Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
91. Akhirnya pulang juga.


__ADS_3

Keesokan harinya ibunya Rianti kembali ke hotel yang ditempati oleh suaminya. Tampak suaminya beserta Mang Suryo yang sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta.


"Akhirnya Nyonya besar pulang juga. Ke mana saja kau? Semalaman hampir membuat suamimu ini tidak bisa tidur sepanjang malam. Apakah kau bahagianya, Nyonya besar?" Tanya suaminya dengan mata melotot. Menelisik sang istri.


Melihat ke arah istrinya karena menahan rasa kantuk, yang semalaman dia tahan gara-gara menunggu kepulangan istrinya.


"Baru pergi sebentar saja, sudah kelapakan! Apakah Papa tahu? Berapa banyak waktu, dan malam-malam yang dihabiskan Mama. Sepanjang Hidup Mama, menjadi istrimu? Dalam rangka menunggu Papa pergi, entah kemana. Tanpa kabar dan berita. Papa baru menerima satu malam, hal seperti ini, sudah marah-marah. Sungguh kau suami yang luar biasa!" Cibir ibunya Rianti sambil langsung masuk ke mobil, milik mereka dan bersiap untuk berangkat ke Jakarta.


Mang surya yang sudah hafal dengan sifat kedua majikan yaitu yang memang selalu saja ribut di manapun berada. Dia berusaha menulikan telinganya, agar tidak ikut-ikutan stress dengan kelakuan mereka berdua yang seperti anak kecil.


"Oh, jadi Mama sedang bales dendam ceritanya sama Papa? Makanya mama melakukan hal seperti itu semalaman? Mama membuat Papa tidak bisa tidur. Ya begitu?" cecar suaminya terus terhadap istrinya yang tampak cuek dengan kemarahannya saat ini.


"Mang Suryo! Ayo kita segera kembali ke Jakarta saja. Banyak urusanku yang harus aku handle daripada mendengarkan ocehan pria tua ini!" perintah ibunya Rianti kepada sopir pribadinya.


Tentu saja Mang Suryo jadi bingung harus mengikuti perintah siapa. Walaupun secara juklis, memang dia adalah sopir pribadi milik ibunya Rianti.


"Oh kau sudah berani untuk meninggalkan suamimu. Iya betul?" ayahnya Rianti terus mengejar ibunya Rianti yang tampak marah juga terhadap dia.


"Tuan dan nyonya marahannya lagi nanti aja. Sekarang! Ayo kita segera melanjutkan perjalanan kita. Kalau sudah siang. Nanti masuk jam kantor pasti jalannya macet sekali akan sangat melelahkan kalau kita melakukan perjalanan dalam keadaan semacam itu!" ucap Mang Suryo berusaha untuk memberikan kesadaran kepada kedua majikannya yang kini sedang ada urat.


"DIAM!" ucap suami istri itu dengan kompak sehingga membuat Mang Suryo terkejut melihat mereka berdua kini sama-sama melotot ke arahnya.


Kini Mang Suryo yang dijadikan sasaran kemarahan keduanya. Karena merasa sudah diganggu kegiatan melepaskan emosinya.

__ADS_1


"Maaf, Tuan dan Nyonya!" akhirnya Mang Suryo tidak berani lagi untuk menginterupsi mereka berdua. Daripada kena Semprot lagi seperti tadi. Dia akhirnya memilih untuk diam saja.


Akhirnya ayah dan ibunya Rianti pun mulai berpikir dan mengikuti anjuran yang dikatakan oleh Mang Suryo. Mereka pun duduk anteng di belakang, tapi tanpa menoleh satu sama lain. Sikap mereka betul-betul membuat sangat lucu sekali bagi Mang Suryo, sehingga sangat kesulitan untuk menahan tawanya


"Kenapa mang Surya tertawa? Apakah ada yang lucu di antara kami berdua?" sengit ibunya Rianti. Menegur sopir pribadinya yang kurang ajar itu karena sudah berani menertawakan majikannya sendiri yang kini sedang berantem.


"Maafkan saya Nyonya! Saya tidak bermaksud tertawa hanya saja Rasanya aneh sekali melihat kalian berdua berantem biasanya kan kalian selalu mesra dan akur!" ucap Mang Surya dengan sangat berhati-hati karena takut menyinggung kedua majikannya.


"Apa kau tahu Surya? Kau itu adalah sopir yang paling kurang ajar yang berani menertawakan majikanmu!" sengit ayahnya Rianti sambil melihat lurus ke depan.


Mang surya yang mendapatkan teguran dari majikannya tersebut merasa sangat tidak enak hatinya, karena sudah lancang menertawakan mereka yang sedang naik darah. Entah memperebutkan apa. Tetapi sebagai bawahan dia hanya bisa memohon maaf daripada kehilangan pekerjaan.


"Maafkan saya, Tuan dan Nyonya! Saya berjanji saya tidak akan lancang lagi dengan tertawa melihat kalian yang sedang berantem!" ucap Suryo dengan takut-takut. Tetapi dia tetap fokus dengan jalanan Karena takut menabrak mobil lainnya.


