Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
209. Haruskah?


__ADS_3

Dinda berusaha untuk menekan perasaannya saat itu ketika mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raffi kepadanya.


" Baiklah Gus saya akan kembali ke pesta semoga semua baik- baik saja." ucap Dinda meninggalkan Raffi sendirian.


" Kenapa berurusan dengan perempuan itu sulit sekali? Belum apa-apa sudah membuat kepusingan yang demikian rupa!" ucap Raffi sambil meninggalkan tempat itu dan masuk kembali ke ruangan pesta.


Sementara itu Elena yang saat ini sedang mengobrol bersama Kinan dan Dipta mulai menikmati pesta yang ada di hadapannya karena dia merasa disambut oleh tuan rumah.


" Kak bisa anterin saya pulang tidak Kepala saya rasanya pusing!" bisik Dinda kepada Rehan yang saat ini sedang sibuk mengobrol dengan Aurel.


" Apakah kamu sakit Dinda?" tanya Rehan.


" Tidak Kak aku hanya pusing saja dan sedikit lelah Aku ingin tidur di rumah!" ucap Dinda sambil tersenyum kepada kakaknya.


" Baiklah Aurel aku permisi dulu nanti tolong sampaikan kepada Raffi kalau dia pulang menggunakan taksi saja karena aku tidak akan kembali lagi kemarin!" pesan Rehan kepada Aurel untuk disampaikan kepada Raffi yang saat ini sedang mengobrol bersama Dipta dan juga Kinan.


Sebenarnya hati Rehan pun merasa jengkel terhadap Raffi karena terkesan membiarkan Elena mendominasi dirinya.


" Sudahlah lupakan saja Raffi. Masih banyak laki-laki yang lebih baik dari dia kakak akan mengalahkan kepadamu teman-teman kakak yang hebat!" ucap Rehan sambil melirik kepada adiknya.


" Tapi orang tua kita sudah menjodohkan kami berdua sejak lama. Bahkan tanggal pernikahan pun. Bukankah sedang disusun oleh para tetua?" tanya Dinda sambil melirik sekilas kepada Rehan.


" Kakak tidak suka melihatmu harus menangis seperti ini!" ucap Rehan sambil melirik kepada adiknya.


" Mungkin Dinda harus belajar ikhlas dan menerima takdir Allah yang digoreskan di dalam hidup Dinda!" ucap Dinda berusaha untuk tersenyum kepada kakaknya.

__ADS_1


" Hatimu terlalu baik Dek. Sehingga kau selalu memaafkan kesalahan orang lain. Walaupun sebenarnya hatimu berdarah!" ucap Rehan sambil mengelus pucuk kepala adiknya yang sangat dia sayangi.


" Kakak tahu kalau kamu menyukai Raffi dan berharap dia suatu saat bisa menjadi imam untuk keluargamu. Tetapi kita pun tidak bisa memaksakan yang namanya jodoh. Kau harus ikhlas dan tawakal kalau sampai memang kalian gagal dalam rencana perjodohan itu!" ucap Rehan memberikan nasehat kepada adiknya.


" Ya Kak saya berjanji akan berusaha untuk mengikhlaskan segalanya dan selalu bertawakal kepada Allah!" ucap Rehan berusaha menghibur adiknya.


" Bagaimana dengan kakak? Tampaknya Kakak sangat dekat dengan Aurel!" ucap Dinda sambil melirik kepada kakaknya.


" Dia itu hanya anak kecil. Anak SMA! Lulus sekolah saja belum. Bagaimana mungkin Kakak bisa menjadikan dia sebagai calon istri Kakak?" tanya Rehan dengan wajah seriusnya.


" Emangnya kakak tidak melihat kalau Marcella pun belum lulus sekolah? lah sekarang dia menikah dengan Zidane!" ucap Dinda sambil melirik kepada sang kakak yang tampak tergelak dalam tawa.


" Kalau itu kejadian khusus!" ucap Rehan.


" Maksud kakak?" tanya Marcella kepada kakaknya.


" Kakak tahu dari mana? Awas kak, hati-hati! Jangan menyebarkan fitnah!" ucap Dinda sambil menggelengkan kepalanya.


