Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
157. Bertanya


__ADS_3

Sheila salah tingkah ketika mendengarkan defta yang mengatakan tentang tujuannya menolong Dipta saat itu.


"Mas kita makan di restoran Jepang aja ya?Aku sudah lama nggak makan di sana!" ucap Sheilla berusaha membujuk Bima agar tidak pergi ke restoran yang sama dengan Dipta.


"Kenapa memangnya Dipta sudah menunggu kita di sana. Mas juga kan sudah lama tidak bertemu dengan Dipta. Selama ini kita selalu sibuk mempersiapkan pernikahan kita berdua!" ucap bima menolak keinginan salah untuk pergi ke restoran jepang.


Bagaimanapun saat ini Bima sedang merindukan Dipta yang sudah lama tidak bertemu dengan dirinya. Karena disibukkan oleh urusan masing-masing.


"Kau lebih memilih Dipta daripada aku Mas?" tanya Sheila dengan nada sedih.


"Kok kamu bilangnya begitu sih Sayang? Selama ini kan waktuku memang selalu habis bersamamu. Sudah hampir dua hari Mas belum bertemu dengan Dipta!" ucap Bima.


"Memang harus ya? Kalian bertemu setiap hari?" tanya Sheila dengan mata berapi-api.


"Sebelum ada kamu dalam hidup Mas. Dalam satu hari, Mas bertemu Dipta bisa 3 sampai 4 kali. Kau lihat bukan? Setelah bersamamu bahkan dua hari ini Mas belum bertemu dengannya sama sekali! Bahkan hanya sekedar menghubunginya lewat telepon pun tidak Mas lakukan! Setiap hari dan setiap waktu. Mas hanya sibuk denganmu. Apakah itu tidak cukup?" tanya Bima dengan menatap tajam kepada Sheila.


"Pergilah! Kalau kau ingin bertemu dengan Dipta. Aku akan pergi ke restoran Jepang sendiri!" ucap Sheila dengan marah kemudian dia langsung meninggalkan Bima dalam kebingungannya.


berangkat ke tempat Dipta. Dia pasti sedang menungguku saat ini!" ucap Bima kemudian dia langsung menuju ke parkiran dan pergi ke restoran di mana tadi mereka telah berjanji untuk bertemu bersama Dipta dan Nadya.


Sementara itu Sheilla yang sedang menunggu Bima mengejar dirinya. Dia harus menelan pil kekecewaan. Karena ternyata Bima tidak peduli dengan dirinya yang sedang mengambek terhadap calon suaminya.

__ADS_1


"Apakah aku tidak berharga di hatimu Bim? Kau lebih memilih sahabatmu daripada mencariku!" ucap Sheilla dengan mata berkaca-kaca.


Suasana cafe yang saat ini sedang dia tempati tampak sepi.


Tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang mendekati Sheilla dan menepuk bahunya.


"Ya ampun Sheila! Sudah lama kita tidak bertemu kau sedang apa melamun sendirian di sini?" tanya Dito sahabat Sheila sewaktu dia kuliah di luar negeri.


"Eh, elu Dit? Sejak kapan lu pulang ke indonesia?" tanya Sheilla sambil melirik sekilas kepada Dito yang sekarang duduk di hadapannya.


"Lu lagi ada masalah ya? Kok dari tadi gue perhatiin dari jauh lu melamun terus?" tanya Dito dengan menatap tajam kepada Sheilla yang sekarang sedang menundukkan wajahnya dan menagkupkan wajahnya di atas meja yang ada di hadapannya.


"Kalau gue, pasti pilih calon istri gue lah! Kan dia yang akan menemaniku dan juga akan menghabiskan sisa hidup bersama. Kalau sahabat gue, pastikan suatu saat dia juga punya istri dan keluarga sendiri. Tidak mungkin dia akan selalu ada buat gue!" Dito membeberkan analisisnya.


"Jadi kalau ada seorang laki-laki yang lebih memilih sahabatnya daripada calon istrinya itu artinya apa?" tanya Sheilla dengan mata berkaca-kaca.


