
Setelah Rafi tidur, aku menaruh Rafi di kamar. Lalu aku mendekati Dipta yang sudah menunggu di ruang tamu. Aku lihat minyak pijit juga sudah ada di sana. Dipta menyambut kedatanganku dengan senyum sumringah. Tampan sekali.
Visualisasi Dipta (author halu dikit, gak apa-apa ya? Hahahaha! Jangan ada yang marah, ini hanya Novel, bukan kenyataan!)
"Buka dulu baju kamu, gimana aku bisa mijitin kamu, kalau kamu pakai baju gitu?" protesku.
Dipta lalu membuka baju atasnya, mataku terpesona, melihat tubuh Dipta yang aduh, bisa meruntuhkan iman seseorang. Aku menenangkan hatiku yang blingsatan gara-gara lihat tubuh machonya Dipta. 'Nih, cowok! Bikin jantung tidak sehat saja!' Rutukku dalam hati.
Sementara itu, dua pelayan sexy milik Dipta, masih asyik memperhatikan interaksi kami berdua. Ketika Dipta sudah berbaring telentang di lantai dengan alas karpet bulu, mereka tampak sangat kesal. 'Apakah mereka di gaji oleh Dipta hanya untuk kepoin atasannya sedang ngapain ya? Hadeh, mubahin duit aja, gajih dua orang yang gak faedah di rumah!' bathinku.
Aku mulai memijit tubuh Dipta, dimulai dari punggung, tangan dan kakinya. Bagian terakhir adalah kepalanya. Saat ini Dipta duduk di depanku, agar memudahkan diriku, aku duduk di kursi dan Dipta di lantai, Dipta tampak menikmati pijitan yang aku berikan, tampak dari matanya yang mulai terpejam, ngantuk-ngantuk dan nafas yang mulai teratur, "Dipta, kalau mau tidur pindah di kamar sana! Tuh kamu ngundang orang ngintip mulu dari tadi!" Aku berusaha membangunkan Dipta dengan menggoyangkan tangannya, tapi Dipta tidak bergeming.
Saat aku akan bangun, tiba-tiba Dipta menarik tanganku dan memelukku dengan erat, "Temani aku tidur siang sebentar!" ucapnya lirih. Harus tubuhnya menyeruak di hidungku, melumpuhkan saraf dan logika. Aku tersadar bahwa ini salah.
"Ayo pindah kamar!" ucapku dengan keras, Dipta tampak terkejut, matanya auto melek.
"Dasar pelit! Minta di temani Bobo siang bentar aja, gak mau!" sungutnya sambil berjalan ke kamarnya. Aku tersenyum melihat tingkah konyol Dipta, yang aku anggap sebagai teman, kakak, majikan, maupun orang special.
__ADS_1
Special disini maksudnya, Dipta ini satu-satunya pria yang dekat denganku setelah suamiku yang entah bagaimana kabarnya sekarang. Sudah hampir dua bulan, aku tinggal dan kerja di rumah Dipta. Tugasku hanya menemani Dipta ngobrol-ngobrol dan membuat dia rileks, beban kerja di kantor yang terlalu banyak, membuat Dipta selalu stres dan frustasi.
Dipta bilang, bicara denganku bisa membuat dia merasa tenang, apalagi kalau sudah bermain dengan Rafi, mood booster pokoknya bagi Dipta.
Aku tahu dua pelayan seksi di rumah ini selalu merasa iri dan dengki kepadaku, aku juga sudah sering bilang sama Dipta untuk membiarkan aku kerja seperti mereka, tapi Dipta pasti langsung marah dan ngamuk.
"Pokoknya, tugas kamu itu cukup urus Rafi dan nemenin aku! Itu udah lebih dari cukup!" ucapnya. Aku sampai hapal dengan jawaban dia. Bikin kesal gak sih? Dipta tidak tahu penderitaan diriku yang setiap hari harus mendapatkan nyinyiran dari mereka berdua. Para pelayan yang berharap menjadi Nyonya di rumah ini.
"Dipta, kamu itu mapan dan tampan, kenapa kamu gak nyari istri aja sih, dari pada hidup melajang terus, bukankah lebih enak punya istri?" ucapku pagi ini, saat kami tengah berjemur bersama Rafi.
