
Setelah mendapatkan persetujuan dari Nadya akhirnya semua orang merasa bahagia. Itu artinya dia bersedia menerima lamaran Dipta secara pribadi pada malam ini.
"Alhamdulillah akhirnya Kak Nadya udah resmi menyandang status sebagai tunangan dari Dipta!" ucap Riyanti sangat bahagia sekali dengan hari baik kakaknya pada malam hari ini.
"Setelah lamaran resmi, baru bisa disebut tunangan. Sekarang kan masih lamaran privat hanya Dipta yang mengetahui kalau Nadya adalah calon istrinya!" ucap ibunya Riyanti sambil tersenyum kepada Nadia yang masih tersipu dalam pelukan Dipta.
"Baiklah kita selesaikan dulu makan malam ini dan kita bisa membicarakan yang lainnya nanti di rumah!" ucap ayahnya Riyanti memberikan keputusan final yang akhirnya tidak bisa dibantah oleh siapapun.
Setelah Mereka menyelesaikan acara makan malam. Mereka pun berpisah karena Dipta harus bertemu dengan ibunya untuk mempersiapkan acara resmi pada keesokan harinya. Bersama dengan keluarga besar Dipta dan juga Bima tentu saja. Sahabatnya.
Setelah Dipta sampai di kediaman ibunya Dipta, Dipta langsung mengajak ibunya untuk berbicara serius tentang rencananya untuk melamar Nadya.
Dipta mengatur nafasnya dalam-dalam untuk memulai diskusinya bersama sang ibu yang dia kenal sangat pemilih dan juga cerewet mengenai pendamping hidupnya.
"Mah Dipta sudah memutuskan sesuatu yang sangat penting dalam hidup Dipta!" ucap Dipta memulai pembicaraan dengan ibunya.
"Apa maksudmu? Mama tidak mengerti!Langsung saja bicara ada apa? Nggak usah berbelit-belit!" ucap ibunya Dipta meminta kepada putranya untuk langsung to the point.
"Besok Dipta ingin melamar seseorang untuk menjadi istri Dipta!" ucap Dipta dengan wajah serius kepada ibunya.
"Siapa yang ingin kau lamar? Apakah gadis yang tadi siang Mama ajukan kepadamu?" tanya ibunya Dipta dengan wajah sumringah merasa bahagia sekali. Akhirnya putranya memutuskan untuk menikah juga.
__ADS_1
"Bukan perempuan itu Mah! Dia bukan selera Difta!" ucap Dipta kemudian menundukkan kepalanya merasa ragu untuk bicara dengan ibunya tentang Nadia.
"Ada apa? Cepat katakan! Jangan buat mama penasaran!" ucap ibunya Dipta mendesak putranya untuk segera berterus terang tentang gadis yang ingin dilamar.
"Gadis yang ingin Dipta lamar adalah kakaknya Riyanti Mah!" ucap Dipta dengan suara gemetar. Dia sudah takut kalau ibunya akan marah ketika dia mengatakan siapa gadis yang sudah membuat dia yakin untuk kembali menikah setelah menduda hampir dari 10 tahun lamanya.
Ibunya Dipta tampak mengerutkan keningnya. Seperti kebingungan akan selera anaknya yang aneh-aneh yang sangat di luar logika.
"Dulu almarhum mantan istrimu seorang wanita desa yang tidak memiliki apapun. Kemudian Anjani, seorang wanita dengan penyakit kanker otak yang sekarang sudah meninggal setelah dioperasi. Dan sekarang kau ingin melamar seorang wanita mantan narapidana yang telah membunuh begitu banyak orang. Apa otakmu masih waras Dipta?" tanya ibunya Dipta sambil menatap tajam kepada putranya yang sekarang melotot kepadanya.
"Nadia sudah dipenjara mah dan negara sudah menghapuskan status tahanannya. Sekarang dia adalah wanita bebas dengan mendapatkan pengampunan dari negara karena dia berperilaku baik selama berada di penjara!" ucap Dipta berusaha membela calon istrinya yang sudah berhasil mencuri hatinya yang selama ini telah mati sejak meninggal almarhum istrinya bersama anak mereka.
"Maafkan Mama Dipta! Akan tetapi Mama tidak bisa menerima menantu dengan kriteria semacam itu. Apakah kau tidak bisa hidup normal sedikit saja? Menikah dengan perempuan-perempuan yang baik-baik tidak memberi masalah. Apakah begitu berat untuk menuruti apa keinginan mama?" tanya ibunya Dipta sambil menatap tajam kepada Dipta yang kini menundukkan kepalanya.
"Bagaimana Dipta bisa hidup bahagia? Kalau mama tidak pernah merestui apa yang Dipta cintai?" ucap Dipta kemudian dia langsung meninggalkan ibunya sendirian.
