
Ali sungguh marah dengan kelakuan Nadya. Hatinya sudah bertekad, akan keluar dari rumah Nadya dan mengundurkan diri dari pekerjaan di sana. Sementara dokter masih belum memberikan kabar tentang keadaan istri dan anaknya. Sungguh sangat stres dan frustasi.
Ali jadi bolak balik ke toko dan rumah sakit. Untung saja teman Nur saat di pondok mau bergantian menjaga Nur di rumah sakit. Keluarga Nur juga sudah datang, mereka tinggal di kamar yang ada di toko. Ali membelikan kasur dan peralatan memasak dan ditaruh di Toko barunya.
Rencananya hari ini Ali akan menemui Nadya. Akan mengundurkan diri dan mengambil barang-barang nya juga. Lebih baik menghindari fitnah yang lebih besar, dari pada dirinya terjerumus dalam dosa lebih dalam lagi.
Rejeki Allah itu maha luas, Ali percaya hal itu. Sudah seminggu Nur masih koma. Dokter sudah khawatir dengan janin yang di kandung oleh Nur.
"Maafkan saya Nadya. Saya gak bisa bekerja sama kamu lagi. Saya harus fokus urus istri saya yang masih koma, saya juga sudah membuka toko saya. Maafkan sekali lagi. Saya janji akan segera melunasi hutang saya sama kamu!" ucap Ali dengan tetap menundukkan kepalanya.
Nadya ini memang wanita yang tidak tahu malu, masa dia menerima tamu dengan tank top dan Hot pan? Ali sudah tidak karuan rasa hatinya. melihat penampilan Nadya yang terlalu seksi baginya. 'Ya Allah, lindungi hamba!' doa Ali.
"Ya sudah, Mas! Tidak apa-apa. Kamu gak perlu kembalikan uang itu, aku ikhlas kasih buat kamu." ucap Nadya mencoba mendekati Ali. Tapi Ali yang sudah bisa mendeteksi bahaya. langsung bangun dari tempat duduknya, Ali langsung berpamitan.
"Saya pamit, saya akan pindah hari ini juga." Ali lalu keluar dari rumah Nadya, di sana beberapa santri sudah menunggu, mau membantu pindahan ke toko baru yang sudah di buka kemarin.
Untung saja toko itu lumayan luas. Ada toiletnya, dapur dan satu kamar. Untuk sementara itu cukup. Nanti kalau keadaan sudah memungkinkan, Ali berencana akan mencari kontrakan yang dekat dengan toko.
Hari ini Abah Kiai rencananya mau menjenguk Nur, jadi Ali Audah bersiap-siap mau menutup tokonya. Nur di jaga oleh mamahnya di rumah sakit. Jadi Ali bisa tenang bekerja. Setelah tadi beres-beres dengan bantuan beberapa orang santri yang di utus Abah Kiai, Sekarang tokonya sudah rapi.
__ADS_1
Ali membeli kasur springbad, lemari, meja makan yang berfungsi sebagai meja tamu juga. Kalau kebetulan ada tamu. Multi fungsi pokoknya, mengingat toko itu hanya luasnya 60m persegi saja. 6x 10 meter. Tapi Ali merasa sangat bersyukur masih ada tempat pulang dan usaha baginya. Ali bergegas menutup tokonya dan pergi ke rumah sakit.
Saat tiba di rumah sakit, Abah Kiai dan Ibu Nyai serta beberapa orang santri sudah ada di sana. Abah Kiai ini masih termasuk Pamannya Ali, maka jangan heran kalau Abah Kiai sayang sama dia.
"Assalamualaikum, Abah Kiai, Ibu Nyai!" Ali mencium sungkem tangan beliau dengan penuh takzim. Abah Kiai mengelus kepala Ali.
"Ayo kita ke dalam, Abah mau lihat kondisi istri kamu!" Abah Kiai dan Ali lalu masuk ke kamar. kebetulan memang tidak boleh terlalu banyak orang dalam kamar perawatan.
"Ali, kenapa Abah merasa begitu kuat energi negatif di sinu?" tanya Abah Kiai tiba-tiba, wajahnya tampak sangat serius dengan mata terus tertuju pada Nur yang saat ini masih koma.
