Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
49. Rencana Balas Dendam


__ADS_3

Pov Rianti


Perkenalan namaku Rianti, saat ini aku kuliah di fakultas Ekonomi di universitas negeri di kota Purwokerto. Aku adalah adiknya Nadya, yang sekarang mendekam di penjara karena perbuatan sepasang suami istri yang usil dengan kehidupan kakakku. Mereka membongkar praktik pesugihan yang di lakukan oleh Kakaku tersebut.


Aku datang ke kota ini karena mendapatkan misi dari kedua orang tuaku untuk membalaskan dendam keluarga kami, kepada pasangan itu. Karena mereka, kakakku kehilangan segalanya. Kedua orang tuaku sangat murka.


"Rianti, buat mereka berpisah! Kalau kamu sampai berhasil menikahi pria bernama Ali itu! Semua harta kekayaan Nadya dan juga harta papah, akan menjadi milik kamu semuanya!" ucap Papahnya Rianti dengan mata berapi-api.


"Betul, Pah?" tanyaku tak percaya.


"Memang kapan, papah kamu ini bohong sama kamu? Papah kasih kamu waktu dua bulan! Buat pria itu bertekuk lutut sama kamu! Buat dia meninggalkan istrinya itu! Kalau bukan karena wanita itu memberikan informasi tentang pesugihan kakak kamu, sekarang kakak kamu pasti sudah wisuda, dan sudah kumpul bersama kita! Perempuan itu harus di kasih pelajaran!" Ya, Papahku sangat marah sekali kepada pasangan itu, mereka sudah membuat kakakku, Nadya di penjara 15 tahun lamanya.


Anak kebanggan papahku, aku sebenarnya gak terlalu respek dengan kakakku, aku juga gak perduli dengan dia yang saat ini di penjara. Aku malah senang, gak ada lagi orang yang sok hebat di depanku. Tapi, mendengar tawaran papahku, yang akan memberikan seluruh harta Kak Nadya dan harta papahku juga. Aku sungguh tidak sabar untuk memiliki itu semua.


Kecil lah, perkara menaklukkan seorang pria kampung. Bukan masalah besar bagiku. Di kampusku, aku terkenal sebagai pemburu pria tampan. Kalau aku sudah menargetkan seorang pria, mereka tidak akan pernah lolos dari tanganku.


Hari itu aku sampai ke Purwokerto, aku mencari tahu tentang pasangan itu dari pengacara keluargaku yang waktu itu menjadi pembela kakaku. Setelah mendapatkan info, aku langsung mengintai dan mengamati pria yang menjadi targetku. Selama seminggu lebih, aku mengawasi pria yang sederhana itu.


"Ah, gampang kalau menaklukkan pria macam dia!" ucapku mantap! Hari itu juga, aku putuskan untuk mendekati targetku.


Aku pergi ke Mall terbesar di kota ini. Aku akan membeli beberapa gamis, guna menunjang rencana ku agar berhasil. Aku sangat tahu bagaimana caranya menaklukkan pria macam dia.

__ADS_1


Setelah mendapatkan beberapa gamis yang sebenarnya tidak aku sukai, tapi tak apalah! Demi harta yang tidak akan habis tujuh turunan, aku rela melakukan apapun. Kalau aku berhasil dengan rencanaku, aku akan membawa semua harta itu dan pindah ke luar negeri. Berfoya-foya dan menghabiskan waktu dengan bersenang-senang.


Aku mematut diriku di depan cermin, lumayan cantik juga pakaian gamis ini. Seumur hidupku, ini adalah kali pertama aku menggunakan pakaian seperti ini. Cukup menggelikan bagiku, tapi aku tahan. Demi harta yang melimpah!!!


Aku sudah ada di depan toko target ku, dia tampaknya sangat sibuk dan repot melayani konsumen. Aku jadi punya ide untuk bisa mendekati pria itu. Aku akan melamar jadi karyawan dia. Menjadi penjaga toko, aku rasa itu pekerjaan yang mudah, kecil itu!


Dengan mantap, aku mendekatinya. Saat toko sudah mulai sepi dan dia duduk santai sambil menghitung uang di meja kasir.


"Assalamualaikum," ucapku sehalus mungkin.


