Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
174. Usaha Dipta


__ADS_3

Setelah sampai di kediaman keluarga Nadia yang saat ini sedang sibuk menyiapkan acara pemakaman untuk Nadia. Tampak Dipta menatap jenazah Nadia yang sedang dikafani oleh para petakziah yang ramai berdatangan di kediaman Nadia.


Tanpa disadari Dipta menitikan air matanya ketika melihat jenazah Nadia. ibunya Nadia langsung mendekati Dipta. Ketika dia melihat Dipta datang dan hadir di antara para petakziah lainnya.


" Mau apa kamu datang ke sini? Apakah kau hendak menertawakan kematian putriku?" ucap ibunya Nadia sambil menatap sinis kepada Dipta yang saat ini masih menangis sedih atas meninggalnya Nadia yang begitu tiba-tiba. Padahal pernikahan mereka berdua hanya tinggal menghitung hari saja.


" Saya tidak pernah menertawakan kematian Nadia. Tapi sebaliknya saya merasa sedih Bu! Kenapa ibu berpikir bahwa saya bahagia dengan meninggalnya Nadia?" tanya Dipta kepada ibunya Nadia yang saat ini sedang menatapnya dengan tajam.


" Dasar pembohong! Kau dan Kiai itu yang sudah membunuh putriku. Aku tidak akan pernah membiarkanmu lepas dari hukum. Aku pasti akan menuntutmu dan juga Kyai itu untuk masuk ke dalam penjara!" ucap ibunya Nadia penuh dengan kebencian kepada Dipta.


Pada saat itu, Ayahnya Nadia yang tadi sedang pergi ke kamar mandi. Dia segera mendekati istrinya yang sedang ribut bersama dengan Dipta.


" Tolong Berhentilah membuat keributan Mah dan jangan membuat malu keluarga kita dengan perbuatan bodoh semacam ini!" ucap ayahnya Nadia sambil menarik tangan istrinya untuk masuk ke dalam kamar.


Setelah istrinya berada di dalam kamar mereka. Ayahnya Nadya langsung mengunci pintu kamarnya dari luar.


" Buka pintunya Pah! Mama harus bicara dengan laki-laki itu. Dia harus bertanggung jawab atas kematian putriku!" teriak ibunya Nadia dengan histeris.


Ayahnya Nadia langsung mendekati Dipta yang saat ini masih menangis di samping jenazah Nadia yang sudah selesai dikafani oleh ibu-ibu majelis taklim di lingkungan tempat tinggal Nadia.


" Maafkan istri Om Dipta. Dia sangat terpukul atas meninggalnya Nadia. Oleh karena itu pikirannya jadi agak terganggu. Tolong kau maklumi yah?" ucap ayahnya Nadia meminta maaf kepada Dipta.


" Itu tidak apa-apa om. Saya bisa mengerti itu. Hanya saja saya ingin meminta tolong kepada Om untuk mencabut tuntutan tante kepada Kyai Ali dan juga istrinya!" ucap Dipta dengan suara tersekat di tenggorokannya karena saat ini dia sangat sedih memikirkan keadaan Nur dan juga suaminya.

__ADS_1


Ayahnya Nadia tampak terkejut sangat terkejut ketika mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dipta perihal istrinya yang melaporkan Kyai Ali dan istrinya ke polisi.


" Benar-benar keterlaluan! Saya sama sekalu idak mengetahui tentang hal itu Nak Dipta. Benar-benar tidak mengetahuinya. Tapi saya akan segera menelpon pengacara keluarga kami untuk menarik tuntutan itu!" ucap ayahnya Nadia menjanjikan hal tersebut kepada Dipta sehingga membuat Dipta merasa sangat lega mendengar hal itu.


Ayahnya Nadia kemudian langsung mengambil ponselnya dan dia segera menghubungi pengacara keluarganya.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh! Maafkan saya Pak pengacara. Apakah istri saya ada menurunkan perintah untuk menuntut seorang Kyai atas meninggalnya putri kami?" tanya ayahnya Nadia kepada pengacara keluarganya.


" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh! Bener Pak baru saja saya memproses laporan itu dan sekarang terlapor sudah ditangkap oleh polisi dan sudah masuk ke dalam penjara!" ucap pengacara itu melaporkan hasil pekerjaannya kepada ayahnya Nadia.


