
Dipta langsung mencari ponselnya dan berusaha untuk menghubungi calon istrinya yang sejak tadi siang sangat sulit untuk dihubungi.
"Ada apa dengan Nadia? Kenapa sejak tadi siang nomor ponselnya masih centang satu. Apakah dia sedang sakit atau bagaimana ya?" tanya Dipta sambil menimbang-nimbang ponsel di tangannya.
"Baiklah besok aku akan menemui Nadya di rumahnya. Karena bagaimanapun juga, masih banyak hal yang harus kami persiapkan mengenai rencana pernikahan kami!" ucap Dipta dengan penuh percaya diri.
Dipta tampak menatap langit-langit kamarnya. Sudah selalu sejak lama. Semenjak istri pertamanya meninggal karena kecelakaan. Dipta sudah terbiasa hidup sendiri. Akan tetapi ketika dia bertemu dengan Nadia dia merasakan bahwa jantungnya kembali berdebar kencang, merasakan jatuh cinta kembali kepada Nadya.
Tampak Dipta sedang tersenyum seorang diri. Ketika dia mengingat kejadian pertama kali bertemu dengan Nadya di restoran malam itu, yang benar-benar sangat absurd baginya.
"Aku tidak pernah menyangka bahwa akan datang hari seperti itu dalam hidupku. Yang sangat-sangat dan benar-benar memalukan! Mungkin Nadia memikirkanku sebagai seorang laki-laki b******* yang bisa mencium seorang gadis yang baru pertama kali aku temui!" ucap Dipta sambil mengulas senyum yang begitu bahagia di bibirnya. Karena mengingat bahwa pernikahannya sebentar lagi bersama dengan Nadia.
Ketika Dipta sudah bersiap untuk pergi tidur tiba-tiba saja ponselnya berdering.
"Akhirnya dia menghubungiku Setelah begitu lama aku menunggunya!" ucap Dipta mengulas senyum yang begitu manis di bibirnya. Sehingga menambah kadar ketampanan seseorang Dipta.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Dipta memberikan salam kepada Nadia.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh! Maaf ya Mas? Karena seharian ponselku aku tinggalkan di rumah. Aku pergi bersama mama dan juga Rianti untuk memesan gaun pengantin yang akan digunakan olehku pada saat pesta pernikahan kita!" ucap Nadia menjelaskan kepada calon suaminya mengenai dirinya yang sejak tadi siang menghilang dari peredaran seorang Dipta.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak mengajakku? Bukankah aku juga membutuhkan untuk tuxedo dan beberapa hal yang lainnya untuk pesta pernikahan kita?" tanya Dipta.
"Aku dan juga bersama mamaku, kami pergi memilih pakaian pengantin bersama dengan mamamu. Dia yang melarangku untuk mengajakmu!" ucap Nadia akhirnya berterus terang tentang keinginan ibunya Dipta yang tidak mengizinkan putranya untuk ikut bersama dengan mereka.
"Apa alasannya Mama melakukan hal seperti itu? Bukankah itu adalah pernikahanku?" tampak derita sangat kecewa dengan sang ibu yang tidak mengizinkan dia untuk ikut bersama Riyanti dan juga Nadia untuk memilih tuxedo yang akan dia gunakan pada saat pesta pernikahan mereka berdua.
"Mamamu sudah memilihkan semuanya untukmu. Mama bilang dengan cara seperti ini akan semakin mendekatkan hubunganku dengan mama!" ucap Nadia dengan begitu fasih memanggil ibunya Dipta dengan sebutan mama sehingga membuat Dipta merasa sangat bahagia dibuatnya.
"Coba ceritakan padaku bagaimana caranya kau bisa menaklukkan Mamaku sehingga dia menyuruhmu untuk memanggil mama?" tanya Dipta tampak begitu penasaran dengan sang calon istri yang sudah berhasil menaklukkan ibunya yang keras kepala.
"Aku tidak melakukan apa-apa sama mama! Tiba-tiba saja tadi pagi mama datang ke rumah dan mengajakku bersama mamaku untuk menyiapkan dan juga mencari gaun pengantin untuk pernikahan kita!" ucap Nadia.
"Maksudmu aku tidak mengerti!" tanya Nadia.
