
"Baguslah!" ucap Bima sambil senyum ke arah Dipta.
Dipta mengerutkan keningnya tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Bima.
"Apa maksudmu? Aku tidak paham!" tanya Dipta kepada Bima yang saat ini sedang tersenyum kepadanya.
"Ya bagus kalau kamu tidak ada hubungan spesial dengan Anjani. Karena gue takut aja, kalau Lu nanti sedih lagi kalau tiba-tiba saja Anjani meninggalkan dunia ini!" ucap Bima dengan suara perlahan.
"Omongan lu makin ngawur saja! Jangan ngomong yang tidak-tidak. Kasihan! Kenapa kau doain yang buruk-buruk terhadap Anjani? Memangnya dia punya salah apa padamu?" tanya Dipta tidak mengerti dengan Bima yang saat ini seakan seperti bukan sahabatnya.
Bima yang dikenal oleh Dipta adalah seorang laki-laki yang mempunyai empati yang tinggi terhadap penderitaan orang lain. Bukan laki-laki egois yang ada di hadapannya sekarang.
Dipta sampai menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang saat ini sedang dia saksikan tentang Bima.
"Gue akan berubah jadi jahat! Kalau itu adalah masalah tentang lu! Gue pokoknya nggak bakalan biarin siapapun nyakitin lu!" ucap Bima dengan suara lantang.
"Bukan yang seperti itu yang gue harapkan dari lu. Tapi, jadilah diri lu sendiri dan gue hargain persahabatan yang lu tawarin ke gue!" ucap Dipta sambil menepuk bahu sahabatnya.
Keduanya terlibat pembicaraan yang begitu serius. Sampai melupakan waktu dan Dipta sampai lupa bahwa dia seharusnya sudah berada di kantor saat ini.
Sampai akhirnya telepon Dipta berbunyi dan itu berasal dari sekretarisnya.
"Bentar! Gue Angkat dulu telepon dari sekretarisnya gue! Gue takut kalau ini panggilan penting!" ucap Dipta kepada Bima.
Bima hanya mengangguk saja, untuk memberikan izin kepada sahabatnya untuk menerima panggilan itu.
"Assalamualaikum! Ada apa?" tanya Dipta ketika dia mengangkat panggilan dari sekretarisnya.
"Tuan Dipta! Kapan anda datang ke kantor? Ini para karyawan sedang ribut di kantor. Mereka ingin menanyakan tentang kenaikan gaji yang sudah direncanakan tahun kemarin!" ucap sekretarisnya Dipta memberi ketahukan situasi di kantor saat ini.
Dipta menepuk keningnya, karena baru mengingat tentang itu.
'Semuanya gara-gara Bima, pagi-pagi sudah ngajak omongan yang serius. Jadinya hal penting sampai terlupakan!' Ucap Dipta dalam hatinya.
__ADS_1
"Ya sudah saya segera ke kantor sekarang. Untuk sementara, kau handle dulu sebentar ya? Sampai aku tiba ke kantor!" ucap Dipta kemudian mengakhiri panggilan telepon tersebut.
Bima sudah mendengarkan apa isi percakapan antara Dipta dan sekretarisnya. Dia pun kini sudah bangkit dan bersiap untuk meninggalkan apartemen Dipta.
"Yah gue pulang dulu! Gue juga harus segera berangkat ke rumah sakit. Karena hari ini gue mulai bertugas!" akhirnya kedua sahabat itu pun keluar dari apartemen Dipta bersama.
Dua pria tampan yang sangat mempesona. Kini keduanya berjalan beriringan. Tentu saja mengundang decak kagum para gadis yang memperhatikan mereka.
visualisasi dua cogan ( Cowo Ganteng)
"Wah luar biasa! Kita berdua ternyata masih memiliki fans fans fanatik!" ucap Bima sambil tersenyum ke arah Dipta.
"Sejak dulu, kau selalu saja seperti itu. Sangat senang menjadi pusat perhatian para wanita!" ucap Dipta tampak risih ketika dia melihat gadis-gadis itu seperti yang ada mendekati mereka berdua.
Dipta kini bahkan semakin mempercepat langkahnya. Agar bisa terhindar dari gadis-gadis yang kini mulai histeris melihat mereka berdua.
Bima hanya tertawa melihat sahabatnya yang saat ini sedang misuh-misuh. Karena merasa kesal, melihat sekarang mereka berdua sudah diikuti oleh gadis-gadis yang ngefans kepada mereka berdua.
Berbeda dengan Bima. Dia tampak menikmati suasana seperti seorang bintang itu. Dia bahkan sampai melambaikan tangannya dan juga tersenyum kepada gadis-gadis yang semakin histeris gara-gara kelakuan dia.
