
Sementara itu, Nur berada di sebuah kebun kosong, suasana di sana sangat gelap dan menakutkan. "Aku di mana ini? Kenapa disini sepi sekali, tidak ada siapapun." Nur terus berjalan menyusuri jalanan setapak yang dia lihat membentang di hadapannya.
Tiba-tiba Nur melihat sepasang suami istri yang tengah mengayuh sebuah perahu. Suami istri tersebut melambaikan tangannya kepada Nur.
"Hei, kalian mau ke mana? Aku ikut! Aku takut berada di sini sendirian!" ucap Nur sambil berteriak. Suami istri itu lalu mengayuh perahunya ke arah Nur. Lalu mereka mendekati Nur.
"Pulanglah, disini bukan tempat kamu. Ini, aku kembalikan anak kamu. Jagalah anak kamu, jangan sembarangan lagi menerima uang dari orang lain. Kami pergi dulu!" kedua suami istri itu lalu berbalik setelah memberikan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan dan gembul.
"Tunggu, kalian siapa?" tanya Nur heran.
"Kami adalah penunggu danau ini. Kami mati tenggelam di sini karena ulah Bu Nadya, dia menjadikan kami sebagai tumbal pesugihan. Kamu harus berhati-hati sama dia. Kalau mau melawan dia, lawanlah dengan kepintaran kamu, bukan dengan otot!" ucap suami dari wanita itu.
"Nama kalian siapa?" tanya Nur mencoba menggali informasi tentang kedua orang tersebut.
"Nama saya Tukimin dan ini istri saya, Tukiyem. Kami dulu bekerja sebagai penjaga kost Non Nadya, istri saya bekerja sebagai pembantu di rumah Bu Nadya. Pada suatu hari. Anak saya yang yang berusia dua tahun, tiba-tiba sakit sehingga kami butuh uang untuk operasi, Bu Nadya meminjamkan uang kepada kami. Kami sangat senang, tapi ternyata uang tersebut malah menjadi malapetaka bagi keluarga kami. Anak saya yang berusia dua tahun meninggal di meja operasi, lalu anak dalam kandungan istri saya juga tiba-tiba menghilang. Puncaknya, Bu Nadya mengajak kami berjalan-jalan ke danau ini, tapi tiba-tiba perahu yang kami tumpangi bocor dan karam. Mayat kami masih terpendam di danau ini!" ungkap Tukimin dengan derai air mata.
"Pergilah, jiwa kamu sudah di lepaskan dari belenggu perbudakan Bu Nadya. Kamu sudah bisa pulang, pesan saya. Kalau kamu ingin menghancurkan Bu Nadya, hancurkan kamar rahasia yang ada di rumah Bu Nadya. Bakar semua darah yang ada di sana. Itu adalah makanan para jin peliharaan Bu Nadya." ucap Tukiyem dengan derai air mata.
"Kenapa Nadya melakukan pesugihan?" tanya Nur masih bingung.
"Agar kontrakannya laris dan mereka betah tinggal di sana. Memudahkan Bu Nadya mencari tumbal juga. Kalau ada pengontrak yang telat bayar hingga berbulan-bulan, pasti nanti akan di jadikan tumbal oleh Bu Nadya." ucap Tukimin lagi.
"Aku gak nyangka, Nadya seseorang yang begitu kejam. Menjadikan nyawa manusia demi harta."
"Pulanglah, keluarga kamu sudah menunggu! Ikutin saja jalan setapak itu, kamu nanti bisa pulang ke wadag kamu.
__ADS_1
" Kenapa kalian gak ikut aku juga? " tanya Nur.
"Gak bisa, badan kami disini, kami akan selamanya jadi penunggu danau ini, selama jenazah kami belum di kuburkan secara layak!" ucap Tukimin sedih.
"Kami lelah, kami ingin pulang juga!" tiba-tiba Tukiyem menangis tersedu-sedu.
"Sudahlah, mungkin ini adalah nasib kita. Udah, kamu pulang sana. Jangan berlama-lama di sini. Kasihan anak kamu!" ucap Tukimin sambil mengayuh perahunya lagi.
Nur lalu berjalan mengikuti jalan setapak yang bercahaya di hadapannya. Tiba-tiba mata Nur silau, dan terasa dirinya terbang melesat jauh sekali. Tubuhnya sangat ringan. Bayi yang tadi di gendongnya kini telah menghilang juga.
