
Hari ini adiknya Mas Ali datang dari Sulawesi, dia mengajak kami pergi ke Purbalingga untuk menemui Saudara jauh mereka, adik tiri mamaknya. Aku hanya ngikut saja, kami jalan-jalan ke Owabong. Aku naik motor bersama Mas Ali, Adiknya naik motor sama pacarnya dan adik dari pacarnya.
Aku perhatikan mereka berempat asyik mengobrol, aku dicuekin, kesal deh. Aku tidak mau mengganggu mereka yang sedang lepas kangen, aku ngerti sih, mereka kakak beradik lama tidak bertemu, jadi wajar kalau kangen.
" Wah mereka berempat sangat serasi kalau bisa bersama " Bathinku saat itu. Entahlah apa aku saat ini sedang cemburu? Melihat Mas Ali, calon suamiku ngobrol sangat akrab dengan perempuan lain, walaupun itu masih termasuk sepupunya.
Adiknya saja bisa berpacaran dengan Retno, Berarti Mas Ali juga bisa berpacaran dengan adiknya Retno. Saat mereka berempat tengah fokus mengobrol dan tidak memperhatikan diriku, aku pelan-pelan pergi dari sana, memilih menjauh, dari pada hatiku terluka melihat keakraban Mas Ali dengan adiknya Retno.
Aku duduk di kursi dekat kolam renang, agak tersembunyi, aku memang sengaja bersembunyi karena tidak ingin ditemukan. Mau nenangin diri dulu, mereka sudah menodai hatiku yang suci ini dengan cuek padaku. Bikin kesal saja.
Aku sibuk main ponselku, berbalas pesan dengan Mas Herli, pak direktur koperasi. Lucu aja, dulu waktu kami digosipkan bersama, kami seperti kucing dan anjing, gak akur.
Sekarang malah dia sangat lucu. Aku sampai tertawa-tawa membaca pesan dia.
Sangking fokusnya aku sampai tidak melihat kalau ada orang yang sedang memperhatikan diriku, saat aku menoleh, ternyata Mas Ali menyusulku ke sini.
Aku heran kenapa dia ada disini? Padahal aku memberikan dia kesempatan untuk bersama adiknya Retno itu. Siapa tahu mereka cocok dan bisa jadi pasangan.
" Aku cariin, malah enak-enakan SMS an sama cowok lain" gerutunya sambil manyum aku hanya membalasnya dengan senyuman.
Lalu fokus lagi dengan ponselku, berniat mau membalas SMS Mas Herli.
__ADS_1
Mas Ali merebut ponselku dan mematikan powernya. Lalu memasukan ke dalam saku bajunya. Aku yang aslinya memang lagi kesal sama dia, memilih ninggalin dia saja. Niatnya mau pergi dari sana, siapa yang mengira dia malah menarik aku dan memelukku dengan seenak jidatnya. Aku yang kaget, dengan repleks langsung mukul dadanya, supaya melepaskan aku. Tapi dia malah mempererat pelukannya. Aku kesal sekali, jadi aku injak kakinya dan langsung lari ke kamar mandi cewek, jadi dia gak akan berani masuk ke sana.
" Nyebelin banget sih, main peluk-peluk aja. Dadaku masih bergemuruh, berdebar gak karuan. Itu orang selalu sukses membuat aku sport jantung.
Dekat dia bisa-bisa membuat aku jantungan. Bahaya bagi kesehatan.
" Kamu lagi ngapain sih? kok lama banget jangan lama-lama di toilet banyak setannya loh" aku masih kesal, jadi tidak aku pedulikan omongan dia. Aku cari barangkali ada pintu keluar yang lain. biar aku bisa menyelinap menghindari dia. Tapi ternyata pintu hanya ada satu doang.
" Kamu kenapa sih ngikutin aku? Sana pergi, mereka nungguin kamu" aku teriak dari dalam, karena di kamar mandi cuma aku sendiri, jadi aku berani teriak-teriak.
