
Setelah selesai sarapan, Riyanti dan Bagas langsung pindah ke rumah baru mereka. Rumahnya baru yang dibeli oleh Bagas menggunakan uang gajinya sebagai seorang dokter. Kedua orang tua Bagas sudah menunggu di sana, karena mereka sudah mempersiapkan selamatan kecil untuk pengantin baru tersebut, menempati rumah baru mereka. Agar rumahnya jadi nyaman dan aman.
"Assalamualaikum pengantin barunya Umi sama abah! Semoga kalian bisa menempati rumah ini dengan tenang dan bahagia. Semoga kalian bisa, membentuk rumah tangga yang baru. Rumah tangga yang sakinah mawadah dan warohmah. Yang terpenting, kalian bisa saling menghargai satu sama lain, antara seorang istri dan seorang suami!" sambutan dari ibunya Bagas.
"Terima kasih Umi, Abah! Yang sudah menyiapkan semua ini. Ini sangat bagus sekali. Rumahnya sudah rapi dan selamatannya juga cukup meriah. Bagas senang sekali! Maaf ya! Dari kemarin Bagas sudah merepotkan sekali sama Abah sama Umi!" ucap Bagas sambil merangkul ibunya. Tampak sekali, bahwa Bagas dekat dengan ibunya.
"Non Rianti, bisa langsung masuk ke kamar. Dan silahkan, menikmati rumah barunya. Semoga senang ya, tinggal di sini. Walaupun apartemen sederhana, tapi alhamdulillah, ya___ibarat kata, hasil kerja kerasnya Bagas selama 3 tahun, bekerja sebagai seorang Dokter, dikumpulkan menjadi rumah ini. Alhamdulillah Kami sangat senang sekali!" ucap ayahnya Bagas sumringah.
"Panggil Rianti aja, Abah! Kan, saya buka majikan Abah! Tapi menantunya Abah. Yang majikannya Abah kan hanya Papa sama Mamanya Rianti. Tapi, Rianti di sini adalah menantu Abah jadi Abah bisa memperlakukan Rianti sebagai menantu Abah. Tidak usah sungkan, ya?" ucap Rianti. Bagas tersenyum mendengarkan ucapan istrinya tersebut. Merasa bangga, karena istrinya ternyata bisa menghargai keluarganya, yang telah dihina oleh ibunya.
Setelah beres-beres, kemudian orang tua Rianti pun pulang. Karena waktu memang sudah sore, dan ingin memberikan waktu kepada pengantin baru tersebut, untuk menikmati apartemen baru yang mereka tempati saat ini.
"Alhamdulillah! Akhirnya! Semuanya beres! Para tetangga juga sudah pulang. Dan kita bisa menikmati Apartemen ini berdua saja untuk saat ini, tentu saja!" ucap Riyanti dengan sumringah, terasa bahagia hatinya, karena akhirnya dia sekarang telah berstatus menjadi seorang istri. Istri dari seorang Dokter bernama Bagaskara.
__ADS_1
"Alhamdulillah! Kalau kamu menyukai apartemen sederhana ini. Semoga, seiring berjalannya waktu, rezeki kita akan semakin bertambah. Dan aku bisa membawamu ke rumah yang lebih besar, di mana anak-anak kita bisa bermain dengan lebih leluasa!" ucap Bagas sambil mencium kening Riyanti. Riyanti merasa bahagia sekali, diperlakukan begitu manis oleh suaminya.
"Sekarang kita mandi, dan kemudian aku akan memasak untuk makan malam kita. Aku tidak tahu sih. Apakah Mas akan menyukai masakanku atau tidak. Tapi yang jelas, aku pasti akan terus berusaha dan belajar untuk bisa menjadi istrimu yang baik dan kau bisa bangga kepadaku sebagai istrimu!" ucap Rianti tersenyum kepada suaminya.
"Baiklah kau mandilah duluan! Mas akan membereskan dulu, semua kekacauan ini! Oke?" Rianti hanya mengangguk dan kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sendiri. Setelah itu, Rianti bersiap untuk memasak makan malam pertama mereka sebagai pasangan suami istri di apartemen baru mereka.
