
Dipta langsung mengantarkan Kinan ke pondok pesantren setelah ia mengantarkan ibunya ke rumahnya.
" Terima kasih sudah mengantarkan saya. Tolong Mas Dipta untuk hati-hati di jalan!" ucap Kinan sebelum dia turun dari mobil.
" Apa kita bisa bicara sebentar? Saya rasa ada sesuatu yang urgent harus saya bicarakan denganmu!" ucap Dipta kepada Kinan.
" Kalau Mas Dipta ingin bicara dengan saya. Mari turun ke pondok biar Pak Kyai dan ibu Nyai bisa menjadi saksi di antara kita berdua agar tidak menjadi fitnah nantinya!" ucap Kinan menahan langkahnya tanpa menatap ke arah Dipta.
" Tolong kau untuk waspada dan juga selalu berhati-hatilah. Aku hanya takut kalau keluarga Nadia akan melakukan sesuatu yang buruk kepadamu. Kau tadi lihat sendiri bukan? Ibunya begitu membenciku dan juga rencana pernikahan kita!" ucap Dipta memperingatkan kepada Kinan.
" Jangan khawatir ada Allah yang akan selalu melindungiku. Aku percaya bahwa sesuatu yang baik pasti akan mengalahkan kejahatan maupun gangguan setan yang tak terlihat!" ucap Kinan kemudian dia pun langsung meninggalkan Dipta dalam kekagumannya.
" Ya Tuhan betapa Bodohnya Aku. Aku lupa kalau Kinan adalah seorang Hafizah. Dia pasti memiliki kekuatan batin untuk bisa melawan kejahatan makhluk yang tak terlihat!" ucap Dipta sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kemudian dia pun meninggalkan pondok pesantren dan pergi ke perusahaan miliknya.
Dipta melihat pekerjaan yang menumpuk di atas meja kerjanya. Gara-gara seharian dia meninggalkan kantor untuk mengikuti ibunya dan juga calon istrinya ke butik untuk mencari gaun pengantin bagi Kinan.
" Ya Tuhan! Masya Allah! Banyak sekali pekerjaanku seperti ini. Padahal tadi sudah saya Cicil ketika menunggu mereka!" ucap Dipta menatap frustasi berkas-berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya.
" Sebenarnya apa yang dilakukan oleh para direktur itu? Sehingga semua pekerjaan harus masuk ke ruanganku. Benar-benar harus ku evaluasi lagi job description di kantor ini untuk setiap Divisi dan para Direktut agar tidak seperti ini lagi!" ucap Dipta sambil menggelengkan kepalanya.
Dipta kemudian langsung menekan tombol extension menuju ruangan sekretarisnya.
" Segera kumpulkan semua Direktur dan Kepala Divisi kita akan melakukan rapat mendadak. Aku berikan waktu 30 menit!" tanpa menunggu jawaban sekretarisnya Dipta langsung menutup panggilan tersebut.
__ADS_1
Sementara menunggu sekretarisnya menyelesaikan pekerjaan yang dia berikan. Dipta menyusun kembali job description yang akan dia paparkan di dalam rapat yang akan segera dilaksanakan di ruang meeting.
Tidak lama kemudian pintu ruangan Dipta di ketuk oleh sang sekretaris.
"Masuk!" ucap Desta di dalam ruangannya.
" Semuanya sudah siap, Tuan. Hanya tinggal menunggu Anda!" ucap sang sekretaris sambil menatap hormat kepada Dipta.
" Aku suka dengan cara kerjamu yang cepat dan tepat. Segera kau bawa semua berkas yang ada di atas mejaku itu ke dalam ruang rapat! Kalau kau merasa kesulitan, minta bantuan OB untuk membantumu!" ucap deltah sambil meninggalkan sekretarisnya yang saat ini sedang bingung menatap ke arahnya.
" Untuk apa semua berkas-berkas ini dibawa ke ruang rapat? Hah! Pak Dipta ada-ada saja!" ucap sekretaris itu merasa frustasi melihat begitu banyaknya file-file yang ada di atas meja atasannya.
Dia segera keluar dari ruangan Dipta dan mencari OB untuk bisa membantunya membawa file-file yang menumpuk di atas meja Dipta.
