
Nur dan Ali memutuskan akan menerima tawaran pekerjaan dari Nadya. Karena memang butuh pekerjaan dan juga tempat tinggal.
"Mas, ingat ya! Mas harus jaga jarak dengan Nadya. Pokoknya, aku gak akan memaafkan Mas, kalau Mas macam-macam sama Nadya!" ancam Nur dengan tegas.
"Iya, sayang! Niat Mas cuma mau kerja saja! Percayalah sama Mas!" akhirnya mereka pindah juga hari itu juga. Setelah berpamitan kepada Pak Kiai dan teman di pondok. Mas Ali berjanji akan tetap mengajar di pondok apabila dirinya masih di butuhkan oleh Pak Kiai, untuk mengajar.
Saat mereka pindah, Nadya tidak ada di kost an, dia sedang ada bimbingan skripsi. Jadi Nur dan Ali hanya di sambil oleh pembantu di sana. Sebelumnya Nadya memang sudah berpesan kalau akan ada yang mengisi rumah penjaga kost. Tahu sendiri bukan? Para mahasiswa terkadang susah di atur kalau tidak disediakan penjaga.
Penjaga ini nantinya bertugas untuk menjaga keamanan, ketertiban dan kenyamanan penghuni Kost. Selain itu bertugas menagih penghuni yang suka nunggak nayar kost. Jadi pekerjaan penjaga kost ini sangat urgent bagi Nadya. Dia butuh seseorang yang terpercaya dan jujur.
Kostan yang di kelola oleh Nadya ada 100 pintu, makanya tidak heran kalau Nadya butuh jasa seorang Penjaga kost. Sementara dirinya saat ini disibukkan dengan tugas kuliah dan juga skripsi.
Nur juga sibuk dengan skripsi. Dia bahkan sudah seminar hasil penelitian, hanya tinggal menunggu Sidang akhir untuk bisa lolos wisuda tahun ini.
Nur saat ini tengah hamil dua bulan, sedang manja-manja nya pada sang suami. Makanya kemarin Ali langsung menerima tawaran bekerja dari Nadya, karena memang dirinya butuh untuk persiapan melahirkan istrinya. Ali tidak mau lagi, hidupnya bergantung kepada mertua dan juga Keluarga di Sulawesi.
"Mas, aku mau cobain melamar kerja ya? Siapa tahu ada yang tembus!" ujar Nur setelah beres-beres rumah yang akan mereka tempati. Rumah kecil, hanya ada satu kamar tidur, ruang tamu berukuran 2x3 meter, dapur dan toilet. Dapur serta ruang makan bersatu. Sangking sempitnya rumah tersebut. Tapi Ali bersyukur, ada rumah untuk keluarga kecilnya. Dirinya merasa bersyukur istrinya tidak mengeluh sama sekali dengan kondisi pernikahan yang nyaris tidak kondusif.
Dirinya hanya lulusan SMA, dahulu pernah daftar kuliah di Universitas Terbuka, tapi gak di lanjutkan. Karena dirinya lebih fokus untuk ngaji dan mondok. Rencananya, nanti mau ikut sama Lilik nya di pabrik Las, kalau pas ada job besar disana. Lumayan buat nambah uang dapur.
__ADS_1
"Jangan, sayang! Mas gak mau kamu kerja. Kamu fokus jaga anak kita. Mas gak mau, kamu terlalu lelah, kalau kamu mau bisnis, kamu bisa hubungi Papah saja, untuk mensuplai beras ke sini. Mas Lihat di kost ini banyak penghuni yang sudah berkeluarga juga. Nanti Mas akan berunding sama Nadya, agar kita dibolehkan mensuplai kebutuhan beras penghuni kontrakan. Bagaimana?" tanya Ali antusias. Sementara Nur tampak berpikir.
"Boleh, deh. Tapi kita harus kasih DP sama Papah, untuk produksi dan Kirim barang, pasti butuh biaya. Aku gak mau Mas, kita jadi beban orang tuaku lagi. Aku maunya kita berusaha mandiri." ucap Nur berusaha membujuk suaminya.
"Iya, sayang! Nanti Mas coba hubungi keluarga di Sulawesi, siapa tahu ada solusi nanti!" ucap Ali.
