Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
164. Perbedaan


__ADS_3

Bima kembali ke kediaman utama keluarganya untuk mempersiapkan pernikahannya bersama Sheila.


Dengan perasaan penuh kebahagiaan. Wajah Bima terus terlihat begitu berbinar. Karena segala kekhawatirannya sekarang sudah terkikis habis oleh pernyataan Sheila yang mengatakan akan berusaha untuk mengerti tentang hubungan persahabatan antara Bima dan Dipta yang sudah terjalin lebih dari 20 tahun lamanya.


" Kamu ini akan menjadi calon pengantin, tetapi santai sekali. Kenapa kau baru datang ke kediaman utama dan tidak membantu segala persiapan pernikahanmu sendiri?" tegur ayahnya sambil melipat kedua tangannya di dada.


" Maaf Pah Bima sibuk apa kan tahu sendiri di rumah sakit setiap hari begitu banyak orang yang minta dioperasi!" ucap Bima berdusta kepada ayahnya.


" Kau itu mau membohongi siapa? Apa kau lupa? Siapa pemilik rumah sakit yang kau tempati itu?" tanya ayahnya Bima sambil menata putranya yang saat ini hanya bisa meringis saja sambil menatapnya dengan tanpa merasa berdosa sama sekali.


" Sejak dua hari yang lalu kamu sudah minta mengajukan cuti pernikahan. Akan tetapi kau baru datang ke kediaman ini hari ini. Cepat katakan sama Papa. Apa saja yang kau lakukan di luar sana, Hah?" tanya ayahnya Bima mengskakmat putranya sendiri.


" Sudahlah Pah! Yang penting kan Bima datang ke rumah ini atau Papa menginginkan Bima tidak datang sekalian saja?" tanya Bima dengan wajah tengilnya sehingga membuat ayahnya menjadi gemas terhadapnya.


" Dasar bocah kurang ajar! Kau itu sebetulnya niat mau menikah atau tidak? Kenapa semua persiapan pernikahanmu hanya diurus oleh ibumu? Apa kau tahu,dia sampai kelelahan gara-gara mempersiapkan pernikahanmu seorang diri!" ucap ayahnya Bima menerangkan kondisi tentang istrinya yang terlihat semakin drop tadi pagi.


" Kau tengoklah ibumu di kamarnya. Tadi pagi dia hampir pingsan karena terlalu lelah berlari kesana kemarin. Dalam rangka menyiapkan pernikahanmu. Sementara kalau yang akan menikah, hanya bersantai saja seperti tidak perduli sama sekali dengan penikahan kamu sendiri!" perintah ayahnya Bima kepada putranya.


" Iya Pah ini Bima juga mau menengok mama! Ya sudah Bima pergi dulu!" ucap Bima kemudian dia pun meninggalkan ayahnya yang saat ini kembali Sibuk mengatur para pekerja yang sedang sibuk? menyiapkan ruangan pesta untuk acara pernikahannya besok pagi.


" Apa sebenarnya yang terjadi terhadap Bima dan Sheilla? Kenapa tadi aku menatap sedikit Aura kesedihan di mata?" ucap ayahnya Bima bermonolog dengan dirinya sendiri merasa heran dengan keadaan putranya yang tampak seperti menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


" Apakah Bima dan Sheilla tengah menghadapi masalah? Akan tetapi, kenapa Bima tidak menjelaskannya padaku tadi?" karena merasa kesal dengan jalan pikirannya sendiri akhirnya ayahnya Bima pun menyusul Bima untuk bertanya langsung kepada putranya perihal sesuatu yang mengganjal di hatinya saat ini.


Ketika dia hendak masuk ke dalam kamarnya, dia mendengarkan percakapan antara istrinya dan putranya.


" Kenapa bisa Sheilla memiliki pemikiran untuk membatalkan pernikahan kalian Bima? Bukankah semuanya sudah fix 100% dan hanya tinggal menunggu hari besok untuk meresmikan pernikahan kalian berdua!" ucap ibunya Bima dengan menatap tajam kepada putranya yang saat ini masih terdiam seribu bahasa sehingga membuat ibunya menjadi khawatir dengan keadaan putranya.


" Ada apa Bima? Katakanlah pada mama! Biar mama bisa membantu semua kesulitan yang saat ini mengganggu pikiranmu!" ucap ibunya Bima berusaha untuk membuat putranya mau bercerita tentang perasaannya saat ini.


