
Dipta menarik nafasnya dengan dalam, kemudian dia menatap Bima dengan lekat.
"Gue juga dulu nggak percaya dengan kejadian itu. Selama berapa bulan, gue sampai bingung harus menetapkan sikap di antara mereka bertiga?" ucap Dipta.
"Rianti bahkan pernah hampir bunuh diri, karena menginginkan untuk menikah dengan pria tadi! Sangking frustasinya dia karena cintanya ditolak!" ucap Dipta.
Bima sampai menutup mulutnya, saking terkejutnya dengan sebuah fakta tentang Rianti yang baru saat ini dia ketahui.
"Itulah dulu yang menjadi suatu sebab, kenapa kedua orang tuanya Rianti kemudian menjodohkan Riyanti dengan dokter Bagas. Karena kedua orang tuanya ingin berusaha untuk menyelamatkan Riyanti dari perasaan patah hati terhadap laki-laki tadi!" ucap Dipta meneruskan ceritanya tentang Rianti kepada Bima, sahabatnya.
"Perasaan dulu lo, bilang kalau Rianti pernah mau dijodohin sama Lu, gimana ceritanya?" tanya Bima dengan rasa penuh penasaran.
"Itu karena kedua orang tuanya Riyanti yang mendatangi mereka dan meminta untuk menjadikan Riyanti sebagai istri kedua dari Ali. Dan Ali, mengusulkan untuk Rianti dijodohkan dengan gue. Tetapi saat itu, gue sedang pergi ke Purwokerto untuk mengunjungi makam istri dan anak gue. Sehingga akhirnya kedua orang tua Rianti menjodohkan Riyanti dengan Bagas yang kebetulan saat itu adalah dokter yang menangani Rianti, ketika dia dirawat di rumah sakit, gara-gara bunuh diri dengan memotong nadinya!" ucap Dipta menceritakan segala fakta tentang Rianti di masa lalu.
"Tapi, itu semua adalah cerita masa lalu dari seorang Riyanti. Yang sekarang telah berubah 180 derajat. Sekarang Rianti telah menjadi seorang istri solehah yang mencintai suaminya dan juga rela berjuang demi kebahagiaan keluarganya!" ucap Dipta sambil tersenyum kepada Bima.
Dipta tahu bahwa Bima masih memiliki perasaan cinta untuk Rianti.
Oleh karena itu, Dipta memang sengaja menceritakan fakta masa lalu tentang Rianti.
Agar Bima bisa sedikit menghapus perasaan cinta itu, yang sekarang telah menjadi cinta yang terlarang. Karena Riyanti telah menikah dengan dokter Bagas.
Kehidupan Riyanti dan dokter Bagas begitu bahagia. Bahkan yang Dipta dengar, sekarang Rianti sedang hamil anak pertama mereka.
"Sekarang lu bekerja di rumah sakit yang sama dengan Bagas. Pasti lu akan sering bertemu dengan Rianti." ucap Dipta pelan.
__ADS_1
Dipta menyeruput teh manisnya Untuk melegakan tenggorokannya yang sedap tadi terus berbicara bersama dengan Bima.
Begitu pula dengan Bima, dia pun mengikuti apa yang dilakukan oleh sahabatnya.
"Untuk ke depannya, Lu harus bisa menjaga perasaan lu, jangan sampai memberikan masalah kepada mereka berdua!" pesan Dipta kepada Bima.
"Iya gue tahu! Lu tenang aja! Gue juga bukan laki-laki b******* kok. Yang mau merebut istri orang lain! Apalagu, suaminya sebaik dokter Bagas. Gue selama 1 bulan kemarin tinggal di Kalimantan bersama dengan mereka. Sedikit banyak bisa melihat bahwa mereka saling mencintai!" ucap Bima dengan suara sendu.
Bima kembali mengingat masa lalunya. Ketika dulu mereka bertiga tinggal bersama di Kalimantan.
Di mana mereka bertiga saling membantu dan bahu-membahu. Untuk menyelamatkan para korban bencana gempa yang terjadi di Kalimantan saat itu.
