
Kelahiran putra pertama sungguh sangat luar biasa. Suamiku amat bahagia, kami menghabiskan banyak waktu bersama untuk merawat bayi kami. Setelah seminggu, suami harus kembali ke Purwokerto, toko kami menunggu, tidak enak juga kalau terlalu lama meninggalkan kepada teman atau pegawai kami.
"Mas pergi dulu ya, nanti kalau kau sudah sehat dan bisa berpergian jauh, Mas jemput kamu dan bayi kita." suamiku berpamitan pagi ini.
Sejak kemarin kang Miftah memang terus menelpon, meminta suamiku untuk kembali. Katanya banyak barang yang kosong, dan perlu belanja. Sementara dirinya tidak paham untuk melakukan hal tersebut. Memang hal seperti itu adalah tugas pemilik toko bukan?
"Hati-hati, Mas! Jangan ngebut di jalan!" pesanku.
"Jangan nakal, ya! Jagoannya Babah!" pesan suamiku sambil mencium anak kami, Rafi!
Ya, sejak hari itu, aku dan suamiku harus berjauhan untuk sementara waktu. Usia bayiku baru satu Minggu, kata orang Jawa, pamali kalau di ajak pergi ke luar sebelum 40 hari.
Rumah kembali sepi, adikku sudah berangkat ke Sumedang, untuk kuliah di sana. Papahku kalau siang sibuk di pabrik penggilingan dan juga ke sawah. Ibu muda ini, hanya tinggal sendirian di rumah bersama bayiku.
Alhamdulillah, bayiku sangat pengertian dengan kondisi mamahnya. Dia tidak rewel sama sekali. Bayi tampanku, cinta pertamaku!
Aku sibuk dengan mengurus anakku, dan suamiku di sana sibuk dengan toko kami. Waktu sungguh terasa sangat lama, kalau berjauhan dengan suamiku.
"Cucu Abah sudah mandi?" sapa Papahku saat melihat Rafi yang sudah tampan dan wangi.
Papah senang kalau sudah bermain dengan cucunya. Cucu kesayangannya. Aku tidak tahu, apakah suamiku sudah mengabari keluarga di Sulawesi tentang kelahiran putra kami atau belum.
Yang punya nomornya dia soalnya.
Setelah 40 hari, suamiku datang untuk menjemput aku dan anakku, kami menyewa sebuah mobil, karena khawatir dengan bayi kami yang baru berusia 40 hari.
"Bagaimana keadaan toko, Mas?" tanyaku saat kami tengah dalam perjalanan.
__ADS_1
"Alhamdulillah, baik-baik saja. Mas kemarin menerima seorang karyawan buat bantu-bantu Mas jaga toko. Toko kita sekarang sudah mulai ramai, Mas gak sanggup kalau hanya kerja sendiri! Kang Mifta hanya membantu kalau dia sedang senggang saja. Mas butuh seorang karyawan yang bisa on time selama toko buka sampai tutup." suamiku menerangkan situasi toko terkini.
"Maaf, ya! Mas menerima karyawan baru gak diskusi dulu sama kamu!" ucapnya sambil meremas tanganku.
"Iya, Mas! Gak apa-apa, selama buat kebaikan toko kita!" ucapku sambil tersenyum.
"Terima kasih atas pengertiannya!" suamiku tampak sangat bahagia.
Aku merasakan ada sesuatu yang berbeda, Tatapan mata suamiku rasanya tidak seperti biasanya. Entahlah, aku juga sulit menjelaskan.
"Mas sudah selidiki latar belakang karyawan baru kita atau tidak?" tanyaku. Suamiku tampak gelagapan dengan pertanyaanku.
"Mas gak sempet melakukan hal itu. Pikiran Mas, secepatnya mendapatkan seorang karyawan untuk membantu kerjaan Mas di toko. Cuma itu!" jawaban suamiku membuat aku mulai curiga sesuatu. Gak biasanya, nada suaranya agak berbeda. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Semoga saja.
Setelah 4 jam dalam perjalanan, kami akhirnya sampai di toko kami, sampai sekarang kami masih tinggal di kamar yang ada di toko. Maklumlah, kami kemarin harus membayar uang 30 juta kepada pondok, lalu aku juga habis melahirkan anak pertama kami.