"Apa kau tahu? Selama hidupku, sangat banyak perempuan yang dekat denganku dan menginginkan untuk menjadi istriku. Akan tetapi mereka semua kabur setelah melihat Mama yang tidak pernah merasa puas dengan calon istri yang kubawa!" ucap Diptaa jujur tentang keadaan dirinya di masa lalu.
"Mama memiliki begitu banyak standar untuk menjadi calon menantunya. Bahkan istri Pertamaku pun tidak dia sukai. Almarhum istriku bahkan sampai diusir olehnya pada saat aku pergi berdinas ke luar kota. Apa kau tahu? Mamaku seorang perfeksionis dan tidak mudah untuk ditaklukkan!" ucap Dipta menerangkan segalanya tentang mamanya yang begitu perfeksionis dan juga pilih-pilih untuk menjadi seorang menantunya.
"Aku tidak tahu sih. Apakah aku sudah termasuk bisa menaklukkan Mamamu atau tidak. Tapi yang jelas, tadi siang Mamamu memintaku untuk memanggilnya Mama. Dia bilang untuk aku belajar secara perlahan-lahan untuk memanggil dia mama! agar kalau kita sudah menikah aku sudah terbiasa memanggilnya mama!" ucap Nadia dengan begitu bahagia.
__ADS_1
"Syukurlah! Aku sangat bahagia sekali mendengarkan ceritamu. Aku berharap semoga mama bisa mencintaimu sebagai anaknya juga dan semoga rencana pernikahan kita akan berjalan dengan baik-baik saja tanpa halangan apapun!" ucap Dipta sumringah karena dia merasa sangat bahagia sekali saat ini perasaannya.
"Ya sudah ya sayang?? Aku tidur dulu. Sudah jam 01.00 malam. Aku khawatir kalau kau pun sudah mengantuk! I love you and I want you for to be with me!" ucap Dipta sebelum dia menutup panggilan teleponnya tetapi Nadia hanya terdiam saja di seberang sana.
"Why you are silent?? Do you never loving me?" tanya Dita dengan jantung yang berdebar kencang karena dia sangat takut Nadia memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Love You More and I want you also for always to be with me!" ucap Nadia sambil menutup telepon tersebut.
Di seberang sana, tampak Dipta yang sangat kegirangan ketika mendengarkan jawaban dari Nadia yang mengatakan bahwa dia pun sangat mencintainya.
Sementara di kamar tamu, tampak Bima yang kesulitan tidur. Bima masih memikirkan perkataan Sheila yang meminta Untuk membatalkan pernikahan mereka sementara pernikahan mereka tinggal dua hari lagi.
"Apakah aku harus mengikuti saran dari Dipta untuk meminta maaf kepada Sheila dan berjanji untuk selalu memprioritaskan dia di atas Dipta? Tetapi kalau aku melakukan hal itu pasti salah akan semakin besar kepala dan dia pasti akan semakin banyak menuntutku. Sejak saat itu, aku akan hidup dalam tekanannya untuk selamanya!" Bima benar-benar frustasi memikirkan nasib pernikahannya bersama dengan Sheila yang sekarang berada di ujung tanduk.
"Tetapi apa yang dikatakan oleh Dipta juga benar. Bahwa cinta tidak datang dua kali dalam hidup kita dan juga aku tidak boleh menyesal kembali seperti dulu aku ketika kehilangan Rianti!" ucap Bima kembali mengenang masa lalunya. Di saat dia begitu patah hati melihat Riyanti yang bermesraan dengan Dipta sahabatnya yang sangat dia sayangi dan kasihi.
"Tetapi aku pasti akan sangat kesulitan kalau hidup tanpa Dipta. Bagaimanapun selama 15 tahun ini hidupku penuh warna dan juga indah bersama dengan Dipta! Dialah sahabat sejatiku selama ini dan aku tidak rela kalau harus kehilangan dia hanya karena wanita!" ucap Bima memutuskan apa yang akan dia lakukan.
"Biarlah besok aku datang ke kediaman Sheila untuk mengkonfirmasi. Apakah dia akan melanjutkan pernikahan ini ataukah ingin mengakhirinya saja. Bagaimanapun aku tidak ingin mengemis kepadanya hanya untuk menjadi istriku!" ucap Bima benar-benar berada di dalam dilema.
__ADS_1
Bima benar-benar tidak tidur semalaman, karena Bima terus berpikir tentang Sheila.