"Dokter Bagas itu seorang laki-laki yang baik dan dia juga terlihat sangat mencintai Rianti. Oleh karena itu, gue sudah mengikhlaskan Riyanti untuk bersama dokter Bagas. Insya Allah perasaan cinta gue sama Rianti sudah hilang tak berbekas!" Dipta merasa bahagia sekali, ketika dia mendengarkan pengakuan monumental dari Bima.
"Ayo kita balik ke kantor! Jam makan siang kayaknya sudah lewat dari tadi. Heran gue, kalau ngomong sama lo, kayaknya se jam 2 jam tuh, rasanya nggak pernah cukup! Haha!" ucap Dipta tertawa, sambil melihat Bima yang juga tertawa saat ini.
"Kita ini kan memang Soulmate Bro! Jadi wajarlah! Kalau kita selalu asik bicara dan mengobrol bersama. Tau nggak sih luh, dip? Sepanjang hidup gue, gue itu hanya dekat sama lu!" ucap Bima memberitahukan pengakuan yang luar biasa kepada Dipta.
"Idih jijik! Lu nggak usah ngegombalin gue deh! Gue ini cowok dan gue masih suka cewek!" ucap Dipta sambil bergidik ngeri, sambil menatap Bima yang saat ini malah tertawa horor kepada dirinya.
"Ah, sialan lu! Lu juga sama aja kayak karyawan lu! Yang mengira kalau gue ini cowok nggak normal. Lu kira gue naksir sama lu? Idih amit-amit! Gue juga masih naksir sama cewek, Bro!" ucap Bima sambil menatap horor kepada Dipta.
Bima dan Dipta akhirnya meninggalkan restoran tersebut dan kembali ke kantor Dipta. Bima mengambil Mobilnya di sana.
Setelah mengambil mobilnya. Bima langsung kembali ke rumah sakit dan bertemu dengan kedua orang tuanya di sana.
__ADS_1
Tampak kedua orang tuanya sedang berdiri di samping seorang gadis yang sangat cantik yang Bima tidak kenal siapa perempuan itu.
"Papa sama Mama sudah lama di rumah sakit?" sapa Bima ketika bertemu dengan mereka berdua.
BIma lalu mengajak kedua orang tuanya untuk masuk ke dalam ruangannya. Dan juga perempuan tadi, yang masih belum juga diperkenalkan oleh kedua orang tuanya kepada Bima.
"Dari mana aja sih Bim? Dari tadi Papa sama Mama nungguin kamu di sini. Kamu itu, kami teleponin juga nggak kau angkat-angkat!" ibunya Bima protes kepada putranya.
Bima kemudian memeriksa ponselnya yang ternyata dia setel dalam mode silent. Pantas saja, kalau dia tidak mendengarkan ketika ibunya menelpon dirinya.
"Maaf, ponselnya Bima setel dalam mode stylent jadi tidak dengar panggilan mama!" Delta kemudian mempersilahkan kedua orang tuanya dan perempuan yang masih misterius itu untuk duduk di sofa yang tersedia di ruangannya Bima.
"Oh, ya! Bima! Kenalkan ini adalah anak dari sahabatnya papamu yang tinggal di Surabaya itu kau ingat tidak sama dia?" ibunya sambil menatap putranya yang saat ini sedang geleng-geleng kepala.
"Mama tidak usah berputar-putar begitu! Kalau mau memperkenalkan, kenalkan saja! Jangan bikin kepala Bima jadi pusing untuk memikirkan hal yang gak penting!" ucap Bima to the point.
Ibunya Bima yang gemes dengan putranya, dia langsung memukul kepala Bima.
"Dasar kamu itu, ya! Kau selalu saja seperti itu sama orang tuanya betul-betul bikin gemes sekali!" protes ibunya Bima sambil memukul kembali kepala Bima.
"Sakit, tau mah! Mama kenapa sih sejak dulu nggak pernah berubah senang sekali menganiaya Bima yang tidak berdosa ini!" siap Bima merengek dengan memasang wajah Innocent nya di hadapan ibunya.
Sementara itu, ayahnya Bima dan perempuan misterius itu. Mereka hanya geleng-geleng saja melihat interaksi antara ibu dan anak itu.
Yang lebih persis seperti kucing dan anjing yang sejak bertemu, terus saja berantem dan tidak jelas memperebutkan apa.
__ADS_1