Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
108. Mengingat Sahabat


__ADS_3

Dipta sejak tadi terus mondar-mandir di ruangannya. Setelah mendengar berita tentang gempa susulan yang terjadi di Kalimantan. Perasaan Dipta saat ini sangat kacau. Dia mengingat bahwa ada sahabatnya di sana yang sedang bertugas di tim kesehatan yaitu Bima.


Beberapa bulan yang lalu, Bima pernah mendatangi Dipta untuk memberitahukan, bahwa dia akan bertugas di Kalimantan menggantikan temannya yang sudah pensiun.


Flass back on


"Apa kau nanti tidak rindu Jakarta? Bukankah tempat itu termasuk pelosok ya? Dan sangat sulit sekali diakses oleh jaringan internet maupun transportasi?" tanya Dipta ketika itu.


"Oh Ayolah sobatku, sayang! Kita tidak harus selalu tinggal di kota bukan? Terkadang di tempat terpencil ada kedamaian yang tidak bisa dibeli dengan kemewahan!" ucap Bima dengan senyumnya yang sangat menawan.


Sejak dahulu Bima ini memang selalu menjadi idola para wanita. Status Bima yang sebagai anak dari pemilik Rumah Sakit Swasta terbesar di Indonesia menjadikan dia sebagai pribadi yang luar biasa.


"Aku tahu kalau kau sudah bosan dengan hiruk pikuk kehidupan di ibu kota. Makanya kau ingin pindah ke tempat terpencil bukan?" tanya aku sambil menatap lurus dan lekat kepada Bima sahabatku itu.


Bima hanya tergelak saja, ketika mendengarkan omonganku tapi aku tahu dia memang sangat bahagia dengan kepindahan Dia menuju kota terpencil di Kalimantan.


"Apa kau nanti tidak akan merindukan lagi fans-fansmu? Kau kan selalu hidup dengan kegilaan mereka. Kau pasti akan kesepian tanpa mereka!" ucap Cipta bercanda sambil melemparkan Kulit Kacang yang ada di tangannya.


"Hahaha! Memang hanya kau yang selalu mengerti tentang aku!" ucap Bima masih dengan tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata dari kelopak matanya.


"Bima, Apa kau tahu kalau Rianti sudah menikah?" tanya Dipta tiba-tiba kepada Bima.

__ADS_1


"Kau tahu dari mana? Sejak kapan dia menikah? Memangnya dengan siapa?" begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh Bima saat itu.


"Sejak aku putus dengan Rianti, kau masih belum juga move on? Kalau kau memang mencintainya, kenapa dulu tidak berusaha untuk mendekatinya?" tanya Dita sambil menatap lekat Timah yang kini malah termenung seorang diri.


"Aku tidak mau, kalau nanti orang-orang berpikir, kalau aku yang mencuri Riyanti darimu atau menjadi penyebab perpisahan kalian!" ucap Bima dengan suara pelannya.


"Ah kau memang laki-laki yang bodoh dan konyol! Kau tidak mau berjuang untuk cintamu sendiri. Lihatlah sekarang Riyanti malah menikah dengan orang lain!" ucapku kesal melihat sahabatku itu.


Bima sampai sekarang bahkan belum pernah mengungkapkan perasaannya kepada Rianti wanita yang sudah sangat lama dia cintai.


"Ngak apa-apa deh, gue bodoh dan konyol. Yang penting kan, persahabatan kita aman. Gue nggak mau kehilangan lu hanya karena cinta!" aku merasa terharu dengan apa yang diucapkan oleh Bima.


"Apa kau segitunya cintanya denganku, huh? Bahkan Kau rela kehilangan cinta di hatimu!" ucapku terus menggoda Bima.


"Coba ceritakan tentang Rianti!" ucap Bima kemudian.


"Rianti menikah dengan seorang dokter. Dia anak dari supir ayahnya sendiri!" Bima tampak shock terlihat dari matanya yang kini melebar sempurna.


"Gila ya, Rianti anak seorang konglomerat mau menikahi anak seorang sopir Wow ini berita yang sangat luar biasa!" ucap Bima dengan penuh keterkejutannya.


