Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
68. Dipta dan Mamahnya bersitegang


__ADS_3

Hari itu tiba-tiba saja Mamanya Dipta datang ke rumahnya. Wajah beliau tampak sangat marah. Tanpa mengucapkan salam, tanpa basa-basi, Mamanya langsung mencari Dipta di seluruh ruangan rumah itu.


"Merry, dimana Tuan kamu?" tanyanya dengan mata melotot, Merry sampai merinding melihat ibu dari majikannya tersebut.


' Ya Allah! Kok bisa ya? Pak Dipta memiliki seorang ibu seperti dia, begitu galak dan kasar. Padahal Pak Dipta itu seorang laki-laki yang baik dan lembut!' bathin Merry.


"Heh! Ditanya malah bengong! Mana Tuanmu?" teriak ibunya Dipta, Merry langsung ketakutan melihat Nyonya besarnya seperti singa yang sedang mengamuk saja.


"Itu, Nyonya! Itu... itu.. a..." Merry sudah gugup duluan melihat mata ibunya Dipta seperti siap menelan dirinya hidup-hidup. Merry sudah hampir menangis karenanya.


"Jawab pertanyaan saya! Dimana Tuan kamu!?" ibunya Dipta kini berkacak pinggang dengan angkuhnya.


"Itu, Nyonya besar, Tuan Dipta sedang di rumahmya yang lama, sedang mengawasi pembangunan pondok pesantren yang akan di kelola oleh suaminya Mba Nur!" ucap Merry ketakutan, gugup dan air matanya tanpa permisi sudah membanjiri kelopak matanya.


"Lancang sekali memang itu Dipta! Aku memang harus memberikan pelajaran pada anak satu itu! Berani sekali Dia memutuskan sesuatu tanpa berunding dulu denganku!" tanpa banyak cakap, ibunya Dipta langsung keluar dari rumahnya Dipta dan pergi menuju rumah lama yang tadi dimaksud oleh Merry. Kemarahan sangat jelas tercetak di raut wajahnya, yang walaupun sudah paruh baya tetapi masih cantik. Kecantikan karena perawatan mahal yang tak terhitung nilainya bagi para kaum rakyat jelata yang jangankan untuk perawatan kelas atas, untuk sekedar makan sehari-hari saja sudah kembang kempis.


Mata wanita itu nyalang, menatap tanah di hadapannya kini penuh dengan material dan orang-orang yang sedang sibuk bekerja. Ketika dia melihat Dipta, beliau langsung menarik sang anak dan menantar pipinya Dipta. Dipta seketika terkejut melihat reaksi mamanya yang baginya terlalu berlebihan dan tanpa alasan.

__ADS_1


"Mama apa-apaan sih? Datang-datang main tampar-tampar orang! Apa mama kerasukan setan di siang bolong begini?" tanya Dipta sambil mengelus pipinya yang tadi kena gampar Mamahnya.


Wanita paruh baya itu, menatap nyalang pada Dipta. Berkacak pinggang dan menuding wajh Dipta dengan amarah yang membuncah di dadanya.


"Kamu betul-betul anak durhaka! Sembarangan saja kau memutuskan segala sesuatu di dalam hidup kamu! Kenapa kau lancang sekali, mewakafkan tanah ini, kepada orang asing yang baru beberapa bulan kamu kenal itu? Tanah dan rumah ini adalah warisan leluhur kita! Kenapa kau sembarangan saja memutuskan hal besar seperti ini, tanpa berunding dengan Mama? Kamu betul-betul bikin Mama jengkel dan kesel!" Mamahnya terus memukuli tubub Dipta dengan tasnya.


Dipta sungguh tidak mengerti, kenapa Mamanya begitu marahnya dengan keputusan yang dia buat. Padahal seingatnya, ketika ayahnya dulu meninggal, tanah dan rumah ini sudah diserahkan kepada Dipta sebagai hak milik pribadinya, sebagai warisan sang ayah untuk dirinya. Tapi kenapa sekarang, Mamanya marah-marah, ketika Tanah ini dia wakafkan atas nama almarhumah istri dan anaknya untuk dikelola menjadi pondok pesantren. Dipta benar-benar bingung sekali.


