Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
223. Keputusan


__ADS_3

Saat mereka berada di meja makan, terlihat Rianti berniat untuk bertanya kepada menantunya. Perihal masalah yang saat ini sangat mengganggu pikirannya.


' Nanti saja. Setelah selesai makan. Karena tidak baik juga membicarakan masalah di meja makan.' batin Rianti.


Sementara itu tampak Bagas dan Raffi masih membicarakan sesuatu yang ringan dan santai. Hanya pembicaraan antar laki-laki yang tidak terlalu urgent dan berat.


Begitu selesai acara sarapan, Riyanti kemudian meminta kepada Dinda untuk mengajak Suaminya ke taman belakang. Di mana saat ini suaminya sedang minum kopi bersama dengan Rehan yang masih belum berangkat bekerja.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" Sapa Raffi kepada mereka berdua yang tampak sedang asyik bercengkrama. Layaknya ayah dan anak yang selalu saling mendukung satu sama lain, baik di luar maupun di dalam rumah.


" Waalaikumsalam mari sini ngobrol bersama dengan kami!" Raffi melihat Rehan yang tampak mengerutkan keningnya begitu dalam.


Jiwa detektifnya meronta-ronta. Ingin bertanya. Kira-kira apa yang terjadi dengan sahabatnya yang sejak tadi tampak tidak bahagia.


" Ada apa Rehan? Kenapa dari tadi keningmu terus mengkerut seperti itu?" tanya Raffi sambil menepuk bahu sahabatnya yang Sekarang telah menjadi kakak iparnya.


" Aku lagi ada masalah sama Aurel. Tiba-tiba saja dia minta putus!" ucap Rehan sambil menaruh ponselnya di atas meja.


" Gadis yang kita temui di tempat pernikahan Marcella dan Zidane? Anaknya Om Dipta?" Raffi seketika jantungnya berdebar seakan dia mengingat sesuatu yang sempat terlupakan.


" Bukan anaknya om Dipta. Tetapi anaknya om Bima, adik dari Zidane. Suaminya Marcella." ucap Rehan sambil menatap sahabatnya dengan lekat.


Rehan tahu kalau dahulu Raffi sempat tertarik kepada Marcella hanya saja nasib tidak membiarkan mereka untuk berjodoh karena Marcella telah menikah dengan Zidane.

__ADS_1


" Kau tahu? Marcella sebentar lagi akan memiliki Putra. Usia kandungannya sudah hampir 8 bulan. Oleh karena itu sekarang dia hanya diperbolehkan untuk berada di rumah oleh suaminya!" ucap Rehan memberikan informasi kepada Raffi.


Raffi tampak menatap Rehan dengan lekat. Dia merasa bingung dengan sahabatnya yang seakan mengusik kembali ketenangan hatinya yang telah susah payah dia bangun untuk bisa melupakan Marcella sehingga dirinya mau menerima pernikahannya bersama Dinda.


" Apakah kami berdua boleh bergabung dengan para laki-laki tampan ini?" tanya Rianti duduk diantara mereka bertiga. Tampak Dinda mengikuti sang ibu di sampingnya.


" Ada apa sih Mah? Biasanya juga asal duduk aja pakai acara izin segala." ucap Rehan sambil cemberut kepada ibunya.


" Ya tidak apa-apa toh? Kali saja kan Kalau kalian sedang membicarakan hal serius dan tidak ingin mendapatkan gangguan dari kami berdua." ucap Riyanti sambil tersenyum kepada putranya sementara itu Bagas tampak sibuk dengan laptop dan juga netbook yang ada di hadapannya.


" Sayang ini kan hari Minggu. Apa kau tidak bisa bersantai sedikit saja dan bercengkrama dengan kami keluargamu? Selama 6 hari kau sudah sibuk di rumah sakit. Apakah tidak menginginkan melewatkan satu hari saja untuk bersama kami tanpa harus berurusan dengan laptop dan notebook mu itu? Apalagi kebetulan saat ini Dinda dan suaminya sedang berkunjung ke rumah kita!" tegur Riyanti kepada suaminya.


" Baiklah sebentar dulu ya sayang. Maaf Papa sedang memeriksa laporan akhir tahun. Kalau sampai ada yang terlewat nanti perusahaan kita pasti akan mengalami kerugian. Saat ini pikiran Papa bukan hanya tentang keluarga saja. Di rumah sakit dan perusahaan yang kita kelola, ada ribuan keluarga yang sedang menggantungkan harapan dan masa depan keluarganya di perusahaan kita! Papa tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja!" ucap Bagas sambil memijit pelipisnya yang terasa sangat pusing.


" Minumlah dulu obatmu sayang. Sudah beberapa hari ini Kau tampak kesulitan untuk tidur. Apakah kau sudah melakukan medical check up secara menyeluruh?" tanya Rian teh tampak khawatir dengan kesehatan suaminya yang selama beberapa hari ini tampak seperti begitu kelelahan dan agak drop.


