Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
110. Tuhanku!


__ADS_3

" Tuhanku!" ucap Dipta dengan keras.


"Ada apa Dipta?" tanya ibunya Dipta marasa khawatir dengan putranya.


"Mah! Bukankah Mama mempunyai agama? Umur dan usia manusia itu, sudah ada yang menentukan, Mah! Walaupun kita berusaha bersembunyi di gua sekalipun, kalau kita memang ditakdirkan untuk mati hari ini, pasti akan mati!" ucap Dipta pelan.


"Mama tahu hal itu Dipta, hanya saja Mama tidak bisa membiarkanmu Pergi ke area yang berbahaya. Pikiran Mama tidak akan tenang nak!" ucap ibunya Dipta masih berusaha untuk memberikan keyakinan yang berbeda, kepada Dipta agar bisa menggagalkan rencananya untuk pergi menyusul Bima.


"Dipta, tetap akan pergi mah, karena di sana sahabat Dipta sedang menunggu. Mama doakan saja yang terbaik untuk Dipta. Jangan berpikir yang buruk-buruk, karena pikiran buruk itu, kadang menjadi sebuah refleksi dan akhirnya benar-benar terjadi. Selalu berpikir positif, karena itu artinya kita berpikir dan berprasangka baik kepada Tuhan kita!" ucap Dipta berusaha meyakinkan kepada ibunya.


"Kalau kau pergi. Lalu bagaimana dengan perusahaanmu? Siapa yang akan menjadi nahkodanya, Dipta? Kalau terjadi apa-apa denganmu?" tanya ibunya dengan khawatir.


"Dipta sudah menyerahkan semuanya kepada Allah, Mah! Insya Allah semuanya pasti akan baik-baik saja. Dipta minta tolong, berdoa yang baik-baik untuk Dipta, karena Dipta sangat membutuhkan doa dari mama, agar bisa selamat dan kembali lagi ke mari dan bisa kembali melanjutkan tanggung jawab Dipta di perusahaan ini!" ucap Dipta dengan penuh semangat.


"Baiklah kalau seperti itu, Mama akan mengizinkanmu untuk pergi. Sebisa mungkin, Mama akan membantu untuk menghandle perusahaanmu. Kau baik-baiklah di sana dan kembalilah dengan selamat demi mama!" pinta ibunya Dipta kepada putranya.


"Terima kasih banyak mah, saat ini itulah yang Dipta butuhkan. Dukungan dan doa dari Mama, agar tetap semangat dalam menjalani setiap keputusan yang Dipta ambil!" ucap Dipta, kemudian berpamitan kepada ibunya karena dia harus segera bersiap-siap untuk berangkat ke Kalimantan.


Setelah bercakap-cakap dengan ibunya, hati Dipta merasa lebih plong lagi. Karena masalah perusahaan sudah beres. Ibunya sudah menyanggupi, bahwa dia akan berusaha untuk membantu menghandle perusahaan ketika dia pergi!


"Maafkan saya tuan, mengganggu! Semua persiapan sudah siap dan mereka sudah menunggu Anda!" ucap sekretarisnya Dipta.

__ADS_1


" Oh ya Tuan, ini ada beberapa orang dokter serta perawat. Mereka ingin ikut bersama anda apakah diperkenankan!" sekretarisnya lagi kepada Dipta.


"Bukankah tadi aku sudah mengatakan? Bahwa kita akan memfasilitasi semuanya. Kalau mereka ingin menuju ke sana. Ayo kita segera pergi sekarang. Waktu saat ini, begitu berharga, karena ada nyawa akan menjadi taruhannya di sini!" Dipta kemudian pergi bersama sekretarisnya yang mengantarkan dirinya. Menuju landasan helikopter yang sudah siap untuk berangkat ke lokasi bencana gempa susulan yang kemarin terjadi di Kalimantan.


"Saya titip perusahaan padamu, saya percaya dengan kemampuanmu. Jangan kecewakan saya!" ucap Dita berpesan kepada sekretarisnya sebelum dia meninggalkan landasan helikopter dan kemudian terbang ke Kalimantan, menuju sahabatnya tercinta.


" Tunggulah aku, Bima aku pasti akan menolongmu!" ucap Dipta dengan penuh perasaan.


