
Pov Alimudin
Pernikahanku tinggal menghitung hari, sesuai niatku, aku pulang ke rumahku di Sulawesi adalah selain untuk menjemput keluarga untuk menghadiri pernikahan ku, kepulanganku juga untuk memenuhi harapan calon istriku memberi mahar dengan hasil kerjaku, bukan dari uang keluarga ku. Aku hanya seorang santri, yang selama hidupku hanya sibuk ngaji dan baca kitab.
Aku memang pernah bekerja sebagai sales dan ikut pamanku bekerja di pabrik Las, tapi aku melakukan itu hanya untuk cari pengalaman, fokus utamaku adalah mengaji dan nyantri. Itu adalah harapan orang tuaku sejak dulu.
Aku bekerja ikut dengan Kakaku, pergi ke kebon, pokoknya kerjaan apapun yang menghasilkan uang, aku lakukan, selama itu halal.
Persiapan untuk pergi ke Jawa sudah Fix 100%, Alhamdulillah kami diberikan rejeki yang luas. Pada pernikahan ku, seluruh keluarga ikut pulang ke Jawa, kakak dan tiga adikku, Lilik sekeluarga, serta adik ipar ku juga ikut menghadiri pesta pernikahan ku. Aku berdoa semoga berjalan lancar. Kami melakukan perjalanan menuju Pulau Jawa dengan menggunakan pesawat dari Palu ke Surabaya. Alhamdulillah semuanya lancar.
Pada malam akan berangkat, aku menghubungi calon istriku, niatnya mau ngabarin keberangkatan keluarga ku. Tapi aku kesalahan bicara, hingga membuat dia kesal dan akhirnya menutup telepon ku secara sepihak.
Aku benar-benar bingung, kenapa hal sepele seperti itu, membuat dia begitu kesal padaku? Aku menelpon ratusan kali, mengirim pesan banyak sekali, tapi tidak ada satupun yang diangkat atau di balas hingga keesokan harinya.
Saat aku membaca balasan pesannya, hanya mengucapkan "Hati-hati dan salam buat keluarga mu!" sederhana sekali.
Apa dia tidak tahu? Semalaman aku gak bisa tidur, karena dia mengacuhkan pesan dan panggilan ku.
Tapi ya sudahlah, mungkin memang ada sesuatu yang membuat dia jadi kesal pada hari itu.
Mungkin aku yang menghubunginya di saat yang tidak tepat. Aku berusaha berpikir positif terus, agar semangat dalam hatiku tidak padam.
"Ayo kita berangkat, berdoa agar semua selamat dalam perjalanan." ucap Bapakku saat kami sekeluarga bersiap naik ke mobil yang akan mengantarkan kami ke Bandara Palu.
Semua tampak bahagia, mungkin hanya aku yang tampak murung, "Ada masalah? Dari tadi di perhatikan, kamu murung terus. Ada apa?" tanya Kakakku sambil menatapku dengan intens.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku mengantuk, aku mau tidur saja. Nanti bangunkan kalau kita sudah sampai.
Aku tertidur nyenyak selama dalam perjalanan, aku tidak tahu apa yang terjadi di mobil yang membawaku dan keluarga ke bandara. Saat aku bangun, kami sudah sampai di Bandara.
Tiba-tiba hatiku rasanya gugup, ada semacam keraguan yang tiba-tiba menghinggapi hatiku.
Mungkin ini adalah godaan setan yang selalu menggoda setiap hamba Allah yang berniat menyempurnakan ibadanya. Aku menarik nafas.
Persiapan mental menuju pernikahan memang tidak ringan, harus kuat lahir dan bathin.
" Aku pikir dia akan merindukan aku, tapi selama aku pulang, dia sama sekali tidak menghubungiku, pesan dan panggilan ku sering kali lama sekali mendapatkan respon! " aku bermonolog sendiri.
"Dia pasti sibuk dengan persiapan pernikahan, ga ada waktu untuk menggunakan ponsel. Jangan ragu hanya karena hal kecil seperti itu. Di pihak keluarga perempuan, sekarang adalah masa saat semuanya sibuk mengurus segalanya. Sabar lah!" nasehat adik ipar ku. Aku hanya mengangguk.
