
Tiba-tiba saja ada gempa susulan yang membuat semua orang yang berada di sana panik. Mereka semua segera keluar dan berlari dari tenda masing-masing dan menuju tempat yang aman.
"Sayang, Apa kau tidak apa-apa?" tanya Bagas memeriksa kondisi istrinya yang tampak ketakutan tidak dalam pelukannya.
"Dokter bagas! Cepat segera ke tempat yang aman! Jangan lupa kau bawa istrimu!" ucap Bima sambil terus berteriak kepada Bagas.
Suara hikuk kikuk di sana yang membuat mereka harus berteriak, untuk berbicara dengan yang lain, agar bisa didengarkan oleh lawan bicara yang dimaksud.
"Bagaimana dengan dokter sendiri? Ayo cepat kita menyelamatkan diri kita dulu, baru pikirkan hal yang lain!" ucap Bagas mencoba untuk menyadarkan Bima yang saat ini sedang mencoba untuk menyelamatkan obat-obatan di ruangan medis.
"Kita harus menyelamatkan obat-obatan ini, Dokter! Para korban bencana ini, pasti akan membutuhkannya!" ucap Bina dengan penuh semangat dia memindahkan obat-obatan, yang mulai tertimbun oleh beberapa ruruntuhan bangunan, yang menimpanya.
Akhirnya, Bagas dan Rianti pun membantu Bima untuk menyelamatkan obat-obatan tersebut. Mereka bisa menyelamatkan hampir keseluruhan obat-obatan yang ada di sana. Kemudian mereka langsung pergi ke tempat aman menyelamatkan diri mereka sendiri.
"Dokter akan dibawa ke mana obat-obatan ini? Kita akan kerepotan kalau membawa semuanya!" ucap Bagas kepada Bima.
Bima tampak berpikir, kemudian dia melihat mobil Hardtop yang dia bawa kemarin masih terparkir di sana.
"Kita masukkan semua obat-obatan ini ke mobil Hardtop itu dan kita akan membawanya ke tempat yang aman. Di mana para korban pasti akan membutuhkannya!" ucap bima sambil mulai bergerak, untuk memindahkan semua obat-obatan yang tadi mereka selamatkan ke dalam mobil hardtop.
"Dokter anda terluka! Tangan anda berdarah!" tiba-tiba saja Bagas memekik, ketika melihat darah yang mengalir di kemeja dokter Bima.
"Tidak apa-apa! Biarkan Saja! Ini hanya luka kecil. Ayo cepat kita harus segera pergi dari sini, sebelum semuanya terlambat!" ucap Bima masih terus berusaha untuk menyelamatkan obat-obatan tersebut setelah semuanya masuk ke dalam mobil Mereka pun langsung meninggalkan lokasi tersebut.
__ADS_1
Beberapa dokter lain, sudah menunggu mereka di tempat yang aman dari gempa.
"Alhamdulillah, Dokter Bima dan juga Dokter Bagas bisa menyelamatkan obat-obatan ini. Sehingga kita bisa menggunakannya untuk mengobati para korban dan para relawan!" ucap dokter Arman ketika mereka semua menyambut kedatangan Bagas, Bima dan Rianti. Mereka semua tampak bernafas dengan lega.
Setidaknya nyawa mereka hari ini masih bisa diselamatkan. Walaupun tampaknya ada beberapa warga yang tidak bisa diselamatkan karena keadaan yang begitu panik dan genting. Semuanya berusaha untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
"Dokter, ayo saya obati luka anda. Itu akan sangat berbahaya kalau sampai nanti terjadi infeksi!" ucap Bagas mengingatkan luka yang ada di tangan Bima.
Seketika Bima baru merasakannya rasa sakit yang begitu menderah di dalam tubuhnya. Tangannya tampaknya tadi ketimpa oleh balok yang jatuh. Saat dirinya sedang berusaha untuk menyelamatkan obat-obatan.
"Ayo ikut saya dokter! Jangan memaksakan diri Anda. Anda harus sehat, baru Anda bisa menyelamatkan orang lain!" bersikeras untuk mengobati bmBima yang wajahnya kini semakin pucat karena kehilangan telah banyak darah.