" Aku gak perduli sama mereka. Cepat keluar, ayo kita cari makan siang. Apa kamu gak laper?" repleks aku memegang perutku yang terasa lapar.
Tadi cuacanya mendung, jadi kami buru-buru karena takut kehujanan di jalan.
Aku lihat di luar sudah sepi, aku memutuskan untuk keluar. Siapa yang sangka ternyata dia sembunyi di belakang pintu, begitu aku keluar, dia langsung narik tangan aku mau membawaku pergi dari sana. Aku langsung lari menjauh, aku masuk ke warung yang ramai pengunjung dan pesan makanan.
Aku lihat dia menyusul dan duduk di sebelahku, aku jujur saja masih kesal dan yang terpenting, jantungku makin berdebar-debar, aku gak perduli kan dia, begitu makanan datang. Aku langsung makan tanpa menunggu dia. Biasanya aku nunggu dia, makan bersama.
Saat makananku sudah selesai, aku langsung bayar makananku dan pergi dari sana. Aku langkahkan kakiku dengan cepat agar dia tidak bisa menyusulku, aku lagi kesal, memang sebaiknya menghindari dia. Aku melihat-lihat anak-anak yang asyik berenang, aku sengaja mencari tempat yang ramai, jadi dia tidak akan macam-macam padaku.
Saat waktunya kami pulang. Aku masih juga acuh, mendiamkan dia, malas saja rasanya lihat muka dia. Dasar, tadi aja enak-enakan ngobrol sama cewek lain, seenak jidat malah peluk-peluk aku tanpa permisi, dasar menyebalkan.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang. Aku benar-benar mendiamkan dia. Bahkan aku tidak mau ketika dia suruh pegangan ke dia, lebih baik aku jatuh dan mati daripada pegangan sama dia.
Begitu Sampai di depan Masjid SPN, dia berhenti dan mau nyerahin motor sama aku, aku langsung lari saja ke pondokku. Biar aja dia yang bawa motor ke pondok. Dia terus memanggil namaku tapi tidak aku acuhkan.
Begitu sampe pondok aku langsung masuk kamar dan pergi tidur. Berkali-kali dia ketok-ketok pintu, tidak aku gubris.
Aku terbangun saat adzan ashar. Aku ambil tas ransel ku, lalu memasukkan beberapa pakaian. Aini yang bingung dengan kelakuan ku yang seperti mau pergi tidak tahan untuk bertanya
" Mba mau kemana?" tanyanya sambil melihat diriku dengan teliti.
" Aku mau nginep beberapa hari di kost temanku, tolong nanti kamu bantu buat ijin sama Pak Kiai ya, aku mau kerjain tugas sama teman" aku langsung keluar dan pergi dengan motorku.
Jam segini dia masih di masjid. Jadi aku buru-buru berangkat agar dia tidak melihat kepergian diriku. Saat aku sudah mau belok ke jalan, aku lihat dia keluar dari masjid, tampaknya dia mau kejar tapi gak jadi karena ada pak Kiai yang keluar juga dari masjid.
Aku melajukan motorku, niatnya mau nginep beberapa hari di kost lamaku. Disana bekas kamarku masih kosong, bisa aku pakai dulu.
Ibu kostku yang dulu sangat baik dan sayang sama aku, jadi aku bisa nginep disana beberapa hari. Aku kangen juga sama teman-teman kostku yang dulu. Sekalian mau menenangkan diri juga.
Aku nginep di sana sekitar seminggu. Pada hari ke tujuh, dia mendatangiku kampusku, aku langsung pergi lewat pintu belakang dan meninggalkan motorku di parkiran.
"Biar sajalah nanti aku ambil sore aja" aku menerobos jalan belakang, jadi gak ketemu sama dia. Dia menelpon berkali-kali tapi aku tolak lalu aku matikan ponselku. Untung saja dulu aku tidak memberi tahukan dia dimana kost lamaku. Jadi sementara aku aman disini.
__ADS_1