
Ayah Rianti merasa bingung karena anaknya dan menantunya tidak ada di ballroom pernikahan. Dia pun kemudian mencoba untuk menghubungi Bagas.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bagas di mana kalian kenapa Papa tidak menemukan kalian di manapun?" tanya ayahnya Rianti merasa khawatir dengan keadaan Putri dan menantunya.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Kami ada di rumah sakit Pah. Rianti tiba-tiba saja merasa sakit perutnya!" ucap Bagas kepada ayah mertuanya.
" Ya Allah cobaan apalagi yang kau berikan kepada keluargaku?" ucap ayahnya Rianti seakan merasa sedih dengan apa yang terjadi kepada putrinya.
" Kalian ada di rumah sakit mana Papa dan Mama akan segera menyusul ke sana!" ucap ayahnya Rianti kemudian dia pun langsung mencari istrinya untuk segera pergi ke rumah sakit yang tadi disebutkan oleh Bagas.
" Mah ayo kita pulang! Cepatlah!" ucap ayahnya Rianti kepada istrinya.
" Apa sebenarnya yang terjadi kenapa Papa begitu panik?" tanya istrinya ketika melihat suaminya begitu panik wajahnya.
Ayah Riyanti tetap diam dan dia juga tetap tidak mengatakan apa-apa. Sampai mereka kini berada di basement hotel.
Ayahnya Rianti menatap lurus ke depan di mana saat ini Nadya sedang bertarung dengan Ali dengan wajah yang acak-acakan dan amburadul.
" Ya Allah apa yang sedang terjadi di sini? Kenapa ada dia sambil bertarung dengan Kyai Ali?" ucap ibunya Rianti sambil berusaha untuk mendekat kepada mereka.
Ayahnya Rianti melihat Dipta yang saat ini masih duduk lemas di lantai.
" Ada apa nih Dipta? Kenapa kami sangat heran dengan kejadian ini?" tanya ibunya Rianti sambil berusaha untuk membantu Dipta bangkit dari duduknya saat ini.
" Tidak apa-apa Pak. Saat ini saya sedang mengistirahatkan badan saya yang terasa sangat lemah sekali!" ucap Dipta perlahan dengan wajah pucat sambil menatap kepada ayahnya Rianti.
" Sebenarnya apa yang sedang terjadi kenapa tiba-tiba Nadia berubah seperti itu?" tanya ayahnya Rianti sambil matanya terus menetap ke arah Nadia dan Ali yang masih bertarung dengan kekuatan batin mereka.
__ADS_1
" Nadia ternyata menggunakan susuk di dalam wajahnya!" ucap Dipta menerangkan kepada ayahnya Nadya.
" Ya Tuhan apakah susuk itu kembali lagi?" tanya ibunya Nadia seakan-akan tidak mempercayai yang dia dengar saat ini.
" Apa maksud Mama?" tanya ayahnya Nadya.
" Bukan apa-apa Pah! Tadi mama hanya keceplosan bicara!" ucap ibunya Nadia gugup ketika menatap wajah suaminya yang terus menatapnya dengan tajam.
" Sebaiknya Mama jujur sama papa!" ucap suaminya sambil menuntut pengakuan dari istrinya.
" Saat ini Rianti berada di rumah sakit. Karena bayi di dalam kandungannya kemungkinan besar dijadikan tumbal oleh Nadya untuk susuk yang ada di dalam tubuhnya!" ucap Dipta dengan suara lemas. Dia seakan tidak mempercayai apa yang dia katakan sendiri.
" Apa sebenarnya yang terjadi kepada keluarga kita? Kenapa bencana tidak ada akhirnya?" ucap ayahnya Rianti sambil meraup wajahnya dengan kasar.
" Maafkan Mama Pah ini semua mungkin adalah kesalahan mama!" ucap Ibu istrinya sambil menatap tajam kepada suaminya yang masih syok mendengarkan kabar yang diberitahukan oleh Dipta.
" Itu Pah, tadi pagi ketika Mama sedang membereskan kamar Riyanti. Mama ada melihat sebuah batu akik di bawah meja rias di kamar Rianti. Mama waktu itu memanggil Nadia dan tanpa sengaja Nadia kemudian menyentuhnya dan tiba-tiba saja batu akik itu masuk ke dalam wajah Nadia!" ucap ibunya Rianti sambil menatap kepada suaminya dengan perasaan bersalah.