" Aurel sendiri yang bercerita padaku. Kalau Zidane itu sedang patah hati. Dikarenakan wanita yang dia cintai akan menikahi laki-laki lain. Jadi dia mendesak kepada Marcella untuk mempercepat rencana pernikahan mereka yang seharusnya 5 tahun lagi." Ucap Rehan.


" Kenapa menjadikan pernikahan sebagai sebuah permainan pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan suci!" ucap indah tampak tidak menyukai apa yang dilakukan oleh Zidane.


" Entahlah kakak juga tidak paham yang penting kan kakak tidak melakukan itu. Biarkanlah orang lain kalau mau melakukannya!" ucap Rehan.


Begitu mereka sampai di rumah. Dinda langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci diri.

__ADS_1


" Apakah aku harus menyerah untuk bersama dengan Gus Raffi?" tanya Dinda kepada dirinya sendiri.


" Mungkinkah? Kalau Gus Raffi dan Elena memang mempunyai rencana sendiri untuk dalat menyatukan hubungan mereka di belakangku?" tanya Dinda.


" Sudahlah Istirahatlah Jangan memikirkan hal yang tidak penting kalau kalian memang berjodoh Allah pasti akan mempertemukan kalian berdua di kursi pelaminan dan pernikahan yang suci!" ucap Rehan ketika dia melihat adiknya yang tampak sedang melamun seorang diri di balkon kamarnya.


" Kak Apakah aku tidak terlihat sebagai wanita yang layak untuk dicintai oleh Gus Raffi?" tanya Dinda kepada sang kakak yang dia tahu sangat menyayanginya.


" Kalau kakak bukan kakakmu Dek! Kakak pasti Kakak akan langsung melamarmu dan menjadikanmu sebagai istriku!" ucap Rehan sambil tersenyum kepada Dinda.


" Kakak ini aneh ditanya apa menjawab apa!" ucap Dinda sambil tersipu.


" Sudah Dek kamu beristirahat ya nanti kalau kode orang tua kita pulang dari pesta kakak akan mencoba untuk berdiskusi kembali tentang rencana pernikahanmu bersama dengan Gus Raffi!" gocap Rehan menenangkan adiknya yang tampak sedang galau dan juga patah hati.


" Tampaknya hanya Elena yang mencintai Gus Raffi kau bisa tenang! Sejak dulu kamu kan tahu kalau Kakak mengenal dia lebih dari apapun!" ucap Rehan.


" Apakah kakak tahu kalau sebenarnya Dinda mencintai Gus Raffi?" tanya Dinda sambil menundukkan kepalanya.


" Tentu saja kakak tahu. Sejak dulu kamu hanya mengabdikan hidup untuk dia. Kamu tidak pernah melirik laki-laki manapun dan di matamu hanya ada Raffi!" ucap Rehan sambil terkekeh melihat adiknya yang langsung berbaringkan tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya dengan bantal.


" Aku sangat malu Kak kalau ternyata aku memperlihatkan sekali perasaanku terhadap Gus Raffi padahal Seharusnya aku bisa menahan diri dan menyembunyikan perasaan itu untuk diriku sendiri." ucap Dinda seperti menyesali apa yang sudah terjadi.


" Sudahlah menyukai atau mencintai seseorang bukanlah dosa!" ucap Rehan.


" Yang menjadi dosa adalah bagaimana seseorang menyikapi rasa cintanya kepada orang lain. Apakah dia akan menggunakan segala cara untuk mewujudkan cinta tersebut ataukah dia akan bertawakal kepada Allah dan menyerahkan segalanya dengan keikhlasan dan juga keberanian diri untuk menerima segala keputusan yang terjadi di dalam kehidupannya!" ucap Rehan tersenyum kepada adiknya.

__ADS_1


" Semoga ya Kak. Kalau misalkan Dinda tidak berjodoh dengan Gus Raffi akan dikirimkan laki-laki lain yang lebih baik daripada dia dan sudah pasti laki-laki itu mencintai Dinda karena sebuah pernikahan tanpa cinta ibaratnya seperti sayur tanpa garam terasa hambar dan tidak ada artinya!" ucap Dinda berusaha untuk menghapus air matanya yang sejak tadi mengalir tanpa permisi.


Sejujurnya jauh di dalam lubuk hatinya. Dinda merasakan cemburu dan juga pedih memikirkan bahwa ada kemungkinan Raffi dan Elena akan menjadi sepasang suami istri.


__ADS_2