
"Ada apa memangnya Sayang tengah malam kayak gini?" tanya Bagas sambil memeluk tubuh Riyanti yang mulai gemetar.
"Dari tadi tuh saya merinding terus Mas. Saya sudah baca-baca ayat-ayat Alquran dan juga terus berdzikir kepada Allah. Tapi ndak tahu kenapa, perasaan Rianti nggak enak. Ayo dong males banget kamu kok kayaknya nggak percaya banget sih aku ngomong apa!" ucap Rianti sambil mengguncangkan tubuh Bagas agar dia mau bangun.
"Ayo dong Mas, bangun! Aku takut nih!" ucap Riyanti mencoba untuk membangunkan Bagas yang masih nampak malas untuk bangun dari tidurnya yang lelap.
Sebenarnya bisa dimaklumi kalau sekarang Bagas tampak begitu capek dan lelah. Karena sepanjang siang dia telah menjalani tiga operasi berturut-turut.
Hal itu membuat tubuh Bagas merasa sangat lelah bahkan Bagas dari melewatkan makan siangnya karena terlalu fokus dengan operasi.
Begitulah Bagas kalau sudah bekerja. Hal itu sama dengan Bima. Bima juga selalu melupakan dirinya sendiri dan lebih fokus untuk menolong orang lain.
"Kamu nggak mau bangun Mas?" akhirnya Rianti memilih untuk tidur di samping Bagas dan mulai melupakan perasaannya yang tidak enak dan terus membaca ayat-ayat Alquran agar hatinya menjadi tenang.
Tiba-tiba saja pot bunga yang ada di atas nakas di samping tempat tidur Rianti tiba-tiba saja terjatuh.
Rianti sangat terkejut sekali sehingga dia kemudian menatap kepada Bagas berusaha untuk membuat Bagas bangun.
Karena putus asa dengan usahanya membangunkan Bima akhirnya Rianti pun memilih untuk menangis saja.
Dalam isaknya Riyanti terus berdoa Meminta perlindungan kepada Allah agar dirinya dan keluarganya selamat dan baik-baik saja.
Tiba-tiba saja ada seberkas sinar seperti masuk ke dalam kamar Riyanti melalui jendela kamarnya yang membuat Riyanti sangat terkejut.
Karena merasa jengkel, akhirnya Riyanti menendang pantat Bagaa agar bisa bangun dari tidurnya dan benar saja cara itu bekerja.
Zeketika mata Bagas melek dan menatap tajam kepada Riyanti.
__ADS_1
"Kok kamu nendang aku sih, Sayang? Ini sangat sakit tahu? aku lagi tidur kau kagetkan seperti itu!" protes Bagas kepada istrinya yang kini cemberut menatapnya.
"Salahmu, aku sudah membangunkanmu dengan berbagai cara tetapi tidak mempan!" ucap Riyanti kemudian dia melihat kepada seberkas cahaya yang tadi masuk melalui jendela kamarnya.
" Mas tadi aku melihat ada Seberkas cahaya yang melesat dari arah jendela ke arah sana!" ucap Riyanti sambil berbisik di telinga Bagas yang saat ini mulai bisa melek. Setelah ditendang oleh Riyanti tadi.
"Seberkas cahaya apa? Di sini biasa-biasa aja nggak ada apa-apa kok!" ucap Bagas menolak untuk mengikuti keinginan Rianti.
"Cobalah dicek dulu Mas! soalnya aku takut?" ucap Riyanti kini mulai meletakkan kepalanya di bahu Bagas berusaha mencari perlindungan dari suaminya.
Dengan perasaan malas, akhirnya Bagas pun turun dari ranjangnya dan memeriksa tempat yang tadi ditunjuk oleh Rianti.
"Coba Mas! Di Nyalakan dulu lampunya agar bisa melihat lebih jelas!" ucap Riyanti memberikan instruksi kepada Bagas yang tadi turun dan melihat ke arah yang tadi ditunjukkan oleh dirinya.
Bagas kemudian menghidupkan lampu yang ada di depan pintu kamar mereka setelah menyalakan lampu tampak sebuah sinar hijau berada di bawah meja mereka.
