
Tidak ada yang lebih menyedihkan selain tidak mendapatkan kepercayaan dari orang yang kita cintai. Itulah yang saat ini sedang dirasakan oleh Ali melihat istrinya sama sekali tidak mau mendengarkan segala penjelasan yang telah dia berikan.
" Apalagi yang harus hamba lakukan Ya Allah? Untuk meyakinkan istri hamba, bahwa hamba sama sekali tidak ada hubungan dengan Rianti! Bahwa hamba hanya mencintai dia, tetapi kenapa rasanya sangat sulit Ya Allah! Tolonglah hamba-mu, Ya Allah untuk bisa menjaga hati ini agar tetap berpasrah kepadamu!" tanpa terasa air mata berlinang di kelopak mata alik ya selama ini banyak air matanya mengalir karena memikirkan nasib rumah tangganya yang hingga saat ini masih di ujung tanduk.
Di saat Ali sedang meratapi dirinya, tiba-tiba datang suara seorang perempuan yang mengembalikan Ali dari lamunannya, suara Rianti. Ali mendesah berat. Kehadiran Rianti selalu memberikan masalah untuk dirinya. Entah kenapa, semesta seperti sedang menguji dirinya.
"Kamu mau apa lagi Rianti? Kan sudah aku katakan, istriku cemburu setiap kali kamu datang ke sini. Tolonglah mengerti posisiku. Aku tidak mau rumah tanggaku terus seperti ini, tidak jelas arah dan tujuannya. Kalau kamu memang menganggapku sebagai temanmu, tolonglah! Tolong aku, tidak usah datang lagi ke sini! Nggak usah menemuiku lagi! Aku nggak mau kalau rumah tangga aku semakin runyam saja!" Ali sudah frustasi rasanya.
"Aku hanya khawatir dengan keadaanmu, Mas! Nggak lebih kok! Coba lihat mana istrimu? Dia sama sekali tidak peduli denganmu, tetap saja aku kan yang peduli denganmu? Kenapa sih Mas, kamu nggak ceraiin aja dia? Dia kan kelihatannya tidak mencintai kamu. Aku loh yang selalu ada di dekat kamu!" ucap Rianti sambil duduk di kursi dekat dengan ranjang perawatan Ali.
"Kamu yang sudah bikin istriku jadi marah denganku! Kalau bukan karena kamu tidak mungkin istriku bersikap seperti itu! Dia tuh wanita yang lembut dan pengertian. Dia selalu memaafkan kesalahanku, kecuali masalah kamu! Dia tidak bisa memaafkan dan melupakannya sama sekali. Kamu juga seorang wanita. Kenapa tidak bisa berempati sedikit dengan perasaan istriku? Pergilah, jangan datang lagi kepadaku! Jangan memberikan masalah lagi untukku! Aku mohon padamu sebagai seorang teman sebagai mantan bosmu. Pergilah! usir Ali kesal.
Tanpa mereka sadari, Nur dan Dipta sedang mendengarkan pembicaraan mereka berdua di luar sana. Tanpa terasa air mata Nur lolos begitu saja, ada rasa haru dan juga bahagia, ketika mendengar suaminya membela dirinya. Mengusir Rianti dalam hidup Suaminya.
" Kamu dengar bukan, Nur? Itu hanya Rianti yang selalu berusaha memberikan perhatian kepada suami kamu. Tetapi suami kamu hanya menggarap Rianti sebagai teman saja. Bukalah hati kamu, Aku sangat yakin, bahwa Suami kamu hanya mencintaimu! " ucap Dipta.
__ADS_1
Nur masih terdiam, masih ingin melihat apalagi yang akan di lakukan dua mahluk itu di dalam sana.
"Mas aku tuh mencintai kamu !Tolonglah berikan aku kesempatan, untuk bisa membuktikan, bahwa aku juga lebih daripada istrimu! Kenapa sih kamu nggak ngelepasin dia aja? Biarkan kita berdua bisa menikmati indahnya cinta!" bujuk Rianti dan tanpa tahu malu, dia memeluk Ali.
Nur yang melihat suaminya di peluk oleh Rianti, hatinya mendidih menahan amarah. tetapi kemudian Nur melihat suaminya itu mendorong tubuh Riyanti sehingga membuat Rianti terjatuh. Perasaan Nur kembali menghangat melihat suaminya masih berusaha untuk mempertahankan rumah tangga mereka. Nur lalu masuk ke dalam sana, Ali sangat terkejut melihat istrinya masuk tanpa sepatah katapun.