"Kemungkinan. Mungkin dia tidak terlalu mencintai calon istrinya itu. Karena mungkin dia belum yakin atau juga mungkin dia mencintai orang lain, tetapi terpaksa menikahi wanita itu karena tidak ada lagi pilihan!" ucap Dito yang membuat Sheila menjadi semakin terpuruk dan sakit hati.


Tiba-tiba Sheila menangis tersedu sehingga membuat Dito merasa terkejut.


"Shell kenapa lu nangis? Jangan-jangan nanti orang mengira kalau gue yang bikin lo nangis!" ucap Dipta dengan gugup dan berusaha untuk membujuk Sheilla agar tidak menangis lagi.

__ADS_1


"Itu artinya calon laki gue nggak mencintai gue ya? Makanya dia lebih milih sahabatnya daripada nemenin gue di sini?" ucap Sheila dengan terisak sehingga membuat Dito jadi serba salah di buatnya.


"Ya nggak kayak gitu juga Sheilla! Mungkin karena calon laki lu punya alasan yang lain, kenapa ndak kau tanya dia?" ucap Dito berusaha untuk menghibur Sheilla yang tampaknya sudah bersedih.


"Kayaknya nggak mungkin banget ya, kalau gue bisa bersaing sama Dipta. Dia seorang laki-laki yang sudah menemani Bima sejak mereka masih kecil. Lah gua? Gue ini apa dalam hidupnya? Mungkin tidak lebih daripada seperti butiran debu dalam hidupnya yang tidak berarti sama sekali untuk bisa dia pertimbangkan dalam hidupnya!" kembali Sheilla menangis tersedu-sedu. Sehingga membuat Dito menjadi merasa bersalah. Karena sudah sembarangan memberikan pendapat kepada Sheilla yang saat ini sedang meragukan cinta kekasihnya.


"Shell setiap laki-laki itu punya pemikiran yang berbeda. Tolong jangan menyamaratakan pikiran satu orang dengan orang lain. Mungkin saja kekasihmu tidak berpikiran sama denganku!" ucap Dito berusaha untuk meralat pendapatnya agar membuat Sheilla tidak bersedih lagi dan berpikir negatif tentang calon suaminya.


"Tapi gue emang yakin, kalau Bima memang tidak mencintaiku. Oeh karena itu, dia lebih memilih Dipta daripada aku! Hiks hiks!" ucap Sheilla dengan berderai air mata. sehingga membuat Dito menjadi serba salah.


"Siapa yang mengatakan kalau aku tidak mencintaimu sayang? Bagiku kau adalah separuh nafasku, kau adalah segalanya bagiku!" tiba-tiba saja Bima sudah bergabung di antara mereka.


"Siapa Kau bung? Laki-laki yang sudah membuat calon istriku menangis seperti ini. Jangan kau menjajalinya dengan sesuatu yang tidak penting. Sehingga membuat dia meragukan cintaku kepadanya?" ucap Bima dengan nada tegas sehingga membuat Dito menjadi sebuah salah.


"Maafkan saya Mas! tapi saya tidak bermaksud mengatakan hal itu. Dia bertanya dan saya hanya menjawab asal saja. Sesuai dengan pemikiran saya tidak saya generalkan kepada siapapun!" ucap Dito yang berusaha untuk membela dirinya di hadapan Bima yang sudah menatapnya dengan aura penuh permusuhan.


"Ah, sudahlah Dit. Kita lupakan. Kau dari mana saja Dito? Sangat lama kami kehilangan komunikasi denganmu!" ucap Bima sambil menyelami sahabatnya yang baru ketemu hari ini lagi setelah mereka berpisah beberapa tahun lamanya.


"Lo kapan balik ke Indonesia? Kenapa nggak mau hubungi kami ataupun menemui kami?" tanya Bima sambil memborong semua pertanyaan yang ada di dalam hatinya kepada Dito, sahabat lamanya.


"Maafkan saya tetapi bagi saya tidak bisa memberikan informasi pribadi kepada seorang asing!" ucap Dito bersikap kurang ajar tidak mau memberikan alamatnya kepada Bima yang sekarang telah melotot kepadanya karena merasa tersinggung dikatakan sebagai orang asing oleh Dito.

__ADS_1


__ADS_2