Sekretaris dan OB tersebut langsung membawa semua file-file itu tepat dihadapan Dipta yang membuat para direktur dan juga Kepala Divisi merasa terkejut.
" Jawab pertanyaanku! Apa kalian melihat semua file-file ini?" tanya Dipta dengan suara lantang sehingga membuat semuanya terkejut.
" Yah kami semua melihatnya. Lalu apakah ada masalah di sini Tuan Dipta?" ucap director personalia sambil menatap kepada Dipta dengan bingung.
" Katakan padaku! Apakah file-file ini banyak?" tanya Dipta kembali menatap mereka satu persatu.
" Ya file-file itu sangat banyak!" jawab mereka semua yang hadir di dalam ruangan itu.
__ADS_1
" Sebenarnya kalian bekerja di sini untuk apa? Dan saya memberikan gaji sangat besar apa manfaatnya? Kenapa sampai semua file-file ini harus melewati saya semuanya? Lalu Apa fungsi kalian semua para Kepala Divisi dan juga para direktur?" tanya Dipta sambil menatap satu persatu mereka semua yang langsung menundukkan kepalanya.
" Apakah kalian tidak membaca job description kalian masing-masing? Apakah tidak dibaca ataukah itu semua hanya dijadikan pajangan untuk kalian?" tanya Dipta sambil menatap tajam kepada mereka semua.
" Sekarang bagikan semua file-file ini kepada divisinya masing-masing. Buat rangkuman dan selesaikan semuanya. Baru serahkan kepadaku hal-hal yang sangat urgen dan penting yang memang membutuhkan persetujuanku!" ucap Dipta memberikan perintah kepada sekretarisnya untuk membagikan kembali file-file sesuai dengan divisi yang tertulis di dalam file tersebut.
Setelah Dipta memberikan perintahnya. Dia pun langsung meninggalkan ruangan meeting dan langsung kembali ke rumahnya.
ikirannya saat ini benar-benar ruwet dan sangat pusing. Karena memikirkan ibunya Nadia yang selalu menghantui pikirannya.
Tatapan mata dan juga ucapan yang dikatakan oleh ibunya Nadia. Seakan terus berputar di kepala Dipta sudah seperti kaset rusak yang tidak mau berhenti.
" Aku sebaiknya salat saja mungkin dengan salat pikiranku akan menjadi lebih baik!" Dipta kemudian mengambil air wudhu dan salat Isya dengan khusuk.
Di dalam doanya Dipta berdoa dan meminta. Dia menyerahkan semua urusannya kepada Allah. Karena tidak ada tempat mengadu dan meminta perlindungan yang sebaik-baiknya di dunia ini, selain perlindungan dari Allah SWT.
" Ya Allah lindungilah kami semua dari gangguan setan yang terkutuk dan makhluk-makhluk yang tak terlihat dengan mata. Tolonv jagalah Kami selalu ya Allah!" doa Dipta dengan penuh kekhusyukan dan penuh kepasrahan kepada Tuhannya.
" Dipta. Kau sungguh tega kepadaku. Aku meninggal belum lama. Akan tetapi kau sudah memutuskan untuk menikahi perempuan lain. Sebenarnya Kau pernah mencintaiku atau tidak?" Dipta terkesiap ketika dia mendengarkan suara Nadia dikeheningan malam itu.
" Astaghfirullahaladzim ternyata aku tertidur!" ucap Dipta ketika dia menyadari bahwa dirinya terbaring di sajadah. Ketika dia tadi sedang khusyuk berdoa dan juga melakukan sholat malam.
" Ya Allah! Apa tadi? Kenapa aku seperti mendengarkan suara Nadia dan itu begitu dekat!" ucap Dipta sambil melihat ke sekelilingnya namun yang ada hanyalah keheningan dan juga kesunyian.
__ADS_1
" Lebih baik aku mengaji saja. Mungkin itu adalah pikiranku saja. Karena aku selalu memikirkan apa yang dikatakan oleh ibunya Nadia. Sehingga terbawa ke dalam mimpiku!" ucap Dipta sambil mengelus dadanya yang terasa sesak.
Dipta kemudian mengambil Alquran dan mengaji sampai subuh tiba. Tubuhnya yang semula merasa merinding seketika berangsur normal lagi ketika dia terhanyut dalam lantunan ayat suci Alquran.