Sementara itu, di kamar perawatan Nur, para santri dan Abah Kiai masih sibuk mengaji di sana. Tiba-tiba seberkas cahaya putih melesat dan masuk ke dalam tubuh Nur. Abah Kiai membuka matanya, lalu menepuk kening Nur sambil membaca alfatihah. Lalu di hembuskan di ubun-ubun Nur.
Nur membuka matanya pelan, aga silau. Maklum saja, Nur koma hampir satu Minggu lamanya.
"Aku di mana, Mas? Dimana anak kita?" tanya Nur tampak bingung. Ali juga bingung saat Nur bertanya dimana anak mereka.
"Anak kita masih di perutmu, sayang!" Ali lalu membimbing tangan istrinya ke perutnya yang mulai membesar.
"Tadi aku menggendong anak kita, Mas, dia sangat tampan." Nur lalu terisak-isak.
"Kamu bermimpi, sayang!" Ali mencium kening istrinya. Merasa bersyukur istrinya selamat.
"Ali, apa dalam waktu dekat ini kamu ada meminjam uang kepada seseorang?" tanya Abah Kiai yang langsung di iyakan oleh Ali dan Nur.
"Iya, saya memang ada meminjam uang kepada Nadya. Teman Nur. 30 juta. Uang itu saya gunakan untuk memulai bisnis saya. Kenapa memangnya Abah Yai?" tanya Ali heran.
__ADS_1
"Kembalikan uang itu segera, kalau tidak mau terjadi malapetaka dalam keluarga kalian." Ucap Abah Kiai mengingatkan.
"Tapi uangnya sudah habis Abah Yai. Digunakan modal usaha." Ali menatap sendu istrinya.
"Nanti, kamu kembalikan uang itu. Nanti gunakan uang kas pondok saja. Bisa kamu cicil nanti setiap bulannya. Ingat untuk dikembalikan, karena itu uang umat!" ucap Abah Kiai.
"Iya, Abah Yai. Terima kasih atas pertolongannya.
" Mas, tadi dalam mimpiku, aku bertemu sepasang suami istri. Katanya dulu dia bekerja sebagai penjaga kost dan pembantunya Nadya. Mereka kasihan sekali Mas, menjadi penunggu danau. Karena jenazah mereka masih terpendam di sana." Ucap Nur dengan berlinang air mata.
"Mereka pasti korban pesugihan juga. Besok kamu ke pondok, ambil uangnya, lalu kembalikan ke wanita itu. Lain kali, harus hati-hati kalau menerima kebaikan orang. Jangan asal mau menerima saja. Kamu paham?" ucap Abah Kiai.
"Setelah istrimu sembuh, tinggal di pondok saja dulu. Biar Abah Yai bisa menjaganya. Siapa tahu mereka masih penasaran dengan istrimu. Yang gagal mereka jadikan tumbal. Kamu juga kang Ali, harus banyak-banyak berzikir meminta perlindungan kepada Allah. Tadi wanita itu mengirim pelet untuk kamu. Untung saja tadi Abah berhasil menangkalnya dan mengembalikan kepada yang mengirimkan. Kamu harus perbanyak ibadah kamu. Jauhi perempuan itu. Dia hanya akan membawa malapetaka dalam hidup kamu!" pesan terakhir Abah Kiai sebelum pulang.
"Abah pulang dulu. Jaga istri dan anak kamu. Ingat itu!" Abah Kiai dan beberapa santri yang tadi di ruangan itu akhirnya pulang.
Ibu Nyai dan orang tua Nur yang mengobrol di luar lalu menyambut mereka yang keluar dari kamar perawatan Nur.
"Bagaimana Nur?" tanya Papahnya Nur.
"Alhamdulillah sudah siuman, Pah!" jawab Ali.
Papah dan Mamah Nur lalu masuk ke dalam. Merasa senang akhirnya anaknya bangun dari koma. Mereka sampai meninggalkan semua kesibukan mereka demi menjaga anaknya yang koma. Mereka sangat cemas dengan keselamatan anak dan juga cucunya yang masih dalam kandungan.
"Syukurlah kamu sudah siuman, Papah sangat senang!" ucap Papah sambil tersenyum.
__ADS_1