Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
61. Polisi


__ADS_3

Ali terus berpikir apakah akan membiarkan istrinya dibawa oleh Dipta atau menyelesaikan masalah mereka di kantor polisi. Pikirannya saat ini sangat bingung, entah apa yang harus dirinya lakukan, di satu sisi dirinya tidak ingin melihat anak dan istrinya pergi bersama laki-laki lain. Di satu sisi dirinya juga enggan berurusan dengan polisi.


Saat ini dirinya hanyalah seorang pendatang di kota Jakarta. Kedatangannya ke Jakarta dalam rangka mencari istrinya yang sudah hampir tiga bulan meninggalkan rumah karena kesalahpahaman. Istrinya yang merasa cemburu dengan kehadiran Riyanti dalam kehidupannya, yang membuat istrinya nekat kabur dari rumah membawa Bayi Mereka yang baru berusia 2 bulan.


Di saat dirinya kebingungan mencari keberadaan istrinya tanpa sengaja Ali bertemu dengan Rianti. Mereka berdua berjanji akan makan malam bersama di sebuah restoran yang sudah dipesan oleh Rianti. Siapa yang menduga tiba-tiba saja Ali melihat istrinya dan anaknya Tengah bersama seorang laki-laki yang tidak pernah dia temui.


Perasaan Ali saat itu sangat terluka, ketika melihat sang istri begitu akrab dan nyaman bersama laki-laki itu. Secara sengaja Ali menabrakkan dirinya ke arah pria itu saat mereka bersiap untuk pulang.


"Apakah istriku sudah tidak menganggap aku suaminya lagi? Kenapa dia bisa seakrab itu dengan laki-laki lain?" bathin Ali saat ini, istrinya dari tadi berteriak minta dikeluarkan dan Dipta kini sedang berusaha mendobrak pintu kamar yang Ali kunci tadi.


Hati Ali mencelos ketika suara pintu rumah yang di gedor, "Assalamualaikum! Tolong buka pintunya! Kami Polisi, tadi ada yang melaporkan bahwa ada yang di sekap di rumah ini! Cepat buka, sebelum kami mendobrak pintu ini!" suara polisi makin santer, hati Ali sudah deg-degan.


"Mas, ayo buka aja! Kamu gak usah khawatir, nanti aku yang akan membela Kam!" ucap Rianti memberikan semangat kepada Ali untuk membuka pintu untuk polisi.


Dipta sudah berhasil mendobrak pintu kamarnya, Nur dan Rafi langsung keluar dari sana. Bersama dengan itu, pintu depan juga di buka oleh Ali. Polisi melihat pintu kamar yang sudah rusak kuncinya. Ali hanya bisa menunduk malu, bagaimanapun itu adalah masalah keluarga, kenapa harus membawa polisi segala.


"Ada apa ini? Mana yang di sekap?" tanya polisi sambil melihat ke sekeliling. Dipta lalu mendekat kepada Polisi yang tadi dia telpon.

__ADS_1


"Maaf, Pak! Ini ternyata hanya masalah salah paham, wanita ini adalah istri Mas itu, saya teman Mbanya, tadi saya kehilangan teman saya ini, saya kira dia di culik, ternyata hanya di jemput oleh suaminya. Maafkan saya, Pak! Sudah ceroboh mengganggu ketenangan komplek sini!" Dipta menunjukkan KTP nya, lalu polisi mencatat dan kembali melihat kepada semua orang yang ada di sana.


"Lain kali, kalau ada masalah di bicarakan baik-baik! Jangan asal membuat laporan! Ya sudah, kami permisi!" polisi kemudian pergi dari sana.


"Nur, sarapanku, sebaiknya kamu bicara baik-baik dengan suami kamu! Dia jauh-jauh datang ke Jakarta untuk mencari kamu!" ucap Dipta berusaha membujuk Nur agar mau bicara bersama suaminya.


"Dia datang ke Jakarta bukan buat menncariku, Dip! Tapi mencari wanita yang dia cintai! Dan wanita itu, bukan aku! Tapi wanita itu!" tunjuk Nur ke arah Rianti.


