
" Tolong maafkan istri saya Pak Kyai dia pasti masih syok atas meninggalnya putri kami!" ucap ayahnya Nadia kepada Ali yang saat ini sedang menatap mereka dengan prihatin.
Sementara itu Dipta yang masih duduk lemas di lantai juga menatap tubuh Nadia yang saat ini sudah tergolek lemas tak berdaya.
" Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Nadya, semoga kau ditempatkan di sisi Allah dan Allah mengampuni segala dosa yang pernah kau perbuat selama hidupmu di dunia ini!" ucap Dipta dengan meneteskan air matanya.
" Kenapa Kau jahat sekali kepada putriku huh? Padahal dia dulu sangat mencintaimu!" ucap ibunya Nadia sambil terus memukuli tubuh Ali yang masih berdiri dengan tegak di tempatnya saat ini.
" Sudah Mah! Tolong kau hentikan semua kebodohanmu ini. Tolong sadarlah Mah, tolong untuk sadar!" ucap suaminya sambil menggoncangkan tubuh istrinya yang masih histeris dengan kematian putrinya.
" Kalau sampai dia tidak usil mengganggu Putri kita. Tidak mungkin saat Ini Nadya meninggal Pah!" ucap ibunya Nadia sambil menangis dalam pelukan suaminya.
" Nak Dipta, Pak Kyai. Tolong bantu saya untuk mengangkat jenazah Nadia ke mobil kami! Agar kami bisa segera mengurusi jenazahnya hari ini juga!" ucap ayahnya Nadia meminta pertolongan kepada Dipta dan Ali.
Dipta yang sebenarnya tubuhnya sangat lemas saat ini. Dia berusaha untuk dapat memaksakan dirinya untuk bangkit dan membantu Ali untuk mengangkat jenazah Nadia yang saat ini sudah mulai mengeras.
" Kami akan mengikuti Bapak dari belakang!" ucap Ali sambil melihat kepada Dipta.
" Dipta, apakah kamu kuat untuk mengendarai mobilmu sendiri? Kalau tidak kau bisa ikut dengan mobilku!" ucap Ali menatap di Dipta yang masih tampak membeku di tempatnya.
" Saya akan mengikuti mobilmu, Pak Kiyai!" ucap Dipta dengan gugup. kemudian dia pun langsung masuk ke mobil Ali dan mengikuti mobil ayahnya Nadia yang sudah mulai berangkat ke kediaman mereka.
" Ya Allah aku serahkan tidak percaya dengan apa yang saat ini kulihat Kenapa bisa ada terjadi hal semacam ini Pak Kyai?" tanya Dipta dengan suara gemetar.
" Kita harus bersyukur menemukan perihal ini sebelum kau menikah dengan Nadya!" ucap Ali sambil melirik kepada Dipta yang pernah menolong istri dan anaknya ketika dahulu mereka berpisah. Karena kesalahpahaman yang diakibatkan oleh Rianti.
" Saya tidak bisa membayangkan. Bagaimana kehidupan saya kalau sampai menikahi Nadya dalam kondisi semacam itu!" ucap Dipta sambil melirik sekilas kepada Ali yang masih fokus menyetir.
" Percayalah bahwa Allah sudah mengatur semuanya dengan sesempurna mungkin!" ucap Ali sambil tersenyum kepada Dipta.
__ADS_1
" Terima kasih Pak Kyai untuk kedua kalinya pakai sudah menyelamatkan nyawa saya dan juga masa depan saya!" Ucap Dipta dengan takjim kepada Ali.
" Tidak apa-apa Dipta! Sebagai sesama makhluk Allah, bukankah kita harus saling menolong? Ini adalah kemampuan saya dan saya pasti akan menolong kalau memang ada yang membutuhkannya!" ucap Ali sambil tersenyum kepada Dipta sehingga membuat Dipta merasa tenang pikirannya saat ini.
Tiba-tiba saja telepon Dipta berdering dan itu ternyata berasal dari Bima.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ada apa Bim? Bukannya kau sedang melaksanakan pesta pernikahanmu? Kenapa masih sempat untuk menelponku?" tanya Dipta to the point kepada Bima.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh! Seharusnya aku yang bertanya kalian pada ke mana? Kenapa semuanya menghilang dari pesta?" tanya Bima merasa heran dengan semua orang yang dia kenal tiba-tiba tidak ada di ballroom pernikahannya.
Dipta melirik kepada Ali meminta pendapatnya.
" Jangan mengatakan kepada Bima tentang hal ini sekarang. Sebaiknya kita tidak mengganggu pesta pernikahan Bima!" ucap Ali dengan suara perlahan Kepada Dipta.
" Tidak apa-apa Bima. Sekarang kau lanjutkan saja dulu pesta pernikahanmu. Nanti setelah selesai aku akan menceritakan semuanya kepadamu!" ucap Dipta menutupi kejadian yang saat ini sedang terjadi dari Bima.