"Maksudnya? Saya tidak paham, Abah Yai?" tanya Ali sambil mendekati Abah Kiai yang kini tengah memegang telapak tangan Istrinya.
Ali kemudian memanggil beberapa santri yang tadi menyertai Abah Kiai. Mereka sama-sama membaca surat Yasin dan Ayat kursi.
Semua khusuk menolong Nur yang saat ini yang berada dalam kondisi antara ambang kematian. Kalau tidak segera ditolong. Ibu dan anak bisa mati. Karena apabila terlalu lama tertahan jiwanya di alam lain, aura kehidupannya akan semakin menghilang, hingga akhirnya meninggal.
Sementara itu, di kamar rahasia Nadya, tampak Nadya tengah sibuk kemat kemit membaca mantra dengan mata tertutup. "Kalian harus membunuh Nur, aku memberikan janin dalam perutnya sebagai makanan kalian! Cepat patuhi perintahku! Kalau kalian masih mau aku kasih makan!" teriak Nadya dengan mata merah menyala. Hatinya panas karena Ali selalu menikah dirinya, tadinya dia tidak akan tega melakukan hal itu kepada temannya, tapi Ali sungguh membuat dirinya hilang kesadaran.
"Kalau istri kamu sudah mati, kamu pasti akan jatuh ke dalam pelukanku. Aku yakin bisa menaklukkan kamu, Mas! Hi hi hi hi!" tawa Nadya sungguh menakutkan. Tiba-tiba saja ada angin kencang yang mengguncang kamarnya, para penghuni kamar tersebut pada berteriak dan lari ketakutan. Nadya tampak panik dengan situasi itu.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kenapa kalian kocar kacir begitu?" tanya Nadya pada peliharaannya.
"Kamu sudah mencelakai kami, di sana, di kamar wanita yang akan kamu jadikan tumbal, sedang di lakukan rukyah dan pengusiran bangsa kami. Kami harus segera kabur, sebelum kami musnah di bakar oleh mereka!" satu per satu mahluk itu berlarian ketakutan.
"Dasar pengecut!" teriak Nadya kesal dan marah.
Nadya lalu duduk bersila di tempat duduknya tadi, membaca mantra pelet yang dia tujukan kepada Ali. Tapi tiba-tiba mulutnya menyemburkan darah. Mantra tersebut menyerang dirinya kembali.
"Apa kau mau mencelakai kami, memerintahkan kami memelet pria Sholeh itu? Kami tidak sanggup, kami pergi!" Nadya jadi frustasi, satu demi satu mahluk peliharaan yang dia miliki meninggalkan dirinya. Kekuatan Nadya memang belum sepenuhnya, karena Nadya baru beberapa tahun ini mempraktekkan ilmu pesugihan tersebut. Jadi belum banyak ilmu yang dia serapa dari gurunya. Nadya jadi teringat dengan gurunya.
"Hallo, eyang, tolong aku! Markas besarku kena serangan! Para peliharaan aku pada kabur ketakutan. Tolong aku eyang! Aku bisa mati kalau begini terus!" ucap Nadya pada seseorang di telpon sana. Nadya sangat ketakutan.
"Kamu yang bodoh, Nadya! Kenapa kamu berani bermain api dengan santri itu! Dia itu murid Kiai Taufik, ilmunya hebat dan juga banyak pengikutnya di alam lelembut. Kamu sungguh ceroboh! Anak buah saya sekarang jadi sasaran para pengikut Kiai itu! Kamu menyusahkan saya saja!" gerutu gurunya Nadya.
"Maafkan saya eyang, tolonglah saya?! Saya tidak mau mati konyol disini!" Nadya sudah pasrah.
"Kamu lepaskan jiwa korban calon tumbal kamu, kembalikan ke wadag nya! Jangan cari perkara lagi dengan mereka! Ini kali terakhir aku menolong kebodohan kamu!" lalu gurunya Nadya menutup telponnya. Nadya lalu mengambil sebuah botol, lalu membukanya.
"Kamu pergilah, kembali ke wadag kamu! Aku tidak akan mengambil nyawa kamu lagi!" lalu Nadya membanting botol tadi. Seketika bayangan putih melesat keluar dari kamar rahasia tersebut.
__ADS_1