
"Apa kau tahu, satu kata untukmu?" tanya Sheilla kepada Bima.
"Apa?" tanyanya.
"Aneh!" ucap Sheila sambil memalingkan wajahnya kepada Bima.
"Aneh? Apa maksudmu?" tanya Bima bingung.
"Jelas aneh lah! Ketika aku menginginkan Perjodohan ini, kau menolak! Ketika Aku menolaknya, kau malah terus membujukku untuk mau menikah denganmu! Apakah itu tidak aneh?" ucap Sheilla sambil melirik kepada Bima yang saat ini seperti orang linglung.
"Sudah! Ayo cepat kita kembali ke dalam! Jangan sampai mereka berpikir kita sedang melakukan hal yang aneh-aneh!" ucap Sheila lalu keluar dari mobil.
Tiba-tiba saja Sheila kakinya hampir tergelincir. Untung saja Bima langsung menangkap tubuhnya sehingga dia tidak terjatuh. "Hati-hati!" ucap Bima berbisik di telinga Shella.
Sheilla gugup dan dia langsung melepaskan dirinya dari Bima.
"Lebih baik kau kurangi kedekatan kita berdua jangan sampai orang tua kita curiga mengira bahwa kita selalu jatuh cinta!" ucap Sheilla.
"Bukankah bagus kalau mereka berpikir kita jatuh cinta? sehingga pernikahan kita akan dipercepat!" ucap Bima sambil tersenyum usil kepada Sheilla.
"Ya ampun sepertinya otakmu mulai bergeser Apa kau salah makan atau bagaimana?" tanya Sheila sambil bergidik kemudian meninggalkan Bima seorang diri di sana.
"Dasar perempuan aneh waktu aku tidak suka dia. Terus ngejar-ngejar aku! Sekarang giliran aku menginginkan dia, dia sok jual mahal!" Bima mendesah frustasi, ada rasa kesal melihat Sheilla yang tampaknya cuek kepada dirinya saat ini.
"Aku harus bagaimana ya? Untuk membuat dia jatuh ke dalam pelukanku. Aku tidak mau kalau sampai dia membocorkan rahasiaku tentang perusahaan itu kepada kedua orang tuaku!" ucap Bima
Bika yang sedang melamun seorang diri di luar. Hingga dia tidak menyadari bahwa Sheilla sudah berdiri di sampingnya.
"Kenapa kau melamun di sini seperti orang bego? Cepat itu orang tuamu menunggu!" ucap Sheilla kesal.
Bima kemudian mengikuti Sheilla tanpa mengatakan apa-apa. Saat ini pikirannya sedangkan kacau balau.
__ADS_1
"Kenapa kau jadi pendiam? Jangan-jangan kau kesambet ya gara-gara melamun di luar tadi?" tanya Sheila merasa penasaran dengan perubahan sikap Bima.
"Kau tidak usah banyak bertanya! Kalau memang tidak ingin menikah denganku, lupakan saja aku tidak akan memaksamu!" Bima kemudian menuju mobilnya dan meninggalkan salat seorang diri.
Sheila sampai terkejut melihat Apa yang dilakukan oleh Bima saat ini.
"Eh, kau mau kemana?" tanya saya bingung melihat Bima yang bersiap untuk pergi meninggalkan kediaman keluarganya.
"Tentu saja aku kembali ke apartemenku apa Kau pikir aku tinggal di rumah ini?" Bima kemudian melajukan kendaraannya tanpa memikirkan atau pun menghiraukan Sheilla yang terus memanggilnya.
"Dasar pria aneh! Perilakunya benar-benar menjengkelkan. Perasaannya sama seperti cuaca sebentar baik sebentar jelek!" ucap Sheilla frustasi.
"Kenapa Sheilla, mana Bima? Kenapa tidak kembali-kembali?" tiba-tiba ibunya Bima sudah ada di sana.
"Maaf Tante Bima pergi Katanya dia kembali ke apartemennya!" ucap Sheilla sambil mendekati ibunya Bima.
"Aduh memang tuh anak, bikin kesal saja! Bisa-bisanya pergi disaat tamu belum pulang betul-betul tidak sopan!" ibunya Bima terus menggerutu dalam perjalanannya ke dalam rumah bersama Sheilla.
"Nggak papa Tante mungkin Bima sudah capek, setelah bekerja sehari-hari!" Ucap Sheilla sambil menggandenga tangan ibunya Bima. Ibunya Bima sangat bahagia sekali dengan pengertian yang ditunjukkan oleh Sheilla terhadap putranya.