Ali hanya menunduk tidak bisa berkata lagi. jujur, sebenarnya dia merasa berterimakasih kepada Dipta yang tadi sudah membelanya di hadapan polisi, sehingga dirinya tidak perlu masuk penjara.


Sekarang ketika mendengar Dipta berusaha membujuk Istrinya untuk bicara dengan dirinya, perasaan Ali terhadap Dipta sekarang berubah. "Terima kasih, tadi sudah menolong saya!" ucap Ali pelan, ya, saat ini Ali dalam keadaan bingung dan ragu. Apa yang harus dia lakukan.


"Dipta, ayo kita pulang! Kasihan Rafi, pasti dia cape, mau istirahat!" Nur sudah bersiap akan pergi, tapi Ali sudah menangkap tubuhnya, memeluknya dari belakang.


"Tolong percaya sama Mas! Mas benar-benar datang ke Jakarta untuk mencari kamu dan anak kita! Tidak ada hubungannya dengan Rianti! Mas harus bagaimana lagi, menjelaskan semuanya sama kamu?" Ali rasanya sudah frustasi. Dipta sebagai seorang pria, tentu dapat menilai apakah seorang pria bicara jujur atau bohong.


"Maaf, Mas! Kalau saya boleh menyela sebentar! Biarkan Nur pulang dulu ke rumah saya. Besok, Mas bisa datang ke alamat rumah saya. Biarkan Nur istirahat dulu, biar hatinya tenang. Saya rasa, Mas juga butuh istirahat. Dan Mba Rianti, kalau memang tidak ada hubungan dengan Suaminya Nur, silahkan untuk pergi dari sini! Ada bagusnya kalau tidak usah bertemu lagi. Nur merasa terganggu dengan hubungan kalian! Menurut saya, kalian berdua harus paham perasaan Nur saat ini!" Dipta diam sesaat, lalu menatap Nur dengan intens.

__ADS_1


"Dip, ayo kita pulang! Percuma bicara dengan mereka, gue lelah!" Nur sudah melangkahkan kakinya dan masuk ke mobilnya Dipta. Dipta lalu memberikan kartu namanya kepada Ali. Ali melihat ketulusan di mata Dipta, jadi dia percaya.


"Titip Istri dan anak saya, bro!" ucap Ali lesu.


"Mba, ayo pulang sekarang! Tolong tidak usah menemuinya lagi! Dia sudah punya istri dan anak! istrinya tidak suka kalau Mba terlalu dekat dengan suaminya!" ucap Dipta sambil menarik Rianti dari kontrakan Ali.


"iya, bawel!" ucap Rianti kesal kepada Dipta.


"Mas, aku pulang dulu, ya! Kalau butuh apa-apa hubungi saya!" pesan Rianti sebelum pergi.


"Gak ada! Dengar, ya! Kalau Mas menghubungi perempuan itu lagi, saya janji akan membawa pergi Nur dan Rafi dari Jakarta! Saya jamin, Mas tidak akan pernah bertemu mereka selamanya!" ancam Dipta.


"Iya, Mas! Jangan khawatir, saya tidak akan pernah menghubungi Rinati lagi, saya janji!" ucap Ali tenang.


"Baiklah, bro! Saya percaya!" Dipta pergi dari sana setelah yakin kalau Rianti pergi dari sana.


"Bro, saya ada rumah kosong, ayo saya antarkan ke sana! Supaya wanita tadi tidak bisa menemukan Kamu lagi!" Ali tampak berpikir sejenak lalu mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah, tunggu sebentar, saya akan bereskan barang saya dulu! saya juga perlu pamit Dengan yang punya kost!" kemudian Dipta dan Ali menemui pemilik kontrakan tersebut dan Dipta mengganti kerusakan pintu yang tadi dia dobrak kepada pemilik kontrakan.


Malam itu juga Ali pergi dari kontrakan dan tinggal di rumah milik Dipta yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. "Bro, kamu tinggal dulu disini, istirahat dan tenangkan dirimu, saya akan berusaha untuk membujuk Nur agar mau mengerti situasi kalian saat ini!" Dipta dan Nur akhirnya kembali ke rumah tinggal Dipta.


__ADS_2