Biarkan supirku fokus dalam menyetir.Apakah kalau mobil ini menabrak orang, kau berani bertanggung jawab dan masuk penjara?" sengit ibunya Rianti sambil melihat suaminya yang dari tadi terus saja ngomel-ngomel seperti perempuan yang sedang menstruasi. Emosi terus bawaannya.


"Semakin lama, Papa rasa Mama semakin kurang ajar saja terhadap Papa!" ucap ayahnya Rianti dengan nada kesal.


Tetapi ibunya Rianti sama sekali tidak peduli. Karena hatinya sudah kebas melihat kelakuan suaminya yang selama ini selalu merendahkannya dan tidak pernah menghargainya sebagai seorang istri.


"Heh, Bung! Anda dengar ya! Kalau anda ingin dihargai oleh orang lain, maka anda harus belajar untuk menghargai perasaan orang lain. Jika anda ingin dicintai oleh orang lain, maka belajarlah untuk mencintai orang lain Anda paham?" ibunya Rianti tidak kalah sengit daripada ayahnya. Yang kini malah menatap istrinya tersebut dengan tatapan sinis.


"Jangan katakan sama papa kalau semalam Mama menemui kekasih gelapnya Mama. Ayo ngakus aja!" tuduh suaminya dengan tegas dan menatap istrinya dengan tatapan intimidasi.

__ADS_1


"Mungkin papa kali yang selalu melakukan hal seperti itu kalau pergi dari rumah. Jadi Papa pasti berpikir hal yang sama terhadap Mama, betul atau tidak?" siapa sangka ibunya Rianti malah mengembalikan pertanyaan yang sama terhadap suaminya.


Mang Suryo yang mendengarkan keributan mereka berdua kepalanya sudah hampir pecah. Tetapi dia dipaksa untuk mendengarkan kericuhan tersebut yang nyaris tanpa faedah sama sekali.


"Maafkan saya tuan dan nyonya. Apakah kita bisa berhenti saja sebentar? Agar kalian bisa berunding dengan permasalahan kalian. Barangkali. Sejujurnya saya jadi tidak bisa fokus dalam menyetir karena mendengarkan pertengkaran kalian. Saya takut nanti kalau dipaksakan malah akan terjadi kecelakaan!" ucap Mang Suryo mencoba untuk memberanikan diri menginterupsi kedua majikan yang masih juga ada urat.


"Tuh dengar apa yang dikatakan oleh sopirku!Kau bisa tutup mulutmu, tidak Pak Tua? Jangan Kau ngajak ribut terus dari tadi!" ucap istrinya dengan kesal.


"Apa kau bilang? Pak Tua? Saya dengar ya! Kau sendiri! Kau pikir kau itu bukan perempuan tua, huh? Berani-beraninya kau mengatai suamimu sendiri, dengan kata-kata pria tua!" ayahnya Rianti benar-benar sudah kehilangan sabar, melihat istrinya yang terus saja mengejeknya dari tadi.


Tiba-tiba saja Mang Suryo menghentikan mobilnya dan kemudian keluar dari mobil tersebut meninggalkan kedua majikannya yang sedang asyik berantem.


"Tuh gara-gara papa, jadinya sopir mama jadi ngamuk! Tuh nggak mau lagi nyetirin kita. Apa sekarang Papa mau tanggung jawab? Coba Papa bisa enggak nyetirin kita, sampai ke Jakarta?" ucap istrinya mulai lunak.


"Kan dari tadi Mama yang terus saja maunya mancing-mancing keributan. Papa itu kan cuma melayani saja!" kelitnya.


"Baru Mama lihat, kalau Papa itu ternyata laki-laki yang ngeyel dan tidak bisa diajak ngomong baik-baik. Sudah! Mama juga mau pergi jalan-jalan dulu Pusing tau nggak seharian ngeliatin papa!" akhirnya ibunya Rianti pun memilih untuk meninggalkan suaminya sendirian di mobil.


"Kurang ajar mereka semua berani-beraninya mereka meninggalkan aku seorang diri di sini benar-benar pada tidak punya sopan santun!" geram ayahnya Rianti merasa kesal dengan kelakuan istrinya dan juga sopir pribadinya.


" Nanti kalau sudah sampai ke Jakarta aku pasti akan mendisiplinkan Mang Suryo yang kurang ajar itu. Lihat saja, berani-beraninya dia meninggalkan tugasnya begitu saja!" akhirnya dengan perasaan marah, ayahnya Rianti pun ikut keluar untuk menikmati pemandangan Kota Bandung yang sejuk dan Permai.


"Wanita itu, selalu saja! Kalau melihat belanjaan matanya ijo. Sudah tidak perduli apapun lagi!" ayahnya Riyanti berkomentar, ketika melihat istrinya yang begitu asik fokus dalam menawar beberapa produk kerajinan warga setempat yang dijual di pinggir jalan.

__ADS_1


Yah! Kota Bandung memang menjadi Surga belanja bagi para pelancong yang hobi mengkoleksi beberapa sepatu maupun tasdan pakaian. Hasil kerajinan para warganya sudah terkenal ke penjuru nusantara. Bahkan sudah banyak yang diekspor ke luar negeri menjadi produk kebanggaan Indonesia.


__ADS_2