
"Kamu siapa?" tanya Mamahnya Dipta ketika melihat ke arahku.
"Saya Nur, Nyonya!" jawabku, ya, aku ingat bahwa aku juga bekerja di rumah ini. Hanya saja Dipta yang tidak pernah mengijinkan saya untuk bekerja juga seperti yang lainnya.
"Siapa bayi yang sedang bersama Dipta?" tanyanya lagi, wajahnya garang, bikin merinding.
"Dia Rafi, anak saya, Nyonya!" jawabku pelan, takut dengan kemarahan wanita di hadapanku.
"Lancang! Bagaimana anak kamu, malah Dipta yang mengasuh?" matanya melotot.
"Mah, ini bukan salah Nur! Dipta yang minta. Mamah kenapa sih, datang-datang kesini bikin rusuh aja! Gak usah datang kesini lagi! Kalau mau menyakiti hati Nur!" ucap Dipta.
"Dipta, jangan kayak gitu sama Mamah kamu. Udah, gak apa-apa, saya pergi saja dari rumah kamu. Jangan berantem sama beliau gara-gara aku!" aku lalu mengambil Rafi dari tangan Dipta dan masuk ke dalam kamar yang selama ini aku tempati. Dipta mengikutiku dan mencoba menghentikan aku saat aku beberes.
"Nur, jangan gegabah! Kamu mau kemana, kalau gak tinggal disini? Jangan dengerin ucapan Mamahku, aku mohon! Jangan tinggalin aku Nur, aku gak akan bisa hidup tanpa Kalian!" Dipta mencoba memelukku, tapi aku berusaha menepis tangan Dipta. Rafi sudah menangis, aku jadi kalut.
"Dipta, kamu apaan sih? Gak pantes banget kelakuan kamu itu! Kenapa kamu meluk-meluk pegawai kamu itu?" Mamahnya Dipta lalu menarik tangan Dipta untuk menjauh dariku.
"Mamah! Stop untuk ikut campur dengan hidupku! Kalau bukan gara-gara ulah Mamah! Gak mungkin anak dan istriku mati! Sekarang tinggalkan aku sendiri, Mah!" teriak Dipta penuh dengan emosi!
Deg
Seketika aku membeku, jadi ada kejadian semacam itu? Aku jadi kasihan dengan Dipta.
"Nur, Aku mohon, jangan tinggalkan aku! Aku mohon! Hiks hiks!" Dipta menangis dalam pelukan ku, aku jadi bingung harus bagaimana.
__ADS_1
"Dip, keberadaan aku di sini hanya kasih masalah buat kamu. Kamu gak usah khawatir, aku akan mencari kontrakan di sekitar sini, jadi kamu bisa mengunjungi aku dan Rafi disana. Bagaimana?" saranku pada Dipta. Dipta menolak usulku.
"Kalau kamu pindah dari rumah ini, aku juga akan ikut kamu. Aku gak bisa hidup jauh dari kalian!" ucap Dipta dengan mata nyalang.
"Eh, kamu pasti sudah guna-gunain anak saya, yah? Makanya anak saya jadi begini! Gak bisa hidup tanpa kamu!" ucap Mamahnya Dipta.
"Astagfirullah, Bu! Jangankan pergi ke dukun, bahkan selama saya tinggal di rumah ini, saya tidak pernah meninggalkan gerbang depan sana! Dipta tidak pernah mengijinkan saya kemana-mana!" ucapku mulai geram.
"Lalu kenapa anak saya jadi kayak gini, huh?" Duh, ini orang, mentang-mentang orang kaya, bisa menghina dan menuduh orang sembarangan!
"Kok ibu tanya sama saya? Tanya saja sama Dipta sendiri, saya juga tidak tahu, Bu!" jawabku frustasi.
"Jawab pertanyaan Mamah, Dipta!"
"Apaan sih, kok pakai cinta segala! Jangan kayak gitu, Dipta! Kamu tahu aku masih punya suami! Aku lebih baik pergi dari sini, kalau sudah kayak gini aku jadi semakin gak boleh tinggal sama kamu!" dengan cepat aku menghempaskan tangan Dipta yang memelukku, tapi Dipta tidak mau melepaskan aku.
