Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
74. Membujuk Dipta


__ADS_3

"Ya sudah, terimakasih, Merry! Atas informasinya!" Nur lalu menutup telponnya.


"Dipta sedang jiarah ke makam anak dan istrinya, di Purwokerto!" ucap Nur. Ali menatap istrinya sejanak.


"Apa Mama tahu, letak makam istri dan anaknya Dipta? Mungkin kita bisa menyusul kesana. Sambil kita juga silaturahmi ke pondok. Kalau pikir-pikir, kita sudah lama loh, ninggalin Purwokerto!" ucap Ali sumringah.


"Boleh juga, sih! Tapi aku gak tahu, dimana letak makamnya. Dahulu, ketemu sama Dipta di bus, selama ini juga tidak pernah bertanya tentang hal itu!" jawab Nur.


"Coba telepon Merry lagi tanyakan alamat makamnya jadi kita bisa menemukan Dipta di sana!" ucap Ali.


Tapi bukannya bergegas menelpon Merry, Nur malah menatap Ali dengan tatapan yang penuh dengan misteri. Sama sekali tidak bisa terbaca ekspresi yang tergambar di wajahnya, begitu abstrak.


"Kenapa?" tanya Ali keheranan.


"Kenapa Mas begitu bersemangat sekali, ingin segera menghubungi Dipta? Apa Mas begitu khawatirnya dengan masalah Rianti? Kenapa Mas nggak ngaku aja sih? Kalau Mas itu sebenarnya mencintai dia?" sengit Nur mulai menangis lagi. Ali malah geleng-geleng kepala.


"Mama nih, ada-ada aja, pikirannya! Papa itu betul-betul murni hanya ingin membantu kedua orang tuanya Rianti, tidak lebih dari itu! Ya sudah, kalau Mama tidak suka Papa mengurus masalah ini! Papa angkat tangan saja, oke?" tanya Ali lalu berusaha mendekati istrinya.


Ya Ali sangat takut dengan kemarahan istrinya. Soalnya, istrinya ini kalau marah benar-benar tidak bisa diprediksi. Dulu saja, dia sempat kabur begitu lama dari dia. Sehingga dia begitu kesulitan untuk menemukan istrinya tersebut. Kalau bukan karena jebetulan malam itu, Rianti tidak tiba-tiba membuat janji makan malam bersama, mungkin sampai saat ini dia tidak akan pernah bertemu dengan istri dan anaknya lagi.


"Percayalah! Papa benar-benar tidak ada perasaan apapun sama Rianti!" ucap Ali sudah putus asa.


"Kalau dulu, Mas itu tidak keganjenan menggoda Riyanti! Tidak mungkin, sampai saat ini Riyanti sampai tergila-gila seperti itu! Semua ini tuh, salahnya Mas, tau nggak? Jangan terlalu baik terhadap perempuan? Akhirnya menciptakan impian-impian kosong, sehingga dia malah jatuh dalam pesonamu!" Nur sudah merah matanya.


" Iya Papa salah! Maafkan Papah, oke? Udah, kita tidak usah bahas ini lagi! Papa janji nggak akan lagi ikut campur masalah Rianti! Oke? Sekarang Mama senang?" Ali berusaha menggenggam tangan istrinya, namun di tepis oleh Nur, yang saat ini sedang marah luar biasa.

__ADS_1


"Sayang, udah dong! Jangan marah terus!" bujuk Ali.


"Pak ustadz, sudah sore, kami semua permisi!" ucap salah seorang pekerja yang tadi bekerja di pondok pesantren.


"Oh, ya, hati-hati di jalan, Pak! Terimakasih untuk hari ini!" ucap Ali sambil mengangkat kedua tangan untuk berpamitan dengan mereka.


Setelah semua pekerja pulang, Ali pun mencari istrinya di kamar, istrinya kini sedang menangis. Hatinya benar-benar bingung, harus bagaimana menghadapi seorang wanita kalau sudah seperti ini?


"Jadi maunya Mama, tuh bagaimana? Papa jadi bingung! Perasaan, Papa selama ini nggak pernah nemuin Riyanti lagi. Semua itu hanya masa lalu, kesalahan masa lalu, dan sudah beberapa kali, Papa minta maaf sama Mama! Kenapa Mama nggak bisa melupakan hal itu?" ucap Ali frustasi. Tiba-tiba adzan Maghrib berkumandang.


