Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
159. Persiapan


__ADS_3

Setelah mereka berdua berpisah dengan Dito. Sheila dan Bima kemudian pergi ke apartemen milik Bima untuk membicarakan permasalahan yang terjadi di antara mereka berdua.


"Jadi mau kamu apa?" tanya Bima dengan menatap tajam kepada Sheila yang masih menundukkan kepalanya.


"Setelah aku pikir-pikir sepertinya aku tidak akan sanggup untuk bersaing dengan para sahabatmu!" ucap Sheila dengan suara bergetar sehingga membuat Bima terheran dibuatnya.


" Aku benar-benar tidak mengerti dengan Jalan pikiranmu. Memang apa salahnya kalau aku mempunyai sahabat seperti Dipta? Bagiku dia adalah seorang sahabat yang sangat baik sepanjang aku mengenalnya!" ucap Bima sambil menatap kepada Sheilla.


"Dengarkan aku! Aku tidak pernah untuk mengesampingkan kamu ataupun lebih mengutamakan sahabatku di atas dirimu!" ucap Bima sambil berusaha menggenggam tangan Sheilla namun selalu ditepiskan oleh perempuan itu.


"Kenapa kau harus melakukan Seperti ini Sheilla? Memang apa salahku padamu sayang? Sehingga bahkan aku memegang tangan kamu saja tidak boleh?" tanya Bima dengan wajah sendu.


"Pernikahan kita tinggal dua hari sayang! Bukannya kita mempersiapkannya tapi ke sini kita malah berantem seperti ini!" ucap Bima sambil meraup wajahnya dengan kedua tangannya tampak begitu frustasi dengan kelakuan Sheilla.


"Kita batalkan saja pernikahan kita!" demi mendengarkan perkataan Sheila, Bima serasa disambar oleh petir di siang hari.


"Jangan Gila kamu! Pernikahan kita hanya tinggal dua hari saja. Semuanya sudah siap dan saya tinggal menunggu hari H saja! Dan di sini kau sedang merengek untuk membatalkannya? Apa kau pikir pernikahan itu seperti permainan kanak-kanak?" tanya Bima dengan perasaan jengkel.


"Sudahlah lebih baik kau beristirahat saja apartemen ini. Aku akan pulang ke rumahku kedua tuaku dan membicarakan semua ini dengan mereka!" ucap Bima kemudian langsung pergi meninggalkan apartemen yah tanpa menunggu jawaban dari Sheilla.


"Tunggu!" ucap Sheilla berusaha untuk memanggil Bima tetapi Bima yang saat ini sedang kesal dan kecewa terhadap Sheilla sama sekali tidak memperdulikannya.


"Tampaknya dia sangat marah sampai di tidak mau menemuiku lagi! Hiks hiks! Aku hanya mencintaimu Bim! Aku tidak suka berbagu kamu dengan siapapun!" ucap Sheilla dengan terisak kemudian dia menjatuhkan tubuhnya di sofa yang berada di ruang tamu milik Bima.


Bima yang saat ini sedang mengawasi segala tindak-tanduk Sheilla melalui ponselnya. Dia hanya bisa menarik nafasnya dengan dalam.

__ADS_1


"Ternyata dia melakukan itu karena merasa cemburu dengan Dipta! Aku benar-benar heran kenapa dia bisa melakukan itu? Masa dia cemburu dengan Seorang laki-laki? Apa dia berpikir kalau aku ini seorang gay?Allah ya Robb!" ucap Bima dengan perasaan yang campur aduk saat ini.


Bima kemudian mencari nomor telepon Dipta. Dia ingin berdiskusi dengan sahabatnya itu yang selama ini selalu memberikan solusi dan juga jalan keluar untuk semua masalah dalam hidupnya.


"Dip, Lu ada di mana sekarang?" tanya Bima begitu Dipta langsung mengangkat panggilannya.


"Di apartemen lah! Emang mau di mana lagi? Jam segini emangnya gue mau gentayangan kayak setan?" ucap Dipta menjawab pertanyaan Bima.


"Tunggu gue! Gue ke situ ya? Oh ya, lu mau dibawain apa?" tanya Bima kepada Dipta.


