
Kedua orang tua Rianti benar-benar kehabisan akal untuk menenangkan Riyanti yang terus menangis dan mengamuk di kamarnya. Kamarnya kini sudah bersih. Semua barang pecah belah sudah hancur dia bantingin, kamarnya tampak lengang dan sunyi.
Sejak 20 menit yang lalu, Riyanti jatuh tertidur karena sangking lelahnya, seharian menangis, tanpa bisa dibujuk lagi. Mamanya Rianti kini tergolek lesu dilantai kamar Rianti, menyaksikan keadaan putrinya satu-satunya dalam keadaan hancur dan patah hatinya.
"Kita harus memikirkan sebuah solusi, Pah! Untuk keadaan Putri kita ini. Mama jadi sedih,Pah! Melihat keadaannya. Sudah mah, Nadya sekarang tinggal di penjara, sekarang Rianti juga dalam keadaan seperti ini. Mama benar-benar tidak sanggup melihat mereka semua dalam kehancuran, Pah! Tolong pikirkan sebuah cara!" rintih Mamahnya Rianti.
"Iya! Nanti Papa pasti akan pikirkan solusinya! Sudahlah, Mah! Jangan menangis terus! Papa ini kepalanya sudah mau pecah! Melihat Riyanti menangis dari tadi, sekarang mama juga ikut-ikutan nangis! Udah, yuk! Kita istirahat mumpung Rianti sudah tenang keadaannya!" ucap Papahnya Rianti kemudian meninggalkan ruangan itu.
Mamanya Rianti menyusul sang suami masuk kamar mereka. Sungguh hari yang sangat panjang bagi kedua suami istri tersebut. Melihat putrinya yang tinggal satu saja, sekarang hatinya tampak menderita, karena patah hati. Karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
"Sudah, Mah! Ayo kita tidur! Sudah larut malam ini! Besok Papa banyak sekali pekerjaan dan banyak juga meeting di kantor. Papa sudah mengantuk. Sudah! Besok kita siskusi masalah ini lagi, oke?" potong Papanya Rianti ketika melihat sang istri masih ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Mau tidak mau, Mamanya Rianti pun akhirnya membaringkan dirinya di samping sang suami dan mulai memejamkan matanya.
"Semoga hari esok jauh lebih baik untuk Putri kita! Mama nggak minta berlebihan, Mama hanya ingin anak-anak kita hidup bahagia!" kemudian tidak terdengar suara lagi.
Saat shubuh mulai menjelang, tiba-tiba kamar mereka di ketuk oleh pembantunya, Mamahnya Rianti yang masih mengantuk, lamat-lamat bisa mendengarkan teriakan pembantunya di luar pintu sana. Dengan tergesa dia langsung meloncat dari kasurnya dan membuka pintu.
"Ada apa sih Bi? Masih pagi sudah teriak-teriak bikin orang kaget aja!" ucap Mamahnya Rianti masih terlihat ngantuk.
__ADS_1
"Itu Nyonya! Itu, itu, itu.. Nyonya... Non Rianti memotong nadinya! Sekarang dia jatuh pingsan di bathup!" ucap Pembantu itu, yang sudah bekerja di keluarga itu hampir separuh hidupnya.
Demi mendengar apa yang dikatakan oleh pembantunya tersebut, Mamanya Rianti langsung membangunkan suaminya yang masih pulas dalam tidur. "Pah! Bangun! Itu Rianti memotong nadinya! Dia pingsan di bathup sekarang! Cepat bangun, Pah!" Suaminya langsung loncat dai kasur, sangking kagetnya mendengar ucapan istrinya. Mereka berdua segera bergegas menuju kamarnya Rianti.
Saat mereka sampai di kamarnya Rianti, tampak beberapa pelayan sedang berkerumun. Ada yang ketakutan, ada yang menangis, ah, pokoknya rupa-rupa yang ada di dalam ruangan tersebut. Kedua oang tua Rianti langsung menyibak keramaian tersebut dan melihat keadaan putrinya yang kini sudah pingsan. Tampak darah segar yang mengalir dari pergelangan tangannya yang dipotong oleh sebuah pisau.