"Alhamdulillah kita sampai dengan selamat. Semoga acara pernikahan lancar tanpa halangan." Setelah sampai, kami pergi ke rumah Lilik, kami berangkat ke Cirebon dari rumah Lilikku.
Aku agak heran dengan rumor yang beredar di kampungku, yang mengatakan bahwa aku menikahi kekasih masa kecilku. Yang kembali dipertemukan. Padahal aku dan Nur baru bertemu beberapa bulan lalu. Aku sangat penasaran, siapa yang menghembuskan rumor aneh seperti itu?
Kalau rumor itu benar, maka kisah hidupku layak jadi film China drama atau Korea drama. Yang setia pada satu cinta selama hidup mereka.
Jodoh itu memang aneh dan misterius. Ada wanita yang aku kejar bertahun-tahun, aku menangis karenanya, ga bisa makan dan tidur karenanya, tapi dia hanya jadi masa laluku.
Tapi Nur? Aku hanya bertemu dia sekilas, mungkin dia hanya jadi cameo dalam hidupku, ternyata sekarang dia menjadi calon istriku dan dalam hitungan hari akan segera sah menjadi istriku.
....
__ADS_1
Cirebon, dikediaman Nur
Pov Nur
Aku menerima kabar, bahwa pihak pria akan datang hari ini, mengantarkan seserahan untuk mempelai perempuan. Aku tidak diperbolehkan bertemu dengan calon suamiku. Sampai nanti acara siraman untuk pengantin. Pamali katanya.
Karena rumah mereka jauh, jadi mereka datang satu hari sebelum acara, agar tidak terlambat saat akad nikah. Selepas dhuhur, kami mengadakan acara siraman dan sungkeman terhadap orang tua kami. Sungguh, acara ini sangat mengharukan.
Kami semua menangis haru saat acara itu, saat membasuh kaki dan sungkeman. Acara meminta ijin untuk kami melepas masa lajang. Bahkan semua yang menyaksikan tampak menirukan air mata juga. Mamahku bahkan sampai tersedu-sedu. Sangat terharu.
Aku sungguh tiada menyangka, besok aku akan resmi menyandang status sebagai istri dari Lurah Pondokku yang terkesan cuek dan dingin.
Keajaiban terjadi dalam hidupku. Jodoh memang kuasa Allah, aku percaya hal itu sekarang.
Teman-teman pondokku datang, begitu juga Pak Kiai dan Bu Nyai. Alhamdulillah, aku sangat bahagia. Aku mengundang teman koperasi ataupun teman kampusku, tapi mereka tidak ada yang datang. Mungkin karena jauh dan faktor Sibu dengan persiapan kelulusan, aku pahami saja.
Jarak Cirebon - Purwokerto bukan jarak yang dekat. Tapi memang aku tidak punya banyak teman selama kuliah. Temanku bisa dihitung dengan jari. Aku lebih senang tinggal di kamarku dari pada jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama teman-teman, itu bukan aku banget.
"Terima kasih sudah datang, ya!" ucapku pada teman-teman satu kamar di pondok. Alhamdulillah, santri putri Hadir semuanya. Kalau santri putra hanya beberapa saja yang hadir. Terkendala dengan kendaraan dan jarak.
Tapi tidak apa-apa, yang penting acara berjalan lancar dan khidmat. Aku malam ini langsung tidur, mempersiapkan diriku untuk besok, hari besar dalam hidupku.
"Sayang, kamu harus sabar dan ikhlas dalam menjalani kehidupan dalam berumah tangga. Ingat, dalam pernikahan harus saling mengalah, jangan egois. Semua masalah bisa dibicarakan dengan kepala dingin. Jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Paham?" tanya Mamahku.
Malam ini aku memang meminta Mamahku untuk menemani tidurku. Besok aku sudah berganti status. Sebagai istri seorang lurah pondok. Sungguh luar biasa bukan?
__ADS_1
Semoga acara besok berjalan lancar dan tanpa halangan yang berarti. Selama proses ini, aku maupun Mas Ali tidak saling bertemu atau bertelepon, di larang oleh orang tua kami. Biar rindu katanya. Tapi biarlah, selama itu untuk kebahagiaan dan kebaikan kami.