Tampak Bagas hendak mendekati sinar hijau tersebut tetapi dilarang oleh Rianti.
"Baiklah sebaiknya kita datangi orang tuamu mungkin mereka mengerti tentang semua ini!" akhirnya Bagas mengikuti keinginan Riyanti untuk mereka meninggalkan kamar Riyanti yang mereka tempati saat ini.
"Hati-hati sayang! Ayo Mas bantu kamu!" Bagas menggenggam tangan Riyanti agar bisa berjalan di belakangnya.
"Aku takut Mas!" rengek Riyanti dalam pelukan suaminya.
"Di mana kedua orang tuamu sayang? Kenapa rumah begini sunyi?" tanya Bagas merasa heran melihat rumah mertuanya nyaris seperti tanpa kehidupan.
"Papah dan Mama tidur bersama dengan Kak Nadia karena karena dia tidak bisa tidur di kamarnya?" ucap Rianti menerangkan kebingungan yang terlihat di wajah Bagas.
__ADS_1
"Lalu kita berdua akan tidur di mana?" tanya Bagas.
"Kalaupun untuk pulang ke rumah kita, rasanya sudah terlambat ya?" tanya Rianti menatap suaminya.
"Katanya kau ingin menginap. Agar bisa membantu kedua orang tuamu besok. Kok sekarang malah minta pulang? Lagi pula ini tengah malam tidak baik bagi kamu untuk berada di luar!" ucap Bagas mencoba menasehati istrinya untuk bertahan satu malam saja di rumah kedua orang tuanya.
"Tapi tidak tahu kenapa Mas rumah ini rasanya horor sekali Rianti takut?" ucap Riyanti tidak mau jauh-jauh dari Bagas.
Bagas melihat ke sekeliling yang begitu sunyi dan sepi bahkan para pembantu pun masih tertidur belum ada yang bangun satu pun.
"Kalau kita tidak tidur sekarang, maka kita akan ngantuk besok pas acara!" ucap Bagas sampai dan menarik tangan Riyanti untuk duduk di sofa yang ada di dekatnya.
"Ayo kita tidur di sini saja!" ucap Bagas menarik istrinya untuk tidur di sampingnya mepet dengan tubuhnya.
"Kita tidur seperti ini, rasanya persis seperti pengantin baru ya maunya nempel aja!" ucap Rianti terkekeh sambil menatap kepada suaminya yang melotot kepadanya.
"Kamu dalam keadaan seperti ini. Masih memikirkan hal-hal seperti itu!" ucap Bagas menegur istrinya yang masih memiliki mood untuk bercanda dengannya di tengah malam buta semacam itu.
"Aku hanya mengingat saja sedikit mas tentang bulan madu kita!" ucap Riyanti memeluk tubuh suaminya dengan lebih erat agar tidak terjatuh dari sofa yang sempit untuk mereka berdua tidur.
Karena tubuh yang begitu lelah. Akhirnya keduanya tertidur di sofa sampai subuh menjelang mereka masih belum juga bangun.
"Ya ampun! Kenapa Rianti dan Bagas tidur di ruang tamu?" tanya ibunya Rianti sambil menatap tajam kepada putrinya dan juga menantunya yang saat ini sedang saling berpelukan di atas sofa dan nampak begitu lelap dalam tidur mereka.
" Ada apa Mah masih pagi kok sudah heboh?" tanya ayahnya Rianti sambil menatap kepada istrinya.
"Tuh!" ucap ibunya Rianti sambil menunjuk kepada Bagas dan Rianti yang masih tertidur pulas di atas sofa dan saling berpelukan.
__ADS_1
"Sudah biarkan saja mereka tidur dulu pasti sangat kelelahan!" ucap ayahnya Rianti memutuskan agar membiarkan mereka berdua tidur sedikit lebih lama lagi.
"Tidak apa-apa biarkan mereka tidur bareng satu jam lagi toh Ini juga masih setengah lima!" ayahnya Rianti kemudian menuju ke kamar mandi yang biasa digunakan oleh tamu karena dia tidak bisa mandi di kamarnya karena di sana ada Nadia yang masih terlelap.