"Ya udah! Papa pergi ke masjid dulu, ya? Mama salat dan mandi. Tenangkan pikiran! Nanti kita bicara lagi masalah ini, kalau Mama mau. Kalau tidak, kita lupakan saja. Toh ini juga bukan masalah kita, oke?" ucap Ali, lalu pergi meninggalkan istrinya yang sedang menangis.


"Ayo kita bercerai!" tiba-tiba saja Nur bicara dengan suara yang serak,Ali terkejut dengan ucapan dan permintaan istrinya, Ali melangkah keluar dari kamarnya.


"Mari kita bercerai, jadi Mas bisa menikah dengan Rianti!" ucap Nur sambil mengikuti suaminya.


"Ya Allah! Lindungi keluarga hamba dari bencana ini!" doa Ali lirih sepanjang perjalanan ke masjid.


Senja begitu indah, burung-burung yang terbang, sudah kembali ke sarang mereka. Perasaan Ali yang sedang berkecamuk, membuat dia merasa berat sekali. Sampai dia kelelahan dan tertidur di masjid sampai shubuh.


Sementara itu, Nur tampak gelisah, karena hampir tengah malam, suaminya belum juga pulang ke rumah. Ponsel juga dia tinggal di rumah.


"Kenapa Mas Ali belum pulang juga, ya? Apa dia masih marah kepadaku?" tanya Nur sambil bolak balik di dalam kamarnya.


Sampai akhirnya Nur tertidur di sofa, untungnya, Rafi termasuk anak yang anteng dan tidak banyak rewel. Sehingga Nur tidak banyak mengalami kesulitan saat mengurus putra pertamanya itu.

__ADS_1


Sampai keesokan harinya, Ali masih belum juga kembali, sampai langit naik tinggi, suaminya belum pulang juga.Nur sudah mulai panik, berbagai pikiran berkecamuk dalam hatinya. "Apakah terjadi sesuatu dengan suamiku?" tanya Nur, lalu dengan bergegas, Nur berlari ke masjid yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya.


Saat sampai di sana, Nur melihat suaminya sedang tertidur meringkuk,vseorang diri di lantai masjid. Seketika hatinya merasa mencelos, merasa kasihan, merasa iba, ah pokoknya berbagai rasa yang dia rasakan.


Nur lalu masuk ke dalam masjid, membangunkan suaminya. Ali tampak memicingkan matanya.


"Ada apa?" tanyanya Lesu.


"Mas ko, tidak pulang, sih? Aku khawatir sama kamu!" ucap Nur sambil memegang tangan suaminya.


"Buat apa Papa pulang, kalau akhirnya cuma buat ribut masalah yang itu-itu terus. Papa cape dan malas ribut. Mama pulang saja! Papa akan tinggal di masjid, untuk merenungkan semua masalah di antara kita!" Ali lalu meringkuk kembali dan menutup matanya.


Ada buliran air mata yang jatuh di kelopak matanya Nur seketika merasa sedih melihat suaminya tersebut.


"Ayo pulang, Mas!" ajak Nur sambil menarik ujung pakaian suaminya. Tapi Ali sama sekali tidak bergeming. Kini Nur menangis sesenggukan.


"Aku tahu, sebagai istri, aku memang belum jadi istri yang sempurna buat Mas!" ucap Nur tersekat di tenggorokan.


"Mas gak butuh Istri yang sempurna, cukup cintai Mas apa adanya! Percayalah dengan cinta Mas buat kamu! Itu Sudah lebih dari cukup!" ucap Ali, dengan suara serak.


"Maafkan, aku!" ucap Nur.


"Bahkan panggilan Mama Papa saja, kamu tidak sudi sebutkan!" ucap Ali mulai naik suaranya.


"Baiklah, Maafkan Mama! Ayo kita pulang, papa sayang!" ucap Nur, sambil mencium bibir suaminya sekilas.

__ADS_1


"Aih,di masjid di larang berbuat mesum!" goda Ali.


Suami istri itupun akhirnya pergi dari masjid dengan hati yang lebih lapang dan berjanji akan saling menjaga perasaan pasangan mereka.


__ADS_2