Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
75. Usaha Menyembuhkan Rianti


__ADS_3

Siangnya, Papanya Rianti kembali datang, dengan wajah sendunya. Dia memohon agar Ali bersedia menjenguk putrinya. Rianti telah siuman, tetapi ketika pertama kali bangun, yang dia cari adalah Ali. Tidak mau makan dan minum, tidak mau menerima pengobatan. Sungguh membuat frustasi kedua orang tuanya.


"Tolong, Ustadz! Putri saya benar-benar membutuhkan Ustadz!" ucap Papanya Rianti dengan menghiba.


"Baru saja kami berbaikan, datang lagi masalah yang sama. Apa bapak tahu, masalah apa yang sudah bapak berikan kepada keluarga kami? Kami bahkan hampir bercerai, Pak! Ini, suami saya baru saja berhasil saya bujuk untuk pulang ke rumah, setelah semalaman tidur di masjid. Kenapa Bapak hanya egois saja? Bapak memikirkan kebahagiaan Putri Bapak, tetapi Bapak mengobrak abrik rumah tangga kami. Apa bapak sadar, dengan yang Bapak lakukan, huh? Anak saya terancam kehilangan ayahnya!" ucap Nur berapi-api. Ya, begitulah Nur. Kalau marah sudah tidak ingat apapun dan siapapun.


Selama dia merasa benar, dia berani menantang siapapun. Tidak takut kehancuran apapun. Tidak takut kemarahan siapapun. Ya, itulah dia! Yang selalu berani menghadapi apapun selama dia benar.


"Maafkan istri saya, Pak!" ucap Ali menundukkan kepala.


"Kamu pergi kesana dengan Bapak ini, bersiap saja, kamu pulang, tidak akan pernah kau temui istrimu dan anakmu lagi di rumah ini! Camkan itu!" Nur lalu pergi dari sana dengan melemparkan pandangan sengit dan penuh permusuhan kepada Papanya Rianti.


Papanya Rianti sampai merinding melihatnya. Benar-benar tidak berani mengatakan hal yang lain. Kemudian dia memilih untuk pergi dari rumah Ali dan Nur.


"Maafkan saya Pak Ustadz! Saya benar-benar malu sekali, tapi kami sudah berusaha mencari Dipta, tapi dia tidak bisa ditemukan." Papanya Rianti tampak sedih sekali.


"Ya, Pak! Dipta sedang pergi ke Purwokerto, berziarah ke makam almarhum istri dan putranya. Sudah satu Minggu dia di sana. Kami juga sedang menunggu kedatangan dia!" ucap Ali, Papanya Rianti lalu pergi dari sana dengan hati yang terhiris. Bagaimanapun, apa yang dikatakan oleh Nur ada benarnya juga.


"Benar, aku ini sangat egois! Memikirkan kebahagiaan putriku, tetapi aku sedang berusaha menghancurkan masa depan seorang bayi yang tidak berdosa! Ya Allah! Ampuni hambamu!" lirih Papanya Rianti berdoa.


"Tuan baik-baik saja?" tanya Supirnya.


"Apa yang harus saya lakukan? Istri Ustadz Ali, tidak mungkin mau untuk di madu. Dia sangat keras dan mempunyai pendirian tetap. Saya jadi bingung, sementara keadaan Rianti saat ini juga sangat memperihatinkan."


"Yang sabar, Pak! Serahkan semua kepada Allah! Mungkin, saat seperti ini adalah saat dimana kita akan semakin dekat dengan Allah!" ucap Sopirnya.

__ADS_1


"Ya, Pak! Bapak benar. Selama ini keluarga saya memang terlalu jauh dengan Allah. Hanya sibuk mengejar kekayaan dunia. Lupa dengan adanya Allah! Kami sungguh manusia yang lalai selama ini." tanpa terasa mereka sudah sampai lagi ke rumah sakit. Tetapi Papahnya Rianti merasa gamang untuk ke sanam. Istrinya pasti akan mengomeli dirinya lagi. Bertanya kenapa tidak membawa Ustadz Ali yang kini sedang di cari oleh putrinya.


"Bapak tidak turun?" tanya Supirnya bingung.


"Kalau saya turun, juga cuman nambah pusing dan frustasi. Nyonyamu pasti akan terus mencecar saya, untuk membawa Ustaz muda itu. Sementara kau tahu sendiri, bahwa istrinya sudah mengancam kalau dia berani datang ke sini, maka dia akan pergi membawa anaknya. Laki-laki gila mana, yang rela mengorbankan keluarganya demi membantu orang lain. Betul, bukan?" tampak beban berat yang di pikul oleh Pria yang usianya sudah setengah abad itu. Selama beberapa hari ini, dia tidak bisa fokus melakukan pekerjaan apapun. Pikirannya hanya tertuju kepada Putrinya yang masih kritis.