"Kau jangan salah. Walaupun dia anak seorang sopir tapi kualitasnya tidak akan kalah darimu. Dia seorang dokter yang sukses dan juga menyayangi keluarganya. Bahkan ayahnya Rianti sendiri yang menjodohkan dia dengan pria itu!" ucap Dipta menerangkan semua situasi yang sedang terjadi kepada Bima.

__ADS_1


Bima tampak terdiam sambil menatap ke arah Dipta tampak dia menghembuskan nafasnya dengan berat, lalu berkata, " Apa kau datang ke pernikahannya Rianti?" tanyanya.


Aku hanya mengangguk saja, karena aku yakin Bina bisa mengerti dengan apa yang ku maksudkan. Bima bukan tipe orang yang bodoh Dia adalah seorang dokter yang jenius dan terkenal di luar negeri sebagai seorang ahli bedah yang ternama.


"Saya diundang secara khusus oleh ayahnya Rianti. Jadi saya datang ke sana bersama ibuku dan juga temanku!" ucapku kepada Bima. Bima tampak terdiam.


"Sebenarnya waktu itu, Ayahnya Rianti berniat untuk menjodohkan Rianti denganku. Hanya saja, saat itu aku sedang pergi ke Purwokerto. Berziarah ke makam almarhum istri dan anakku. Jadi aku tidak beruntung untuk menjadi suaminya Rinati, hahaha!" ucapku Sambil tertawa terbahak-bahak tampak Bima tersenyum simpul kepadaku.


"Aku malah bersyukur, Rianti tidak menikah denganmu. Kalau tidak, aku pasti akan salah tingkah. Kalau bertemu dengan kalian. Hal itu akan sangat menyulitkanku!" ucap Bima mengungkapkan perasaannya.


"Apa kau begitu mencintainya, Bima?" tanya Dipta kepada Bima.


"Aku sangat mencintainya, tetapi waktu itu, dia lebih memilihmu. Jadi aku mundur dan tidak ingin memperdalam cinta itu. Tapi Siapa yang tahu, kau malah berpisah dengannya. Sehingga membuat api cintaku kembali berkobar. Ketika aku akan mengungkapkan perasaanku, orang tuaku malah memintaku untuk kuliah ke Inggris. Jadinya kami tidak memiliki kesempatan untuk bersama!" ucap Bima menceritakan semua kronologis kisah cintanya bersama Rianti.


"Benar orang bilang, kalau jodoh itu rahasia ilahi. Bahwa Allah lah yang sudah mengatur segalanya. Lihatlah, kau mencintai Rianti seperti itu, tapi pada akhirnya, Rianti malah menikah dengan laki-laki yang sudah dia kenal sejak dia masih kecil!" ucap Dipta kepada Bima.


Bima tampak memperhatikan segala ucapan yang disampaikan oleh Dipta kepadanya, mengenai Riyanti. Wanita pertama yang pernah menyentuh hatinya.


"Lalu sekarang apakah kau sedang menjalin hubungan dengan perempuan?" tanya Dita kepada Bima. Bima hanya menggeleng saja.


"Kenapa? Kau ini seorang laki-laki yang tampan dan juga berpotensi, memiliki masa depan yang baik. Pasti banyaklah perempuan di sana yang ngantri untuk menjadi istrimu. Cobalah untuk melupakan Rianti dan membuka lembaran baru hidupmu!" Dipta berusaha menasehati Bima.

__ADS_1


"Halah gayamu menasehati orang lain! Seperti dirimu saja mampu melupakan almarhumah istrimu. Lihatlah, istrimu sudah meninggal sangat lama dan kau masih juga betah menduda!" ucap Bima sambil memukul dada Dipta dan mereka pun kemudian tertawa bersama-sama.


"Kalau kasus gue kan beda, sama lu! Lah gue itu udah menikah sama istri gue, bahkan Kami punya anak juga. Jadi wajarlah kalau gue tidak bisa melupakan dia. Nah lu? Mengungkapkan perasaan saja lu tidak mampu, gaya-gaya sampai sekarang tidak mau mengenal perempuan lain!" ejek Dipta sambil menatap serius kepada Bima yang kini malah tersenyum.


__ADS_2