
Bima kini mengerjapkan kelopak matanya yang mulai berlinang air mata, hatinya tiba-tiba saja merasa rindu dengan Dipta, sahabatnya.
"Terkadang, di saat seperti ini. Orang yang akan kita ingat adalah orang yang selalu mendampingi kita di saat susah dan sulit!" ucap Bima dengan suara yang Lirih.
Tiba-tiba saja, salah satu rekan Bima masuk ke dalam tendanya, dan mengabarkan sesuatu yang sangat mengejutkan.
"Dokter Bima anda dicari oleh seseorang!" ucap rekannya tersebut sambil tersenyum ke arah Bima. Bima tampak keheranan.
"Siapa yang mencari saya dokter?" tanya Bima, sambil berusaha untuk bangkit dari ranjang sederhana yang kini dia gunakan.
"Gue yang datang!" Dipta langsung memeluk tubuh Bima, yang saat ini masih lemah, sehingga belum bisa bergerak dengan bebas.
"Gimana caranya lu bisa ke sini?" Bima tampak terkejut dengan kedatangan sahabatnya yang sejak tadi selalu ada di dalam pikirannya.
"Gue naik helikopter perusahaan gue!" ucap Dipta tersenyum kepada sahabat yang sudah sangat lama dirindukan.
"Betul lu, menggunakan helikopter untuk datang ke sini?" Bima mengkonfirmasi kembali apa yang dikatakan oleh Dipta kepadanya.
"Yah ada 3 helikopter yang ikut sama gue kesini. Salah satunya adalah milik keluarga lu. Mereka mengirimkan tim kesehatan lagi untuk membantu kalian dan juga obat-obatan serta makanan dan selimut serta pakaian!" Dipta membeberkan semua yang dia lakukan saat ini kepada Bima.
Bima sampai merasa terharu sekali, dengan apa yang telah di perbuat oleh Dipta, sahabat yang selama ini selalu setia dalam suka dan duka bersamaannya.
"Udah nggak usah cengeng ah!" Dipta memeluk Bima yang saat ini sedang terisak dalam tangisnya.
"Apa kau tahu? Gue seumur hidup ini, belum pernah tersentuh dengan seorang teman. Kaau adalah yang pertama!" Bima kemudian memeluk Dipta dengan sangat erat.
" Bima! Apakah benar kalau Dipta datang ke sini?" tiba-tiba saja Rianti menerobos masuk ke tenda tempat Bima gadang beristirahat.
Dipta terperanjat ketika mendapatkan Riyanti berada di sana juga. Dipta yang menatap Bima meminta penjelasan dengan keadaan ini kepada sahabatnya.
"Nanti gue jelasin!" ucap Bima bisik di telinga Dipta.
__ADS_1
"Apa kabar Dipta? Kok bisa sih kamu sampai di sini?" tanya Rianti sambil menyalami Dipta.
"Gue bekerja sama dengan perusahaan dan juga rumah sakit milik keluarga Bima, sehingga kami bisa membawa bantuan untuk kalian di sini!" ucap Dilta menerangkan sekilas tentang keberadaannya saat ini.
Rianti tampak mengangguk dan mengerti apa yang disampaikan oleh Dipta saat ini.
"Kamu istirahat saja dulu, Dipta dan juga, tolong kau peringatkan sahabatmu itu, untuk beristirahat juga. Sejak kemarin dia berlari kesana kemari tidak mengingat kesehatannya sendiri!" ucap Rianti sambil cemberut udah memperhatikan bima yang saat ini sedang melihatnya.
" Iya nanti gue pasti ingetin!" janji Dipta.
"Ya udah, saya nggak ganggu kalian istirahat ya? Saya juga mau lihat kondisi suamiku. Dia sedang sakit!" Rianti kemudian meninggalkan dua sahabat itu untuk bisa beristirahat.
"Ceritakan! Gimana bisa, Rianti ada di sini?" ucap Dipta seakan penuh dengan rasa penasaran di dalam hatinya.
"Rianti ke sini mengikuti suaminya yang ditugaskan oleh rumah sakit ayahku, untuk mengabadi dan menolong para korban bencana!" Ucap Bima sekilas.
"Wah, dunia sungguh sempit! Dan bertapa malangnya sahabatku, yang harus melihat kemesraan wanita yang dia cintai bersama suaminya!" Dipta menggeleng-geleng kan kepalanya sambil menepuk bahu Bima.