"Jadi sekarang bagaimana, Pak?" tanya Supir tersebut.


"Ayo kita pergi ke suatu tempat, yang tenang. Saya ingin menenangkan diri dulu!" akhirnya Papanya Rianti mengambil keputusan untuk pergi dari sana.


"Bagaimana kalau ke pantai saja, Pak?"


"Ya, terserahlah! Saya hanya ingin menenangkan diri saja!"


Supir yang sudah hampir tiga puluh tahun bekerja dengan sempurna itu, kini membawa tuannya ke pantai yang sejuk tenang yang ada di luar kota. Sengaja, dia membawa pergi Tuannya ke tempat yang jauh.


"Ya Tuan! Tempat terbaik untuk menenangkan pikiran adalah dengan melihat kebesaran Allah!" ucap supir tersebut. Papanya Rianti melihat supirnya sekilas.


"Bapak punya anak berapa?"


"Empat, Pak! Alhamdulillah yang sulung sudah bersiap untuk menjadi seorang Dokter syaraf. Sekarang masih menjalani masa koasnya." ucap supir tersebut dengan penuh bangga.


"Lalu bagaimana dengan yang lain?" tanyanya lagi, kini pandangannya melihat laut luas yang datang silih berganti ombak bergulung.


"Yang kedua, dia sebentar lagi akan menjadi seorang pengacara, Pak! Sementara yang ke tiga dan ke empat, sekarang sedang mondok di Jawa Timur, Pak!" ucapnya.

__ADS_1


"Anak-anak Bapak sungguh luar biasa! Saya sangat malu, hanya mempunyai dua orang anak, tapi saya gagal mendidik mereka berdua. Nadya, sekarang masuk penjara karena kasus pembunuhan dan pesugihan. Sekarang Rianti, ah.. dia sedang cari perkara dengan mencoba nasib menghancurkan rumah tangga orang lain!" ucapnya sendu. Papahnya Rianti tampak seperti orang tertekan.


"Semua karena kebaikan Tuan. Yang sudah memberikan pekerjaan kepada saya. Sehingga saya mampu menyekolahkan dan mengirimkan anak-anak saya ke pondok pesantren.


" Anak pertama bapak. Siapa namanya?" tanyanya. Tampak tertarik dengan anak pertama sopirnya.


"Namanya Bagas, Pak! Dia adalah asistennya Dokter yang saat ini merawat Non Rianti." Papahnya Rinati sampai terkejut. Demi mendengar ucapan itu.


"Dokter Bagas, adalah anak Bapak?" ulangnya lagi, seakan tidak percaya. Ketika melihat supir itu mengangguk baru dia yakin 100%.


"Saya sudah bertemu dengan anak Bapak! Dia lelaki yang tampan dan juga hebat!" pujinya kagum.


"Terimakasih, Pak!"


"Apakah anak Bapak sudah memiliki seorang kekasih atau tunangan?" tanya beliau lagi.


"Tidak, bapak!" jawabnya pelan.


Papanya Rianti diam seberapa saat lamanya. Matanya terus tertuju kepada ombak di laut, yang silih berganti, datang dan pergi. Pikirannya kini jauh lebih tenang.


"Pak," ucapnya, tapi tampak ragu.


"Iya, ada apa, Pak?" tanya supir tersebut.


"Apakah Bapak keberatan? Kalau seandainya saya, ingin menjodohkan Dokter Bagas dengan Rianti? Seperti yang Bapak tahu, selama ini, walaupun Rianti termasuk anak yang nakal. Tetapi, dia bisa menjaga pergaulannya dengan laki-laki. Saya bisa menjamin, bahwa dia masih perawan! Dan tidak akan mengecewakan anak bapak!" ucap Papanya Rianti sambil menatap mata supirnya.

__ADS_1


"Kalau saya sih, setuju setuju saja Pak! Jodoh itu kan, memang Tuhan yang menguasai. Tapi, apakah Non Rianti dan Nyonya besar, tidak akan mengamuk dengan rencana ini, Pak? Karena status saya sebagai sopir Tuan, pasti mereka akan malu berbesanan dengan saya!" ucap supir itu merasa insecure.


__ADS_2