"Dipta! Kau tidak sopan sekali. Kau main pergi begitu saja?!" teriak ibunya Dipta memanggil putranya tetapi Dipta tampaknya sudah marah dan tidak mau menoleh kembali kepada ibunya.
Sementara itu Dipta yang saat ini sedang mengendarai mobilnya. Dia sangat jengkel dengan kelakuan ibunya yang selalu saja mempersulit dirinya untuk menemukan tambatan hatinya.
"Sejak dulu mama tidak pernah berubah! Dia selalu saja mempersulitku kalau aku ingin menikah dengan seseorang. Entah apa yang bisa membuat dia merasa bahagia. Apakah kalau aku mati jadi duda lapuk, dia akan lebih bahagia hidupnya?" Dipta terus bermonolog tentang ibunya yang selama ini selalu menyusahkannya dan selalu menentangnya setiap kali dia menyukai seorang perempuan.
__ADS_1
"Ah, Besok aku akan membawa siapa untuk acara lamaran? Tidak mungkinkan aku datang sendirian saja? Itu sungguh memalukan!" ucap Dipta merasa kesal kepada ibunya yang selalu tidak pernah merestui dia apabila ingin menikahi seorang wanita.
"Aku akan menghubungi Bima dan meminta tolong kepada kedua orang tuanya untuk membantuku. Ah, benar! Hanya mereka yang bisa membantuku!" Dipta kemudian mengarahkan mobilnya menuju apartemen Bima. Sahabatnya yang sudah beberapa hari ini belum ketemu dengannya.
"Sejak Bima memiliki seorang calon istri. Dia semakin sempit waktunya bersamaku! Setiap hari hanya bermesraan dengan Sheila. Ah, benar-benar menyebalkan!" kalau orang yang melihat kelakuan Dipta saat ini. Pasti mengira kalau Dipta sedang cemburu dengan Bima yang sekarang bahkan tidak mempunyai waktu untuknya.
"Ah jangan-jangan tuh anak sedang bersama Sheila lagi. Bagaimana kalau kedatanganku mengganggu mereka ya? Tapi masa iya sih, Sheila jam segini masih ada di rumahnya Bima? Rasanya tidak mungkin. Ah sudahlah! Biarkan saja aku akan tetap datang ke sana!" ucap Dipta terus bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Ah sial! Sejak Bima mempunyai tunangan, mau main saja begini ribetnya. Padahal dulu asik-asik aja tuh! Mau jam berapa datang juga ga pernah ada masalah!" rutuk Dipta yang merasa kesal dengan hubungannya sekarang bersama Bima yang tambah menjauh. Sejak adanya Sheila dalam kehidupan Bima. Bima seperti melupakannya dan Dipta merasa kehilangan Bima.
Begitu sampai di apartemennya Bima. Dipta langsung turun dan dia melihat ada mobilnya Bima di parkiran. Dia langsung masuk ke unit tempat Bima tinggal.
Dipta kemudian membunyikan bel di unit milik Bima. Karena sekarang Bima sudah memiliki kekasih. Jadi Dipta memberlakukan private kepada Bima. Dipta karena ditawatir kalau asal nyelonong saja. Takut melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.
Mengingat Bima pernah menjadi seorang Cassanova yang Most Wanted di ibukota dengan begitu banyak penggemar dan fans rahasia yang memuja ketampanan seorang Bima Sakti yang playboy cap karung goni 😂.
Bima kemudian membukakan pintu untuk Dipta. Kening Bima sedikit mengkerut tampak heran dengan kelakuan Dipta yang gak biasa. Tumben-tumbennya membunyikan bel untuk masuk ke dalam apartemennya. Biasanya juga asal nyelonong aja.
"Lu kesurupan setan apa? Ko tumben banget masuk ke apartemen gue pakai acara bunyiin bell segala? Kan biasanya juga lu asal nyelonong!" tanya Bima tanpa keheranan dengan kelakuan Dipta yang aneh baginya.
"Kan Lu sekarang sudah punya calon bini. Gue kagak bisa sembarangan lah masuk lagi ke apartemen lu. Siapa tahu kalau calon bini lu sedang ada di sini dan lu lagi asik-asik kan berdua. Kan gue nggak enak kalau lihat tontonan gratis!" demi mendengarkan kata-kata tersebut Bima langsung mentoyor kepala Dipta sekerasnya sehingga membuat kita protes dengan kelakuan Bima yang Barbar itu.
__ADS_1
"Kurang ajar loh! Sembarangan main toyor kepala orang!" protes Dipta tidak senang.
"Ya abis omongan lu nggak disaring banget! Emangnya lu pikir calon bini gue itu kayak gimana? Dia tuh cewek baik-baik Bro! Dia dari keluarga baik-baik!" ucap Bima tampak membanggakan Sheila di hadapan Dipta. Dipta tampak mencibirkan bibirnya.