Karena dipaksa oleh bagas akhirnya Bima pun menurut dan masuk ke ruangan medis darurat, yang telah dipersiapkan oleh tim keselamatan bencana alam.
"Sudah beres Dokter! Sekarang sebaiknya dokter beristirahat dulu, jangan memaksakan diri untuk bekerja!" ucap Bagas kepada Bima.
"Terima kasih Dokter, karena anda sudah menolong saya! Tadi ketika kita bersama untuk menyelamatkan obat obatan itu, kalau anda dan istri anda tidak ikut membantu, pasti saya tidak bisa diselamatkan di sana!" ucap Bima dengan suara yang terharu sambil menatap Bagas yang kini tersenyum kepadanya.
"Tidak apa-apa, dokter. Bukankah alasan keberadaan kita di sini, memang adalah untuk menyelamatkan mereka semua? Kita di sini sama-sama berjuang untuk hidup, kita harus saling membantu!" ucap Bagas menguatkan Bima yang saat ini tampaknya sedang lemah.
"Hati anda sangat mulia, pantas saja Rianti sangat mencintai anda!" ucap Bima dengan mata berkaca-kaca.
"Hati anda juga Mulia dokter! Anda bekerja sangat keras sekali untuk menyelamatkan obat-obatan itu. Bahkan Anda tidak memperdulikan luka anda sendiri, bahkan itu sangat berbahaya bagi nyawa anda!" ucap Bagas memuji sifat heroik yang dimiliki oleh Bima. Rekan kerja yang baru dia kenal secara dekat beberapa hari ini.
__ADS_1
"Sebaiknya Anda istirahat dulu dokter, saya akan melihat keadaan yang lain dulu, siapa tahu masih ada yang perlu di tolong!" ucap Bagas kemudian meninggalkan Bima untuk bisa segera beristirahat.
Bima hanya mengangguk saja, kemudian dia berusaha untuk memejamkan matanya.
"Dia seorang laki-laki yang hebat dan juga baik. Tidak salah kalau Riyanti mencintainya. Aku sekarang bisa melepaskan Riyanti dengan hati yang lapang!" ucap Bima dengan berdarah air mata sekuatnya dia berusaha untuk menahan air mata itu untuk tidak keluar tetapi gagal.
Dementara itu, Rianti dan Bagas kini sedang berada di dalam tenda darurat. Yang baru saja dibangun oleh tim relawan.
"Alhamdulillah ya, mas! Kita semua bisa selamat dari bencana tadi!" ucap Riyanti dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Ya sayang, Mass juga bersyukur, kita masih diberikan keselamatan oleh Allah dan kita masih bisa diberikan umur panjang!" ucap Bagas dengan suara terharu.
Riyanti kini membenamkan kepalanya di dada suaminya. Yang tampak masih bergemuruh. Karena kelelahan dan juga perasaan sedihnya melihat banyak sekali korban yang kini mulai bergelimpangan di jalan-jalan.
Tim SAR dan juga tim penyelamatan, mereka bekerja keras dan ekstra untuk mengevakuasi beberapa korban yang sekiranya masih bisa bertahan hidup dan mampu di selamatkan oleh team kesehatan.
"Ayo kita tidur! Agar besok bisa memiliki tenaga lagi untuk berjuang!" ucap bagas sambil mengelus lembut pipi istrinya.
"Aku nggak bisa tidur Mas, aku takut kalau masih ada gempa susulan lagi!" Ucap Rianti masih memeluk tubuh suaminya.
"Tidak apa-apa kau, tidurlah. Mas akan menjaga kamu. Jangan khawatir!" ucap bagas berusaha menenangkan istrinya.
Tapi Rianti menggeleng, dia memilih untuk tetap bangun, bersama sang suami daripada dia tidur sendiri Sementara suaminya harus berjaga di luar tenda.
__ADS_1
"Kalau aku tidur, Mas juga harus tidur! Bagaimana mungkin, aku bisa tidur kalau kamu tidak tidur, Mas?" ucap Riyanti sambil memegang tangan suaminya.