"Mas, kenapa gak pinjam sama Bank saja? Lebih praktis bukan? Kita juga gak perlu menanggung malu kalau minjam ke orang gak di kasih!" ucap Nur mencoba membujuk suaminya pinjam ke Bank. Tapi tanpa pikir panjang langsung di tolak.
"Gak mau! Mas gak akan pernah mau berurusan dengan Bank!" Ali langsung keluar dari rumahnya.
Saat itu, Nadya tampak berdiri di luar, tersenyum melihat kedatangan Ali. Yang tampak gusar.
"Kenapa, Mas? Apa gak suka dengan rumahnya? Maaf ya, kalau cuma bisa sediakan rumah itu." ucap Nadya dengan memasang wajah melas.
"Mas Rencananya mau bisnis beras, kebetulan mertua punya pabrik beras, hanya saja Mas bingung, mau mencari modal awalnya. Kamu tahu sendiri, Mas selama ini gak pert kerja, cuma fokus ngaji dan ngaji. Hidup selama ini 100% orang tua yang tanggung. Mas malu sama mertua kalau hanya minta dikirim barang, tapi tanpa kasih DP atau modal awal. Untuk produksi dan pengiriman, pasti butuh dana bukan?" ucap Ali frustasi.
"Mas sudah coba hubungi orang tua Mas?" tanya Nadya berusaha memberikan solusi.
"Sebentar, Mas telpon dulu." Ali lalu mencari kontak orang tuanya di Sulawesi.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Pak, apa boleh saya pinjam uang buat modal usaha? 10 juta saja, Pak!" ucap Ali dengan nada serius.
"Maaf, Al, kemarin buat pernikahan kalian, bapak sudah keluar uang hampir 50 juta, buat tiket pesawat satu keluarga, dan lain-lain, uang tabungan bapak sudah menipis!" ucap Bapak lesu.
"Ya sudah, gak apa-apa, Pak! Maaf sudah ganggu. Ali tutup dulu, Pak. Salam buat yang lain. Assalamualaikum!" Nadya menatap pria Pujaan hatinya dengan iba.
"Mas, kalau kamu mau, aku bisa kasih uang buat Mas, 20 atau 30 juta, saya siap kasih. Selama ini, penghasilan kontrakan ini sangat banyak, hasilnya semua di kasih sama aku oleh orang tuaku." ucap Nadya sambil memegang tangan Ali. Matanya menatap lekat manik Ali.
Seketika Ali menarik tangannya, "Astagfirullah! Tolong tetap jaga jarak kita. Saya sudah punya istri, dia bahkan sedang hamil anak pertama kami." ucap Ali tampak gugup. Dadanya bergemuruh tidak karuan.
"Maaf, Mas! Saya terbawa suasana. Gimana? Mas mau gak, uang dari saya?" tanya Nadya lagi.
"Mas gak punya jaminan untuk uang tersebut." jawab Ali ragu-ragu.
"Mas, kamu kan kerja di rumah ini. Nanti bisa aku potong dari gaji Mas setiap bulannya, udah, jangan khawatir dengan uang itu. Gak Mas kembalikan juga gak apa-apa. Buat aku, uang segitu gak ada apa-apanya. Percaya sama aku!" ucap Nadya sambil tersenyum manis.
Ya, pelakor mulai menancapkan taringnya, mulai mewarnai rumah tangga orang lain. Mulai menawarkan sejuta mimpi indah. Apa Ali sanggup menahan godaan dari calon seorang pelakor?
"Ya udah, kalau gitu Mas mau. Nanti di potong gaji gak apa-apa. Nanti Mas bisa sisihkan laba dari bisnis, biar bisa cepat lunas hutangnya.
__ADS_1
Nadya sangat bahagia karena usahanya untuk menjerat pria pujaan hatinya pelan-pelan mulai terlihat ada jalan.
'Kamu lihat saja, Mas! Sebentar lagi, kamu akan jatuh ke pelukan aku! Aku yakin kalau aku akan bisa merebut kamu dari istri kampungan kamu itu!' bathin Nadya dengan senyum kemenangan.