Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
176. Di usir


__ADS_3

Istrinya Dipta yang masih belum menggunakan pakaiannya. Dia dengan sembarangan menggunakannya. Kemudian dia langsung bersimpuh di bawah kaki ibunya Dipta dan memohon ampun atas kesalahan yang telah dia perbuat.


Tetapi hati ibunya Dipta yang sudah terlanjur sakit melihat penghianatan menantunya. Dia langsung menarik tangan wanita itu untuk keluar dari rumah putranya.


" Tolong ampuni aku Mah! Maafkan Aku! Aku mohon, demi Putraku yang merupakan cucumu. Tolong maafkan aku dan jangan laporkan perbuatanku ini kepada Mas Dipta!" Raungnya dengan menangis tersedu-sedu.


" Manusia khianat sepertimu tidak layak untuk dipelihara. Pergilah aku dari kehidupan putraku. Aku berjanji tidak akan pernah menceritakan kejadian ini kepada Putraku. Tetapi aku minta padamu untuk meninggalkan putraku. Dan pergi menghilang untuk selamanya!" ucap ibunya Dipta dengan marah tanpa melihat wajah menantunya.


" Tolong izinkan aku untuk membawa putraku. Karena aku tidak akan bisa hidup tanpa dia. Toh dia juga bukan putra dari Mad Dipta!" bagaikan terkena sambaran petir di siang bolong ibunya Dipta sampai terkejut dibuatnya.


" Apa maksudmu bahwa anak itu bukan anak dari Dipta?" tanya ibunya Dipta dengan perasaan berkecamuk di dalam dadanya.


" Benar Mah. Surya bukanlah anak dari Mas Dipta. Aku sedang mengandung dua minggu ketika aku menikah dengan Mas Dipta!" ucapnya dengan berlinang air mata.


Ibunya Dipta langsung luruh ke lantai. Tubuhnya lemas seketika karena dia merasa sangat sedih dengan nasib putranya yang telah ditipu mentah-mentah oleh perempuan khianat itu!


" Cepat segera kau tinggalkan rumah ini dan kau bawalah putramu bersamamu. Tidak akan kubiarkan Putraku merawat anak yang tidak jelas dari rahimmu!" ucap ibunya Dipta sambil menarik tangan menantunya dengan penuh emosi yang memuncak di dalam hatinya.


Istrinya Dipta yang sudah ketakutan melihat ibu mertuanya yang begitu marah kepadanya. Dia pun tidak berani untuk berbuat banyak macam terhadap beliau.


Dengan gerakan cepat dia langsung membereskan barang-barangnya dan langsung mengambil putranya yang sedang tidur lelap di atas box bayinya.


Di tengah hujan yang lebat dan petir itulah. Istri Dipta meninggalkan kediaman Dipta dan pergi menuju ke Purwokerto. Di dalam perjalanan itulah istri Dipta kemudian mengalami kecelakaan. Mobil yang dia kendarai tertabrak mobil tronton. Badannya bahkan sampai hancur karena terseret oleh mobil tronton sejauh puluhan meter dari lokasi kejadian. Akan tetapi bayinya tidak ditemukan keberadaannya pada saat evakuasi dilakukan.

__ADS_1


Flash back off


Dipta terhenyak ketika mendengarkan cerita yang disajikan oleh ibunya. Dia seperti tidak percaya dengan apa yang dia dengarkan saat ini.


" Mama pasti berbohongkan? Tidak mungkin istriku berbuat hal seperti itu. Dia adalah wanita yang baik dan selama ini aku tidak pernah melihat dia berbuat macam-macam di belakangku!" ucap Dipta sambil terus menggelengkan kepalanya. Karena dia benar-benar tidak percaya bahwa ada cerita semacam itu dibalik kematian istrinya dan pengusiran ibunya terhadap sang istri.


" Maafkan Mama Dipta. Selama ini Mama tidak menceritakannya padamu. Karena mama punya janji untuk tidak menceritakan hal ini kepadamu. Akan tetapi hari ini kau sudah memutuskan untuk menikah lagi. Maka Mama harus menceritakan ini agar kau terbebas dari rasa bersalahmu terhadap istrimu yang tidak baik dan bersifat khianat kepada dirimu! Kau berhak hidup bahagia dan membuka lembaran barumu bersama dengan wanita baik yang akan memberikan kehidupan yang bahagia untukmu!" ucap ibunya Dipta sambil memeluk putranya yang kini sedang menangis tersedu-sedu.


" Kenapa Mama tidak menceritakan yang sebenarnya kepadaku? Sehingga aku tidak harus menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membencimu untuk meratapi wanita seperti dia yang ternyata telah menodai perasaan cintaku padanya!" ucap Dipta dengan kesedihan yang luar biasa. Ketika dia mengingat kembali betapa banyak malam-malam dia habiskan untuk menangisi perempuan itu yang ternyata sejak awal memang telah menghianatinya.


" Bahkan anak yang ada dia lahirkan pun bukanlah anakku!" Dipta terus meraung dan menangisi segala kebodohannya selama bertahun-tahun.