"Apa yang Mama mau sebenarnya? Kenapa datang kesini malah mengamuk gak jelas begini!? Ayo kita pulang ke rumah saya! Kita bicarakan hal ini disana! Jangan bikin keributan dan membuat malu Dipta!" Dipta sudah hilang sabar dengan kelakuan ibunya.


"Beri mereka waktu untuk diskusi, ayo kita masuk saja!" ucap Ali sambil merangkul bahu istrinya yang tampak khawatir dengan Dipta.


"Bagaimana ini, Pak? Apakah pekerjaan kamu di lanjutkan?" tanya salah seorang pekerja yang kini semuanya diam, meninggalkan pekerjaan mereka. Mereka juga merasa Penasaran sekali dengan ribut-ribut, yang disebabkan oleh Mamahnya Dipta tadi.


"Gimana, Mas?" tanya Nur merasa cemas.


"Lanjutkan, Pak! Jangan khawatir, nanti saya yang akan bertanggungjawab!" ucap Ali memberikan perintah kepada para pekerja disana.

__ADS_1


"Ayo teman-teman, kita lanjutkan pekerjaan kita!" teriak mandor yang bertanggung jawab terhadap para pekerja.


Ali mengawasi mereka dengan cermat dan teliti. Ali memberikan arahan apa saja yang harus dikerjakan oleh para pekerja tersebut agar pekerjaan mereka sesuai dengan harapan dirinya, selaku pimpinan pondok pesantren tersebut.


Sementara itu Dipta sudah sampai ke rumahnya, Dipta langsung menarik tangan Ibunya agar mengikutinya ke dalam rumah. Ibunya Dipta yang masih merasa marah dengan kelakuan anaknya hanya menghempaskan tangan Dipta dengan keras, tak peduli dengan amarah sang anak.


"Jelaskan apa yang sudah kamu lakukan kepada Mamamu ini! Mama betul-betul tidak rela, tanah dan rumah itu Kau wakafkan tanpa persetujuan Mama!" ibunya Dita menatap tajam ke arah putranya yang tanpa gentar menantang dirinya. Dipta merasa tidak bersalah, jadi dia tidak takut.


"Mah, mari Dipta Ingatkan sama Mama! Tanah itu sudah diwariskan kepada Dipta pada saat Dika menikah oleh Papa, sebelum Papa menghembuskan nafasnya yang terakhir. Tanah itu sudah menjadi hak milik Dipta! Lalu apa salahnya kalau sekarang Dipta wakafkan tanah itu untuk pembangunan pondok pesantren, atas nama almarhum istri dan anak Dipta? Kenapa Mama harus mengamuk seperti ini? Lagi pula, tanah itu bukan hak milik Mama! Jadi, terserah Dipta mau melakukan apa dengan tanah itu! Itu bukan kewenangan Mama untuk mengatur hal tersebut!" Dipta berusaha untuk tenang, namun Mamahnya kembali memukuli dirinya dengan tas yang ada di tangannya. Dipta tidak ingin berbuat kasar kepada wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan dirinya.


"Tolong Mama jangan kayak begini! Tanah itu juga tidak berguna untuk Dipta, daripada tanah itu kosong dan tidak dimanfaatkan, akan lebih bagus kalau diwakafkan dan diberdayakan sebagai pondok pesantren. Selain menjadi amal untuk kita yang masih hidup, wakaf itu juga akan menjadi amal jariyah yang akan terus mengalir sampai hari kiamat nanti! Tanah itu berguna untuk umat, tempat anak-anak yang tidak mampu untuk belajar ilmu agama dan menghafal Al-Quran. Tolong ngertiin keputusan Dipta, Mah!" Dipta kini bersimpuh di hadapan Mamahnya yang masih belum mau mengalah juga.


"Lebih baik tanah itu dijual, daripada kau wakafkan untuk orang-orang asing itu! Kau dengar keputusan Mamamu?" perasaan Dipta merasa terluka dengan ucapan Mamanya yang bersikap sewenang-wenang seakan tidak memperdulikan perasaan dirinya.


"Katakan sama Dipta! Berapa Mama ingin menjual tanah dan rumah itu?" akhirnya Dipta mengalah juga, merasa malas untuk bersitegang dengan Mamahnya.


" 500 juta! Berikan uang itu sama Mamah! Kalau tanah itu sudah laku!" akhirnya Mamanya mau duduk setelah melihat Dipta menyerah dengan keputusannya.

__ADS_1


__ADS_2