Dipta tahu, bahwa sahabatnya itu hanya sedang bercanda terhadap dirinya.
"Ya udah, lu istirahat ya? Katanya lu lagi sakit, kan? Gue nggak gangguin lagi ya? Gue juga mau ngecek bantuan yang gue bawa, udah tersalurkan atau tidak kepada yang membutuhkan nya." ucap Dipta kemudian meninggalkan Bima di tendanya.
Dipta terus memperhatikan Rianti, yang begitu telaten dalam mengurus korban bencana yang makin hari, semakin bertambah.
Para petugas medis sudah banyak yang tumbang karena terlalu kelelahan. Jumlah mereka tidak seimbang dengan korban yang terus saja berdatangan kepada mereka.
Suasana di lokasi bencana itu benar-benar kacau balau pemakaman massal sudah banyak dilakukan banyak air mata dan darah yang telah kering di sana.
Banyak anak-anak yang kini telah menjadi anak yatim dan piatu. Para perempuan menjadi janda dan para lelaki menjadi duda.
Semuanya diakibatkan oleh bencana yang datang tiba-tiba. Mengejutkan manusia yang belum siap dengan semuanya.
__ADS_1
Setelah semua bantuan yang dia bawa teralokasikan dengan baik. Dipta pun kemudian kembali ke tenda Bima untuk memastikan keadaan sahabatnya saat ini dalam keadaan baik-baik saja.
"Bagaimana keadaan lu, Bim?" tanya Dipta.
"Agak baikan! Sebetulnya Ini hanya luka kecil, hanya saja mungkin karena kelelahan yang membuatku jadi drop!" ucap Bima sambil menunjukkan tangannya yang terluka dan sudah dirawat oleh Bagas.
"Sebagai seorang dokter, kamu memang harus memperhatikan pasien kamu. Tapi utamakan juga kesehatanmu. Hanya dengan kamu sehat, maka kamu bisa mengobati orang sakit!" ucap Dipta mencoba menasehati sahabatnya, Bima.
"Yah gue tahu kalau lo memperhatikan dan khawatir dengan keadaan gue. Terima kasih banyak!" ucap Bima sambil tersenyum kepada Dipta, Dipta senang karena sudah melihat sahabatnya mulai bersemangat lagi.
"Kapan lu mau balik ke Jakarta?" tanya Bima.
"Setelah gue pastikan, kalau di sini semuanya baik-baik saja!" Bima terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya.
"Jangan! Sebaiknya kau nanti sore segera saja kembali ke Jakarta. Kasihan anak buahmu, pasti kebingungan. Kalau tidak ada kamu di sana!" ucap Bima melarang niat dari Dipta untuk membantunya di lokasi bencana.
"Kok omongan lu, sama kayak nyokap gue dan juga sama sekertaris gue!" ucap Dipta sambil tersenyum kepada sahabatnya.
Bima berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya. Dipta melihat sahabatnya itu kesusahan. Akhirnya diapun membantu untuk membuat Bima duduk dengan tegak.
"Terimakasih!" ucap Bima.
"Kondisimu ini sangat memprihatinkan. Bagaimana kalau kamu, Rianti dan suaminya Rianti, kembali ke Jakarta dulu. Sekalian pulihkan dulu kondisi kalian, baru nanti setelah sehat. Kalian bisa kembali lagi sini!" ucap Dipta berusaha untuk membujuk sahabatnya.
"Gue sudah bicara juga dengan suaminya Rianti dan mereka setuju untuk pulang dulu ke Jakarta, agar mendapatkan perawatan yang lebih baik di sana!" ucap Dipta.
Bima yang sedang berpikir endengarkan saran dari sahabatnya itu.
"Baiklah itu memang sepertinya jalan yang terbaik. Memang dibutuhkan kesehatan untuk bisa menolong orang lain. Bagaimana bisa menolong orang lain, kalau diri sendiri saja sakit dan lemah!" ucap Bima akhirnya menyetujui saran dari Dipta.
Sore itu juga, mereka kembali ke Jakarta. Tampak beberapa dokter dan suster yang sakit, ikut bersama dengan mereka. Mereka digantikan oleh dokter-dokter baru yang masih segar dan sehat yang tadi pagi datang bersama Dipta, untuk membantu para korban-korban bencana.
__ADS_1