"Merry! Tutup semua pintu dan gerbang! Laila! Cepat kamu antarkan Nyonya besar ke luar dari rumah ini!" Dipta lalu mendorong Mamahnya untuk keluar dari kamarku. Dia lalu mengunci pintu kamarku dan mengambil kuncinya.
"Kamu akan, Dip? Gak usah gila, bisa gak?" aku jadi marah dengan kelakuan Dipta yang aneh banget. "Please, jangan tinggalkan aku! Aku mohon!" Dipta lalu meraup wajahku dan menciumku, dengan penuh gairah dan semangat.
plak!
"Dipta! Apa yang kamu lakukan?" aku menampar wajah Dipta yang tampak kacau saat ini.
"Pergilah istirahat di kamar kamu, pasti lagi banyak pikirannya jadi kamu berbuat aneh-aneh kayak gini!" ucapku, mendorong Dipta untuk menjauh dariku.
__ADS_1
"Dipta! Buka pintunya! Apa yang kalian lakukan di dalam sana?" ucap Mamahnya Dipta panik.
"Laila dan Merry! Kalau kalian tidak bisa membuat Mamah pergi dari rumah ini, jangan salahkan aku kalau kalian aku pecat, mulai hari ini juga!" teriak Dipta sehingga Merry dan Laila yang sejak tadi hanya menjadi penonton drama kami bertiga. sekarang jadi panik, lalu menarik Mamahnya Dipta untuk pergi dari rumahnya.
"Tuan, Nyonya besar sudah pergi dari sini!" teriak Merry dari balik pintu.
"Kunci semua pintu dan gerbang! Kalain boleh pergi!" ucap Dipta tanpa meninggalkan aku dan Rafi. Dia masih menggendong Rafi dalam pelukan nya. Rafi sudah mulai anteng.
"Nur, dahulu, anak dan istriku kabur dari rumah ini, karena di usir sama Mamah, tapi dalam perjalanan, Taxi yang mereka tumpangi tertabrak kereta api yang melintas di rel kereta tanpa palang pintu. Sebab itu Nur, saat aku melihat kamu dan Rafi, aku seperti melihat sosok istri dan anakku! Aku merasa bahwa aku harus menjaga dan melindungi kalian. Sungguh Nur, aku akan mati kalau kamu pergi ninggalin aku juga! Bagiku, kamu dan Rafi adalah duniaku! Aku gak bisa hidup tanpa kalian berdua! Aku mohon, Nur! Berikanlah kehidupan kepadaku! Hiks hiks!" Dipta menangis tergugu sambil memeluk dan mendiamkan Rafi yang kembali rewel.
"Biar aku susuin Rafi dulu!" ucapku, Dipta menyerahkan Rafi kepadaku, lalu dia menjauh dari kami. Duduk di sofa yang ada di kamar ini!"
"Jadi istri dan anak kamu, meninggal ketika kabur dari rumah ini?" tanyaku.
"Ya, makanya waktu lihat kamu di bus, Aku seperti melihat alm istri dan anakku! Aku tidak mampu berlalu begitu saja dari kalian. Aku takut kalau harus kehilangan lagi. Aku gak akan sanggup, Nur!" Dipta tampak sangat frustasi.
"Tapi bagaimana dengan Mamah kamu? Dia tidak akan suka dengan aku menetap disini!" ucapku dilema, aku bisa merasakan bagaimana perasaan beliau. Pasti tidak akan terima melihat anaknya harus merawat dan menjaga istri dan anaknya orang lain. Aku sangat paham.
"Dipta, kamu bisa berumahtangga, dan mulai usaha untuk mendapatkan istri dan anakmu sendiri! Kami hanya orang asing yang singgah sementara dalam kehidupan kamu!" ucapku pelan.
"Gak, aku gak mau! Aku cuma mau kamu dan Rafi! Aku mohon! Aku gak akan pernah bisa menerima wanita lain lagi dalam hidupku!" Dipta kini mendekati kami lagi, setelah aku selesai memberikan ASI untuk anakku.
"Dipta, seperti yang kamu tahu, statusku masih istri dari suamiku. Aku tidak tahu kabar dia bagaimana, nanti aku akan coba untuk mencari tahu kabar suamiku. Kalau dia sudah menikahi perempuan yang dia cintai, maka aku akan mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan!" ucapku mantap.
"Aku akan mengantarkan kamu!" ucap Dipta.
__ADS_1