Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
96. Ketemu kedua orang tua Anjani


__ADS_3

Dipta sudah siap untuk berangkat ke pondok pesantren. Setelah itu dia juga mengajak semua Pekerja yang ada di rumahnya untuk ikut Bersama dirinya.


"Wah pasti senang sekali ya? Karena pondok pesantren itu akhirnya jadi!" ucap Merry sangat senang.


"Semoga pondok pesantren itu bisa berguna untuk warga sekitar dan anak-anak yang tidak mampu!" doa sopirnya Dipta.


"Amien!" ucap mereka semua kompak.


Mereka pun akhirnya sampai di Pondok Pesantren. Dan disambut oleh Nur dan Ali.


"Terimakasih sudah menyempatkan waktu kalian semua. Untuk hadir di acara peresmian pondok pesantren ini!" ucap Ali sambil menyalami Dipta dan semua yang hadir.


"Mereka tampak sangat bahagia ya?" ucap Dipta melihat anak-anak yang akan mondok di sana. Anak-anak warga sekitar yang sudah mendaftarkan dirinya untuk mondok di sana.


Tiba-tiba mata Dipta tertuju kepada kedua orang tua Anjani yang tampak akan memasuki aula pondok. Mereka berdua pun terkejut Ketika menemukan Dipta di tempat itu.


"Wah senang sekali bisa bertemu dengan Nak Dipta lagi!" ucap ibunya Anjani dengan senyum khasnya.


"Tidak disangka ya, kita bisa bertemu di sini. Coba saja, kalau Anjani mau ikut, pasti kalian akan bertemu lagi!" ucap ayahnya Anjani.


Tidak lama kemudian, orang tuanya Anjani pun dipersilakan untuk duduk bergabung bersama jamaah yang lainnya.


"Siapa Mereka Dipta? Tampaknya akrab denganmu!" ucap ibunya mendekati Dipta.


"Hanya kenalan saja, Mah! Nggak apa-apa kok!" ucap Dipta sambil ajak ibunya untuk ikut bergabung dengan semua jamaah yang lainnya. Karena tausiah akan segera dimulai.


Setelah sekitar 3 jam lamanya, acara peresmian pondok pesantren tersebut, akhirnya jamaah pun bubar. Kini tinggal orang-orang terdekat yang tersisa di aula pondok. Membantu membersihkan bekas acara.

__ADS_1


Tampak ke orang tua Anjani akan kembali ke rumah mereka. Dipta yang melihat mereka pun akhirnya bersalaman. Berpamitan dengan keduanya.


"Tadi Anjani sudah kami ajak, tapi dia tidak mau. Katanya malas Kalau mengikuti acara seperti ini!" ucap ibunya.


"Mainlah nanti kalau ada waktu nak Dipta ke rumah kami!" ucap ibunya Anjani.


"Ya Insya Allah lain kali saya pasti akan berkunjung!" janji Dipta.


Mereka pun akhirnya kembali ke rumah masing-masing. Tinggallah Ali dan Nur mungkin membersihkan tempat acara.


"Pak Kiai, apakah semuanya dibereskan sekalian?" tanya salah seorang pemuda Kepada Ali.


"Kalian istirahat saja dulu. Besok lagi ya! Sekarang malam sudah terlalu larut."ucap Ali.


"Baiklah, Pak Kiai!" pemuda itupun akhirnya meninggalkan Ali bersama Nur.


"Ayo kita juga istirahat. Besok adalah hari yang berat. Karena kita telah menanggung tanggung jawab ini, maka kita harus sepenuh hati menjalankannya!" ucap Nur kepada suaminya.


"Amien!" ucap Nur.


Sementara itu, kedua orang tua Rianti yang masih juga belum berdamai tampak mulai bersiap-siap untuk tidur.


" Sampai kapan kita seperti ini kita ini sudah tua sudah enggak layak melakukan hal seperti ini rasanya konyol!" ucap suaminya.


" Papa yang selalu membuat Mama marah!" ucap istrinya.


suaminya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar merasa frustasi bicara dengan istrinya Karena sekarang sangat sulit sekali untuk diajak bicara baik-baik.

__ADS_1


" Ya sudah Papa minta maaf sama Mama kalau mama selalu merasa Papa menyakiti hati Mama!" ucap ayahnya Rianti akhirnya mengalah.


Beliau memang paling tidak suka keributan. Apalagi kalau berantem dengan istrinya tidak bisa berlama-lama. Lebih baik mengalah untuk kedamaian Itulah prinsip hidupnya.


" Papa minta maaf sekarang paling besok juga diulangi lagi Mama sudah hafal dengan tabiat papa!" sinis ibunya Rianti.


"Terus mama maunya bagaimana? Kita berantem terus seperti ini?" tanya ayahnya Rianti dengan frustasi.


"Terserah papa lah! Mama mau tidur aja pusing!" ucap ibunya Rianti pada akhirnya.


Sementara itu Rianti dan Bagas yang sudah kembali ke apartemen Mereka pun, kini merasakan bahagia. Karena telah kembali ke rumah mereka setelah selama satu minggu ditinggalkan.


" Alhamdulillah begitu senangnya kembali ke rumah sendiri!" ucap Rianti sambil memeluk sang suami.


"Ya, sesederhana apapun rumah tinggal sendiri, itu jauh lebih indah!" ucap Bagas.


Rianti tersenyum mendengarkan ucapan suaminya yang selalu memberikan kesejukan ke dalam hatinya.


"Oh ya Mas, bagaimana dengan sepupumu itu? Bukankah dia itu mencintaimu?" tanya Rianti tampak penasaran dengan sepupu suaminya yang selalu melihat dia dengan permusuhan.


"Dia memang menyukaiku sejak dulu. Tetapi aku hanya menganggap dia sebagai adikku tidak lebih!" ucap Bagas.


"Ya udah yuk! Kita istirahat besok kan, Mas harus sudah mulai bertugas lagi di rumah sakit. Pasti akan sangat melelahkan!" ucap Rianti mengajak suaminya untuk beristirahat.


"Mas senang memiliki kamu sebagai istriku! Walaupun ibumu tidak terlalu Merestui Pernikahan kita, tapi Mas yakin pasti suatu saat akan bisa meyakinkan beliau dan akan bisa menerima Mas sebagai menantunya!" ucap Bagas yakin sekali.


" Aku percaya denganmu Mas Kau pasti bisa menaklukan mamahku!" ucap Rianti dengan senyum bahagia.

__ADS_1


"Amien!" ucap Bagas.


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk tidur ,istirahat. Karena seteelah perjalanan yang sangat panjang, tentu sangat melelahkan untuk mereka berdua.


__ADS_2