Dipta hanya menepuk keningnya. Merasa frustasi. Melihat kelakuan Bima yang memang tidak ada matinya.
"Gue langsung ke kantor gue! Terserah deh, lu mau ngapain sama mereka semua!" ucap Dipta kemudian dia melambaikan tangannya kepada Bima, sahabatnya yang sampai sekarang masih bertahan bersamanya.
Dipta sebenarnya mempunyai banyak teman. Hanya saja, sampai sekarang yang masih bertahan di dalam hidupnya, hanyalah Bima yang menemaninya dalam suka dan duka.
Hanya saja, kelakuan Bima yang tengil itu, yang selalu membuat Dipta harus selalu mengelus dada, melihat kelakuan Bima yang luar biasa absurd.
"Ya sudah hati-hati di jalan! Jangan lupa nanti hubungin gue, kalau lo sudah sampai di kantor!" ucap Bima berpesan kepada Dipta.
"Ih gila lu ah! Emang siapa lu? Istri gue juga bukan! Masa gue harus selalu ngelaporin apapun sama lu? Lu jangan bikin gue jadi merinding deh, Bima! Bisa gak sih, lu biasa saja!" ucap Dipta sambil dia masuk ke dalam mobilnya lalu langsung meninggalkan Bima begitu saja.
__ADS_1
Bima hanya tawa terbahak-bahak melihat Dipta yang sekarang marah kepadanya, hanya gara-gara dia yang selalu menggodanya.
Memang, selama persahabatan mereka yang lebih dari 20 tahun itu, hanya Dipta bisa memahami semua kelakuan absurdnya.
Itu semua terbukti ketika dia berada di tempat bahaya. Hanya Diptalah, orang pertama yang datang untuk menyelamatkan dia. Tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri.
Persahabatan yang terjalin antara Dipta dan Bima. Tidak akan ada yang bisa sanggup untuk menyamainya. walaupun kelak kalau mereka masing-masing sudah mempunyai istri maupun anak.
Setelah merasa puas dengan suasana menjadi bintang itu. Bima pun langsung pergi ke apartemennya. Setelah mandi dan berganti pakaian, Bima langsung berangkat ke rumah sakit dan memulai kembali tugasnya sebagai seorang dokter di rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit, Bima langsung bertemu dengan kedua orang tuanya Anjani. Yang tampaknya sedang menunggu Putri mereka yang sedang dioperasi.
"Bagaimana kabar kalian berdua?" menyapa kedua orang tuanya Anjani yang tampaknya sedang sedih memikirman nasib putri mereka yang sedang berjuang di meja operasi.
"Alhamdulillah kami baik-baik saja dokter!Bagaimana dengan dokter?" jawab ayahnya Anjani kepada Bima.
"Alhamdulillah saya pun baik-baik saja! Oh, iya untuk masalah operasi putri kalian, kalian tidak usah khawatir. Saya sudah menugaskan dokter terbaik untuk mengoperasinya. Kalian hanya tinggal berdoa kepada Allah, semoga operasinya berjalan dengan lancar dan putri kalian bisa sembuh dari penyakitnya!" ucap Bima memberikan semangat kepada kedua orang tuanya Anjani.
"Bagaimana kabarnya Nak Dipta? Kami sudah tidak bertemu dia selama dua hari." tanya ibunya Anjani kepada Bima tentang Dipta sahabatnya.
"Kabar Dipta baik-baik saja! Kalian harus maklum. Saat ini Dipta sedang menghadapi masalah di perusahaannya. Jadi dia masih belum ada waktu untuk menengok Anjani di sini. Nanti kalau masalahnya di kantor sudah selesai. Dipta pasti akan menyempatkan diri untuk menengok Anjani!" ucap Bima.
Kemudian Bima menceritakan apa yang sedang terjadi di perusahaan Dipta saat ini. Sehingga membuat kedua orang tua Anjani merasa prihatin kepada Dipta.
Yang saat ini sedang menghadapi masalah besar di perusahaannya yaitu tentang karyawannya yang sedang meminta naik gaji karena sudah mulai awal tahun.
"Semoga masalah Nak Dipta bisa segera selesai!"doa ayahnya Anjani.
"Aamin!" ucap Bima.
"Baiklah Pak, Bu! Saya harus segera kembali ke ruangan saya. Karena ini adalah hari pertama saya bekerja. Setelah saya kembali dari Kalimantan." ucal Bima kemudian dia pun berpamitan kepada kedua orang tuanya Anjani. Yang masih setia menunggu putrinya keluar dari ruang operasi.
Bima sebetulnya merasa prihatin kepada mereka berdua Anjani. Karena dia sangat tahu kondisi Anjani saat ini. Yang sangat memprihatinkan. Bahkan operasi pun mungkin tidak bisa menyelamatkan nyawa wanita muda itu.
__ADS_1