"Waalaikum salam, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah. Aku tersenyum kepadanya.


"Ya, Pak! Saya sedang mencari pekerjaan, apakah Bapak sedang butuh karyawan? Saya bisa melakukan apa saja, Pak! Asal bapak menerima saya buat kerja disini!" ucapku sememelas mungkin. Mengunakan trik sebagai orang miskin.


"Kebetulan sekali, saya memang sedang butuh seorang karyawan! Kalau kamu mau, kamu boleh mulai kerja sekarang juga!" ucapnya dengan berbinar. Ah, ternyata semudah ini, mendekati dia. Kenapa aku kemarin harus buang-buang waktu untuk mengamati dia? Bodohnya aku!


"Benarkah? Terima kasih, Pak! Oh ya, perkenalan, nama saya Rianti. Oh ya, Pak. Saya bisa kerjanya setelah dhuhur ya, karena kalau pagi saya harus kuliah. Tapi nanti kalau tidak ada jadwal pagi, saya pasti bantu Bapak kerja!" janjiku.


"Ya, gak apa-apa. Atur saja waktu kerjanya. Sesuai jam kuliah kamu. Saya senang kalau kamu masih semangat mencari ilmu." ucapnya.


Setelah bicara beberapa patah kata, kemudian dia mengajariku cara melayani pembelian. Dia membuat catatan harga setiap barang. Lalu menempelkan di tembok, supaya memudahkan diriku saat dia tidak ada di tempat.

__ADS_1


Hanya dalam seminggu, aku sudah mahir dalam bekerja. Pak Ali juga tampaknya puas dengan kinerja ku. Dia sering membelikan aku makan siang dan makan malam. Dia pria yang baik.


Setelah seminggu berinteraksi dengan pria yang menjadi targetku, aku mulai mengalami kegalauan. Pria baik ini, apa iya aku akan tega buat memisahkan dia dengan keluarganya? Di saat galau begini, dia malah menghujani diriku dengan kebaikan dia. Setiap hari dia mengantar aku pulang ke kostku. Aku tersentuh dengan perhatian dia. Dia nampaknya tulus padaku.


Setiap hari dia membangun diriku untuk sholat shubuh. ketika di toko, selalu mengingatkan aku untuk sholat tepat waktu. Ya, sejak aku kenal dan dekat dengan dia, kehidupan ku berubah 180°, aku yang dahulu gak pernah sholat dan gak pernah mengaji, kini semakin rajin. Hatiku tambah galau saja rasanya.


"Rianti, bagaimana perkembangan rencana kita? Apa kau sudah berhasil menaklukkan pria itu?" pagi ini papahku sudah menelpon.


Ya, sudah sebulan sejak tantangan itu, waktuku tinggal sebulan lagi. "Masih sebulan waktunya, Pah! Papah sabar saja!" jawabku mantap.


"Ya sudah, Papah tunggu kabar baiknya! Jangan kecewakan kami!" ucap Papah sebelum menutup telponnya. Aku termenung di kamarku. Saat aku mulai gamang, aku lihat Mas Ali sudah ada di depan pintu kostku. Mau menjemput aku kerja.


Hatiku seketika bahagia. "Apakah aku sudah jatuh cinta kepadanya?" tanyaku sambil melihat ke arah dia dari jendela kamarku.


Pria sederhana yang tampan. Wajahnya mirip dengan Indra L Brugman. Hanya saja, dia versi bersarung dan berkopiah. Hehehe.


"Assalamualaikum, Mas! Tambah ganteng saja!" ucapku menggodanya.


"Kamu juga makin cantik!" ucapnya sambil tersenyum kepadaku.


"Oh, ya! Mas mau bilang sama kamu, tolong jaga toko ya! Mas mau ke Cirebon, mau jemput anak sama Istrinya Mas! Kasihan mereka kalau tidak di jemput!" ucapnya sambil menatapku lembut.

__ADS_1


Seketika hatiku rasanya panas, aku gak rela kalau dia pergi menjemput istrinya. "Kenapa istri Mas gak dibiarkan tinggal di Cirebon saja? Disana pasti banyak keluarga dia yang bantu urus bayi Mas!" aku berusaha agar dia melupakan niatnya menjemput istrinya.


__ADS_2