"Alhamdulillah, toko kita tambah banyak syock barangnya, Mas!" ucapku bahagia.
"Assalamualaikum!" sapaku kepada gadis itu.
"Waalaikum salam, bu! Perkenalan nama saya Rianti. Saya karyawan baru disini, Bu!" ucap gadis itu sambil mencium tanganku.
Gadis muda, berusia sekitar 18 tahun, gadis yang cantik dan manis. Dari kejauhan, aku melihat suamiku tampak serius menatap Rianti. Hatiku mulai merasa tidak nyaman.
"Ada apa ini? Perasaan apa yang kini aku rasakan?" 'Rintihku dalam hati. Aku lihat suamiku melewati Rianti, mereka berdua saling melempar senyum, suamiku tersenyum manis sekali kepada Rianti. Tiba-tiba hatiku rasanya panas.
"Semoga yang aku pikirkan salah, ya Allah!" doaku dalam hati.
__ADS_1
Setelah membereskan barang-barang aku memilih untuk istirahat saja. Kepalaku tiba-tiba pusing, melihat interaksi suamiku dengan Rianti.
Sesak rasanya hatiku. Suamiku bilang, Rianti sudah sebulan kerja di toko kami. Apa yang telah terjadi selama satu bulan itu? Kenapa aku merasa suamiku saat ini berubah ya?
Tak aku rasakan ciuman hangat dia lagi saat kami bertemu setelah sekian lama berpisah. Dia datar aja gitu, bikin hatiku bertanya-tanya. Ada apa dengan perubahan sikap suamiku.
Saat malam hari, aku perhatikan suamiku sedang sibuk dengan ponselnya. Tampak tersenyum-senyum sendiri. Kelakuan suamiku sungguh membuat aku curiga.
Saat suamiku sedang tidur, aku mencoba membuka ponsel suamiku. "Ya Allah!" aku membaca banyak sekali chattingan suamiku dengan Rianti. Memang hanya obrolan receh dan tampak tidak ada artinya, tapi tidak tahu kenapa, hatiku rasanya sangat sakit.
"Apa hati kamu sudah mendua, Mas?" tanyaku sambil menatap wajah suamiku yang sedang terlelap. Tanpa terasa air mataku menetes begitu saja. Aku kemudian mem-block nomor Rianti lalu menghapus riwayat chatting mereka, menghapus nomor nya juga. Aku mencatat nomor Rianti ke dalam ponselku.
"Besok akan aku tanyakan hubungan mereka berdua. Aku gak suka dengan situasi macam ini." aku lalu memilih tidur di lantai saja. Memikirkan suamiku main gila dengan karyawan kami, sudah membuat dirimu rasanya hampir gila.
"Kenapa tidur di lantai?" Tiba-tiba suamiku menegurku. Dia terbangun saat ini.
Dia melihat ponsel nya, tampak mengotak Atik ponselnya. Aku melihat alisnya mengerut, lalu melihat ke arahku.
"Apa kamu tadi membuka ponselku?" tanyanya dengan suara dingin.
"Kenapa memangnya?" tanyaku, gak kalah dingin.
"Aku hanya merasa aneh dengan ponselku. Ya sudah, gak apa-apa. Ayo kita tidur! Naiklah kesini! Jangan tidur di lantai, nanti kamu sakit!" ucapnya.
Tidak ada lagi kata sayang yang keluar dari bibir suamiku, seperti dahulu. Hatiku tiba-tiba merasa sakit dan perih. Mataku sudah berkaca-kaca, tapi sekuat hatiku aku tahan. Agar air mata tidak keluar. Aku hanya menatap suamiku dalam diam.
"Mas, apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan kepadaku?" tanyaku dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Gak ada, udah! Ayo tidur! Sudah malam! Besok aku harus bangun pagi buat belanja keperluan toko!" ucap suamiku lalu meringkuk di kasur kami.
Dia tidak perduli lagi kepadaku. Aku masih mematung di tempatku semula. Aku lihat suamiku sudah terlelap lagi. Aku pun memutuskan untuk tidur lagi, di lantai tentu saja! Hatiku rasanya sakit sekali. Membayangkan suamiku telah membagi hatinya untuk Rianti. Karyawan baru kami.