" Sudahlah Dipta. Lupakanlah semuanya. Sekarang yang penting kau lakukan adalah introspeksi dirimu selalu dan juga mengubur kenangan buruk yang sudah lalu. Belajarlah untuk memaafkan dan sekarang mulai bukalah lembaran barumu bersama dengan Kinan. Semoga ada kebaikan di dalamnya!" ucap Nur berusaha untuk menasehati sahabatnya yang saat ini sedang berada di dalam titik terlemah hidupnya setelah mengetahui segala Kejadian yang sesungguhnya mengenai misteri kematian istrinya yang tiba-tiba.


" Tolong maafkan anakmu mah. Yang selama bertahun-tahun telah membencimu. Yang selama bertahun-tahun tidak mau berkomunikasi denganmu. Tolong maafkan aku dan ampunilah dosa-dosaku kepadamu!" ucap Dipta sambil menangis dan memeluk tubuh ibunya dengan erat. Sehingga membuat ibunya menjadi terharu dan juga bersedih melihat putranya yang saat ini sedang gundah.


" Tidak apa-apa kau membenci Mama selama ini. Selama kau tidak membenci dirimu sendiri. Mama sengaja terus mengunci rahasia itu dengan rapat. Agar kau tidak merasa terluka karena mengetahui penghianatan istrimu dan juga penipuannya terhadap dirimu!" ucap ibunya Dipta dengan penuh haru sambil terus menepuk bahu putranya yang terus terisak dalam tangis penyesalan.


" Sekarang ayo kita sama-sama salat magrib di masjid. Karena sudah waktunya untuk salat. Semoga air wudhu bisa meluruhkan segala kesedihan yang ada di dalam hati kalian dan semoga sujud kepada Tuhan bisa membuat hati kalian menjadi lebih tenang!" ucap Kyai Ali.


Semua orang yang ada di ruangan itu pun kemudian pergi ke masjid dan melaksanakan salat magrib berjamaah.


Setelah selesai salat Dipta langsung mendatangi Kyai Ali dan juga istrinya di dalam masjid.

__ADS_1


" Maafkan saya pak Kyai. Apakah bisa kalau pernikahanku dengan Kinan dilaksanakan malam ini juga?" tanya Dipta sambil menatap tajam kepada Kyai Ali dan juga istrinya.


" Tetapi bukankah kita harus menyiapkan surat-surat dan juga perlengkapan serta syarat-syaratnya?" tanya Kyai Ali menatap kepada Dipta dengan lekat.


" Malam ini kita hanya mengucapkan Ijab Kabul saja Pak Kyai. Pernikahan secara resmi akan dilakukan sesuai dengan tanggal pernikahan saya dengan Nadya dan sekaligus mengumumkan kepada khalayak ramai mengenai pernikahan kami malam ini!" ucap Dipta dengan serius.


Tampak Kyai Ali berpikir sejenak kemudian dia melirik kepada istrinya.


"Maafkan saya Dipta. Saya pikir sesuatu yang tergesa-gesa itu tidak baik. Akan lebih baik kita melakukan pernikahan sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Agar semuanya menjadi manfaat dan juga tidak mendatangkan keburukan di masa depan! Selain itu kami dari pihak mempelai perempuan ingin mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna. Tidak dengan asal-asalan. Supaya suatu saat tidak menjadi sebuah penyesalan di dalam hati Kinan." ucap Nur.


Walaupun ada rasa kecewa di dalam hati Dipta. Akan tetapi Dipta menghormati keputusan yang sudah diambil oleh pihak mempelai wanita.


Karena bagaimanapun apa yang diungkapkan oleh Nur memang benar adanya. Bahwa segala sesuatu yang tergesa-gesa itu adalah berasal dari setan dan pasti tidak akan ada kebaikan di dalamnya.


Akhirnya malam itu Dipta dan ibunya pulang dari Pondok Pesantren menuju ke kediaman ibunya Dipta. Agar mereka bisa mempersiapkan pernikahan Dipta dengan Kinan secara matang dan juga pantas.


" Apakah Mamah benar-benar yakin bahwa Kinan adalah calon istri yang terbaik untuk Dipta yang bisa membawa keluarga kami menuju Jannah dan hidup bahagia di dunia dan akhirat?" tanya Dipta ketika mereka sudah berada di kediaman ibunya.


" Mama yakin kalau Kinan bisa menjadi istrimu yang baik dan juga sholehah!" ucap ibunya Dipta sambil menatap putranya dengan lekat.


" Dipta berharap pernikahan yang direstui oleh Mama akan menjadi pernikahan yang terakhir dalam hidup Dipta dan kami bisa hidup dengan bahagia bersama dengan anak-anak kami yang akan menjadi teman kami kelak di hari tua!" ucap Dipta dengan mata berkaca-kaca.


" Mama pasti akan selalu mendoakan kebaikan dan juga kebahagiaanmu Dipta Percayalah itu!" ibunya Dipta kemudian mencium putranya dengan khusyuk dan mendoakan yang terbaik untuk sang Putra. Agar bisa hidup berbahagia bersama keluarga baru yang akan segera dijalin sang putra tercinta.

__ADS_1


__ADS_2