"Mau ngapain lu malam-malam ke apartemen gue? Jangan deh! Ntar kalau calon bini lu tahu, bisa hancur semuanya! Akan jadi masalah besar!" ucap Dipta melarang Bima untuk datang ke apartemennya.


"Gue gak perduli! Pokoknya lu harus tunggu gue. Awas saja!" ancam Bima kemudian dia langsung menutup panggilan telepon tersebut. Tanpa menunggu jawaban Dipta.


Bima berhenti di sebuah restoran Fizza dan membeli dua porsi untuk dirinya dan juga Dipta.


Begitu sampai di apartemen Dipta, Bima langsung melangkahkan kakinya ke unit milik Dipta. Tanpa merasa ragu ataupun takut.


Begitu sampai di apartemen Dipta, Bima langsung memencet kode sandi pintu apartemen milik Dipta.


Setelah berhasil membuka pintu Bima langsung mencari sahabatnya.


"Lu ngapain sih malem-malem datang ke sini? Ganggu orang istirahat aja!" ucap Dipta protes dengan kedatangan Bima yang datang pada jam 12.00 malam.


Dipta yang kelihatan sangat mengantuk hanya bisa duduk di sofa menunggu apa yang ingin dilakukan oleh Bima sehingga malam-malam datang ke apartemen miliknya.

__ADS_1


"Cepat katakan mau apa? Gue mau tidur nih! Besok banyak sekali yang harus gue siapin untuk pernikahan gue sama Nadia!" ucap Dipta mulai misuh-misuh karena merasa kesal dengan gangguan yang diberikan oleh Bima terhadapnya pada tengah malam begitu.


"Sheila minta membatalkan pernikahan kami!" ucap Bima sambil menundukkan kepalanya.


" Ya ampun benar-benar itu perempuan cari masalah saja!" ucap Dipta sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Memang kau tahu alasannya?" tanya Bima sambil menatap tajam untuk ada Dipta.


"Tentu tahu lah! Calon bini elo marah sama kamu bukan? Kalau lihat kita berduaan begini? Mungkin dia pikir kita ini gay kali ya? Ya Allah! Sungguh luar biasa pikiran negatif dia terhadap persahabatan kita berdua. Kenapa harus dipelihara begitu?" ucap Dipta sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu berarti tahu permasalahan antara saya dengan Sheilla?" tanya Bima menatap tajam kepada Dipta dan menuntut Sebuah Jawaban yang jujur dari sahabatnya.


"Pada malam gue datang ke apatement lu. Gue bicara dengan Sheila di basement apartemen lo! Ya pokoknya, intinya dia tidak suka kalau lihat kita berdua berdekatan seperti ini! maunya Sheila waktumu hanya untuk dia jangan melewatkannya bersamaku Karena Dia tidak rela berbagi kau dengan siapapun!" ucap Dipta sambil meringis kepada Bima.


" Ya ampun Desa seperti ini pun kau masih bisa tertawa kau sudah menertawakanku?" protes Bima sambil melemparkan bantal yang ada di tangannya kepada Dipta.


" Gue hanya takjub saja seorang Bima Baskoro bisa kalangkabut seperti ini hanya gara-gara seorang perempuan! padahal Bukankah dulu kau itu seorang Casanova yang selalu mempermainkan perempuan?" ucap Dipta sambil tertawa terbahak-bahak sehingga membuat Bima jengah.


"Udah deh nggak usah bahas lagi masa lalu gue. Semua itu udah lewat lama sekali!" ucap Bima sambil menatap kepada Dipta dengan tatapan serius.


"Jadi Katakan padaku! Apa pendapatmu? Apakah aku harus membatalkan pernikahan ku dengan Sheilla?" tanya Bima dengan penuh harapan kepada sahabatnya yang selama ini selalu mempunyai banyak solusi untuk setiap masalahnya.


"Kalau menurut gue, lebih baik kalau lu emang sedikit menjauh dari gue. Supaya calon istrimu nggak marah gitu!" ucap Dipta sambil menatap kepada Bima.


"Kalau gue harus kehilangan lu. Gue lebih milih untuk membatalkan pernikahan itu. Gue gak mau hidup bersama perempuan yang tidak bisa menerima sahabat yang sangat Gue sayangi!" ucap Bima sambil menatap ke pada Dipta yang saat ini menatapnya dengan lekat.

__ADS_1


__ADS_2