Kondisi Bagas akhir-akhir ini memang agak-agak mengkhawatirkan. Dia sering jatuh pingsan tiba-tiba di kantor. Hanya saja orang kantor sudah di wanti-wanti oleh Bagas untuk tidak melaporkan hal tersebut kepada Riyanti. Karena Bagas khawatir kalau sang istri nantinya akan khawatir kepadanya.


" Papa ambil cuti saja atau pensiun bila perlu. Biar nanti Rehan yang akan mengurus semuanya. di sini juga ada Raffi. Saya yakin dia pasti bersedia kalau kita minta tolong untuk membantu kita mengurus perusahaan dan juga rumah sakit!" Rehan sambil menyikut Raffi yang sejak tadi hanya menundukkan kepalanya tidak berani untuk nimbrung dengan mereka.


" Saya juga punya perusahaan kecil yang harus menjadi perhatian saya. Lagi pula Saya tidak ada pengalaman sama sekali di dalam bidang manajemen rumah sakit! Akan lebih bagus kalau diserahkan kepada orang-orang profesional yang memang handal di bidangnya." ucap Raffi sambil tersenyum kepada Bagas.


Bagas tampak begitu bangga dengan kehormatan Raffi sebagai seorang suami. Raffi yang tidak mau hidup menumpang bersama dengan keluarga dari istrinya.

__ADS_1


Raffi tetap mempertahankan harga dirinya sebagai seorang suami dengan memberikan nafkah kepada sang istri dengan mengandalkan kemampuannya sendiri.


" Bagaimana dengan restoran yang kau kelola? Mama dengar omsetnya mencapai 500 juta sebulan. Apakah itu benar?" tanya Rianti kepada Raffi.


Mendengar pertanyaan dari ibu mertuanya rapi tersenyum simpul. " Tidak sebanyak itu Mah. Ya untuk satu cabang, bisa mencapai 200 sampai 300 juta. Akan tetapi itu belum dipotong dengan gaji karyawan dan juga modal untuk memberi bahan baku restoran. Mungkin kalau dihitung secara total sekitar 100 juta keuntungan bersih dari restoran untuk satu cabang!" ucap Raffi kepada Rianti.


" Memangnya sekarang kau sudah memiliki berapa cabang?" tanya Rianti kepo dengan usaha menantunya yang selama ini tidak pernah terlihat ataupun di gembor-gembor kan ke masyarakat umum.


Yang Riyanti dengar dari Dinda, bahkan kedua orang tua Raffi pun tidak mengetahui usaha yang dijalankan oleh putranya.


Dinda yang penasaran pun ikut membuka telinganya lebar-lebar. Ingin mengetahui apa saja sebenarnya yang dilakukan oleh suaminya untuk masa depan mereka.


" Ada sekitar 30 restoran Mah. Itu hanya restoran kecil yang tersebar di seluruh Indonesia!" ucap Raffi sambil menundukkan kepalanya.


" Wah kok keren sekali! Penghasilan bersihmu dari 30 restoran dikali 100 juta?" tampak Rianti menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya dengan kenyataan yang ada di hadapannya mengenai menantunya yang selama ini dia kenal hanyalah sebagai laki-laki sederhana yang hanya sibuk dengan Alqurannya dan juga tasbihnya.


Dinda pun berdecak kagum kepada suaminya yang ternyata seorang entrepreneur muda yang sejati. Pria sukses yang bersembunyi dibalik kesederhanaan dan kerendahan hati.


Rianti semakin kagum kepada sang suami yang sangat hebat di matanya. di antara kesibukannya membantu kedua orang tuanya untuk mengelola pondok pesantren ternyata Raffi masih punya waktu untuk mengelola restoran miliknya yang sudah memiliki banyak cabang di seluruh Indonesia.


" Oh ya Pah. Kami berdua saat ini sedang mempertimbangkan untuk pindah di salah satu cabang restoranku. Nanti saya akan mengajak Dinda untuk berkeliling. Saya akan biarkan Dinda yang akan memilih di mana tempat tinggal kami nantinya!" ucap Raffi memberikan informasi kepada kedua mertuanya.


Tampak Bagas terus memperhatikan Raffi yang memiliki karakter yang tenang dan juga sopan. Kedua karakter itulah yang telah mengunci hati Bagas untuk yakin dan mantap dalam memilih Raffi sebagai menantunya.

__ADS_1


" Papa pasti akan mendukung apapun yang menjadi keputusan kalian. Papa hanya menginginkan kalian hidup bahagia!" kecap Bagas berusaha untuk bersikap bijaksana kepada anak dan menantunya yang masih memiliki waktu yang sangat panjang untuk menjalani rumah tangga mereka yang bisa dikatakan baru seumur jagung.


__ADS_2