"Sayang Mas bisa jelaskan semua ini! Dia datang bukan atas kemauan Mas! Dia datang sendiri!" Ali sudah pucat wajahnya, takut Istrinya akan salah paham lagi.
"Sudahlah Mas, gak usah dijelaskan! Semuanya sudah jelas dan semuanya sudah terbukti! Bahwa memang perempuan ini yang selalu menggodamu!" ucap Nur.
"Eh perempuan gatel! Denger ya! Dia itu suami aku! Ayah dari anakku! Lebih baik kamu minggir, pergi aja ke laut sana! Cari laki-laki yang bisa kamu goda sesuka hatimu dan jangan pernah bermimpi kamu akan mendapatkan suamiku! Karena aku tidak akan pernah memberikan dia kepadamu, camkan itu!" ucap Nur dengan tegas dan jelas.
" Wah, Nur! You is the best! Aku bangga padamu!" ucap Cipta sambil memberikan dua jempolnya kepada Nur Nur hanya tersenyum simpul melihat kelakuan sahabatnya tersebut. Berbeda dengan Rianti, matanya sudah memerah menahan amarah mendengar ucapan istri dari orang yang dia cintai. Ya, Rianti belum menyerah dengan tantangan kedua orang tuanya, untuk menghancurkan kehidupan rumah tangga pasangan tersebut demi mendapatkan harta kakaknya dan juga harta kedua orang tuanya.
"Kamu tunggu aja! Aku pasti bisa merebut suami kamu! Kamu nggak usah berbangga hati! Kamu itu hanya perempuan kamu tidak berarti apa-apa!" sengit Rianti, lalu meninggalkan ruangan tersebut dengan amarah dihatinya.
__ADS_1
Ali menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya, masih serasa dalam mimpi " Apakah istriku sudah kembali?" tanyanya takjub. Nur mengangguk, lalu memeluk tubuh suaminya yang sudah lama dia rindukan.
"Aku kangen, Mas!" ucap Nur sambil mengecup pipi suaminya. Dipta yang merasa kaget dengan Nur yang frontal langsung memilih pergi saja, daripada menjadi obat nyamuk di antara pasangan yang baru saja akur.
"Aku pergi dulu, Nur, telpon aku, kalau kalian sudah siap untuk pulang!" Dipta lalu pergi dari sana. Memutuskan untuk kembali ke kantor saja.
"Alhamdulillah akhirnya suami istri itu kembali akur! Sekarang aku bisa bernafas lega, bisa bekerja dengan tenang!" ucap Dipta sambil tersenyum.
"Ini beneran kamu kan, sayang? Kamu benar-benar sudah bisa memaafkan Mas?" Ali masih belum percaya.
"Iya Mas! Aku dan Dipta, tadi sudah mendengarkan semua percakapanmu dengan Rianti. Aku percaya bahwa kamu memang hanya mencintaiku. Aku percaya bahwa memang perempuan itu yang selalu menggodamu!" Nur kini membenamkan wajahnya di dada suaminya.
"Mas rindu sekali sama kamu! Maafkan, Mas! Mas tahu, Mas sudah salah selama ini. Membiarkan kamu sendiri, mengurus anak kita! Mas janji, Mas akan terus memperbaiki diri. Supaya tidak melukai perasaan kamu lagi!" Nur menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Istriku, kalau marah dan cemburu sungguh menakutkan! Sampai berani lari dan mau gugat cerai segala!" goda Ali, sambil mencubit mesra hidung istrinya yang sangat dia rindukan. Nur hanya tersipu.
__ADS_1
" Siapa suruh Mas selalu memikirkan dia! Aku cemburu tahu Mas! Aku hampir gila memikirkan kamu jatuh cinta dengan perempuan lain!" Nur memanyunkan bibirnya.
"Mas gak memikirkan dia karena mencintai dia. Mas hanya merasa punya hutang sama dia, sudah kerja sama Mas, tapi belum Mas kasih gaji. Gak lebih sayang! Kamu aja yang main ambil keputusan, gak nanya-nanya sama Mas!" Ali sangat bahagia, karena akhirnya sang istri kembali.