Sementara itu, di lokasi bencana. Riyanti, Bima dan Bagas sedang berjuang dalam rangka membantu para korban yang setiap hari semakin banyak.


"Bagaimana ini, selimut dan pakaian sudah semakin berkurang. Obat-obatan juga hampir habis. Sementara ini, belum datang bantuan dari pusat Apa yang harus kita lakukan?" ucap Bagas melapor kepada Bima sebagai kepala bagian dalam tim penyelamatan tersebut.


"Beristirahatlah dokter. Kalau anda merasa lelah, tolong jangan paksakan diri anda. Kita juga harus memperhatikan keselamatan diri kita sendiri, hanya dengan selamat kita bisa membantu orang lain!" ucap Bima memberikan pengertian kepada Bagas.


"Bagaimana sekarang dengan luka Anda dokter? Apakah sudah lebih baik?" tanya Bagas kemudian.


"Luka di tangan saya tidak apa-apa. Hanya luka ringan saja. Sudah saya obati sendiri. Anda jangan khawatir. Istirahatlah dulu, dokter. Saya melihat anda sangat lelah!" Bima menasehati Bagas untuk segera beristirahat.


Sejak semalam, Bagas memang terlalu memposir tenaganya. Karena begitu banyaknya berdatangan korban-korban yang butuh pertolongannya.


Tiba-tiba saja, Bagas jatuh pingsan di hadapan Bima. Sehingga membuat Bima merasa terkejut. Bima kebun yang meminta tolong kepada rekan-rekannya untuk membantu menyelamatkan Bagas.

__ADS_1


Riyanti yang mendapat kabar bahwa suaminya pingsan. Dia segera berlari ke tempat di mana suaminya berada. Perasaannya saat ini betul-betul sedang gelisah sekali dengan keadaan sang suami. Sejak malam memang selalu mengeluh bahwa dia merasa lelah.


"Bima, Bagaimana keadaan Bagas?" tanya Rianti dengan penuh kekhawatiran.


"Bagas saat ini sedang istirahat, tadi dia sadar sebentar. Tapi aku memberikannya obat tidur, agar dia bisa istirahat dengan baik!" ucap Bima memberikan keterangan kepada Rianti.


Rianti menghala nafas lega, karena mengetahui bahwa suaminya dalam keadaan baik-baik saja.


"Kamu juga Istirahatlah, Rianti. Jangan sampai ambruk juga seperti Bagas. Bukankah dari semalam kamu pun tampak berlarian ke sana kemari menolong para korban itu!" cap Bima memberikan nasehat kepada Rianti.


" Anda juga belum beristirahat dari semalam. Kenapa Anda menasehati orang lain padahal anda sendiri tidak ingin beristirahat!" ucap Rianti dengan menatap sendu ke arah Bima.


Kalau mau jujur ke dalam hatinya sendiri, Rianti dulu pernah memiliki perasaan spesial kepada Bima. Di saat masalah hubungannya dengan Dipta semakin meruncing, hingga berakhir dengan perpisahan. Orang pertama yang dipikirkan oleh Riyanti adalah Bima. Tetapi tiba-tiba saja Bima pergi ke Inggris sehingga membuat Rianti menjadi galau dan gamang dengan perasaannya sendiri.


"Kalau aku beristirahat, apakah kamu juga mau beristirahat Rianti?" ucap Bima sambil menatap tajam Riyanti yang saat ini sedang menatap suaminya yang masih terpejam.


"Kalau kau istirahat, aku juga akan pergi untuk beristirahat!" ucap Rianti sambil tersenyum kepada Bima. Bima kemudian mengangguk dan pergi dari sana.


"Aku akan beristirahat di tendaku, kau jangan lupa untuk penuhi janjimu!" ucap Bima sambil melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu memberikan waktu kepada Rianti untuk beristirahat dan menemani suaminya.


Bima saat ini sedang menerawang, jauh ke masa lalu. Saat di mana dirinya masih dekat dengan Rianti. Gadis pertama yang telah mencuri hatinya. Tetapi dia harus mengalah, karena ternyata Rianti jauh lebih mencintai Dipta, sahabatnya sendiri. Sehingga akhirnya Bima pun mengalah dan memutuskan untuk melupakan perasaannya kepada Rianti.

__ADS_1


__ADS_2