Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
76. Rencana Pernikahan Rianti dan Dr. Bagas


__ADS_3

"Bagi saya pribadi, saya tidak memandang status maupun golongan seseorang. Yang terpenting adalah pribadinya dan imannya. Saya tidak bisa menyangkal bahwa saya sendiri, tidak terlalu bagus dalam hal agama. Tetapi saya percaya dengan Bapak, yang sudah berhasil mendidik anak-anak Bapak, saya percaya, bahwa Dokter Bagas, juga pasti akan bisa mengarahkan Riyanti menjadi seorang pribadi yang jauh lebih baik lagi!" ucap Papanya Rianti.


"Kalau keyakinan Bapak seperti itu, saya bisa menerima, Pak! Semuanya terserah kepada Bapak. Nanti saya akan berusaha untuk menyampaikan niat Bapak ini, kepada anak saya, Bagas!" setelah menemukan solusi apa yang akan mereka lakukan akhirnya bapaknya Rianti dan sopir tersebut mengambil kesepakatan untuk menjodohkan kedua anak mereka dan mereka.


Pernikahan akan segera dilaksanakan apabila Dr. Bagas sudah sepakat dengan rencana itu. Mereka tidak akan mempertimbangkan pendapat Rianti dan istrinya.


Mereka berdua lalu kembali ke rumah sakit. Perasaan Papanya Rianti jauh lebih lega, setelah mendapatkan solusi tersebut. Saat ini, hanya itu jalan terbaik untuk jalan keluar dari masalah putrinya.


Sementara itu, Rianti sedang di periksa oleh Dokter Bagas, Rianti yang masih kesal karena Ali belum juga datang ke rumah sakit untuk mengunjungi dirinya, melemparkan semua barang milikinya, mengamuk! Dokter Bagas saat ini sedang berusaha untuk menenangkan pikiran Rianti yang sedang terganggu. Ibunya saat ini sedang khawatir, hanya bisa melihat keadaan anaknya dari kaca pintu.


"Tenanglah! Apa yang sedang Anda lakukan?" Dr.Bagas saat ini sedang memeluk Rianti yang hilang kendali.


"Aku ingin mati! Lepaskan aku!" teriak Rianti histeris.


"Tenanglah Nona! Hidup itu begitu berharga! Kenapa Anda ingin mati? Tidak ada masalah yang tidak bisa kita hadapi. Sabarlah!" ucap Dokter Bagas sambil memeluk tubuh Rianti. Rianti menangis terus dipelukan Dokter Bagas yang merasa hatinya terenyuh melihat gadis secantik Rianti harus mengalami derita cinta semacam itu.


Ketika itu, Papanya Rianti dan Papanya Dokter Bagas datang ke rumah sakit. Mereka menyaksikan adegan tersebut. Mereka berdua hanya saling pandang dan tersenyum. "Tampaknya kita berdua tidak usah melakukan apa-apa! Mereka berdua akan dekat secara alami. Apakah Bapak setuju?" ucap supirnya.


"Bapak benar! Tampaknya kita tidak perlu melakukan apa-apa. Biarkan saja seperti ini! Pasti lambat laun akan ada perasaan di antara mereka berdua. Kita berdua cukup memberikan mereka ruang untuk menghabiskan waktu bersama. Dan saya harap, Bapak untuk, ya, sedikit memancing Dokter Bagas, untuk bisa membuka hatinya untuk Rianti!" ucap Papanya Rianti.


Kemudian kedua pria paruh baya itu meninggalkan rumah sakit. Mereka kembali ke kantor milik Papahnya Rianti. Sudah beberapa hari ini, beliau tidak fokus mengerjakan tugas-tugasnya. Sehingga begitu banyak pekerjaan yang terbengkalai. Sang asisten sampai kalang kabut, untuk menghandle pekerjaan sang Bos yang tampaknya masih pusing mengurusi urusan anaknya yang masih tinggal di rumah sakit.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Non Rianti, Pak?" tanya asistennya yang sudah bekerja dengan nya lebih dari 10 tahun. Seorang pria yang cekatan dan rapih dalam bekerja.


"Alhamdulillah, sudah lumayan. Maaf ya, kerjaan jadi menumpuk!" ucapnya berbasa basi.


"Tidak apa-apa, saya sebagian sudah handle Pak, tapi untuk pekerjaan yang memang membutuhkan ACC dari Bapak, saya telah atur di meja. Bapak tinggal memeriksa dan memutuskan hal itu. Baiklah, saya kembali ke ruangan saya!" asistennya lalu keluar.