" Tidak apa-apa Mah! Bima hanya merasa lelah saja. Sudah Mama istirahat saja ya? Tidak usah memikirkan tentang masalah saya saat ini. Saya itu sudah dewasa dan saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri tanpa perlu Mama ataupun papa untuk turut campur di dalamnya!" ucap Bima berusaha menenangkan ibunya yang saat ini tampak masih begitu lemah.


" Kenapa Mama tidak memanggil tim Dokter ke rumah ini? Untuk memberikan infus kepada Mama. Agar kondisi Mama lebih baik!" tanya Bima merasa bingung kepada ibunya sendiri yang lebih memilih untuk tidur daripada harus dirawat di rumah sakit.


Sungguh aneh sekali keluarga Bima. Keluarga dia adalah keluarga yang memiliki beberapa rumah sakit besar di ibukota dan beberapa kota besar lainnya. Akan tetapi ibu dan ayahnya sangat membenci untuk dirawat di rumah sakit. Mereka lebih baik untuk mendatangkan peralatan medis ke dalam rumah mereka sendiri daripada harus memindahkan tubuh mereka dan terbaring di rumah sakit!


" Kenapa Rasya? Apakah kamu menemui masalah besar dalam hidup kamu?" tanya Bima kepada Rasya yang mulai memainkan jari jemarinya untuk membuang rasa gugup di dalam hatinya saat ini.


" Kalau misalkan Rasya ingin pergi ke rumah Om. Apakah istrimu akan mengizinkanku?" tanya Rasya sambil duduk di pangkuan Bima.


Bima tampak terkesiap sejenak dia berhenti dan menetap kepada wajah Rasya yang masih begitu bening dan bersih.


" Percayalah Rezeki itu tidak pernah tertukar. Sebaiknya kamu belajar saja yang benar tidak usah memikirkan yang aneh-aneh. Kalau suatu saat kau ingin pergi ke rumah Om, tinggal kau datang saja. Tidak akan ada yang melarangmu unthk.melakukan hal yang kau inginkan!" ucap Bima sambil mengulas senyum untuk Rasya.

__ADS_1


" Om, boleh kan kalau Rasya tidur sama Om malam ini? Karena mulai besok kan Om akan pindah ke kediaman Bramantyo!" ucap Rasya dengan suara polosnya yang membuat Bima terkesiap ketika mendengar berita itu.


" Rasya kau dapat kabar dari mana? yang mengatakan bahwa Om akan tinggal di kediaman Bramantyo?" tanya Bima kepada Rasya yang saat ini tampak bingung untuk menjawabnya.


" Nenek yang mengatakan kalau Rasya tidak boleh terlalu sering mengganggu Om di kediaman Bramantyo!" ucap Rasya dengan begitu polosnya.


" Tidak usah didengarkan apa yang dikatakan oleh nenek. Rasya bisa datang ke rumah Om kapanpun Rasya tinggal menelpon Om nanti Om akan menjemput Rasya untuk tinggal bersama kami!" janji Bima kepada Rasya malam itu sebelum mereka akhirnya jatuh terlelap dalam tidur bersama sampai keesokan harinya matahari yang terbit dan mata menyilaukan keduanya.


Rasya adalah anak dari pembantu keluarga Bima! Yang selalu menjadi tempat untuk mereka merindukan putra mereka itu.


"Tuan Bima hebat yah bisa menerima anak seorang pembantu untuk tidur bersamanya" ucap salah seorang wanita yang saat ini sedang sibuk ngerumpi tentang kediaman pribadi majikannya saat ini.


" Siapa yang kalian bilang tidur dengan anakku?" tanya ibunya Bima kepada mereka.


" Itu Nyonya Tuan Bima tidur bersama dengan Rasya di kamarnya!" ucap salah seorang diantara mereka.


Ibunya Bima kemudian masuk ke dalam kamar putranya dan melihat bahwa Bima saat ini sedang memeluk seorang anak kecil.


" Bima Apa yang kau lakukan?" ucap ibunya.


" Ya sudah Om, Rasya mau tidur dulu karena sudah mengantuk!" ucap Rasya langsung masuk ke kamarnya sendiri. Memberikan ruang kepada Bima dan ibuny yang masih juga bengong di tempatnya.

__ADS_1


Bima tampak mengerutkan keringnya ketika mendapatkan kehadiran ibunya yang tampak tidak suka melihat Bima tidur bersama anak pembantu mereka.


" Ada apa Mah jangan membuat orang lain menjadi bingung!" ucap Bima yang menatap wajah ibunya yang menatapnya dengan tajam dan menuntut.


__ADS_2