"Doakan saja yang terbaik Tante untuk kami berdua! Bagaimanapun yang namanya jodoh itu kan ada di tangan Tuhan. Kita manusia hanya bisa berusaha!" Ucap Sheilla.
"Iya tante dan om pasti mendoakan kebaikan untuk kalian semua!" Kemudian mereka pun bergabung dengan kedua orang tua Sheilla.
"Pah, sudah malam! Ayo kita pulang. Sheila sudah lelah sekali ingin istirahat!" Sheilla mengajak kedua orang tuanya untuk segera pulang dari kediamannya Bima.
"Padahal kami sedang seru mengobrol!" ucap ayahnya Bima sambil menepuk bahu Farel.
"Kita ini semakin tua, obrolan kita pun selalu tentang kenangan masa lalu! Hahaha!" ucap Farel begitu bahagia bertemu dengan sahabat lamanya.
" Ya sudah kami pergi dulu ya nanti untuk masalah pernikahan anak-anak bisa kita lanjutkan pembicaraannya di lain hari!" ucap Farel. Kemudian mereka berpamitan kepada kedua orang tuanya Bima.
__ADS_1
Setelah mereka meninggalkan kediaman keluarganya Bima. Sheilla kemudian bicara serius dengan kedua orang tuanya.
"Bima itu orang yang sangat sulit kita tidak bisa bertindak gegabah!" ucap Sheilla untuk mengawali pembicaraan mereka.
"Kalau kau tidak mencintai Bima, kita bisa melupakan tentang perjodohan itu! Jangan di paksakan!" ucap Cansu sambil mengelus kepala putrinya.
"Tampaknya akan menjadi perjuangan yang sulit untuk bisa menaklukkan seorang Bima!" ucap Farel sambil melirik kepada putrinya.
"Emangnya kenapa Papa tampaknya sangat menginginkan Bima untuk menjadi suamiku?" tanya Sheilla tampak kebingungan dengan keinginan ayahnya.
"Bima itu seorang laki-laki yang baik dan sopan. Walaupun dia seorang petualang, tapi namanya tidak buruk di dunia bisnis!" ucap Farel melihat kepada putrinya yang sekarang sedang memainkan ponselnya.
"Bukankah Dipta juga menarik Pah?" ucap Sheila sambil memperlihatkan sebuah artikel tentang Dipta.
"Dipta memang seorang yang baik. Tetapi dia sudah pernah menikah dan punya anak. Kehidupan keluarganya dulu sangat kacau dengan ibunya. Bahkan istrinya diusir oleh ibunya. Papa tidak mau kau mengalami nasib buruk macam itu!" ucap Farel sambil melirik kepada Sheilla yang saat ini sedang menatapnya dengan serius.
"Percayalah Sheilla, Mama sudah memilihkan laki-laki yang terbaik untukmu. Kamu tidak boleh ragu lagi. Akan lebih baik kalau kalian bisa menikah secepatnya!" ucap Cansu sambil tersenyum kepada putrinya.
Mendengar kata untuk menikah secepatnya membuat salam bergidig.
"Apakah mama dan papa tidak akan memberikan kesempatan kepada Sheilla dan Bima untuk saling mengenal?" tanya Sheilla sambil menatap ibunya.
"Kalian bisa saling mengenal setelah menikah sudahlah kau tidak boleh ragu orang tuamu tidak akan mungkin memberikan calon suami yang buruk untuk kamu!" ucap Farel mengakhiri obrolan di antara mereka.
"Dengarkan mama, Sheilla! Jatuh cinta setelah menikah itu jauh lebih indah!" ucap Cansu sambil tersenyum kepada putrinya.
"Bagaimana kalau kita salah memilih suami?Bukankah itu konyol?" tanya Sheila menatap kedua orang tuanya.
"Sudahlah hentikan semua percakapan ini. Papa sudah lelah Papa sudah memutuskan kalau kamu akan menikah dengan Bima!" Farel memberikan keputusan akhir untuk putrinya.
"Di dalam Islam tidak ada istilah pacaran! Kau harus mengerti itu dan papa harap kamu tidak pernah mendekati hubungan semacam itu!" Ucap Farel dengan tegas dan keras.
__ADS_1
"Kenapa Pah? Bukankah saling mengenal satu sama lain itu akan jauh lebih baik?" Sheila tampaknya tidak setuju dengan pendapat ayahnya.
"Berpacaran itu sama saja dengan mendekati Zinah! Zinah itu dosa dalam agama kita!" Farel menatap tajam kepada Sheilla sehingga salah tidak berani lagi untuk bicara dengan ayahnya.