"Ya Tuhan! Putriku!" Mamahnya Rianti langsung memeluk Rianti yang wajahnya sudah pucat, tampaknya sudah lama dalam keadaan seperti itu.
"Kenapa kalian malah berkerumun di sini? Cepat segera persiapkan mobil! Bawa Putri ke rumah sakit?! Apa kalian sudah bosan untuk bekerja di rumah?" Papanya Rianti sudah berteriak, karena panik melihat putrinya yang sudah pingsan. Dan darah banyak mengalir di kamar mandi tersebut. Bathup sudah berwarna merah bercampur darah Rianti yang sampai sekarang masih mengalir dari pergelangan tangan yang dia hiris menggunakan pisau.
'Akhirnya beberapa dari mereka langsung keluar dari kamar Rianti. Dan beberapa orang ada yang membantu Riyanti untuk diangkat ke dalam mobil. Sebagian lagi ada yang membersihkan kamar mandi tersebut yang kini tercium bau amis darah. Mereka tampak ngeri melihat keadaan Riyanti yang sangat mengenaskan.
"Kasihan ya, Non Rianti! Cantik-cantik ditolak cintanya sampai mau bunuh diri seperti itu!" ucap Salah seorang pelayan yang kini sibuk membersihkan bekas darah yang masih menempel di lantai dan bathup.
"Hus! Kamu jangan sembarangan! Kalau didengar Tuan sama Nyonya! Bisa-bisa kau langsung dipecat dari rumah ini!" temannya yang lain memperingatkan temannya itu.
"Jangan khawatir! Tuan sama Nyonya sekarang lagi ke rumah sakit. Pasti mereka sangat panik! Tidak akan mungkin mereka ada waktu memperhatikan kita semua di sini!" ucap pelayan tadi.
__ADS_1
"Ah, kau bener juga! Tuan sama Nyonya pasti sekarang sangat sedih, melihat keadaan non Rianti yang sangat mengenaskan itu! Saya saja sedih apalagi mereka!" ucapnya dengan nada pelan.
"Udah! Ayo kita selesai kerjaan kita! Agar kita bisa segera sarapan! Perutku sudah keroncongan Ini dari tadi. Saya juga pusing ini, gara-gara melihat ini banyak sekali darah!"
Mereka pun bergegas membersihkan pekerjaan mereka. Kemudian mereka keluar dari ruangan tersebut dan kembali ke pos masing-masing.
Sementara itu di rumah sakit, kedua orang tua Riyanti yang sangat panik tidak bisa berhenti mondar-mandir di lorong rumah sakit. Saat ini para dokter sedang berjuang untuk menyelamatkan Riyanti yang sangat kritis keadaannya di rumah di ruang ICU.
"ini semua gara-gara Papa !Papa yang mencetuskan ide untuk balas dendam itu! Sehingga sekarang anak kita dalam keadaan seperti ini. Ini semoga gara-gara!" ucap Mamanya Rianti sangat panik. Dia terus memukuli dada suaminya yang juga tampak sangat frustasi, suaminya tidak bisa berkata apa-apa, karena melihat putrinya yang saat ini sedang berjuang dengan maut.
"Sudahlah, Mah! Tolonglah! Ini bukan waktunya untuk membicarakan hal itu! Sekarang kita lebih baik banyak-banyak berdoa, agar Putri kita baik-baik saja!" Papahnya Rianti lalu membimbing Istrinya untuk duduk di bangku yang ada disana.
Tampak kepanikan di raut wajah kedua orang tua Riyanti, yang hampir 3 jam lamanya menunggu keadaan putrinya di dalam sana. Tetapi masih belum ada kabar apapun.
"Pokoknya, kalau ada apa-apa dengan Rianti, Mama tidak akan pernah memaafkan Papa lagi!" ancam sang istri dengan tatapan horornya. Papahnya Rinati sampai kesulitan menelan salivanya.
"Ya, Ma, iya! Papa pasti akan mendapatkan solusi untuk masalah ini. Mama tenang ya, jangan begini terus! Ini tidak akan membantu apapun, kita harus banyak berdoa agar Putri kita di sana baik-baik saja!" ucap suaminya masih berusaha untuk menenangkan istrinya.
__ADS_1