Sementara itu, Dipta yang baru saja kembali dari Purwokerto, langsung menemui Ali dan Nur, di rumah mereka. Kebetulan saat itu Ali masih sibuk mengatur para pekerja yang sedang mempersiapkan kamar untuk para santri nantinya.


"Assalamualaikum!" sapa Dipta. Ali langsung memeluk Dipta, begitu melihat kedatangan pria yang sudah dia tunggu selama hampir satu Minggu ini.


"Waalaikum salam! Ya Allah! Kenapa mau pergi tidak bilang-bilang? Saya sampai kelimpungan mencari!" Ali langsung mempersilahkan Dipta untuk duduk di ruang tamu. Nur yang kebetulan sudah selesai menidurkan Rafi, langsung bergabung dengan mereka.


"Hai Dip, kamu kemana aja? Kita berdua sampai pusing cari loe!" ucap Nur sambil bersalaman dengan Dipta.


"Gini, Dip! Minggu lalu, Papanya Rianti datang kesini. Meminta Mas Ali untuk menikah dengan Rianti!"


"Apa? Wah keterlaluan!" Dipta sudah naik darah.


"Rianti mencoba bunuh diri, dengan motong nadinya. Menurut kabar, katanya sampai sekarang belum pulang dari rumah sakit. Masih proses penyembuhan gitu!" Nur diam sesaat, melirik sekilas kepada suaminya.


"Lanjutkan!" ucap Ali dengan senyumannya.

__ADS_1


"Rianti minta Mas Ali untuk menikahi dia!" ucap Nur dengan nada tinggi. Ali hanya geleng-geleng saja.


"Apa Mas Ali sudah menghamili Rianti? Ko dia nskat kaya gitu?" tanya Dipta spontan.


"Astagfirullah! Saya tidak pernah melakukan perbuatan terkutuk semacam itu dengan Rianti!" Ali sudah memerah wajahnya. Merasa difitnah.


"Maaf, saya hanya bertanya. Lalu, kenapa Rianti begitu nekat?" tanya Dipta lagi.


"Cinta bertepuk sebelah tangan, atau cinta bertepuk berkali-kali! Kena korban PHP, mungkin?" sindir Nur sambil menatap suaminya.


"Sayang, Mas sudah bilang berkali-kali, Mas itu gak pernah kasih Rianti harapan apapun! Hubungan kami dulu hanya sebatas pekerjaan saja! Gak lebih! ? Mas hanya antar jemput Rianti saja, karena kasihan kalau dia berangkat kerja harus berdesakan naik angkot!" ucap Ali tanpa sengaja. Tapi siapa nyana, hal itu malah bikin Nur naik darah dan langsung bangun dari duduknya.


"Sekarang ngaku juga akhirnya! Antar jemput ya? Pantas saja! Siapa wanita yang gak akan baper? Diperlakukan secara manis seperti itu?" ucap Nur sinis, hatinya sudah berdarah-darah.


"Mas hanya menganggap Rianti sebagai adik, gak lebih! Dulu Rianti menipu Mas, katanya dia anak orang miskin. Ternyata dia anak orang kaya di Jakarta. Mas juga penasaran, kenapa Rianti melakukan hal itu!" ucap Ali berusaha menjelaskan semua duduknya perkara, agar istrinya tidak salah paham kepadanya.


"Gini, Dipta! Saya dan Papanya Rianti, memutuskan untuk menjajagi, siapa tahu, kalau kamu masih memberikan kesempatan kepada Rianti untuk bisa memulai sebuah hubungan dengan kamu!" ucap Ali, to the point.


"Yakin? Paling nanti nyesel, kalau mereka berdua benar-benar menikah!" Nur masih sinis dengan suaminya.


"Tidak akan, sayang! Mas itu cuma mencintai kamu!" ucap Ali. Nur melihat jendela. Malas menatap wajah suaminya.

__ADS_1


"Cinta, ko malah antar jemput wanita lain! Padahal istrinya baru saja melahirkan, berjuang demi memberikan anak buat Mas! Suaminya katanya mau kerja. Malahan main gila sama wanita lain? Pantas saja, anak orang sampai di buat gila begitu. Eh, malah pria lain, yang di suruh buat tanggungjawab!" Nur sudah kesal bukan main. Nur langsung bangkit dan berniat akan pergi dari rumahnya, tapi Ali langsung menggamit tangan Nur.


"Sayang! Mas tahu. Itu adalah kesalahan fatal, Mas! Mas minta maaf! Kalau hal itu, membuat Rianti berpikir bahwa Mas ada perasaan dengan dia! Tapi sungguh! Mas hanya menganggap dia sebagai adik! Gak lebih!" ucap Ali


__ADS_2