" Sayang! Ayo kita makan! Makanannya sudah siap!" ucap Rianti di dapur, Bagas masih mandi, tapi dia mendengar suara istrinya. Sehingga bergegas menyelesaikan mandinya. Setelah selesai, Bagas pun keluar dan menemui sang istri. Perasaan bahagia muncul di hatinya, ternyata Rianti, walaupun berasal dari keluarga kaya dan Raya, tetapi Rianti berusaha sangat keras untuk menjadi istrinya yang baik saat ini.
"Maafkan Rianti ya, Mas! Kalau masakannya tidak enak. Nanti Rianti pasti akan ngikutin kursus masak. Biar masakan yang Rianti masak, tidak mengecewakan lidah Mas!" ucap Rianti sambil meremas tangan suaminya.
"Apapun yang kamu masak, Mas pasti senang. Selama itu adalah buatan kamu. Kamu tidak usah khawatirkan Mas. Mas bisa makan apa saja kok, selama masakan itu "masih layak dimakan" ya?" ucap Bagas sambil memberikan "masih layak dimakan" dalam ucapannya, sehingga membuat Rianti tersipu malu. Takut makanannya termasuk kepada tidak layak dimakan oleh suaminya.
Bagas kemudian mencoba masakan Rianti. Tampaknya dia menyukai makanan tersebut, Bagas tidak terlalu banyak berkomentar. Hanyalah memakannya sampai tuntas, sehingga Rianti pun merasa senang dan makan dengan tenang bersama dengan suaminya.
__ADS_1
Setelah membereskan sisa makan malam mereka bersama-sama, akhirnya Riyanti dan Bagas memilih untuk menonton televisi di ruang tengah. Yah, benar! Hari ini mereka habiskan hanya berdua saja. Menikmati waktu sebagai pengantin baru. Bagas diberikan cuti oleh rumah sakit selama satu minggu, jadi mereka bisa memiliki quality time sebagai pengantin baru.
"Oh ya sayang? Rencananya, kamu ingin bulan madu ke mana? Mas akan berusaha untuk mewujudkan impianmu. Tapi, bulan madunya jangan terlalu mewah ya? Yang biasa aja! Kamu tahu kan, gajinya Mas, sebagai seorang Dokter, tidak sebesar pemasukan ayahmu yang seorang konglomerat itu!" ucap Bagas dengan senyum menggodanya. Rianti jadi gemas dengan suaminya.
"Aku nggak butuh bulan madu yang mewah kok. Aku cukup butuh kamu aja, di samping aku! Kemanapun Mas membawaku pergi, Aku pasti senang!" ucap Rianti bermanja kepada suaminya.
Bagas senang mendengar ucapan istrinya tersebut, sehingga Bagas memberikan hadiah sebuah kecupan sekilas, untuk sang istri. Yang sontak membuat Rianti tersipu malu, dengan perlakuan manis suaminya tersebut.
"Mas itu, udah lama sekali tidak pulang ke kampung halaman! Mas kangen rasanya, untuk kita kembali mengulang masa kecil kita di sana. Pasti manis ya? Kalau kita kembali ke masa lalu yang indah. Di masa-masa kita berdua masih tidak mengerti apa-apa, tapi ternyata di sanalah, segala kisah bermula. Di sanalah, tempat yang telah mempersatukan hati kita berdua. Hingga sekarang kita telah resmi menjadi suami istri!" ucap Bagas dengan berbinar-binar. Ada rona bahagia yang terpancar di matanya yang bening dan jernih.
"Wah, pasti senang sekali! Kalau kita bisa kembali ke sana. Rianti juga kangen dengan kampung halamannya Mas Bagas. Ayo, Mas! besok kita pergi ke sana! Wah, pasti akan sangat menyenangkan!" Rianti tampak tidak sabar untuk mengunjungi kampung halaman Bagas, yang sudah selama lebih dari 15 tahun tidak pernah dia kunjungi lagi.
Ya, karena setelah lulus SMP, Rianti langsung pindah ke luar negeri, mengikuti Kakek dan neneknya di sana dan melanjutkan sekolah di sana sampai kuliahnya selesai. Riyanti baru kembali selama beberapa tahun ini setelah menyelesaikan kuliahnya di sana.
__ADS_1