Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
186. Zidane Protes


__ADS_3

Zidane yang sudah berhasil menyelesaikan kuliahnya lebih cepat dari jadwal yang seharusnya. Sekarang dia sudah bersiap untuk kembali ke Indonesia setelah mendapatkan panggilan dari ayahnya.


" Papah nih ada-ada saja. Padahal aku ingin liburan dulu keliling Eropa. Aih, malah dipaksa pulang seperti ini, dasar menyebalkan!" protes Zidane misuh-misuh ketika dia kembali ke Jakarta.


" Awas aja kalau aku disuruh menemui gadis Barbar itu. Aku tidak akan mau kembali lagi ke Indonesia!" ucap Zidane merasa kesal kepada kedua orang tuanya yang memaksanya untuk pulang ke Indonesia.


Zidane mencari keberadaan orang tuanya yang menjemputnya dari bandara.


" Pasti mereka terlambat deh! Benar-benar bikin kesal saja." umpat Zidane sambil matanya melihat ke sekeliling bandara untuk mencari keberadaan kedua orang tuanya.


" Mas Zidane!" tiba-tiba saja suara seorang perempuan membuat Zidane terkejut.


" Aih gadis itu masih belum berubah juga!" ucap Zidane sambil melambaikan tangannya ketika dia melihat adiknya yang tampak sangat bahagia melihat dirinya.


" Hai Dek kamu sendirian aja jemput Mas?" tanya Zidane sambil mengerutkan keningnya ketika melihat adiknya hanya sendiri saja di bandara untuk menjemput dirinya.


" Tidak kok Kak! Aurel bersama dengan papa dan mama dan juga calon istri Kakak!" ucap Aurel sambil menatap kepada kakaknya dengan penuh perasaan bahagia karena akhirnya bertemu dengan sang kakak setelah 6 tahun tidak bertemu.



Visualisasi Zidane Abimanyu



Visualisasi Aurelia Putri


" Apa kamu bilang dek? Gadis Barbar itu juga ikut ke sini?" tanya Zidane kesal.


" Jangan kayak gitu dong Kak. Calon istri Kakak cantik kok. Nanti kalau sudah bertemu kakak pasti terpesona dengannya!" ucap Aurel dengan senyum sumringahnya.

__ADS_1


Aurel dan Marcella satu kelas karena mereka memang satu usia. Bisa dikatakan Aurel dan Marcella adalah sahabat yang selalu bersama kemanapun. Apabila mereka berada di rumah maupun di sekolahan.


" Tuh mereka!" ucap Aurel sambil menunjuk kepada kedua orang tuanya yang saat ini sedang berjalan sambil memegang tangan seorang gadis yang sangat cantik.


" Subhanallah! Ya ampun!" Zidane mengalami kesulitan menelan salivanya sendiri ketika dia bertemu kembali dengan Marcella setelah 6 tahun lamanya tidak pernah bertemu dengan calon istrinya.


" Benarkan kata Aurel? Kalau Kak Zidane pasti terpesona melihat calon istri Kakak?!" ucap Aurel sambil tersenyum simpul kepada sang kakak yang saat ini masih terpesona melihat Marcella yang sedang berjalan ke arahnya bersama dengan kedua orang tuanya.


" Diam Dek! Kau mengganggu konsentrasi Kakak aja!" ucap Zidan sambil mentoyor kepala adiknya karena sejak tadi ribut terus.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Zidane menyalami kedua orang tuanya begitu mereka sampai di hadapannya.


" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!" ucap mereka bertiga bersamaan menjawab salam dari Zidane.


Zidane mencium telapak tangan kedua orang tuanya dengan begitu khidmat setelah perpisahan mereka selama 6 tahun ada perasaan rindu terhadap mereka berdua.


' Tumben nih gadis Barbar dia anteng banget hari ini. Padahal biasanya tidak bisa diam!' batin Zidane sambil menatap ke arah Marcella yang masih membeku di tempatnya.


" Marcella cepat kau cium telapak tangan calon suamimu jangan diam saja dari tadi!" ucap Bima tersenyum kepada Marcella yang saat ini melirik sekilas kepadanya.


" Iya Om!" jawab Marcella karena dia merasa sungkan terhadap Bima yang selama ini selalu memperlakukannya dengan sangat istimewa.


Sheila pun kemudian mengulurkan telapak tangannya untuk bisa bersalaman dengan Zidane dan kemudian mencium telapak tangan Zidane dengan sangat terpaksa.


'Ya ampun kalau bukan karena Om Bima mana Sudi aku mencium tangan kodok burik ini!' umpat Marcella sambil melirik sinis kepada Zidane yang saat ini sedang mengurutkan keningnya.


