
Ayahnya Elena yang langsung datang ke kediaman Dipta untuk menjemput putrinya disambut meriah oleh keluarga Dipta yang saat ini sedang bahagia dengan pernikahan putrinya.
" Selamat datang Pak semoga anda senang dengan acara ini!" sambut Dipta menyalami duta besar Indonesia untuk Mesir, ayahnya Elena.
" Terima kasih banyak saya datang kemari hanya untuk menjemput putri saya yang katanya sedang berada di pesta ini!" ucapnya sambil mencari keberadaan Elena yang saat ini sedang mengobrol bersama dengan Kinan dan juga Aurel.
" Mari saya antarkan anda untuk bertemu dengan Elena!" ucap Dipta sambil mempersilahkan duta besar untuk mengikutinya.
Sementara itu Raffi yang saat ini sedang memperhatikan Dipta dan ayahnya Elena Dia hanya bisa menarik nafasnya dengan dalam.
" Lebih baik aku pulang saja aku merasa akan ada sesuatu yang buruk menimpaku kalau aku tetap ada di sini!" ucap Raffi galau.
" Raffi Kau mau ke mana Ayo temani Om untuk bertemu dengan ayahnya Elena!" tiba-tiba saja Dipta sudah berada di belakang Raffi dan mengejutkannya.
" Ada apa om? Saya harus segera pulang karena di pondok membutuhkan saya!" dusta Raffi karena dia tidak ingin bertemu dengan ayahnya Elena khawatir kalau akan disinggung lagi masalah lamaran oleh Elena kepada sang ayah.
" Sudah ayo cepat ikut om kalau jangan banyak alasan!" Dipta menarik tangan Raffi untuk mengikutinya.
" Tapi om saya benar-benar harus pulang!" Raffi tetap menolak untuk mengikuti Dipta.
" Tenanglah Raffi Om tidak akan menggigitmu om hanya memintamu untuk menemani duta besar kau kan sudah kenal dengan dia Jadi kalian bisa berbicara dengan tenang dan juga nyaman!" ucap Dipta kepada Raffi.
" Saya juga tidak kenal dia Om saya tidak pernah bertemu dengan dia secara pribadi saya hanya kenal dengan Elena itu pun tanpa sengaja!" ucap Raffi.
" Ya sudah tidak apa-apa kalaupun kau tidak mengenalnya Yang penting kan kau kenal dengan Elena itu sudah cukup buat om!" ucap diftah tetap memaksa Raffi untuk mengikutinya.
__ADS_1
" Kenapa Om harus melakukan ini padaku?" tanya Raffi kepada Dipta.
" Karena Om tahu kalau Elena itu mencintaimu!" ucap Dipta tersenyum kepada Raffi.
" Baiklah om saya akan ikut dengan om tetapi Om tidak boleh memaksa saya untuk berbicara dengan Elena. Saya hanya akan menemani ayahnya!" ucap Rafi pada akhirnya menyerah.
" Baiklah kau bisa lakukan itu!" ucap Dipta sambil tersenyum kepada Raffi.
Sementara itu Raffi terus menatap Elena yang tampak akrab bersama dengan Kinan.
" Entah kenapa perasaanku benar-benar tidak enak!" ucap Raffi di dalam hatinya ketika melihat betapa Kinan memperlakukan Elena dengan baik.
" Apakah kamu yang bernama Raffi yang selalu diceritakan oleh Elena kepadaku?" tanya ayahnya Elena ketika Raffi sudah berada di hadapannya.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh perkenalkan namaku Raffi!" ucap Raffi sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan ayahnya Elena yang merupakan Duta Besar Indonesia untuk Mesir.
" Saya hanyalah laki-laki biasa! Elena yang terlalu memandang tinggi saya sehingga dia melakukan hal-hal aneh hanya untuk menarik perhatian saya!" ucap Raffi merasa tidak enak hati kepada ayahnya Elena yang harus jauh-jauh datang dari Mesir hanya untuk menjemput anaknya yang kabur gara-gara mencari dia.
