat ini.
Raffi yang saat ini hanya menggunakan celana pendeknya saja dan menampakkan badan bagian atasnya.
Dinda sangat malu saat ini ketika melihat suaminya yang semakin mendekat ke arahnya dengan tatapan berkabut.
" Apakah kau sudah siap untuk kita berdua benar-benar menjalani kehidupan rumah tangga kita sebagai suami istri yang sesungguhnya?" tanya Rafi berbisik di telinga Dinda yang auto merinding seketika seluruh tubuhnya.
Ketika suaminya menyentuh pinggangnya seperti ada ribuan volt listrik yang menyetrum tubuhnya. Perlahan tapi pasti, Rafi mulai mendekati sang istri dan meraih tengkuknya serta mencium bibir Dinda yang tipis dan merekah. Sudah lama sebenarnya Raffi ingin melakukan hal itu tetapi dia merasa ragu dan tidak sanggup melakukannya karena merasa takut kalau Dinda akan menolak dirinya.
Ketika dia merasa bahwa ciumannya dapat sambutan yang baik dari Dinda. Raffi semakin bersemangat untuk melakukan hal yang lebih dari itu. Sambil berpagutan mesra, kedua insan yang sudah bertekad untuk menjalani rumah tangga mereka berdua secara normal seperti suami istri yang lain secara perlahan mereka menuju ranjang yang sudah selama 2 bulan pernikahan mereka, ranjang yang selalu dingin tanpa ada sentuhan kemesraan di dalamnya. Karena pemiliknya yang selama ini sama-sama malu dan ragu untuk meminta hak masing-masing sebagai suami istri.
__ADS_1
Akhirnya malam itu menjadi malam yang paling indah untuk mereka berdua yang baru pertama kali mengecap manisnya madu cinta sebagai suami istri yang sudah halal di mata Allah negara maupun agama.
Tampak wajah puas dan bahagia terlihat jelas pada keduanya yang saat ini sedang saling memeluk satu sama lain. Setelah mereka berdua selesai melaksanakan ibadah untuk menyempurnakan pernikahan mereka berdua.
" Terima kasih karena kau telah memberikan hadiah yang paling indah untukku sebagai suamimu dengan menjaga dirimu dan juga pergaulanmu sebelum pernikahan kita!" ucap Raffi dengan sangat senang karena mendapatkan istrinya yang masih tersegel dan terjaga dari pergaulan buruk sebelum pernikahan mereka berdua.
" Semenjak aku kecil dalam impianku adalah menjadikanmu sebagai suamiku. Oleh karena itu aku selalu menjaga diriku dari laki-laki yang bukan mahram ku. Di dalam hatiku kau telah menjadi suamiku sejak dulu!" ucap Dinda sambil tersipu dalam pelukan sang suami yang merasa sangat bahagia mendapatkan cinta yang begitu besar dari Dinda.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Raffi saat ini dia begitu dekat dengan seorang perempuan. " Ternyata begini ya rasanya mempunyai seorang istri sholehah? Sangat menyenangkan. Selain itu pandangan dan nafsu akan selalu terjaga. Benar-benar sebuah ibadah yang sangat menyenangkan dan membahagiakan!" ucap Rafi tersenyum.
Yah setelah penyatuan mereka berdua. Raffi bisa merasakan kalau hatinya bahagia dan merasa bangga dengan Dinda yang telah mempersembahkan kesuciannya untuk dirinya.
Terlebih kalau sampai perzinahan itu pada akhirny melahirkan seorang anak yang tidak berdosa. Pasti akan jasihan sekali anak tersebut karena lahir tanpa seorang ayah yang sah di dalam mata agama maupun negara. Pada akhirnya selalu wanita lah yang menjadi korban karena harus menanggung malu dan aib. Apabila laki-laki tersebut tidak mau bertanggung jawab dengan kehamilannya. Bahagia sesaat, kebahagiaan semu yang di dapatkan dari perzinahan tersebut akan tetapi harus menanggung aib untuk seumur hidupnya.
keesokan harinya Raffi dan Hilya terbangun ketika suara Adzan Subuh terdengar dari ponsel yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Raffi.
Suara adzan di Masjid Pondok pun terdengar dan membangunkan mereka dari tidur yang lelap setelah menjalankan ibadah yang melelahkan tapi menyenangkan.
__ADS_1
" Ya Allah terima kasih karena kau telah memberikan seorang istri yang sholehah untukku. Semoga aku bisa menjadi seorang suami sekaligus Imam dari rumah tangga kamu berdua. Sehingga kelak bisa membawa kami menuju Surgamu ya Allah!" ucap Raffi sambil mencium kening istrinya yang saat ini berada di dalam pelukannya.
" Amin ya Allah!" Raffi terkejut ketika tiba-tiba dia mendengar suara istrinya.
" Astaghfirullahaladzim kau benar-benar mengejutkanku!" ucap Raffi sambil mengulas senyum kepada istrinya yang langsung menghadiahkan senyum terindahnya untuk sang suami di pagi hari yang dingin.
" Ayo kita mandi dulu, lalu salat bersama ke masjid!" ucap Raffi bangkit dari ranjang dan mengajak sang istri untuk mandi bersama.
" Mas duluan saja yang mandi aku akan mempersiapkan kebutuhanmu sebelum berangkat ke masjid!" ucap Dinda tersipu malu. Melihat sang istri yang tersipu seperti itu malah membuat Raffi merasa gemas.
" Jangan menggodaku dengan wajah innocent seperti itu!" ucap Raffi menolak bantahan dari sang istri.
Dinda tampak meringis ketika dia hendak bangkit dari tidurnya. " Aw, sakit Mas!" ucap Dinda yang malah membuat Rafi jadi tambah gemas rasanya kepada istri halalnya.
" Aku akan menggendongmu. Semoga saja dengan berendam air hangat akan bisa membantu mengurangi sedikit rasa sakitnya!" ucap Raffi sambil menggendong istrinya menuju kamar mandi.
Dinda merasa bahagia sekali mendapatkan perlakuan Manis dari sang suami yang selama ini menjadi bahan mimpinya.
__ADS_1
" Impianku telah menjadi nyata untuk menjadi istrimu yang sesungguhnya!" ucap Dinda sambil tersenyum kepada suaminya.
" Yah teruslah bermimpi. Karena dengan mimpi itu Tuhan akan mengirimkan ribuan semangat untuk memperjuangkan impian untuk menjadi kenyataan!" ucap Raffi merasa bangga karena dirinya selama ini telah menjadi mimpi dari seorang wanita sholehah seperti Dinda.