
Nur benar-benar kesal setelah mendengar pengakuan suaminya bahwa selama ini, ketika dirinya sedang memulihkan diri karena habis melahirkan putra pertamanya, ternyata suaminya yang katanya akan bekerja malah sibuk mengantar jemput Riyanti, yang saat itu bekerja sebagai karyawan di tokonya. Perasaan sakit di hati Nur, seakan tidak bisa mendengar segala penjelasan yang diberikan oleh suaminya.
"Udah Mas, mendingan Mas nikahin aja Rianti! Dari pada sibuk meminta orang lain untuk bertanggung jawab atas perbuatanmu. Rianti sampai mau bunuh diri loh, Ini semua karena Mas yang sudah memberikan sebuah harapan palsu kepada dia. Kalau Mas tidak melakukan hal-hal seperti itu, tidak mungkin Rianti itu akan berpikir bahwa Mas mencintai dia!" sengit Nur dengan mata tajamnya.
"Nur udah! Jangan diterusin lagi berantemnya! Nggak ada gunanya loh! Keadaan Rianti itu bukan salah kalian berdua. Itu memang Rianti nya aja yang memiliki penyakit mental. Dia yang tidak bisa menghadapi perasaannya sendiri. Dia yang tidak bisa mengerti keadaan. Kalau suamimu tuh udah menikah. Jangan ngorbani rumah tangga kamu demi wanita itu. Percayalah! Aku pasti akan bantuin masalah ini! Udah ya, jangan berantem lagi! Sekarang aku akan ke rumah sakit, mencoba untuk berkunjung ke Rianti dan mencari solusi yang terbaik untuk semuanya." ucap Dipta, menjadi penengah kedua orang yang saat ini hatinya sedang sama-sama panas dan emosi.
"Aku akan ikut denganmu Dip! Aku ingin lihat, seperti apa keadaan perempuan itu! Aku ingin lihat seberapa parah perbuatan suamiku telah merusak hati seorang wanita!" Ali juga ikut mengekor di belakang Dipta tampaknya dia juga ingin ikut bersama dengan mereka menjenguk Rianti di rumah sakit.
"Mas juga penasaran dengan keadaan Rianti? Iya? Atau Mas sudah siap untuk menikahi perempuan itu?" sinis Nur, Ali hanya mengelus dadanya yang terasa sesak. Melihat istrinya yang sinis terhadap dirinya.
"Mas hanya ingin menjaga agar tidak terjadi fitnah antara kamu sama Dipta, tidak baik seorang laki-laki dan perempuan pergi bersama! Apalagi ini sudah malam!" ucap Ali masih dengan nada pelan. Menahan kesabaran dengan amarah sang istri yang sedang di amuk cemburu.
"Udah Nur nggak papa! Kan biar sekalian silaturahmi juga dengan orang tuanya Rianti! Udah! Ayo, daripada nanti keburu malam loh! Jam besuk kan tidak sebebas itu!" akhirnya mereka bertiga pergi ke rumah sakit dan menjenguk Riyanti yang keadaannya sini semakin membaik. Hati mereka jadi tenang.
__ADS_1
"Terima kasih kepada Kalian bertiga, yang sudah sudi, meluangkan waktu untuk menengok Rianti. Alhamdulillah keadaan Riyanti sekarang sudah mulai membaik!" ucap Ayahnya Rianti.
Dokter Bagas tampak masuk ke dalam ruangan Riyanti untuk memeriksa keadaan Rianti. Dipta memperhatikan gerak-gerik kedua orang tersebut, yang tampak ada raut bahagia di wajah Riyanti. Hal itu membuat hati Dipta senang, karena tampakny Rinati sudah menemukan tambatan hati yang baru. Mungkin itu salah satu alasan Rianti, keadaannya mulai membaik.
"Maafkan, saya Pak! Apakah ada hubungan Rianti dengan dokter itu? Tampaknya dari gerak-gerik mereka, ada hubungan spesial di antara mereka. Apakah benar feeling saya ini?" tanya Dipta tanpa sungkan.