" Apa kau tahu? Sebenarnya awalnya saya tidak merestui kamu untuk menjadi suami putriku. Tetapi setelah bertemu denganmu. Sepertinya kau layak untuk diperhitungkan oleh keluargaku!" ucap ayahnya Elena sambil tersenyum kepada Raffi.
Sementara itu difta hanya tersenyum mendengarkan apa yang dikatakan oleh ayahnya Elena kepada Raffi.
Tidak jauh dari tempat Mereka berdiri tampak Rianti dan dokter Bagas memperhatikan semua yang terjadi di ruangan itu.
" Pah tampaknya kita harus segera berbicara dengan kedua orang tuanya Raffi untuk segera mengurus masalah Perjodohan antara Putri kita dengan anak mereka!" ucap Riyanti ketika dia melihat dan mendengarkan semua pembicaraan yang ada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
" Kita tidak bisa memaksakan kehendak kalau memang Raffi bukan jodoh Putri kita, kita biarkan saja. Papa tidak akan memaksakan!" ucap Bagas kepada Rianti.
" Tetapi aku bisa tahu kalau Dinda sangat mencintai Raffi bagaimana kita akan membiarkan anak kita mengalami patah hati di usia semudah itu?" tanya Rianti kepada suaminya.
" Papa hanya bisa melihat keseriusan Raffi kalau dia memang mencintai Putri kita dia pasti akan memperjuangkannya kalau tidak apa mau kita kata kita pun tidak bisa memaksakan suatu hati untuk bertaut dengan hati yang lain!" ucap Bagas menerangkan segalanya kepada sang istri.
" Apa kau tahu sebenarnya saat ini Papa benar-benar sedang ragu. Apakah benar Raffi mencintai Putri kita atau tidak?" ucap Bagas kepada istrinya.
" Sudahlah Pah ayo kita pulang Mama sudah tidak nyaman berada di sini sepertinya keberadaan kita pun tidak dibutuhkan oleh Dipta maupun Kinan. Lihatlah mereka lebih memperdulikan duta besar itu dan cuek terhadap Kita sejak tadi!" ucap Rianti yang Mulai kumat sifat sensitifnya.
" Apa kau tahu kau sangat cantik ketika sedang marah seperti itu!" ucap Bagas kepada suaminya.
" Dalam keadaan seperti ini Papa masih sempat ya menggoda mama?" ucap Riyanti sambil misuh-misuh kepada suaminya dan langsung meninggalkan area pesta untuk pulang ke rumah.
" Kita pamitan dulu kepada Dipta tidak sopan kalau kita pergi begitu saja!" ucap Bagas kepada Rianti.
" Mama tunggu di mobil saja Pa. Mama tidak senang melihat apa yang terjadi di dalam sana. Rasanya sakit hati Mama ketika mendengarkan Dipta yang tampaknya setuju Raffi untuk menikah dengan Elena!" ucap Riyanti langsung melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam mobil mereka yang terparkir di luar.
Bagas mengerti perasaan istrinya yang sangat menyayangi putrinya dia pun kemudian mendekati diftah yang masih sibuk berbicara dengan duta besar yang merupakan ayah dari Elena.
" Maafkan saya Dipta istriku tampaknya sedang sakit dan meminta untuk pulang segera!" ucap Bagas ketika dia sudah berhadapan dengan Dipta.
" Baiklah dokter Bagas Terima kasih banyak atas waktu anda dan juga keluarga anda yang sudah banyak membantu keluarga kami untuk terlaksananya pernikahan ini!" ucap Dipta sambil bersalaman dengan Bagas.
" Om saya ikut dengan om untuk pulang ke pondok. Saya harus segera pulang karena di pondok sedang membutuhkan saya!" ucap Raffi berbicara kepada Bagas.
__ADS_1
" Nggak apa-apa Kalau kau ingin ikut dengan om tapi izin lah dulu kepada Tuan rumah!" ucap Bagas kepada Raffi.
" Om Dipta Saya benar-benar menyesal. Akan tetapi saya benar-benar harus pulang sekarang!" ucah Raffi mau minta izin kepada Dipta yang tampak kecewa melihatnya pulang dengan cepat.