" Kenapa Mama memasuki kamar itu huh? Bukankah sudah Papa kunci?" ucap ayahnya Rianti frustasi sambil menatap kepada istrinya dengan geram.
" Jadi sekarang kita sudah mengetahui akar masalahnya!" ucap Dipta dengan lega.
" Makhluk itu yang sendiri masuk ke dalam tubuh Nadya bukan Nadya yang sengaja mencarinya!" ucap Dipta mulai merasa bahagia. Karena mengetahui bukanlah Nadya yang sesungguhnya menginginkan benda terkutuk itu berada di dalam tubuhnya.
" Pak Kyai basmillah makhluk yang ada di dalam tubuh anak kami. Usirlah dan jangan sampai terus mengganggu hidup putri kami!" ucap ayahnya Nadia sambil menatap tajam kepada Ali yang saat ini sedang berjuang untuk melepaskan bayangan makhluk itu dari tubuh Nadia yang kini semakin bergetar ketika Ali terus melantunkan ayat-ayat ruqyah.
" Panas! Oh Tidak! Cepat hentikan kau manusia! Oh.. panas! Ini sangat panas sekali. Kau selalu saja mengganggu ketentraman hidupku di dunia ini!" teriak makhluk yang ada di dalam tubuh Nadia saat ini.
__ADS_1
" Pergilah dari wadagnya dan kembalilah ke asalmu. Jangan pernah sekali-kali lagi kau untuk datang dan mengganggunya lagi atau aku akan membakarmu dengan api neraka!" ucap Ali dengan suara lantang dan keras.
" Cepat kau lepaskan bayi yang ada di dalam genggamanmu itu dan kembalikan kepada ibunya!" ucap Ali sekali lagi.
" Baiklah aku akan mengembalikan bayi ini dan aku juga akan meninggalkan tubuh Nadia tetapi kau tolong berhentilah untuk terus membacakan ayat-ayat itu. Oh.. tubuhku rasanya sangat panas!" Raung makhluk itu sambil terus menjerit kesakitan dan juga kepanasan.
" Cepat kau kembalikan bayi itu sekarang juga atau aku akan mencambukmu!" Ucap Ali sambil mencambukkan tasbih yang ada di tangannya ke tubuh Nadia yang saat ini sedang bergetar karena menahan kepanasan.
" Ampun, ampun! Tolong jangan cambuk aku. Baiklah aku sekarang akan mengembalikan bayi ini kepada ibunya!" ucapnya sambil kemudian melepaskan sesosok bayi yang ada di dalam genggamannya dan kemudian dia menghembuskannya. Sehingga melesat jauh entah pergi ke mana.
" Sekarang juga kau lepaskan tubuh Nadya dan pergilah. Jangan pernah kembali lagi untuk mengganggunya!" ucap Ali.
" Maaf sesuai dengan perjanjian yang sudah dibuat oleh kami. Ketika dulu seseorang meminta susuk ini kepada kami. siapapun yang menggunakannya, apabila mengingkari janji untuk memberikan tumbal kepada kami, maka nyawanyalah yang akan kami ambil!" ucap sosok itu sebelum pergi meninggalkan tubuh Nadia yang seketika langsung ambruk di tanah.
Ayah Nadia langsung menangkap tubuh putrinya yang sudah tidak bernyawa karena sudah dibawa pergi oleh makhluk tadi sebelum meninggalkan tubuh Nadia.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun!" ucap ayahnya Nadia sambil menutupkan kelopak mata Nadia yang saat ini masih melotot ke atas, tampak sekali seperti ketakutan.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun! Kita harus berdoa kepada Allah agar Nadia diselamatkan dari siksaan api neraka. Setelah semua dosa-dosa dia sama hidup di dunia ini!" ucap Ali sambil menundukkan kepalanya.
Ali seperti mengingat kembali saat dulu dirinya pernah mengenal Nadia. Sosok gadis yang periang dan juga sangat super terhadap semua orang yang mengenalnya.
" Sungguh sangat disayangkan gadis semuda dia sudah berurusan dengan hal-hal klenik seperti ini!" ucap Ali sambil menggelengkan kepalanya.
Tampak ibunya Nadia menatap Ali dengan tatapan sinis. " Kau yang telah membunuh putriku kau harus mempertanggungjawabkan itu semua! Aku akan pastikan membawa ini ke ranah hukum!" ucap ibunya Nadia dengan mata berapi-api.
Ayahnya Nadia menatap istrinya yang seperti kalap dan dia meminta maaf kepada Ali atas semua perkataan istrinya.
__ADS_1