" Ayolah! Katakan padaku jangan membuatku tidak tenang seperti ini!" ucap Bima mendesak untuk diberitahukan tentang kejadian yang saat ini sedang terjadi kepada sahabatnya.
" Bisakah kau jangan bermain teka-teki? Dipta, aku tidak bisa menebak apa yang saat ini sedang kalian lakukan. Tolonglah katakan langsung padaku, agar aku bisa tenang dalam menghadapi pesta ini!" ucap Bima memaksa Dipta untuk jujur kepadanya sekarang juga.
" Bagaimana ini Pak Kyai? Bima memaksa saya untuk mengatakan yang sesungguhnya!" tanya Dipta kepada Ali yang saat ini masih fokus menyetir mobilnya.
" Katakan saja kalau Nadia meninggal dan saat ini kita sedang menuju ke kediamannya untuk mengurus pemakamannya!" ucap Ali akhirnya mengalah untuk memberikan sedikit clue kepada Bima.
" Baiklah Pak Kyai saya akan sampaikan kepada Bima rasanya tidak adil juga kalau dia tidak mengetahui apa yang saat ini sedang terjadi kepada kita!" ucap Dipta menyetujui apa yang dikatakan oleh Ali.
" Halo Dipta? Kenapa kok malah terdiam sih? Cepat katakan padaku, ada apa?" ucap Bima mendesak Dipta untuk jujur kepadanya.
" Nadia meninggal Bim dan saat ini Kami sedang menuju ke kediamannya untuk mengurus pemakamannya!" ucap Dipta pelan, Dipta akhirnya jujur kepada Bima.
__ADS_1
Tampak Dipta merasa sedih dengan apa yang dia katakan kepada Bima.
"Innalillahi wainna ilaihi rojiun! Lo harus sabar Bro! Baiklah setelah acara resepsi ini selesai, gue akan langsung datang ke kediaman Riyanti. Bro, lu yang sabar ya?" ucap Bima berusaha untuk menyemangati sahabatnya yang saat ini sedang bersedih karena kehilangan tunangannya.
" Iya Bro terima kasih banyak. Tolong untuk lu lanjutkan pesta itu. Jangan sampai Sheilla menjadi membenci gue, kalau lo sampai pergi ke sini dan meninggalkan pesta kalian!" ucap Dipta memberikan pesan kepada Bima untuk tidak meninggalkan pesta mereka berdua untuk menjaga perasaan Shela dan juga keluarganya.
" Iya Bro, lu tenang aja. Gue juga tidak akan mau untuk membuat Sheila kembali ilfil sama gue!" ucap Bima dengan menundukkan kepalanya.
" Sayang ayo! Tamu-tamu sudah mencarimu!" Sheila tiba-tiba sudah berada di belakang Bima dan mengajaknya untuk kembali ke pesta pernikahan mereka.
Sheila mengurutkan keningnya ketika melihat wajah Bima yang tampak tidak bahagia.
" Ada apa apakah kau menerima kabar buruk sehingga membuatmu berwajah masam seperti itu?" tanya Sheila kepada Bima yang kini sudah resmi menjadi suaminya.
" Nadia meninggal!" ucap Bima sampai melangkahkan kakinya kembali ke pesta dan menemui rekan-rekan yang lain.
" Innalillahi wainna ilaihi rojiun! Lalu apakah kau berniat untuk meninggalkan pesta ini dan pergi menuju sahabatmu?" tanya Sheila dengan nada sendu.
Bima terdiam dan menatap salah yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.
" Apakah kau berpikir bahwa aku akan meninggalkan pesta ini dan lari ke Dipta?" tanya Bima sambil menatap tajam kepada Sheila yang saat ini tidak berani menatap wajahnya.
" Ayo cepat kita kembali ke pesta tamu-tamu sedang menunggu kita!" ucap Bima sambil menarik tangan istrinya yang seperti ketakutan kepadanya.
" Apakah kau akan tetap berada di Pesta kita?" tanya Sheila dengan suara gemetar.
Bima tertawa melihat ekspresi Sheila yang begitu ketakutan saat ini.
" Pesta ini bukan hanya milikmu. Akan tetapi juga pernikahanku. Apakah aku tidak diperbolehkan untuk hadir di pesta ini?" tanya Bima sambil menatap kepada Sheilla.
__ADS_1
" Tentu saja pesta ini adalah milik kita berdua. Dan kau berhak untuk ada di dalamnya!" ucap Sheila sambil menatap kepada Bima.
" Sudah! Ayo kita jangan berdebat terus di sini. Tamu-tamu kita sedang menunggu!" ucap Bima sambil menarik tangan Sheila dan langsung bergabung dengan yang lain di dalam pesta pernikahan mereka berdua yang sangat meriah.