Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
51. Kemana Rianti?


__ADS_3

Pov Ali


Sudah Seminggu lamanya Rianti tidak masuk ke toko, padahal aku hanya memberi dia liburan dua hari. Karena aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak dan istriku. Setelah hampir satu bulan tidak bertemu. Aku rindu dengan mereka berdua.


Aku bertanya dalam hatiku, kenapa nomor dia tidak bisa di hubungi. Aku mencoba mendatangi kost dia, tapi disana tidak ada juga.


"Sudah seminggu Rianti tidak disini. Sudah pulang ke Jakarta. Ada apa ya?" tanya pemilik kostnya.


"Rianti kemarin kerja di toko saya, tapi belum saya gaji. Dia malah menghilang, makanya saya cari dia. Apa ibu bisa tolongin saya, hubungi Rianti untuk mengirimkan nomor rekening dia, biar saya transfer gajinya. Saya kasihan sama dia, mungkin keluarga dia butuh untuk biaya hidupnya." ucapku lemas, gak tahu harus bagaimana mencarinya.


"Rianti itu orang kaya, Mas! Kemarin saja pulang ke Jakarta pakai mobil sport yang import itu, dia gak akan butuh gaji dia!" ucap ibu kostnya.


"Masa sih bu? Dia mengaku kepada saya, kalau dia butuh kerja karena orang tuanya miskin dan katanya dia tulang punggung keluarga!" ucapku.


"Masnya di bohongi itu, Rianti itu orang kaya, Mas! Saya lihat sendiri kok, semua barang dia itu branded, tas dia saja satunya bisa 200 juta harganya. Mas jangan mau di bohongin sama Rianti. Dengar-dengar, orang tuanya itu yang punya Bank swasta di Jakarta, orang kaya dia itu!" kepalaku rasanya sudah pusing mendekati suatu kenyataan. Tapi untuk apa Rianti membohongi saya? Masih aku ingat, rasa kecewa Rianti saat dia menyatakan cinta kepadaku.


"Ah... kenapa aku bodoh sekali? Jelas-jelas membawa sikap dan prilakunya menunjukkan kalau dia itu orang kaya, kenapa aku bodoh sekali? Tapi kenapa dia menghilang begitu saja?" geramku dalam hati.


"Mas, kamu kenapa?" tiba-tiba istriku sudah ada di belakang ku dengan menggendong anak kami.

__ADS_1


"Tidak, apa! Bagaimana anak kita?" tanyaku sambil mengalihkan pembicaraan. Jangan sampai istriku tahu kalau aku sedang memikirkan Rianti, bisa-bisa nanti dia salah paham padaku.


"Rafi baik-baik saja, tadi habis di imunisasi. Jadi agak rewel sedikit. Mas kenapa? Kok frustasi kayak gitu?" tanya istriku lagi.


"Rianti, sudah seminggu dia tidak kerja. Mas belum kasih gaji dia selama kerja di sini. Tadi Mas cari ke kost dia, tapi tidak ada. Katanya sudah kembali ke Jakarta." ucapku lemes


"Apa Mas mencintai Rianti?" tanya istriku. Aku terkejut dengan pertanyaan itu, kenapa istriku sampai punya pemikiran seperti itu?


"Aku hanya mengganggap Rianti sebagai adikku, gak lebih. Aku kasihan sama dia, karena dia hidup sebatang kara disini. Semua keluarga dia di luar kota!" ucapku menunduk.


"Tapi yang aku lihat, kamu tampaknya jatuh cinta sama dia, Mas! Saat ada Rianti, aku lihat kamu begitu bersemangat dan wajahmu bersinar. Tapi sekarang, kamu tampak lusuh dan frustasi!" jawaban istriku membuat aku terkejut. Apa benar yang istriku katakan? Tapi bagaimana aku bisa jatuh cinta kepada Rianti? Itu mustahil rasanya.


"Mas sekarang beda, dulu Mas selalu sayang sayang sama saya, sekarang Mas biasa aja. Bahkan lebih senang main hape dari pada menghabiskan waktu bersama saya atau anak kita. Kalau Mas sudah tidak mencintai saya, tolong Mas kembalikan saya baik-baik kepada orang tua saya. Jangan menyiksaku dengan membagi hati kamu untuk wanita lain!" istriku kemudian masuk ke kamar dan meninggalkan anak kami dalam gendongan ku.