" Astaghfirullahaladzim! Apakah bisa kalau saya meminta kepada anda untuk mencabut laporan itu dan mengeluarkan mereka dari penjara?" tanya ayahnya Nadia sambil menatap kepada Dipta yang saat ini sedang resah mendengar apa yang dikatakan oleh pengacara keluarga ayahnya Nadia.


" Bisa saja Tuan kalau kita ingin mencabut kembali laporan tersebut. Hanya saja Nyonya sudah memerintahkan kepada saya untuk tidak menuruti permintaan anda. Kalau Anda meminta untuk kami mencabut laporan itu!" ucap pengacara itu kepada ayahnya Nadia.


" Baiklah Tuan akan segera saya proses untuk mencabut laporan tersebut!" ucap pengacara tersebut pada akhirnya mengalah kepada ayahnya Nadia yang selama ini menggaji teamnya.


Setelah semuanya beres Dipta pun meninggalkan kediaman Nadia. Karena dia tidak ingin mengganggu suasana hati dari ibunya Nadia yang sampai sekarang masih menatapnya dengan penuh kebencian.


" Terima kasih Om atas bantuan Om. Saya permisi dulu!" ucap Dipta berpamitan kepada ayahnya Nadia kemudian dia pun langsung datang ke pondok untuk menemui Kyai Ali dan Nur.


Tampak mereka berdua sudah berada di rumah mereka yang dulu di hibahkan dan di wakafkan oleh Dipta untuk pondok pesantren. Setelah dibebaskan kembali dari kantor polisi karena ayahnya Nadia yang sudah mencabut laporan mereka.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pak Kyai! Alhamdulillah kalau kalian berdua sudah bebas dari penjara!" ucap defta merasa bersyukur karena mereka berdua sekarang sudah dibebaskan dari kantor polisi.

__ADS_1


" Terima kasih atas bantuanmu Dipta. Pasti karena kau yang sudah membujuk ayahnya Nadia sehingga mencabut kembali laporan yang dimasukkan oleh istrinya!" ucap Nur kepada Dipta yang saat ini sedang sedih atas meninggalnya Nadia.


" Pernikahan saya dengan Nadya hanya tinggal satu minggu lagi. Akan tetapi sekarang Nadya sudah meninggal. Entah apa yang harus saya lakukan sekarang. Sementara undangan sudah disebar!" Ucap Dipta dengan perasaan sedih.


" Kalau saya mengajukan calon untukmu. Apakah kau mau menerimanya Dipta?" tanya Kyai Ali kepada Dipta yang saat ini masih melamun dan tampak linglung.


" Mengajukan calon? Siapa Pak Kyai?" tanya Dipta merasa terheran.


" Yang jelas dia adalah seorang wanita yang solehah dan juga dia adalah seorang hadizah. Dia salah seorang santri Kami. Dia anak yatim piatu yang mengabdi di pondok kita. Kalau Dipta bersedia, saya bisa menikahkanmu dengannya. Karena sekarang dia berada di dalam perlindungan saya dan juga istri saya!" ucap Kyai Ali berbicara kepada Dipta.


Dipta tampak mengurutkan keningnya. Dia merasa bingung. Apakah harus menerima ataukah menolak tawaran itu.


" Apakah saya pernah bertemu dengannya?" tanya Dipta dengan penuh selidik kepada mereka berdua.


" Kalian pernah bertemu!" ucap Kyai Ali sambil tersenyum kepada Dipta yang saat ini sedang bingung dengan apa yang dia katakan oleh Kyai Ali kepadanya.


" Kami pernah bertemu? Kapan aku bertemu dengannya?" tanya difta merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh Kyai Ali.


" Yah gadis yang tadi membawakan minuman ke sini adalah calon yang kami tawarkan padamu!" ucap Nur kepada Dipta.


" Gadis bercadar tadi? Bagaimana aku bisa menerima seorang perempuan yang tidak pernah kulihat. Bagaimana kalau aku tidak cocok dengannya?" tanya Dipta merasa keberatan dengan tawaran dari pasangan tersebut.


" Kau juga pernah melihat Nadia. Apakah ada kebaikan darinya yang kau dapatkan? Kalau sampai keburukannya kemarin tidak langsung kita ketahui. Maka pasti kau akan menyesali seumur hidup pernikahan kalian berdua. Karena ketika seseorang sudah berurusan dengan hal klinik, maka itu tidak akan berakhir secara sederhana!" ucap kyai Ali sambil menatap Dipta dengan lekat.

__ADS_1


__ADS_2