Ayahnya Rianti menatap Riyanti dan dokter Bagas yang kini sedang berinteraksi. Tampak kebahagiaan di wajah Rianti dan itu membuat dirinya merasa sangat senang dan bahagia. Karena akhirnya, Rianti sudah mulai melupakan perasaannya kepada seorang pria yang sudah beristri dan memiliki seorang anak.
Ali dan Nur, kemudian saling bertatap mata, ada perasaan lega di hati keduanya. Tapi tetap saja, perasaan Nur yang merasa telah dikhianati oleh suaminya, masih belum bisa sembuh hanya dengan perkara pernikahan Rianti dan dokter Bagas.
"Alhamdulillah kalau seperti itu Pak! Kami senang sekali mendengar kabar ini. Kami tunggu undangannya ya, Pak! Dan kami doakan semoga Rianti cepat sembuh dan rencana pernikahan ini berjalan dengan lancar. Mereka dikaruniai anak sholeh dan sahehah, semoga pernikahan yang sakinah mawadah dan warohmah!" doa tulus Ali kepada kedua calon mempelai.
"Ya sudah kalau seperti itu. Kami bertiga Permisi Pak! Sekali lagi kami mengucapkan selamat atas rencana pernikahan ini. Kami permisi!" Dipta, Nur dan Ali akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Setelah Dipta mengantarkan Ali dan Nur, Dipta langsung pulang ke rumahnya, dan masuk ke kamarnya. Perasaan Dipta saat ini merasa senang, karena akhirnya bisa ditemukan solusi yang tidak harus melukai siapapun.
__ADS_1
"Smoga rencana pernikahan Rianti dan Dokter Bagas akan lancar, so, pernikahan Ustadz Ali dan Nur juga bisa terselamatkan dari bencana perceraian!" ucap Dipta lega.
Sementara itu, di rumah Nur dan Ali, Mereka tampak terlibat perang dingin. Nur yang masih belum bisa memaafkan suaminya, hanya bisa diam dan tidur dengan memunggungi suaminya. Malas berdebat dan malas berkelahi. Jadi kesunyian malam itu begitu mencekam.
Tangisan putra mereka di tengah malam, yang membuat keduanya terlonjak dan bangun untuk menenangkan putranya. "Rafi demam, Mas!" akhirnya Nur bersuara juga. Ali tersenyum melihat istrinya yang tengah sibuk menenangkan Rafi.
"Anaknya sakit kok, kamu malah tampaknya senang banget! Senyum-senyum kayak gitu! Apa jangan-jangan, kalau anak mati, kau juga bahagia ya?" sinis Nur.
"Astagfirullah! Kenapa kok bisa berpikiran seperti itu? Tidak ada orang tua yang bahagia dengan kematian anaknya. Papa tersenyum, hanya karena merasa bahagia. Akhirnya Mama mau bicara sama Papa, setelah kita perang dingin hampir 3 jam lebih. Itu yang bikin Papa tersenyum, sayang!" Ali lalu menggendong Rafi dan menyuruh istrinya untuk mengambil obat penurun panas.
"Kalau besok pagi, tidak turun juga demamnya! Baru kita bawa ke dokter ya? Udah, ayo kita istirahat!" kedua orang yang sedang perang dingin itu, akhirnya berbaikan lagi. Melihat anak mereka sakit,akhirnya Nur merasa luluh juga, melihat sang suami yang dengan telaten mengurus anaknya. Bergantian tidur supaya bisa menjaga Rafi yang terus rewel dan suka terbangun di tengah malam.
Yah begitulah keadaan orang tua, mereka tidak akan mungkin bisa berlama-lama marah, ketika melihat buah hati mereka, dalam keadaan sakit. Pasti mereka akan saling bahu membahu, untuk merawat anak mereka, dan melupakan ego, maupun kemarahan pribadi. Demi anak dan demi masa depan mereka.
__ADS_1