"Apa yang kamu lakukan?" tanyaku heran sambil memegang tangan nya. Aku lihat istriku mulai berkaca-kaca matanya.


"Aku akan pulang ke Cirebon, Mas! Kamu pikirkan baik-baik, mau di bawa ke mana hubungan kita. Aku gak akan mengemis sama kamu, untuk bersama dengan ku ataupun anak kita. Semua pilihan ada di tangan kamu. Aku permisi dulu!" istriku lalu mengambil anakku yang sedang lelap di ayunan. Hatiku seketika kalut.


"Tolonglah, Mas gak bisa berpikir jernih kalau kamu begini. Kasih Mas waktu. Tolong, ya?" aku berusaha untuk membujuk istriku untuk tinggal. Bagaimanapun dia adalah tanggungjawab ku sebagai suaminya.

__ADS_1


"Apa yang dipikirkan papah, kalau kamu kembali ke Cirebon dalam keadaan marah seperti ini?" tanyaku. Aku lihat istriku sudah membawa Rafi bersamanya. Pikiranku sudah kacau.


"Aku mohon, maafkan Mas! Kalau Mas sudah bikin kamu terluka. Sungguh, Mas tidak ada maksud begitu. Mas hanya kasihan saja sama dia. Dia bilang kalau dia orang miskin yang butuh biaya untuk orang tua dan adiknya. Tapi kemarin, ibu kost dia bilang, katanya Rianti itu orang kaya. Rumahnya di Jakarta dan pemilik bank swasta katanya." ucapku pelan.


"Bagus kan, Mas! Wanita yang kamu cintai orang kaya dan juga cantik. Kalian akan hidup bahagia. Aku pergi dulu, Mas! Kalau Mas ingin kita mengutus perceraian kita, katakan saja. Nanti aku urus di Cirebon!" istriku sudah berderai air mata.


Deg


"Perceraian? Kita baru punya anak satu, anak kita bahkan masih merah, kenapa kau bicara masalah perceraian? Aku gak akan pernah menceraikan kamu!" ucapku gemetaran.


"Untuk apa kita bersama, kalau cinta dan hati kamu bukan milikku, Mas? Perpisahan adalah jalan terbaik untuk kita. Kamu jangan takut, aku gak akan menuntut apapun dari kamu. Aku pergi Mas!" aku mengambil anakku dan koper istriku. Aku membawa masuk semuanya ke kamar.


"Jangan memutuskan sesuatu saat emosi, tidak baik. Tinggallah di kamar, istirahat! Mas layani pembeli dulu!" aku lalu keluar dan melayani pembeli yang datang.


Setelah pembeli sepi, aku duduk termenung sejenak, memikirkan masalah dalam hidupku. Kebohongan Rianti yang mengaku sebagai orang miskin, dan minta bekerja di tokoku, sungguh mengganggu pikiranku. "Kenapa dia melakukan hal itu? Apa tujuan dia?" berbagai pikiran dan kemungkinan menari-nari dalam pikiranku.


Istriku masih menangis di kamarku. Aku bingung harus bagaimana. Selama sebulan ini, memang hidupku rasanya sangat berwarna dengan kehadiran Rianti. Aku akui, aku sedikit melupakan keberadaan Istri dan anakku.


"Ah... aku sudah berbuat dzalim terhadap istri dan anakku. Ya Allah! Maafkan aku!" tiba-tiba air mataku menetes, tanpa mampu aku tahan.

__ADS_1


"Carilah Rianti, apabila kamu mencintai dia. Aku rela melepaskan kamu, Mas! Asal kamu bahagia!" suara istriku menginterupsi pikiranku yang saat ini kacau. 'Apa benar aku mencintai Rianti?' bathinku.


"Jangan memaksakan dirimu untuk bersamaku, kalau hati kamu bukan milikku. Aku bisa membesarkan anak kita. Jangan khawatir pada kami!" entah terbuat dari apa hati Istriku, dia masih bisa berkata begitu setelah aku menyakiti hatinya dengan berbahagia bersama wanita lain di saat dia sedang kesakitan dan berjuang setelah melahirkan anakku. Oh Tuhan tiba-tiba aku merasa menjadi suami paling buruk di dunia ini.


__ADS_2