Kebiasaan Dipta setiap hari begitu, berjemur selama beberapa menit, dan duduk santai sambil ngopi cantik. Hidup orang kaya, tidak pernah pusing mikir apapun. Kerja berangkat seenaknya, pulang saja semau dia. Gak disiplin pokoknya!
"Ah, bohong banget! Itu pelayan di rumah ini saja. setiap hari ngiler tiap lihat kamu cuma koloran doang! hehehe!" tawaku merasa lucu.
"Mereka bukan type ku, aku gak suka orang yang mengumbar auratnya sembarangan! Kamu lihat bukan? Setiap hari mereka tidak malu, berpakaian seksi di depanku. Aku sampai malu lihatnya!" ucap Dipta nyaris tanpa beban.
"Bukankah, pria kota memang suka cewek sexy ya?" tanyaku sambil menyuapi Rafi, Dipta tampak tidak pernah bosan bermain dengan Rafi, setiap hari tambah gendut dan chuby.
"Eh, kita nanti siang ke mall, yuk! Aku pengen belikan baju baru buat Rafi! Badan dia setiap hari tampaknya tambah besar, kau lihat? Baju ini hampir tidak muat di tubuhnya!" ucap Dipta menunjukkan tubuh anakku yang memang lebih gendut sekarang.
__ADS_1
"Anak bayi memang selalu begitu. Cepat besar! Makanya gak perlu beli baju bayi banyak-banyak, karena pasti cuma kepakai bentar doang!" ucapku.
"Nanti kita belanja baju sama Papah, ok?" Dipta mengangkat tinggi-tinggi tubuh gembul Rafi sambil menciumi perutnya, Rafi tampak sangat senang dan tertawa-tawa.
"Papah? Sejak kapan kamu punya anak, Dipta?" tiba-tiba seorang wanita berpenampilan sosialisasi masuk dari pintu depan, menatapku dengan sinis, bergantian dengan menatap Dipta, penuh dengan pertanyaan.
"Mamah? Kenapa mau kesini gak bilang-bilang?" Dipta tampak gugup, saat mendapatkan sang Mamah kini melotot menatapnya.
"Jawab pertanyaan Mamah! Sejak kapan kamu punya anak? Memang kapan kamu menikah, huh? Kenapa Mamah kok tidak ingat kalau kamu pernah menikah, huh?" tatapan mengintimidasi Mamahnya Dipta sungguh mampu menyihir kami berdua. Aku bahkan tidak bisa berkata apa-apa.
"Mah, ayo duduk dulu, biar Dipta jelaskan!" Dipta berusaha membujuk Mamahnya untuk duduk.
"Begini, Mah! Dipta itu sayang sekali dengan Rafi! Dipta udah anggap dia seperti anak Dipta. Mamah tahu bukan? Kalau anak Dipta yang meninggal waktu itu, usianya hampir sama dengan Rafi. Dipta hanya merasa, bahwa saat ini Dipta tengah bersama dengan Dafa. Bersama Rafi, membuat Dipta jadi lupa segala kesedihan, Rafi bisa menghapus segala duka lara di hati Dipta!" aku tersentak mendengar pengakuan Dipta.
Jadi Dipta ini pernah mempunyai seorang anak?Namanya Dafa? Sudah meninggal? Wah, begitu banyak pertanyaan dalam hatiku, nanti kalau mamahnya pulang, aku akan tanyakan kepada Dipta. Aku soalnya penasaran dengan kehidupan Dipta. Selama ini aku tidak tahu luka dan derita yang pernah dirasakan oleh Dipta.
Padahal selama ini Dipta selalu baik padaku dan juga anakku. Oh Tuhan! Teman macam apa aku ini? Bahkan tidak tahu kalau Dipta pernah mempunyai seorang anak. Jadi, apa itu artinya Dipta juga pernah punya istri? Masih punya, barang kali? Kedatangan mamahnya Dipta benar-benar mengungkapkan begitu banyak misteri kehidupan seorang Dipta Pramana.
"Kamu carilah seorang istri dan memulai kehidupan yang baru. Lupakan masa lalu yang pahit itu. Dafa dan Safa sudah tenang di alam sana. Jangan dikenang lagi. Kasihan mereka!" tiba-tiba wanita yang tadi tampak sangar, kini menjadi wanita anggun yang halus dan lembut.
__ADS_1