' Nih kelinci jelek. Ngapain dia menatap gue kayak gitu? Benar-benar minta dicium apa ya?' bathin Zidane. seketika Zidan merasa terkejut dengan apa yang ada di dalam pikirannya.


' Di cium? Ya ampun jangan sampai hal seperti itu terjadi dalam hidupku!' ucap Zidane merasa kesal dengan pikirannya sendiri yang untuk sesaat terpesona dengan kecantikan Marcella.

__ADS_1


" Ya udah yuk! Kita langsung pulang aja. Oh ya kita mampir dulu ke restoran ya? Untuk kita makan siang di sana!" ucap Sheilla sambil mengulas senyum bahagianya melihat putranya kembali ke Indonesia dengan selamat.


" Maafkan saya tante. Tapi saya harus segera kembali ke sekolah. Karena saya masih ada les untuk pelajaran tambahan!" ucap Marcella menginterupsi perkataan Sheila.


" Kita makan siang dulu sayang? Kamu pasti lapar kan nanti setelah makan siang Om akan mengantarkanmu ke sekolah!" ucap Bima sambil tersenyum kepada Marcella yang akhirnya pasrah dengan keadaan dan mengikuti mereka sampai ke restoran dan makan siang bersama.


' Ya ampun! Kapankah penderitaanku berakhir kenapa aku harus berhadapan dengan kodok burik itu. Benar-benar menyebalkan!' batin Marcella sambil melirik horor kepada Zidane yang saat ini sedang menatapnya dengan penuh kekaguman.


' Kenapa dia terus menatapku seperti itu apakah matanya ingin ku colok?' batin Marcella sambil menatap tajam kepada Zidane yang tidak mau mengalihkan pandangannya dari wajahnya.


" Maafkan saya Om. Bisakah saya izin ke toilet sebentar?" tanya Marcella kepada Bima yang sedang sibuk menghabiskan makan siangnya.


" Ya Sayang! Kau Pergilah!" Bima memang sudah menganggap Marcella sebagai anaknya sendiri karena dialah yang dahulu menginginkan untuk menjadikan anak dari Dipta sebagai calon menantunya.


Kalau untuk menjodohkan Aurel dan Shello itu tidak mungkin. Karena jarak lahir mereka terlalu dekat dan akan terasa sangat janggal. Oleh karena itu mereka memutuskan untuk menjodohkan Marcella dan Zidane yang rentang usia mereka cocok dan tidak terlalu jauh terpaut.


Flash back on


"Zidane yang lebih dewasa akan membimbing Marcella yang usianya lebih mudah darinya.!" ucap Bima memberikan penjelasan kepada mengenai pilihannya untuk menjodohkan Zidane dan Marcella.


" Ya sudah kita serahkan saja kepada nasib. Apakah benar mereka akan berjodoh atau tidak. Akan tetapi kalau pada akhirnya mereka tidak bisa saling mencintai. Saya harap kau tidak keukeuh untuk memaksakan mereka menjadi pasangan!" ucap Dipta ketika itu.


" Tenanglah mereka pasti akan saling mencintai. Aku bisa melihat kok kalau karakter mereka bisa saling melengkapi satu sama lain!" ucap Bima dengan penuh keyakinan.


" Yah kita doakan saja yang terbaik untuk mereka berdua yang penting aku hanya meminta satu hal padamu. Kalau sampai mereka tidak saling mencintai. Jangan sekali-kali memaksakannya keinginan kita kepada mereka. Karena hal yang terpaksa itu tidak ada kebaikan di dalamnya!" ucap Dipta meminta konfirmasi kesanggupan dari Bima mengenai keinginannya tersebut.


" Sudahlah serahkan saja semuanya kepada Allah. Kalau mereka berjodoh, alhamdulillah! Kalau tidak berjodoh, ya tidak apa-apa! Pasti Allah akan menyiapkan jodoh yang terbaik untuk mereka dan silaturahmi kita juga tidak akan terputus hanya karena mereka tidak menjadi pasangan suami istri!" ucap Kinan kepada mereka semua.


Sheila hanya diam saja. Dia tidak berani untuk berkata apapun. Karena dia merasa tidak enak kepada Dipta. Setelah kejadian dirinya yang meminta kepada Dipta untuk tidak menghubungi Bima lagi. Sampai saat ini Sheila merasa bersalah dan merasa malu kepada Dipta. Bahkan sampai saat ini nomor Sheila masih diblokir oleh Dipta. Sudah hampir 10 tahun lamanya.

__ADS_1


__ADS_2